Universitas Paramadina Tekankan Etika Bijak Bermedia Sosial di Tengah Bebas Ekspresi

Universitas Paramadina Tekankan Etika Bijak Bermedia Sosial di Tengah Bebas Ekspresi

JAKARTA — Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina menggelar webinar bertajuk “Public Education Cyberbullying: Antara Kebebasan Berekspresi dan Etika Bermedia”. Kegiatan pada 12 Desember lalu secara daring bagian dari upaya literasi bagi masyarakat dalam merespons meningkatnya praktik cyberbulliying di ruang media sosial dan komunikasi politik online.

Kegiatan diikuti mulai dari akademisi, mahasiswa, hingga pelajar sekolah menengah dari sejumlah daerah, diantaranya Siswa dari SMK Bina Nasional Informatika Cikarang dan Siswa SMKN 1 Kusan Hilir Kalimantan Selatan. Mahasiswa yang hadir dari Universitas Djuanda Bogor, Universitas Paramadina.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Juni Afliah Chusjairi, Ph.D, menegaskan pentingnya membangun kesadaran kritis dan etika bermedia di tengah arus kebebasan berekspresi yang semakin luas di ruang digital.

“Diskusi yang dilandasi semangat literasi dan kesadaran kritis ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi juga mampu mendorong kontribusi nyata dalam membangun ruang digital yang aman, sehat, dan beretika,” ujar Juni dalam keterangan tertulis, Selasa (16/12/2025)

Afliah Chusjairi Akademisi lulusan The School of Social Sciences and Psychology University of Western Sydney, Australia itu menyampaikan apresiasi kepada para narasumber, mahasiswa, serta peserta lintas daerah yang telah berpartisipasi aktif.

“Dengan antusiasnya partisipasi peserta dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan menunjukkan bahwa isu cyberbullying, kebebasan berekspresi, serta etika bermedia bukan hanya persoalan akademik, tetapi persoalan sosial yang kita hadapi bersama dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Pentingnya Literasi Digital dan Collaborative Justice dalam Penanganan Cyberbullying

Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan perspektif lintas disiplin. Fahmi Fuad Cholagi, S.I.Kom., M.Si yang merupakan dosen sekolah vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) University menyoroti pentingnya literasi digital dalam komunikasi politik online.

“Ekspresi di media digital selalu membawa konsekuensi sosial, sehingga etika dan literasi digital harus berjalan seiring dengan kebebasan berekspresi,” jelas Fahmi Fuad Cholagi.

Fahmi menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan publik merupakan bagian sah dari demokrasi. “Kritis itu perlu, tetapi etika tetap menjadi fondasi utama komunikasi politik di ruang digital agar tidak memicu polarisasi dan merusak kualitas demokrasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Dr. Nurwati, S.H., M.H dosen dari Universitas Djuanda Bogor memaparkan aspek hukum dan regulasi dalam menghadapi polarisasi digital.

“Ruang digital tidak bersifat bebas nilai. Etika, hukum, dan tanggung jawab moral harus berjalan seiring agar demokrasi digital tidak berubah menjadi ruang kekerasan simbolik,” papar Dr. Nurwati.

Menurutnya, tidak semua persoalan di media sosial harus diselesaikan melalui jalur represif atau kriminalisasi, karena hal tersebut justru berpotensi memperdalam konflik dan trauma psikologis.

“Pendekatan ini memungkinkan keadilan yang lebih manusiawi, berimbang, dan berorientasi pada pemulihan, tanpa mengabaikan tanggung jawab hukum,” paparnya.

Suara Generasi Muda dan Peran Pendidikan

Sementara itu perspektif generasi muda oleh Alan Firmansyah, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Paramadina, menekankan bahwa fenomena cyberbullying tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara manusia berinteraksi di era digital.

Mengutip pemikiran Merlyna Lim dalam artikelnya A Cyber Urban Space Odyssey, Alan menjelaskan bahwa ruang digital dan ruang fisik tidak lagi dapat dipahami sebagai dua entitas yang terpisah.

Menurut Alan, Ruang digital hari ini bukan dunia lain yang terpisah dari kehidupan nyata, melainkan ruang hybrid yang saling terhubung dengan ruang fisik. Apa yang terjadi di media sosial memiliki dampak nyata terhadap kehidupan sosial, psikologis, dan relasi antarindividu di dunia nyata.

Dari dunia pendidikan menengah, Suhandar, Wakil Kepala Sekolah SMK Bina Nasional Informatika (SBNI) Cikarang, membagikan praktik pencegahan cyberbullying di lingkungan sekolah melalui pendekatan preventif, dialog terbuka, peran aktif guru dan Bimbingan Konseling, serta penguatan nilai-nilai keagamaan dan karakter.

“Bullying tidak selalu bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat ditekan melalui pemahaman yang proporsional, pendampingan, dan pembinaan karakter yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kegiatan webinar ini juga memperoleh dukungan penuh dari Dr. Tatik Yuniarti, S.Sos., M.I.Kom., dosen pengampu mata kuliah Media Digital, Komunikasi, dan Perubahan Sosial.

Ia menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian edukasi kolaborasi antara Universitas Paramadina, Universitas Djuanda, dan IPB University.

Dr. Tatik juga menambahkan bahwa pendidikan publik terkait etika bermedia dan pencegahan cyberbullying merupakan tanggung jawab bersama antara kampus, sekolah, dan masyarakat luas. (B. Karmila)