Opini

Pesantren dan Tradisi Kajian Tasawuf, Merawat Akhlak di Tengah Arus Zaman

×

Pesantren dan Tradisi Kajian Tasawuf, Merawat Akhlak di Tengah Arus Zaman

Sebarkan artikel ini
Pesantren dan Tradisi Kajian Tasawuf, Merawat Akhlak di Tengah Arus Zaman

Oleh: Murodi al-Batawi

Di tengah gempuran modernitas yang kerap mengagungkan rasionalitas dan materi, pesantren di Nusantara tetap berdiri sebagai oase spiritual yang tak lekang oleh waktu. Salah satu pilar utama yang membuat institusi ini terus relevan adalah tradisi kajian tasawuf yang dirawat turun-temurun. Lebih dari sekadar ilmu, tasawuf di pesantren adalah fondasi pembentukan karakter, yang mengedepankan adab di atas segalanya, menjadikannya penyeimbang bagi kecerdasan intelektual semata.

Hubungan pesantren dan tasawuf bukanlah kebetulan sejarah, melainkan sebuah keniscayaan. Sejak awal Islamisasi Nusantara, dimensi sufistik menjadi bagian fundamental karena kesesuaiannya dengan latar belakang asketisme masyarakat lokal yang telah terbiasa dengan tradisi spiritual. Para ulama yang belajar di Mekah dan Madinah, seperti Syekh Ahmad Khatib Sambas dan KH. Hasyim Asy’ari, membawa gelombang pemikiran yang merekonsiliasi syariat dan tasawuf, membentuk tradisi intelektual pesantren hingga kini. Dalam konteks ini, tasawuf bukanlah ajaran asing yang diimpor, melainkan telah berakulturasi dan menjadi bagian dari identitas Islam Nusantara.

Tradisi kajian tasawuf di pesantren dijalankan melalui metode yang khas, mengutamakan pemahaman mendalam dan keteladanan. Kitab-kitab klasik seperti Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazali menjadi “makanan pokok” para santri, disampaikan melalui metode bandongan, di mana kiai menjelaskan kitab secara perlahan dan berulang-ulang . Tidak hanya itu, banyak pesantren yang mengkaji karya ulama Nusantara. Kitab Siraj at-Thalibin karya Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi, misalnya, menjadi rujukan mendunia dan bahkan dipelajari di Universitas Al-Azhar . KH. Abdul Jalil dari Kudus juga menerjemahkan Hidayatul Adzkiya’ ke dalam bahasa Jawa Pegon untuk memudahkan pemahaman santri. Ini membuktikan bahwa tradisi keilmuan pesantren tidak hanya adopsi, tetapi juga melahirkan karya-karya monumental.

Inti dari kajian tasawuf di pesantren adalah pembentukan akhlak dan kesadaran moral. Seperti diungkapkan Gus Said, tradisi pesantren lebih mengedepankan akhlak daripada ilmu. Hal ini diamini oleh penelitian yang menunjukkan bahwa praktik tasawuf di pesantren, seperti dzikir dan tafakur, memperkuat regulasi emosi dan internalisasi nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan empati. Pesantren Idrisiyyah Putri, misalnya, mengimplementasikan maqomat taubat, zuhud, dan sabar melalui program harian untuk membangun akhlakul karimah. Di sinilah letak keunggulan pesantren: ia tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan mulia akhlaknya.

Ajaran tasawuf juga menjadi penyeimbang spiritual di zaman modern. Di era yang serba cepat dan materialistis, konsep-konsep seperti zuhud dan qona’ah yang diajarkan di pesantren menjadi benteng terhadap sikap berlebihan dan keserakahan. Syekh Ihsan Dahlan bahkan menafsirkan ulang konsep uzlah (menyepi) di masa modern sebagai kemampuan untuk membaur dalam masyarakat tetapi tetap menjaga diri dari godaan duniawi. Ini menunjukkan bahwa tasawuf di pesantren bukanlah ajaran yang kaku dan pasif, melainkan dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman.

Pesantren dan tradisi kajian tasawuf adalah warisan berharga yang tak ternilai. Ia bukan hanya ruang belajar agama, tetapi juga pusat pembinaan moral dan benteng spiritualitas bangsa. Di tengah arus globalisasi yang sering menimbulkan krisis identitas dan moral, pesantren hadir sebagai penjaga nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Sudah saatnya kita memandang tradisi ini bukan sebagai peninggalan kuno yang tertinggal, melainkan sebagai sumber solusi dan inspirasi bagi peradaban modern yang haus akan makna dan ketenangan jiwa.

Demikian dan terima kasih.
Wallahua’lambishawab.

Pamulang, 07 September 2026.
Murodi al- Batawi.