<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Betawi Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/tag/betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com/tag/betawi/</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Oct 2025 22:45:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>Betawi Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com/tag/betawi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Permata MHT Gelar FGD Dorong Putera Betawi Mendunia</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/permata-mht-gelar-fgd-dorong-putera-betawi-mendunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2025 22:45:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Permata MHT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=91418</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Anak Betawi bukan lagi jago kandang, anak Betawi sudah mendunia.”</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/permata-mht-gelar-fgd-dorong-putera-betawi-mendunia/">Permata MHT Gelar FGD Dorong Putera Betawi Mendunia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> — “Anak Betawi bukan lagi jago kandang, anak Betawi sudah mendunia.”</p>
<p>Kalimat itu diucapkan Dr. KH. Marullah Matali, Ketua DPP Permata MHT, saat membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Permata MHT, Diaspora Anak Betawi, yang digelar pada Jumat (24/10/2025) di Hotel Mega Anggrek, Kemanggisan, Jakarta Barat.</p>
<p>FGD yang mengusung tema “Melestarikan Identitas Lokal, Mengembangkan Citra Global” ini menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif dari kalangan diaspora Betawi yang kini menetap dan berkiprah di berbagai negara.</p>
<p>Mereka adalah Dr. Eng. Ismail, ahli nuklir lulusan ITB yang kini bekerja di Jepang, Dian Nurhayati, M.I.Kom, profesional komunikasi yang sukses berkarier di Qatar; serta Shandy F. Aditya, BIB., MPBS, putra dari Prof. Sylviana Murni yang saat ini bermukim di Finlandia.</p>
<h3>Marullah: Saatnya Anak Betawi Menjelajah Dunia</h3>
<p>Dalam sambutannya yang disampaikan secara live streaming, Marullah mengajak seluruh masyarakat Betawi untuk bangga dan percaya diri menghadapi era global.</p>
<p>“Permata MHT akan terus mengajak seluruh kaum Betawi, dan siapa saja yang peduli dengan Jakarta, untuk bergabung di bawah satu semangat persatuan,” ujarnya.</p>
<p>Ia menegaskan, gerakan Permata MHT berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan semangat ukhuwah Islamiyah.</p>
<p>“Seluruh umat itu bersaudara. Apa yang dirasakan satu, semestinya juga dirasakan yang lain,” katanya.</p>
<p>Menurutnya, peran masyarakat Betawi kini harus lebih terbuka terhadap perubahan dan globalisasi.</p>
<p>“Anak Betawi jangan jadi katak dalam tempurung. Saatnya menjelajah, belajar, dan berpengaruh di mana pun berada,” tegas Marullah.</p>
<p>Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk berkontribusi bagi kemajuan ibu kota.</p>
<p>“Jakarta hari ini menuju kota global. Tugas kita bersama menjadikan Jakarta sejajar dengan kota-kota besar dunia, tanpa kehilangan jati diri Betawi,” ujarnya.</p>
<p>Sebagai moderator dalam FGD ini adalah H.Fikrie Isnaeni S.Kom, yang merupakan anak dari salah satu pendiri Permata MHT, alm H.Djabir Chaidir Fadhil.</p>
<p>Salah satu tokoh Betawi yang juga ikut dalam FGD hari ini adalah Prof. Sylviana Murni, melalui live streaming ia mengatakan, anak Betawi sekarang sudah semakin maju, bahkan sudah mendunia.</p>
<p>&#8220;Saya sendiri baru saja mendeklarasikan Betawi Akademia, yang berisikan para Profesor asli anak Betawi, saat ini sudah berjumlah 39 orang, dan akan terus bertambah,&#8221; jelasnya.</p>
