<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FOMO &#8211; MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/tag/fomo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Jun 2024 06:47:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>FOMO &#8211; MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>FOMO: Perilaku Konsumtif Santapan Lezat Pelaku Bisnis</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/fomo-perilaku-konsumtif-santapan-lezat-pelaku-bisnis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2024 06:47:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=70272</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Istilah FOMO mulai dikenal khalayak ramai mulai pertengahan tahun 2020 saat pandemi Covid-19...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Istilah FOMO mulai dikenal khalayak ramai mulai pertengahan tahun 2020 saat pandemi Covid-19 berlangsung.</p>
<p>FOMO atau kependekan dari Fear of Missing Out adalah fenomena takut tertinggal oleh suatu tren, sehingga orang cenderung melakukan hal yang sedang happening di dunia maya maupun nyata.</p>
<p>Awalnya tren FOMO hanya berupa kegiatan atau aktivitas yang bisa ditiru, seperti tren membuat <a href="https://majalahekonomi.com/bi-cirebon-bantu-umkm-kembangkan-produk-kopi-gunung-ciremai/">Kopi</a> Dalgona yang pernah ramai sekitar perstengahan 2020. Namun seiring dengan berjalannya waktu tren FOMO berubah menjadi jembatan masyarakat menuju perilaku konsumtif.</p>
<p>Melihat kilas balik masa pandemi, kita tentu pernah mengalami kesulitan membeli masker dan hand sanitizer, hal tersebut salah satu dampak dari tren FOMO yang membuat sebagian besar masyarakat impulsif untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan saat pandemi.</p>
<p>Setelah masa pandemi covid-19 pun tren FOMO masih terus berlanjut, dampaknya menyebabkan perilaku konsumtif masyarakat semakin meningkat. Sebab perilaku FOMO membuat masyarakat ingin terus membeli barang dengan mengesampingkan nilai gunanya.</p>
<p>Hal tersebut yang akhirnya dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dalam mengembangkan bisnisnya lewat trik marketing. Pelaku bisnis akan membuat seolah-olah produknya langka, habis diminati, dan terjual di mana-mana, sehingga secara otomatis konsumen akan FOMO dan berbondong-bondong membeli barang tersebut.</p>
<p>Ditambah dengan teknologi yang terus berkembang pesat, sejalan dengan informasi yang semakin mudah diakses, terutama lewat media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Masyarakat jadi mendapatkan informasi secara real time sehingga memudahkan pelaku bisnis untuk ride on trend dan memengaruhi perilaku FOMO pada konsumen.</p>
<p>Sejak tahun 2021 Lembaga Survei, NielsenIQ, mencatat bahwa terjadi kenaikan yang pesat soal jumlah konsumen yang berbelanja melalui e-commerce dari tahun 2020 ke tahun 2021. Jumlahnya mencapai 32 juta orang pada tahun 2021 atau naik sekitar 88% dari tahun 2020.</p>
<p>Walaupun peningkatan jumlah konsumen ini berarti angin segar bagi pelaku bisnis, namun hal tersebut juga menjadi <a href="https://majalahekonomi.com/indonesia-menuju-pusat-ekonomi-syariah-global-peluang-dan-tantangan/">tantangan</a> tersendiri bagi konsumen. Pada era yang semakin memudahkan kita dalam bertransaksi, berarti kita juga harus ekstra dalam memilah informasi yang layak kita serap, khususnya pada konteks kegiatan jual beli. Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah barang, tentunya konsumen harus terlebih dahulu mempertimbangkan manfaat dan kegunaannya, serta estimasi biaya terhadap pendapatan. Jangan sampai karena tren FOMO, kita menjadi konsumtif dan membeli barang hanya berdasarkan lapar mata saja.</p>
