Health  

Virus Nipah: ‘COVID-19 Part 2’ atau Ancaman yang Belum Kita Sadari?

Oleh Siti Zulfa Khoiruni, mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

DEPOKPOS – Dalam beberapa dekade terakhir, dunia dihadapkan pada ancaman penyakit menular baru yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.

Sebagian besar penyakit tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkaitan dengan interaksi manusia dengan hewan dan lingkungan yang semakin intens. Interaksi ini terlihat dalam praktik konsumsi satwa liar maupun aktivitas pasar yang memperjualbelikan hewan hidup, yang sering kali tidak disadari sebagai risiko kesehatan.

Kelelawar, yang di beberapa daerah dikonsumsi sebagai pangan, diketahui menjadi reservoir berbagai virus berbahaya yang berpotensi menular ke manusia. Fenomena ini menempatkan zoonosis sebagai isu krusial dalam kesehatan global.

Apa itu Zoonosis?

Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Secara global, sekitar 60% penyakit infeksi pada manusia berasal dari hewan, dan lebih dari 70% penyakit infeksi baru merupakan zoonosis. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan, konsumsi makanan terkontaminasi, maupun lingkungan yang tercemar.

Zoonosis menjadi penting karena tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga memiliki potensi penyebaran lintas negara, terutama di era mobilitas tinggi. Selain itu, beberapa zoonosis memiliki tingkat kematian yang tinggi serta dapat menimbulkan dampak besar terhadap ekonomi dan stabilitas sosial. Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata bagaimana penyakit dari hewan dapat berkembang menjadi krisis global. Oleh karena itu, zoonosis termasuk dalam isu health security dan berpotensi menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Salah satu zoonosis yang perlu diwaspadai adalah virus Nipah. Virus ini pertama kali ditemukan di Malaysia pada tahun 1998 dengan reservoir utama kelelawar buah (Pteropus). Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi, sekitar 40–75% pada kasus yang terinfeksi, dan dapat menular dari hewan ke manusia maupun antar manusia.

Di Indonesia, hingga saat ini belum terdapat kasus terkonfirmasi pada manusia. Namun, kondisi ini tidak berarti risiko tersebut tidak ada. Luasnya habitat kelelawar serta tingginya interaksi manusia dengan hewan dan lingkungan menunjukkan bahwa potensi penularan tetap perlu diwaspadai. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini, surveilans, dan kesiapsiagaan sistem kesehatan.

Lalu, bagaimana cara mencegah risiko penyakit yang berasal dari interaksi manusia, hewan, dan lingkungan ini?

Dalam menghadapi ancaman tersebut, pendekatan One Health menjadi relevan.

Pendekatan ini melihat kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Dalam konteks zoonosis, banyak penyakit muncul dari interaksi ketiganya. Jika pencegahan hanya berfokus pada manusia, sumber penularan sering terlewat sehingga risiko tetap tinggi. Oleh karena itu, One Health menekankan kolaborasi lintas sektor, termasuk kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Pendekatan ini berjalan seiring dengan kerangka International Health Regulations (IHR), yang berfungsi dalam mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan secara global. Jika IHR berperan dalam sistem pelaporan dan respons, maka One Health memperkuatnya melalui deteksi dini berbasis integrasi data manusia, hewan, dan lingkungan. Integrasi ini memungkinkan surveilans yang lebih menyeluruh dan respons yang lebih cepat terhadap potensi wabah.

Namun, sejauh mana kesiapan Indonesia dalam surveilans zoonosis?

Berdasarkan Joint External Evaluation (JEE) IHR 2023, Indonesia memperoleh skor 4 untuk indikator surveilans zoonosis, yang menunjukkan bahwa sistem sudah berjalan secara nasional. Meski demikian, masih terdapat tantangan seperti pendanaan yang belum berkelanjutan, rencana kontingensi yang belum lengkap, serta komunikasi lintas sektor dan laboratorium yang belum optimal sehingga pertukaran data terhambat.

Penilaian Risiko Cepat Nipah tahun 2026 juga menunjukkan bahwa hanya sekitar 8% kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki Tim Gerak Cepat terlatih dan bersertifikat. Artinya, tidak semua daerah memiliki kesiapan yang sama dalam merespons potensi wabah. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan sistem saja tidak cukup. Surveilans memerlukan dukungan pelatihan, komunikasi, dan supervisi agar berjalan efektif. Supervisi berperan penting dalam memastikan kualitas pelaksanaan melalui pemantauan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Tantangan juga terjadi pada komunikasi risiko kepada masyarakat. Kemampuan komunikasi di daerah belum merata, ditambah kendala birokrasi dan keterbatasan umpan balik. Akibatnya, informasi penting sering terlambat atau tidak tersampaikan secara utuh, sehingga kesadaran masyarakat terhadap zoonosis masih rendah.

Rekomendasi dalam menghadapi Zoonotic Disease

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan zoonosis di Indonesia masih menghadapi kesenjangan. Untuk itu, penguatan koordinasi lintas sektor dalam kerangka One Health perlu menjadi langkah utama, baik dalam kondisi normal maupun saat wabah. Koordinasi yang kuat memungkinkan data dan temuan lapangan segera dibagikan dan ditindaklanjuti bersama.

Selain itu, surveilans berbasis masyarakat perlu menjadi prioritas karena masyarakat merupakan pihak yang paling awal mendeteksi perubahan di lingkungan, seperti kematian hewan atau aktivitas berisiko. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, sistem surveilans akan kehilangan komponen deteksi paling awal.

Penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan Tim Gerak Cepat juga perlu dilakukan secara lebih merata melalui pelatihan berkelanjutan, supervisi, dan kesiapan sarana pendukung. Dengan demikian, tenaga kesehatan dapat mengenali kasus lebih awal dan merespons secara cepat serta tepat.

Pada akhirnya, penanganan zoonosis seperti virus Nipah bukan hanya soal ada atau tidaknya kasus, tetapi tentang kesiapan mencegah risiko sebelum berkembang menjadi wabah. Dengan kolaborasi lintas sektor, keterlibatan masyarakat, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pendekatan One Health dapat menjadi langkah nyata dalam melindungi masyarakat dari ancaman zoonosis di masa depan.