<p>&#8220;Pesan saya cuma satu, sebagai anak Betawi, sehebat apapun adab dan akhlak serta ibadah harus nomor satu. Saya saja sampai hari ini masih tetap belajar mengaji di LBIQ,&#8221; ucapnya.</p>
<h3>Shandy F. Aditya: Saatnya Betawi Tampil dan Berkontribusi</h3>
<p>Dari Finlandia, Shandy F. Aditya menilai masyarakat Betawi memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global.</p>
<p>“Etnis Betawi termasuk kelompok besar di Indonesia dengan persentase sarjana yang cukup tinggi. Ini menunjukkan fondasi yang kuat untuk terus maju,” katanya.</p>
<p>Shandy mendorong generasi muda Betawi agar memanfaatkan peluang pendidikan, termasuk beasiswa luar negeri.</p>
<p>“Kalau kita bisa bertahan di Jakarta, berarti bisa hidup di mana saja. Tinggal kemauan untuk terus belajar,” ujarnya.</p>
<p>Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah pergaulan global.</p>
<p>“Diaspora itu tugasnya memperkuat jejaring dan membawa nama baik budaya Betawi di kancah dunia. Jangan pernah malu bilang gue anak Betawi, karena kita sekeren itu,” tuturnya.</p>
<h3>Dian Nurhayati: Belajar dan Beradaptasi di Negeri Orang</h3>
<p>Sementara itu, Dian Nurhayati, M.I.Kom, yang kini bekerja di Qatar, menceritakan pengalamannya beradaptasi di lingkungan internasional.</p>
<p>“Awal tinggal di luar negeri memang banyak penyesuaian, tapi dari situ justru saya belajar banyak hal,” ungkapnya.</p>
<p>Menurut Dian, kemampuan berbahasa dan keterbukaan terhadap budaya menjadi kunci sukses.</p>
<p>“Kita harus berani mengeksplor diri dan terus belajar di mana pun berada,” ujarnya.</p>
<p>Ia juga tetap aktif memperkenalkan budaya Betawi di Qatar melalui kegiatan komunitas.</p>
<p>“Kami ingin menunjukkan bahwa orang Betawi punya karakter kuat, terbuka, dan mampu beradaptasi di mana saja,” tambahnya.</p>
<p>Dian menutup dengan pesan penuh makna:</p>
<p>“Jangan pernah merasa paling pintar supaya kita mau terus belajar, dan jangan merasa paling kaya supaya kita mau terus bekerja.”</p>
<h3>Dr. Eng. Ismail: Dari Rawa Belong ke Jepang</h3>
<p>Kisah inspiratif juga datang dari Dr. Eng. Ismail, ahli nuklir asal Rawa Belong yang kini bekerja di Jepang.<br />
“Teknologi tinggi seperti nuklir memang berisiko besar, tapi di situlah tantangannya,” ujarnya.</p>
<p>Lulusan ITB ini menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia unggul di bidang energi nuklir, namun belum sepenuhnya didukung kebijakan yang memadai.</p>
<p>“Kalau energi kita stabil, bersih, dan mandiri, Indonesia akan lebih berdaulat,” katanya.</p>
<p>Ismail berpesan kepada generasi muda Betawi agar berani keluar dari zona nyaman.</p>
<p>“Tinggalkan stigma anak Betawi sebagai jago kandang, mari bersaing dengan kemampuan dan kemauan diri. Saya anak pedagang bunga dari Rawa Belong, tapi Alhamdulillah bisa jadi insinyur. Kuncinya belajar dan kuatkan adab di mana pun kita tinggal,” tutupnya.</p>
<h3>Permata MHT: Persatuan, Bukan Politik</h3>
<p>Dalam kesempatan yang sama, H. Beky Mardani, Ketua I Permata MHT, menegaskan bahwa keberadaan diaspora Betawi menjadi kebanggaan tersendiri.</p>
<p>“Kita patut bersyukur karena anak-anak Betawi kini ada di mana-mana. Mereka berprestasi dan membawa nama baik Jakarta di kancah internasional,” ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, H. M. Nuh, Ketua Harian Permata MHT, mengingatkan agar organisasi tidak terjebak dalam kepentingan politik.</p>
<p>“Permata didirikan bukan untuk politik atau komersial, tapi untuk menyatukan orang-orang Betawi. Kita harus tetap kompak dan menjaga marwah,” tegasnya.</p>
<p>Menurut H. M. Nuh, dengan keikhlasan dan persaudaraan, orang Betawi bisa terus berjalan bersama.</p>
<p>“Politik boleh, tapi jangan sampai memecah. Selama kita rukun dan berpadu, insya Allah Betawi tetap tegak,” pungkasnya.</p>