<p>Ardyaniko Anggraini, <a href="https://majalahekonomi.com/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/">Mahasiswa</a> Universitas Pamulang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.rspp.co.id/uploads/img_post/img_1806202417186767441QWEY.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Memaksakan Diri Mengikuti Tren: Fenomena FOMO di Kalangan Remaja</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/memaksakan-diri-mengikuti-tren-fenomena-fomo-di-kalangan-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 10:24:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fear of Missing Out]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=69956</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Fear of Missing Out (FOMO) merupakan perasaan takut tertinggal yang dialami seseorang karena...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; <strong>Fear of Missing Ou</strong>t (FOMO) merupakan perasaan takut tertinggal yang dialami seseorang karena melewatkan aktivitas atau hal-hal baru (Taswiyah, 2022). Perasaan takut tersebut timbul karena orang itu merasa kurang update dengan berita terkini. Ia akan selalu merasa kurang dan tidak bahagia jika tidak mengikuti tren. FOMO juga bisa menyebabkan seseorang merasa takut saat melihat kebahagiaan atau kesuksesan orang lain.</p>
<p>Apabila seseorang mengalami FOMO, maka akan cenderung memiliki perasaan kurang puas dengan apa yang dimiliki dalam hidupnya karena akan terus membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain (Elhai et al., 2021). Bisa dibilang, seseorang yang FOMO itu merasa harus lebih baik atau minimal setara dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka.</p>
<p>Kalau kumpulan orang tersebut termasuk kumpulan sosialita, padahal ia seseorang yang biasa saja, bakal terseok-seok mengikutinya. Inilah salah satu dampak negatif dari sifat FOMO yang sudah sering kita jumpai di masa sekarang.</p>
<p>FOMO yang dimiliki orang bisa berbeda-beda. Ada yang FOMO soal gaya hidup sosial, FOMO tentang pengalaman seperti contohnya ia takut melewatkan pengalaman yang menarik (pesta, jalan-jalan, konser), FOMO tentang informasi seperti takut menjadi orang terakhir yang mengetahui berita terkini, dan masih banyak lagi. Namun, kali ini kita akan menilik lebih dalam soal FOMO di sosial dan gaya hidup.</p>
<p>Pernahkah kalian merasa gelisah saat teman-teman kalian pergi nongkrong tanpa kalian? Cemas saat melihat teman kalian yang ikut suatu pesta atau acara sosial lainnya disaat kalian tidak dapat menghadirinya? Atau mungkin takut tertinggal saat teman kalian membeli suatu barang yang sedang tren, sedangkan kalian belum bisa membelinya? Kalau kalian pernah merasakan hal-hal diatas, bisa jadi kalian FOMO di kehidupan sosial dan gaya hidup.</p>
<p>Orang yang FOMO dalam sosial dan gaya hidup tersebut akan merasa mereka harus mengikuti segala hal yang sedang dilakukan oleh orang lain. Orang tersebut akan terus-terusan tidak tenang, seakan-akan mereka dikejar sesuatu. Mereka harus selalu up to date walaupun sebenarnya mereka memaksakan keadaan. Pemicu utama FOMO tentang sosial dan gaya hidup adalah sosial media, seperti Instagram, Facebook, Twitter, Tiktok, dan sosial media lainnya yang berisi postingan-postingan orang lain tentang kehidupan mereka.</p>
<p>Mengapa sosial media bisa menjadi pemicu utama terjadinya fenomena FOMO? Hal ini dikarenakan tren yang ada di kalangan masyarakat bisa dengan mudah menyebar luas lewat sosial media yang ada. Dalam hitungan hari, suatu hal yang baru atau yang sebelumnya biasa saja bisa langsung menjadi tren karena sosial media. Dan hal tersebut berujung terjadinya fenomena FOMO, karena orang-orang akan berlomba-lomba mengikuti tren yang dilakukan orang lain.</p>
