Opini  

Melatih Bernalar Kritis dan Kreativitas Peserta Didik

Oleh: Ammar Isykarima, Guru Pancasila di SD Swasta Kota Depok

Bernalar kritis dan kreatif merupakan dua contoh dari Dimensi Profil Pelajar Pancasila. Kedua hal itu dapat dikembangkan melalui kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau disingkat P5. Proses yang dijalani peserta didik dalam mengikuti kegiatan tersebut ditujukan untuk mengembangkan nalar kritis dan kreativitas peserta didik. Sebuah proses yang hendaknya dilakukan berkelanjutan mulai dari tingkat pendidikan awal yaitu paud hingga tingkat pendidikan tinggi. Tentunya aktivitas proyeknya disesuaikan dengan jenjang setiap peserta didik dan perkebangan psikologis mereka.

Di masa kini sangat penting sekali melatih peserta didik untuk bernalar kritis. Semua permasalahan yang ada di sekeliling peserta didik hendaknya dapat dicerna melalui aktivitas bernalar kritis. Kemudian diharapkan hasil dari bernalar kritis itu menghasilkan ide-ide yang bermakna. Sebuah ide yang dapat diterapkan dalam menjawab permasalahan sekitar kehidupan peserta didik. Untuk itu peserta didik harus dilatih untuk dapat mengajukan pertanyaan yang bertolak dari permasalahan sehari-hari.Setelah itu jawaban pertanyaan dari permasalahan tersebut merupakan sebuah informasi penting bagi mereka. Proses berikutnya adalah mereka dilatih juga untuk mengolah informasi-informasi tersebut. Mereka membandingkan antar informasi yang ada, melakukan pemilahan informasi, menyeleksi informasi yang ada, dan lain sebagainya. Langkah akhirnya adalah mereka melakukan refleksi atas informasi-informasi yang mereka dapatkan.

BACA JUGA:  Islam Mengatasi Masalah DBD

Hasil refleksi yang mereka hasilkan diharapkan bisa berbentuk ide konkret yang bermakna. Ide tersebut menjadi bekal untuk menghasilkan tindakan dan karya yang orisinal. Karya tersebut merupakan hasil proses kreatif peserta didik dalam mewujudkan idenya menjadi sesuatu yang nyata. Seringkali ide-ide dari peserta didik lebih kekinian dibandingkan dengan ide kita sebagai orang dewasa. Kita sebagai orang dewasa dalam hal tertentu harus mengakui kekurangtahuan kita terhadap dunia peserta didik di masa kini. Tentu hal ini bukan juga merupakan alasan untuk melepas peserta didik dalam berkreativitas tanpa panduan orang dewasa yang memiliki kelebihan dari segi pengalaman disbanding mereka.

Berikut ini merupakan contoh dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang melatih kemampuan bernalar kritis dan kreativitas peserta didik. Proyeknya adalah membuat game tentang proses pemilahan sampah melalui aplikasi Scratch. Dimana game tersebut dapat mengedukasi kita semua dalam memilah sampah menjadi 4 bagian, yaitu organik, plastic, kertas, dan sampah B3.

Dilansir dari laman Wikipedia, Scratch adalah sebuah bahasa pemrograman visual untuk lingkungan pembelajaran yang memungkinkan pemula (entah murid, guru, pelajar, atau orangtua) untuk belajar membuat program tanpa harus memikirkan salah-benar penulisan sintaksis. Layanan ini dikembangkan oleh MIT Media Lab, dan telah diterjemahkan ke lebih dari 60 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

BACA JUGA:  Mencetak Wirausaha Muda untuk Kemajuan Bangsa

Proses awalnya adalah guru menampilkan berbagai video tentang fenomena sampah di sekitar kita. Dari video tersebut diharapkan peserta didik dapat mengajukan banyak pertanyaan dan pendapatnya. Guru memberikan penguatan agar terjadinya proses tanya jawab terkait hal itu. Tanya jawabnya bisa dilakukan antara guru dengan peserta didik ataupun antar masing-masing peserta didik. Selanjutnya guru juga menampilkan berbagai video tentang pembuatan game sederhana melalui aplikasi Scratch yang bertemakan solusi atas permasalahan sampah di sekitar kita. Berbagai video tersebut diharapkan mengispirasi peserta didik dalam membuat game yang sama.

Proses kedua adalah membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari beberapa peserta didik yang akan melakukan tugasnya masing-masing. Misalnya ada yang membawa laptop, kabel rol, bawa koneksi internet, dan lain-lain. Mereka dipersilahkan untuk menuliskan rencana konkret dari tahapan-tahapan pembuatan game tersebut dari awal sampai akhir.

Proses ketiga adalah proses pengerjaannya. Mereka melakukan pembuatan game pilah sampah melalu aplikasi Scratch. Mereka bisa diarahkan untuk melihat video tutorial dalam pembuatan game pilah sampah melalui aplikasi Scratch. Guru bisa mengarahkan untuk membuat sesuatu yang berbeda dari yang mereka lihat. Misalnya menginput gambar-gambar yang berbeda dari video tutorial yang mereka lihat.

BACA JUGA:  Kemacetan Mudik Lebih Horor dari Film Horor

Proses akhir adalah kegiatan demonstrasi yaitu menjalankan game yang telah dibuat tersebut. Kemudian tiap kelompok yang tadi menyampaikan presentasi terkait proses pembuatannya. Kemudian peserta didik lain yang menjadi audiens dapat menanggapi dan mengajukan berbagai pertanyaan.Tugas guru adalah memantau seluruh tahapan tersebut. Guru memberikan penilaian yang mengukur tingkat bernalar kritis dan tingkat kreativitas peserta didiknya. Sehingga perkembangan pada tiap peserta didik dapat terlihat. Siapakah yang belum berkembang, siapakah yang sudah berkembang sesuai harapan, dan siapakah yang berkembang melampaui harapan.

Tentunya dalam membuat kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila seperti tadi sekolah harus menyediakan berbagai komponen pendukung. Sarana tersebut meliputi jaringan internet, ketersediaan komputer/laptop, guru yang memahami TIK, serta sarana dan prasarana lainnya. Diharapkan tulisan ini dapat menginspirasi kita semua khususnya rekan-rekan Guru hebat. Selamat melatih peserta didik di sekolah masing-masing!

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818