<p>Kegiatan FGD ini turut dihadiri perwakilan Korwil Permata MHT dari lima wilayah, perwakilan anak Betawi di Jabodetabek dan ajaran pengurus DPP Permata MHT, di antaranya H. Supli Ali (Sekjen), H. Hamzah (Bendahara Umum), H.Naman Setiawan, H.Yusron Sjarief, H.Tanto Tabrani, Syahril, serta seniman dan tokoh Betawi seperti H. Sarnadi Adam dan Hj. Tonah.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/permata-mht-gelar-fgd-dorong-putera-betawi-mendunia/">Permata MHT Gelar FGD Dorong Putera Betawi Mendunia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251025_193950-1536x1155.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 13:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90320</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/para-ulama-betawi-tempo_220128200837-467.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejumlah Profesor Asal Betawi Gagas Betawi’s Intellectual Circle</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/sejumlah-profesor-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 May 2025 12:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JABOTABEK]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi’s Intellectual Circle]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79545</guid>

					<description><![CDATA[<p>Betawi's Intellectual Circle dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/sejumlah-profesor-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/">Sejumlah Profesor Asal Betawi Gagas Betawi’s Intellectual Circle</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em> Betawi&#8217;s Intellectual Circle dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://majalahekonomi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Di hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025, sejumlah intelektual Betawi mengadakan acara Silaturrahim di Assyiik Resto, Setu Cipayung, Kecamatan Setu Cipayung, Jakarta Timur.</p>
<p>Sejumlah intelektual Betawi itu terdiri dari para Profesor dari beberapa Perguruan Negeri dan Swasta, di Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selain itu, juga dihadiri oleh salah seorang Jenderal TNI AD (purnawirawan), yang juga berasal dari Betawi. Beliau juga yang memfasilitasi pertemuan tersebut di restonya.</p>
<p>Pertemuan Silaturrahim itu digagas oleh Prof. Murodi dan Prof. Sylvia Murni, yang merupakan penggagas dan pendiri Betawi’s Profesor Club.</p>
<p>Berawal dari keinginan sejumlah profesor Betawi untuk mengadakan Silaturrahim guna menggagas berdirinya sebuah forum atau lembaga yang menghimpun potensi intelektual Betawi dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di daerah Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selama ini, potensi itu masih berserakan tidak termanfaatkan secara maksimal, baik oleh lembaga pendidikan atau Pemerintah Daerah Jakarta, terutama terkait pemberdayaan masyarakat Betawi dan kebudayaannya.</p>
<p>Padahal, banyak profesor dan doktor dari komunitas etnis masyarakat Betawi yang bisa diajak kerjasama, semisal Prof. Yasmin Shihab, anteopolog UI, Prof. Bahrullah Akbar, Mantan Ketua BPK RI, Prof. Hasbullah Thabrani, seorang dokter senior. Prof. Zulkifli, Dekan FKM UI, Prof. Agus Suradika, dan masih banyak lagi yang lain.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang hebat dan potensial. Karena itu, meski dalam kedibukan luar biasa, mereka mau menyempatkan diri hadir guna menggagas berdirinya sebuah organisasi atau forum intelektual Betawi.</p>
<p>Meski belum disepakati namanya, tapi mereka bersepakat untuk secara bersama membentuk sebuah lembaga untuk menghimpun para intelektual Betawi potensial.</p>
<h3><em>Betawi’s Intellectual Circle</em></h3>
