Opini

Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Peringatan Kemerdekaan RI ke-81

×

Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Peringatan Kemerdekaan RI ke-81

Sebarkan artikel ini
Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Peringatan Kemerdekaan RI ke-81

Oleh: Murodi al-Batawi.

Bulan Agustus tahun ini menghadirkan perjumpaan dua momentum besar: Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1448 H atau Selasa, 25 Agustus 2026. Pertemuan kalender ini bukanlah sekadar kebetulan. Ia adalah ruang refleksi istimewa di mana kemerdekaan dan keteladanan kenabian bertemu dalam satu tarikan napas kebangsaan.

Kemerdekaan dan Maulid: Dua Nafas Satu Perjuangan

Secara historis, kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari spirit perjuangan Islam dan para ulama. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari menjadi bukti nyata bahwa kecintaan kepada tanah air dan tanggung jawab keagamaan dapat berjalan beriringan. Para ulama, habaib, dan santri dari berbagai organisasi Islam aktif menjadi anggota BPUPK, Panitia Sembilan, hingga PPKI, bahu-membahu dengan tokoh dari berbagai latar belakang untuk menyepakati dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Jejak ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan adalah perpanjangan dari nilai-nilai kenabian: menolak kezaliman dan menegakkan keadilan.

Sementara itu, peringatan Maulid Nabi sejak masa Presiden Sukarno pun telah menjadi tradisi yang diakui negara. Pada 1960, perayaan Maulid Akbar digelar di Lapangan Istana Merdeka. Dalam pidatonya, Sukarno menyatakan bahwa dengan pikirannya, hatinya, dan buku-buku yang dibacanya tentang Nabi Muhammad, ia merasa “tak gaduk” (tak sampai) ukurannya untuk menilai kebesaran Nabi. Pada 1964, Sukarno bahkan mengaitkan peringatan Maulid dengan perjuangan menentang imperialisme, menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajahan adalah perintah Nabi.

Maulid: Dari Seremoni Menuju Keteladanan

Namun, peringatan Maulid tidak boleh berhenti pada seremonial. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Rasulullah adalah *uswah hasanah*—teladan yang baik . Maulid seharusnya mendorong pergeseran dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial. Kesalehan tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kejujuran, kepedulian kepada sesama, kemampuan menjaga lingkungan, menghormati perbedaan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat .

Karena itu, perlu kita ingat, kalau kemerdekaan mengajarkan kita tentang perjuangan, persatuan, dan gotong royong, maka Maulid mengingatkan kita kepada akhlak Rasulullah, tentang kejujuran, kedamaian, perjuangan dalam dakwah dan bagaimana kita dapat memperkuat keimanan. Di tengah tantangan demoralisasi, ketimpangan ekonomi, dan dinamika sosial-politik yang rentan memecah belah persatuan, spirit risalah kenabian harus dibangkitkan kembali.

Di berbagai pesantren dan majelis taklim, peringatan Maulid dan HUT RI digelar berdampingan sebagai simbol semangat keagamaan dan kebangsaan. Bahkan, banyak pelajar dan santri di Indonesia menggelar pawai dengan membawa gunungan makanan ringan sebagai upaya membangkitkan rasa cinta agama dan cinta tanah air sekaligus. Ini adalah wujud nyata bahwa kedua momentum ini tidak perlu dipertentangkan.

Hikmah Bersama untuk Masa Depan Bangsa

Di sinilah letak hikmah terbesar dari perjumpaan dua peringatan ini. Kemerdekaan mengajarkan pengorbanan dan tanggung jawab untuk menjaga persatuan, keadilan, dan martabat manusia. Maulid mengajarkan akhlak—kejujuran, kasih sayang, kesabaran, amanah, dan kemampuan mengendalikan diri. Perjuangan tanpa akhlak dapat berubah menjadi perebutan kekuasaan. Akhlak tanpa tanggung jawab kebangsaan dapat kehilangan daya transformasinya .

KH Manarul Hidayat menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama adalah benteng NKRI. “Siapa pun yang hendak menghancurkan Indonesia harus menghancurkan NU terlebih dahulu, yaitu para santri dan ulama Nusantara. Tapi tak satu pun yang bisa menghancurkan NU sejak zaman Belanda hingga PKI” . Pernyataan ini bukan sekadar klaim, melainkan pengakuan atas peran historis dan komitmen berkelanjutan para santri dan ulama dalam menjaga keutuhan bangsa.

Maulid Nabi di bulan kemerdekaan adalah pengingat bahwa 81 tahun Indonesia merdeka bukanlah perjalanan pendek. Tugas kita sekarang adalah mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dengan terus membangun bangsa, yang dimulai dari diri sendiri. Mari kita jadikan peringatan Maulid sebagai momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjaga semangat persatuan dan gotong royong yang telah diwariskan para pendiri bangsa. Karena masa depan Indonesia membutuhkan warga negara yang mencintai bangsanya dan meneladani Rasulullah (odie).

Wallahua’lambishawab.

Pamulang, 25 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.