Pertemanan virtual dapat meningkatkan literasi pada kalangan generasi Z di Indonesia, apakah berbahaya?

DEPOKPOS – Sebagai manusia, makhluk sosial, keinginan untuk menjalin pertemanan sangatlah penting. Pola pertemanan berubah dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan. Dengan maraknya media sosial dan pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, banyak orang yang menemukan teman virtual tanpa memandang jarak geografis.

Pandemi virus corona telah menunjukkan bahwa komunikasi manusia telah mengambil bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Komunikasi langsung, menjadi komunikasi dalam ruang virtual. Berteman virtual mungkin terdengar aneh bagi generasi tua, tapi itu bukan hal baru. Konsep sahabat pena telah ada selama beberapa dekade, memungkinkan orang menulis surat tanpa bertemu langsung.

Persahabatan virtual hanyalah versi teknologi dari persahabatan sahabat pena yang sudah ada sejak lama. Meskipun medianya telah berubah, keinginan untuk menjalin hubungan yang bermakna tetap kuat seperti sebelumnya. Pertemanan virtual pada dasarnya tidak berbahaya dan merupakan gaya hidup bagi Gen Z, yang harus puas dengan teman bermain virtual selama masa lockdown akibat pandemi dalam beberapa tahun terakhir.

Gaya komunikasi yang disukai Gen Z yakni gaya komunikasi yang santai, berpikiran terbuka, bersahabat, dan toleran terhadap perbedaan. Generasi Z dikenal dalam cara menyampaikan pesan secara singkat dan jelas. Komunikasi secara virtual juga sangat digemari oleh Gen Z. penggunaan teknologi dalam pembelajaran masih sulit untuk dapat meningkatkan literasi manusia pada Generasi Z karena mereka cenderung sulit berkomunikasi secara langsung, instan dan memudarkan nilai-nilai budaya dan agama.

BACA JUGA:  Liburan Produktif: Ragam Kegiatan Mengatasi Rasa Malas

Beberapa hal baiknya adalah :

Perluas pergaulan melalui internet dan media sosial, kita bisa bertemu banyak orang dengan latar belakang, jenis kelamin, usia, dan kepribadian yang berbeda-beda. Kita juga dapat menggunakan ini nanti sebagai relasi.
Melatih kemampuan bersosialisasi saat bertemu dengan orang baru, baik secara online maupun offline, kita bisa melatih sikap dan keterampilan.
Dukungan pembelajaran bahasa asing ketika kita mulai berteman dengan orang asing, secara tidak langsung kita dapat meningkatkan kemampuan bahasa asing kita.
Dukungan pembelajaran bahasa asing ketika kita mulai berteman dengan orang asing, secara tidak langsung kita dapat meningkatkan kemampuan bahasa asing kita.
Sebagai tempat mencari pasangan tentang anak muda banyak orang mendengar cerita cinta di platform media sosial tempat mereka menikahi orang yang mereka temui secara online. Itu sebabnya sebagian orang kini memanfaatkan media sosial untuk mencari jodohnya.

Pertemanan virtual bisa sangat menyenangkan, tetapi ada baiknya kita mewaspadai risikonya. Banyak penipu yang berpura-pura menjadi teman dan mencoba menipu kita untuk mendapatkan uang.

BACA JUGA:  Gen Z dan Tantangan Memiliki Rumah

Melihat kehidupan teman yang “sempurna” di media sosial bisa membuat orang iri.

Dan jangan lupa dengan orang yang di mana orang tersebut berpura-pura menjadi orang lain untuk menagmbil keuntungan dari sifat baik kita. Lalu biasakan juga untuk memilah dan memilih topik obrolan yang akan dibahas, jangan sampai kita membahas obrolan yang membuat aib atau privasi kita tersebar.

Hanifah Fitriani
Universitas Pamulang

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818