<p>Gagasan mendirikan forum atau semisal Betawi’s Intellectual Circle bertjuan, antara lain untuk:</p>
<p>Pertama meningkatkan kualitas pemikiran dan penelitian di bidang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kedua Mengembangkan program pengabdian masyarakat yang berbasis kebudayaan Betawi.</p>
<p>Ketiga Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Betawi.</p>
<p>Keempat. Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya.</p>
<p>Semua gagasan tersebuat akan dituangkan dalam bentuk Program Diskusi Ilmiah, tentang topik-topik yang relevan dengan kebudayaan Betawi. Selain itu, juga melakukan penelitian kolaboratif dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya tentang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kemudian, ada juga program publikasi Jurnal ilmiah tentang kebudayaan Betawi. Terakhir, program kegiatan budaya yang mempromosikan kebudayaan Betawi, seperti festival, pameran, dan pertunjukan seni.</p>
<p>Dengan demikian, <em>Betawi&#8217;s Intellectual Circle</em> dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal Itu semua impian kami sebagai intelektual masyarakat Betawi yang tergabung dalam Betawi’s Intellectual Circle. Semoga terwujud semua impian tersebut dalam waktu dekat.</p>
<p><em><strong>Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/sejumlah-profesor-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/">Sejumlah Profesor Asal Betawi Gagas Betawi’s Intellectual Circle</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/v1747743774/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menuju 5 Abad Kota Jakarta, Jurnalis Betawi Siap Beri Kontribusi Lebih</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/menuju-5-abad-kota-jakarta-jurnalis-betawi-siap-beri-kontribusi-lebih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2025 03:09:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JABOTABEK]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[FJB]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Jurnalis Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79334</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan mengusung...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/menuju-5-abad-kota-jakarta-jurnalis-betawi-siap-beri-kontribusi-lebih/">Menuju 5 Abad Kota Jakarta, Jurnalis Betawi Siap Beri Kontribusi Lebih</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahekonomi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan mengusung tema &#8220;Kontribusi Jurnalis Betawi Menyongsong Lima Abad kota Jakarta&#8221; acara ini berlangsung di Saung Kembangan, Jakarta Barat, pada Ahad sore (23/3/2025).</p>
<p>Dengan menampilkan tiga orang narasumber yang cukup senior di dunia jurnalistik yakni H Beky Mardani yang juga sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), kemudian H Yusron Sjarief, Jurnalis TV (news anchor) senior dan Ahmad Buchori atau biasa disapa Bang Boy, yang merupakan jurnalis senior Antara.</p>
<p>Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB) M Syakur Usman mengawali dengan pembukaan, dirinya menekankan pentingnya Jurnalis Betawi berkontribusi dan berperan aktif dengan usulan-usulan kegiatan untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta yang akan dirayakan pada 22 Juni 2027 nanti.</p>
<p>FJB sendiri sudah melakukan inisiatif dengan mengembangkan laman berita online: Kabarbetawi.id. Laman ini akan banyak menyajikan konten-konten masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta.</p>
<p>Pada acara bukber ini. FJB juga menyampaikan beberapa program yang akan digelar untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta, antara lain roadshow jurnalistik ke kampus-kampus, penerbitan buku 500 Cerita Tanah Betawi, workshop platform digital bersama kreator-kreator konten kebetawian, dan sebagainya.</p>