<p>Mereka tidak mau ketinggalan. Seperti yang baru terjadi kemarin, tentang peristiwa langkanya cromboloni (croissant bomboloni) yang disebabkan oleh semua orang berburu makanan persilangan Prancis dan Italia tersebut. Cromboloni adalah kue pastry berbentuk bulat dengan isian berbagai macam krim, seperti coklat, strawberry, pistachio, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Cromboloni mulanya menjadi viral karena seorang wanita yang suka membagikan postingannya memakan cromboloni dengan isian yang lumer ke platform Tiktok. Melihat betapa nikmatnya wanita tersebut menyantap cromboloni, orang-orang jadi ingin ikut mencobanya.</p>
<p>Mereka pun mulai ikut membuat konten menyantap cromboloni. Dalam hitungan hari saja, penjualan cromboloni menjadi gila-gilaan hingga menyebabkan waiting list selama berjam-jam di bakery yang menjualnya. Dan mungkin saja, ada beberapa orang yang memaksakan diri dengan mengais dompetnya yang seadanya untuk membeli pastry yang sedikit pricey itu.</p>
<p>Kasus di atas adalah salah satu contoh tentang bagaimana fenomena FOMO di kalangan masyarakat bisa terjadi. Mereka berbondong-bondong mencoba dan membeli hal yang sedang tren di sosial media. Namun, selain sosial media, terdapat hal lain yang memicu terjadinya FOMO di kalangan masyarakat. Hal tersebut adalah: lingkup pertemanan.</p>
<p>Yap, kelompok pertemanan sehari-hari juga bisa menjadi pemicu munculnya fenomena FOMO. Sebagai contoh, terdapat satu kelompok pertemanan berisi tiga orang. Mulanya, teman A membeli dompet dengan merk terkenal dan menunjukkannya ke kedua temannya yang lain. Teman B, karena menyukai model dompet yang ditunjukkan temannya dan kebetulan dompetnya sudah rusak, akhirnya ikut membeli dompet yang sama tetapi dengan warna yang berbeda. Yang tersisa adalah teman C.</p>
<p>Dompet yang dimilikinya masih sangat bagus dan layak pakai, tetapi ia merasa gelisah karena tidak ‘kembaran’ dompet dengan dua temannya yang lain. Ia merasa tidak tenang dan merasa dijauhi karena tidak memiliki dompet yang sama. Tetapi ia juga tidak bisa langsung membelinya, karena uang yang ia miliki hanya cukup untuk kebutuhan pokok.</p>
<p>Namun, karena kegelisahan tak berujung yang ia rasakan, ia akhirnya membeli dompet yang sama seperti dipakai kedua temannya dengan cara berhutang. Perilaku teman C yang diceritakan di atas termasuk contoh FOMO dalam gaya hidup. Ia tidak mau tertinggal dengan temannya yang lain.</p>
<p>Menjadi seseorang yang selalu merasa FOMO saat melihat hal yang dimiliki orang lain tentu saja sangat menderita. Mereka akan selalu merasa gelisah karena takut tertinggal sendirian. Untungnya, ada beberapa solusi yang bisa kita terapkan agar tidak menjadi pribadi yang FOMO.</p>
<p>Solusi tersebut antara lain: bersyukur atas apa yang dimiliki, selalu berpikiran positif, mengurangi intensitas penggunaan sosial media, fokus menjalani hal-hal yang disukai saat waktu luang alih-alih memeriksa pencapaian orang lain, dan memperbanyak mengobrol dengan teman yang memiliki bahasan positif.</p>
<p><em>Tania Hafizah Tyandi</em><br />
<em><a href="https://majalahekonomi.com/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/">Mahasiswa</a> Universitas Sebelas Maret</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/media.istockphoto.com/id/1326493722/vector/fomo-fear-of-missing-out-wriiten-on-speech-bubbles.jpg?s=612x612&#038;w=0&#038;k=20&#038;c=AJ6xvYjUJRcMfJfmaB_k2U4v2AMV3W8DAGvOgHKcldE%3D&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
