Oleh: Murodi al-Batawi
Di tengah gempuran informasi dan simplifikasi berpikir, pesantren di Nusantara menunjukkan kapasitasnya sebagai institusi yang tidak hanya mengajarkan agama secara tekstual, tetapi juga mengasah nalar kritis melalui tradisi kajian filsafat. Anggapan bahwa pesantren hanya berkutat pada hafalan dan pembacaan literal kitab kuning perlu diluruskan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pesantren justru memiliki tradisi intelektual yang kaya, di mana filsafat bukanlah musuh, melainkan bagian tak terpisahkan dari upaya memahami agama secara mendalam dan kontekstual. Tradisi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak agar generasi santri tidak hanya religius, tetapi juga kritis dan inovatif dalam menyikapi tantangan zaman.
Tradisi keilmuan di pesantren sesungguhnya sudah sejak lama mengakomodasi dimensi filosofis. Hal ini terbukti dari keberadaan kajian kitab-kitab klasik yang sarat dengan logika dan argumentasi rasional. Di samping kajian aqidah, fiqih, dan tasawuf, banyak pesantren tradisional juga mengajarkan kitab-kitab yang bersinggungan langsung dengan filsafat, seperti ilmu mantiq (logika) dan balaghah. Bahkan, kitab Isaghuji yang memuat logika tradisional ditemukan dipelajari di salah satu pesantren di Madura. Ini menunjukkan bahwa diskursus filsafat bukanlah produk asing atau Barat semata yang dipaksakan, melainkan telah menjadi disiplin keilmuan yang inheren dengan tradisi pesantren, dengan kesinambungan sanad keilmuan yang jelas.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran tokoh-tokoh besar pesantren. Seperti yang diungkapkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), secara genealogis, struktur keilmuan pesantren merupakan hasil dialektika antara dua arus intelektualitas besar, yaitu humanisme Islam dan serapan dari nalar berpikir filosofi Yunani yang telah mengakar di Timur Tengah. Menurut Gus Dur, pesantren adalah lembaga yang berani mengambil lompatan pemikiran ala filosofi Yunani, namun di sisi lain tetap mengedepankan al-Qur’an dan al-Hadis sebagai landasan utama. Kitab kuning dalam pandangan ini difungsikan sebagai referensi nilai universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan, sekaligus sebagai mata rantai keilmuan yang bersambung hingga pada Nabi Muhammad SAW.
Di era modern ini, peran filsafat di pesantren menjadi semakin krusial. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya pesantren mengembangkan tradisi intelektual kritis berbasis turats dengan pendekatan multidisipliner, mulai dari semantik, filologi, hingga antropologi. Upaya ini penting agar khazanah klasik Islam tetap hidup, relevan, dan memberi kontribusi nyata bagi kehidupan modern. Ia mengingatkan bahwa membaca dalam tradisi Islam (iqra’) tidak sekadar melafalkan huruf, tetapi juga menghimpun makna dari alam semesta, diri manusia, dan wahyu secara komprehensif. Di sinilah peran filsafat sebagai alat untuk membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial, yang kemudian dikonfirmasikan dengan nilai-nilai wahyu.
Praktik nyata dari tradisi ini dapat dilihat di berbagai pesantren, seperti Pondok Modern Darussalam Gontor yang secara konsisten menyelenggarakan kegiatan Fathul Kutub. Kegiatan ini menguji ketajaman berpikir santri dalam menelaah kitab turats, menerapkan metode konklusi hukum dengan berbagai pendekatan mazhab, dan menumbuhkan kesadaran bahwa membaca kitab klasik bukan hanya perkara intelektual, tetapi juga spiritual. Hal ini selaras dengan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang menekankan pentingnya etika dan adab dalam menuntut ilmu, sebuah nilai filosofis yang tertuang dalam kitabnya, *Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim*. Pemikiran beliau yang memadukan nilai tradisional Islam, sanad keilmuan, dan adab, tetap relevan di tengah tantangan globalisasi dan disrupsi teknologi .
Kesimpulan
Kesimpulannya, tradisi kajian filsafat di pesantren adalah sebuah kekayaan intelektual yang tak ternilai. Ia menjadi bukti bahwa pesantren mampu menjadi arsitek pemikiran generasi muda yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kritis, beretika, dan terbuka terhadap perubahan. Filsafat di pesantren bukan sekadar ilmu, tetapi seni dalam membentuk karakter dan pemikiran, menjadikan santri siap membangun masa depan yang cerdas dan beradab. Sudah saatnya kita memandang pesantren sebagai pusat peradaban yang dinamis, bukan sekadar lembaga pendidikan agama konservatif.
Wallahua’lambishawab.
Pamulang, 08 September 2026
Murodi al-Batawi.