<p>Tepat pukul 16.30 acara diskusi dimulai yang dipandu oleh Bang Faisal dari RRI.</p>
<p>Banyak bermunculan ide dan gagasan baru agar jurnalis Betawi punya peran besar menuju lima abad kota Jakarta.</p>
<p>Beky Mardani misalnya, dirinya berharap agar jurnalis Betawi punya karya dalam bentuk buku yang bisa mengabadikan jasa para tokoh Betawi dari masa ke masa.</p>
<p>Selain itu, dia juga ingin ada karya lain yang selama ini menjadi memory kolektif orang tua agar dituangkan dalam tulisan. Seperti bagaimana kisah kampung di Betawi dahulu sebelum pembangunan sangat massif mewarnai Jakarta.</p>
<p>“Anak sekarang mana ngerasain bisa ngelihat Monas dari atas pohon kecapi. Nah, itu yang kita rasain dulu. Mari kita tulis, kita mulai dari kampung kita. Saya akan mulai dari kampung saya, Meruya,” ujar Beky yang juga Ketua PMI Jakarta Barat.</p>
<p>Yusron Sjarief menambahkan, banyak tradisi berkembang di Jakarta dan itu sangat terasa hingga kini bagi mereka yang masih tinggal di pemukiman non perumahan.</p>
<p>“Saya kalau jadi juri Abnon (Abang-None) Jakarta peserta selalu saya tanya tinggal di perkampungan atau di kompleks perumahan. Mereka yang tinggal di kompleks perumahan biasanya tidak tahu ada tradisi apa yang masih ada di Betawi,” katanya.</p>
<p>Sedangkan Ahmad Buchori menyoroti peran Jurnalis Betawi di banyak media masa umum, bukan media khusus Betawi. Karena itu, dia menyambut positif hadirnya website kabarbetawi.id milik FJB dan berharap bisa menyuarakan aspirasi warga Betawi.</p>
<p>“Kayak kejadian di Bekasi ada permintaan THR (kepada perusahaan) mengatasnamakan Betawi. Itu perlu kita luruskan, agar stigma Betawi di masyarakat tidak menjadi negatif,” ucapnya.</p>
<p>Diskusi semakin menarik menjelang Magrib.</p>
<p>Beberapa tamu undangan juga tampak hadir antara lain, Kasudin Kesbangpol Jakarta Barat, Mohammad Matsani, Ketua LBIQ dan Sekjen Permata MHT, H Supli Ali, serta adik-adik KMB PTIQ, juga hadir Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra dan Imbong Hasbullah dari LKB, serta Achmad Rizal (Sanggar Cingkrik S3 Rawa Belong).</p>
<p>Diakhir acara ada bagi-bagi buku, Bang Ipul: Simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur. Ada juga door prize tiket Ancol, dufan, dan Sea World, serta produk lainnya.</p>
<p>Kegiatan ini didukung oleh Gerakan Kebangkitan Betawi (Gerbang Betawi), Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ) DKI Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perumda Paljaya, Permata MHT, Madrasah Aliyah Citra Cendekia, minuman isotonik dan yogurt Yoyic, Saung Kembangan, Taman Impian Ancol, dan Bir pletok Bang Isra. (*)</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/menuju-5-abad-kota-jakarta-jurnalis-betawi-siap-beri-kontribusi-lebih/">Menuju 5 Abad Kota Jakarta, Jurnalis Betawi Siap Beri Kontribusi Lebih</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/f_auto,q_auto/v1742872154/WhatsApp-Image-2025-03-25-at-07.52.46_3382c5cb-FILEminimizer/WhatsApp-Image-2025-03-25-at-07.52.46_3382c5cb-FILEminimizer.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Rajab dan Perayaan Isra Mi’raj di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/rajab-dan-perayaan-isra-miraj-di-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2025 07:15:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Isra Mi’raj]]></category>
