Opini

Pesantren: Pusat Tradisi Toleran dan Inklusif Nusantara

×

Pesantren: Pusat Tradisi Toleran dan Inklusif Nusantara

Sebarkan artikel ini
Pesantren: Pusat Tradisi Toleran dan Inklusif Nusantara

Oleh: Murodi al-Batawi.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan menguatnya narasi-narasi eksklusif yang memecah belah, pesantren berdiri tegak sebagai mercusuar toleransi dan inklusivitas. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini bukanlah benteng eksklusif yang hanya mengurus urusan ritual semata, melainkan laboratorium sosial yang sejak awal dirancang untuk menjadi pusat peradaban yang ramah, terbuka, dan menghargai perbedaan. Dari pesantrenlah lahir tradisi keberagaman yang menjadi ciri khas Islam Nusantara- sebuah Islam yang damai, moderat, dan mampu hidup berdampingan dengan segala perbedaan.

Akar toleransi pesantren sudah tertanam sejak masa Walisongo. Para wali yang menyebarkan Islam di Nusantara tidak menggunakan pendekatan konfrontatif atau pemaksaan, melainkan pendekatan akulturatif yang menghargai budaya dan tradisi lokal. Mereka tidak menghapus warisan budaya setempat, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai keislaman. Inilah yang kemudian melahirkan corak Islam Nusantara yang khas—fleksibel, toleran, dan terbuka dalam menyikapi perbedaan tradisi, pandangan, serta keyakinan. Nilai-nilai ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi melalui pesantren, menjadi fondasi kokoh bagi terbangunnya masyarakat yang inklusif.

KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, adalah salah satu teladan utama dalam menanamkan sikap toleran di lingkungan pesantren. Dalam salah satu pidatonya, beliau berpesan: “Wahai ulama! Kalau ada kamu lihat orang berbuat sesuatu amalan berdasarkan kaul imam-imam yang boleh ditaklidi, meskipun kaul itu marjuh (tak kuat alasannya), jika tidak setuju janganlah kamu cerca mereka, tapi beri petunjuklah dengan halus“.

Pesan ini menjadi fondasi sikap moderat pesantren hingga hari ini – bahwa perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (cabang) adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan.

Sistem pendidikan pesantren juga dirancang untuk membentuk santri yang inklusif. Para santri tidak hanya diajarkan satu mazhab fikih secara eksklusif, tetapi juga diperkenalkan dengan beragam mazhab pemikiran dan argumentasi masing-masing.

Di pesantren seperti Gontor, misalnya, santri diajarkan beragam mazhab pemikiran fikih tanpa pernah didikte untuk mengikuti satu mazhab tertentu. Jiwa bebas yang positif ini memungkinkan lulusan pesantren tersebar di spektrum yang luas – ada yang menjadi pimpinan NU, ada yang memimpin Muhammadiyah, ada yang menjadi pemikir Islam modern, dan ada yang mendalami sufi klasik.

Keberagaman spektrum pemikiran ini justru menjadi kekayaan, membuktikan bahwa pesantren melahirkan intelektual yang tidak terkungkung dalam satu aliran tunggal.

Pesantren juga mengajarkan pentingnya hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Dalam tradisi pesantren, toleransi antar umat beragama bukanlah sekadar konsep, tetapi praktik nyata yang dihidupi sehari-hari. Banyak pesantren yang terletak di tengah-tengah masyarakat multikultural dan menjalin hubungan harmonis dengan pemeluk agama lain. Santri diajarkan bahwa menghormati pemeluk agama lain adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan bahwa tidak ada paksaan dalam agama (lâ ikrâha fî al-dîn) dan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan bijak.

Di era modern, pesantren terus menunjukkan komitmennya terhadap nilai-nilai toleransi dan inklusivitas. Berbagai pesantren kini membuka diri terhadap dialog lintas agama dan lintas budaya.

Pondok Pesantren Pabelan di Magelang, misalnya, pernah mengundang berbagai pakar, seniman, dan budayawan dari berbagai latar belakang untuk berdialog: Rendra, Bagong Kussudiardjo, Arifin C. Noer, Y.B. Mangunwijaya, hingga tokoh pendidikan Katolik Ivan Illich dari Amerika Serikat.

Pendekatan keterbukaan ini membuat Pabelan mendapat pengakuan internasional dan menjadi model bagi pesantren-pesantren lain dalam membangun dialog peradaban.

Pengakuan terhadap peran pesantren sebagai pusat toleransi dan inklusivitas juga datang dari negara. Melalui Kementerian Agama, pesantren didorong untuk mengajarkan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan. Program-program seperti penguatan kurikulum kebangsaan di pesantren dan pelatihan guru tentang moderasi beragama menjadi bentuk sinergi antara negara dan pesantren dalam menjaga kerukunan umat beragama. Bahkan, dalam peringatan Hari Santri setiap tahun, tema-tema yang diangkat selalu menekankan pentingnya pesantren sebagai benteng toleransi dan persatuan bangsa.

Kini, di tengah menguatnya paham-paham radikal dan intoleran, pesantren menjadi benteng pertahanan terakhir bagi nilai-nilai toleransi dan inklusivitas. Pesantren mengajarkan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi pemeluknya. Dari pesantrenlah lahir generasi-generasi yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial, yang mampu hidup berdampingan dengan siapa pun tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan.

Maka, mari kita jaga dan dukung pesantren sebagai pusat tradisi toleran dan inklusif Nusantara. Karena dari pesantrenlah akan lahir generasi yang akan menjaga keutuhan, kejayaan, dan martabat bangsa Indonesia di tengah tantangan zaman. Pesantren adalah jawaban atas pertanyaan bagaimana membangun masyarakat yang damai, toleran, dan inklusif di tengah keberagaman. Selamat menjaga warisan toleransi—pesantren adalah garda terdepannya.