Opini

Pondok Pesantren Darussalam Ciamis: Dari Kesederhanaan Menuju Laboratorium Pemimpin Dunia

×

Pondok Pesantren Darussalam Ciamis: Dari Kesederhanaan Menuju Laboratorium Pemimpin Dunia

Sebarkan artikel ini
Pondok Pesantren Darussalam Ciamis: Dari Kesederhanaan Menuju Laboratorium Pemimpin Dunia

Oleh: Murodi al-Batawi

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan tantangan zaman yang kian kompleks, Pondok Pesantren Darussalam Ciamis berdiri sebagai bukti bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Berdiri pada tahun 1929 di atas tanah wakaf seluas sebidang di kampung Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, pesantren ini memulai perjalanannya dengan penuh kesederhanaan: hanya sebuah masjid dan sebuah bilik bambu sebagai asrama. Kisahnya dimulai oleh Kyai Ahmad Fadlil, yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengajak santri mengolah sawah, bercocok tanam, dan memakmurkan masjid. Kyai Ahmad Fadlil lah yang pada usia 31 tahun menerjemahkan Qosidah Al-Burdah ke dalam bahasa Sunda, menunjukkan bahwa sejak awal pesantren ini memiliki visi intelektual yang melampaui batas tradisi.

Perjalanan panjang Darussalam adalah cerminan transformasi pesantren di Indonesia. Di bawah tekanan penjajahan Belanda, pesantren ini tetap teguh mengajarkan strategi diplomasi dan ilmu agama kepada para pemuda, meskipun harus tunduk pada Ordonansi Belanda yang membatasi materi pengajian. Keputusan Kyai Ahmad Fadlil hanya menerima santri putra pada masa itu tidak terlepas dari konstelasi keamanan akibat penjajahan, sebuah langkah pragmatis yang memungkinkan pesantren tetap bertahan dan berkembang.

Transformasi Menuju Pendidikan Modern

Memasuki era kemerdekaan, Darussalam mulai mengembangkan sayapnya. Tahun 1967 menjadi titik balik ketika pesantren ini merintis pendidikan formal dengan mendirikan Raudlatul Athfal (TK), kemudian Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah pada 1968, serta Madrasah Aliyah pada 1969 yang kemudian dijadikan Madrasah Aliyah Negeri atas permintaan Departemen Agama. Keputusan ini adalah terobosan visioner di tengah paradigma lama yang menganggap pesantren hanya mengkaji ilmu-ilmu keislaman. Bahkan, pada tahun 1970, Darussalam mendirikan Fakultas Syariah yang menjadi embrio Institut Agama Islam Darussalam (IAID), sebuah perguruan tinggi yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan. Terobosan lain yang menarik adalah penerimaan MAN Darussalam Ciamis pada 1987 menjadi MAPK(Madrasah Aliyah Program Khusus), program yang digagas oleh Menteri Agama, Munawir Syadzali, yang melahirkan santri berprestasi secara akademik dan prestasi non akademik, hingga tak jarang pesatren Darussalam Ciamis menjadi referensi utama para orang tua untuk menyekolahkan putra putri mereka ke lembaga pendidikan ini.

Integrasi kurikulum

Keunggulan Darussalam terletak pada konsep integrasi kurikulum, yakni menyatukan kurikulum pemerintah dengan kurikulum pesantren, mengkolaborasikan pelajaran agama berbahasa Indonesia dengan kitab kuning. Inilah yang membuat Darussalam tidak pernah kehilangan akar tradisi di tengah arus modernisasi.

Menjadi Laboratorium Pemimpin Bangsa dan Dunia

Darussalam kini dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar dan terlengkap di Jawa Barat, dengan jumlah santri mencapai 2.500 orang yang datang tidak hanya dari Jawa Barat, tetapi juga dari luar pulau seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Kehadiran atase pendidikan Arab Saudi, Fajar Riza Ul Haq, yang merupakan alumni pesantren ini, menjadi bukti nyata kualitas pendidikan Darussalam luar biasa. Fajar mengenang bagaimana Kyai Irfan Hielmy memotivasi santri agar bangga menjadi santri, karena kelak dapat berkiprah di mana pun dan menjadi apa pun asal punya kemauan dan kerja keras. Motto pesantren—muslim moderat, muslim demokrat, dan muslim diplomat—menjadi pegangan agar santri kelak menjadi muslim yang inklusif dan terbuka pada perbedaan.

Motto ini menjadi motivasi bagi para santri untuk terus belajar, tidak hanya sebagai santri, juga sebagai pemimpin di masa depan. Terlebih serelah pesantren Darussalam menjadi menerima program MAPK, melahirkan banyak intelektual dan pejabat di perguruan Tinggi, seperti Muhammad Ali, yang kini menjadi Guru Besar Islamic Studies di River Side University, Prof. Dede Rosyada, rektor UIN Jakarta periode 2014-2019, Prof. A, Thalabi Karli, Wakil rektor I UIN Jakarta periode 2023-2027, dan Prof. Ali Nurdin, PhD, Dekan FISIP UIN Bandung, dan beberapa alumni yang menjadi pimpinan di tempat atau lembaga lainnya.

Intinya, pesantren Darussalam merupakan pondok pesantren yang tidak hanya memberikan pendidikan keagamaan, juga berbagai keterampilan dan lifes skill lainnya, sehingga para alumnia bisa berkiprah di semua lini.

Bahkan, bakal calon presiden Ganjar Pranowo dalam kunjungannya ke Darussalam pada 2023 mengapresiasi pesantren ini sebagai lembaga pendidikan yang lengkap dan mendukung cita-citanya untuk menjadi universitas. Ganjar menekankan pentingnya pendidikan vokasi bagi santri agar memiliki keterampilan hidup dan mampu berkolaborasi dengan industri.
Komitmen Darussalam untuk terus mengasah bakat generasi muda terlihat dari penyelenggaraan Darussalam Cup yang ke-21 pada 2024, ajang kompetisi pelajar SD/MI se-Jawa Barat yang mencakup olahraga, seni, dan akademik. Kegiatan Kemah Dakwah Al-Islamiyah yang rutin dilaksanakan setiap tahun juga menjadi wujud sinergitas santri dengan masyarakat, di mana para santri mempraktikkan ilmu yang telah diserap selama mondok untuk mengajar keagamaan dan bakti sosial di masyarakat .

Penutup

Dari sebuah bilik bambu di tahun 1929 hingga menjadi laboratorium pengkaderan pemimpin bangsa dan dunia di tahun 2025, Pondok Pesantren Darussalam Ciamis telah membuktikan bahwa pesantren adalah institusi yang dinamis, adaptif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur. Di tengah gempuran arus informasi dan kecerdasan buatan, Darussalam mengajarkan bahwa soft skill, kemandirian, dan kecakapan hidup adalah fondasi dasar untuk bertahan dan bersaing di abad ke-21. Ia adalah cermin bagaimana pesantren, dengan segala kesederhanaannya, mampu melahirkan pemimpin yang membawa perubahan bagi bangsa. Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat (odie).

Wallahua’lambishawab.

Pamulang, 27 Agustus 2026.

Murodi al-Batawi.