		<category><![CDATA[Rajab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=78972</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masyarakat Betawi selalu menanti moment peristiwa penting dalam Sejarah Islam, salah satunya moment memperingati perayaan peristiwa Isra Mi’raj.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/rajab-dan-perayaan-isra-miraj-di-betawi/">Rajab dan Perayaan Isra Mi’raj di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></p>
<p>Dalam Kalender Islam, Bulan Rajab adalah Bulan Ketujuh, setelah Bulan Jumadil Akhir. Kata Rajab berasal dari kata Rajaba, artinya menghormati atau mengagungkan. Pemberian nama ini karena pada bulan ini Suku-suku di Arab dahulu sangat menghormati dan mengagungkannya. Pada bulan ini diharamkan semua suku melakukan peperangan dan pertumpahan darah. Karenanya, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya untuk menjalin kembali tali silaturrahim yang terputus ketika terjadi peperangan di antara suku-suku tersebut. Mereka memaafkan kesalahan yang telah terjadi. Karena itu, banyak umat Islam kemudian memanfaatkan bulan ini dengan berbagai kegiatan karena dinilai banyak keutamaan yang terdapat pada bulan Rajab ini.</p>
<p>Di antara keutamaan bulan Rajab adalah terbukanya pintu Taubat. Pintu Taubat terbuka secara lebar untuk semua dosa yang dilakukan manusia, kecuali dosa Syirik. Makanya, banyak umat Islam melakukan pertaubatan untuk memohon ampun dari semua dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Bahkan di beberapa wilayah, seperti masyarakat Betawi dan masyarakat Banten, melaksanakan bersih diri di sore hari untuk memasuki bulan Rajab dan berpuasa pada keesokan harinya. Ada yang berpuasa satu sampai 1-3 hari dan ada yang berpuasa selama sebulan penuh. Mereka berharap memperoleh pahala dan ampunan di bulan Rajab tersebut.</p>
<h3>Beberapa peristiwa penting di bulan Rajab</h3>
<p>Pada bulan Rajab Siti Aminah mulai mengandung Janin Muhammad, hasil dari perkawinan Siti Aminah bt Wahab dan Abdullah bin Abdul Muthalib. Janin yang memang ditunggu mereka. Bahkan dalam satu riwayat, Abdullah bin Abdul Muthalib merupakan seorang pemuda tampan di wajahnya dan tubuhnya tersimpan sinar bercahaya yang menjadi incaran semua para gadis di kota Mekkah. Tetapi, setelah Abdullah menikah dengan Siti Aminah, cahaya tersebut hilang dan berpindah ke dalam tubuh Siti Aminah. Cahaya tersebut kemudian diakui oleh para gadis dan penduduk Mekkah bahwa cahaya tersebut bukan cahaya biasa, tapi cahaya sebagai simbol akan lahir seseorang dari rahim Siti Aminah yang akan menjadi orang besar.</p>
<p>Peristiwa penting yang tercatat dalam Sejarah Islam adalah Hijrah Pertama ke Habasyah yang terjadi pada tahun ke-5 Kenabian. Nabi menganjurkan agar umat Islam Mekkah yang mendapat gangguan dan siksaan oleh kafir Quraisy, untuk hijrah ke Habasyah atau Ethiopia. Tujuannya untuk menghindari berbagai gangguan dan siksaan dari pembesar dan penduduk kafir Mekkah. Pertanyaannya kemudian mengapa memilih Habasyah bukan Yaman atau Syam untuk pergi hijrah.<br />
Jawabannya, Habasyah negeri netral dan dipimpinnoleh seorang Raja Nasrani yang adil dan jujur. Sedang Yaman berada di bawah pengaruh dan pendudukan Persia. Sementara Syam berada di bawah pengaruh bangsa Romawi.</p>
<p>Setelah mempersiapkan segalanya, umat Islam Mekkah, terdiri dari 11 orang lelaki dan 5 orang perempuan. Hijrah kali ini dipimpin Usman bin Affan didampingi oleh isterinya Ruqayah binti Rasulillsh saw. Di Habasyah, mereka diterima dengan baik oleh raja Najasyi. Hijrah pertama ini menandakan dakwah Islam pertama yang terjadi di luar kota Mekkah dan kemudian hijrah ke beberapa tempat lain, seperti Thaif dan terakhir ke Madinah.</p>
<h3>Peristiwa Isra Mi’raj: Sebuah Catatan Penting dan Bersejarah</h3>
<p>Dan Peristiwa terpenting lainnya peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab yang menghasilkan perintah Allah kepada Nabi dan umat Islam untuk melaksanakan Shalat 5 waktu sehari semalam.</p>
<p>Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, Nabi Muhammad saw dibangunkan oleh Malsikat Jibril dan dibawa ke Masjidil Haram. Nabi Muhammad saw menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjifil Aqsha dan beribadah di sana. Kemudian dari Masjdil Aqsha, nabi Muhammad saw melakukan Mi’raj ke Sidratil Muntaha. Dalam perjalan tersebut nabi Muhammad saw bertemu dengan para nabi terdahulu; seperti nabi di langit pertama nabi Muhammad bertemu dengan nabi Adam. Di langit kedua, nabi Muhammad saw bertemu dengan nabi Yahya dan nabi Isa. Bertemu dengan nabi Musa Isa, dan nabi Ibrahim. Hingga ke langit ketujuh, beliau bertemu dengan Allah swt. Di situlah beliau menerima perintah untuk melaksanakan Shalat lima waktu.</p>
<h3>Peringatan Isra Mi’raj di Betawi</h3>
<p>Ada yang menarik dari tradisi perayaan peringatan Isra Mi’raj di Betawi. Masyarakat Betawi selalu menanti moment peristiwa penting dalam Sejarah Islam, salah satunya moment memperingati perayaan peristiwa Isra Mi’raj.</p>
<p>Biasanya mereka mempersiapkan perayaan tersebut dengan apik dan cukup meriah. Masjid dan Mushalla dibersihkan dan dicat ulang. Masyarakat Betawi, biasanya, melakukan gotong royong, termasuk persiapan menu masakan yang dilakukan. Mulai dari pengumpulan uang belanja. Membeli bahan masakan dan lalu mereka secara bersama-sama, terutama ibu-ibu memasak di dapur. Bahan yang sudah mereka beli, mereka bersihkan. Termasuk membersihkan hewan, seperti ayam dan kambing untuk dimasak.</p>
<p>Sementara para bapak dan panitia mempersiapkan tempat acara perayaan peringatan Isra Mi’raj. Panitia menjemput Kyai/ Ulama yang diundang sebagai pemberi materi atau ceramah tentang Isra Mi’raj.</p>
<p>Dahulu, sekitar akhir tahun 60-an saat belum ada listrik, masyarakat mempersiapkan beberapa petromax, sebagai alat penerang. Masyarakat Betawi, sebelum Maghrib, berdatangan ke Masjid atau Mushalla untuk melaksanakan Shalat Maghrib berjama’ah. Usai shalat, mereka berdzikir dan berdo’a untuk kesehatan, kebahagiaan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat. Sambil menunggu waktu Shalat Isya, mereka membaca al-qur’an dan berdiskusi banyak hal, terutama terkait persoalan keagamaan. Tiba saat Shalat Isya, mereka sudah siap melaksanakannya. Kemudian mereka biasanya berdzikir dan berfo’a bersama. Serelah itu, mereka menata kembali ruangan atau tempat untuk kegiatan pengajian berupa ceramah tentang Isra Mi’raj. Sambil menunggu penceramah, mereka mempersiapkan hidangan ringan untuk mereka dan penceramah.</p>
<p>Biasanya, penceramah yang diundang tidak hanya satu orang, tiga orang, bahkan lebih. Persis seperti pemilihan da’i. Para penceramah yang diundang biasanya yang sedang ngetop atau istilah sekarang viral. Seperti pada 1970-1980 an, penceramahnya terdiri dari KH. Hasyim Adnan. KH. Syukon Makmun. KH. Idham Kholid, KH. Zainuddin MZ, dan lain-lain. Mereka semuanya tampil, meski hanya 30 menit. Meski begitu, jama’ahnya membludag. Mereka baru pulang setelah rangkaian acara peringatan Isra Mi’raj usai, medki waktu penutupannya sekitar pukul 24.00 wib. Mereka senang mendapatkan ilmu pengetahuan agama yang mereka peroleh dari para Kyai berilmu.</p>
<p>Namun, sebelum mereka pulang, mereka sudah mendapatkan berkat atau ambengan, yang dimasak para ibu-ibu atau mereka membawanya dari rumah masing-masing yang dikumpulkan ke Masjid atau Mushalla. Kemudian usai mendengarkan ceramah, mereka ada yang dan banyak pula yang makan di lokasi acara dan membungkusnya untuk dibawa pulang.</p>
<p>Dahulu, makanan terenak adalah nasi berkat yang dibawa orang tua dari acara yang dilaksanakan di Masjid atau Mushalla. Mungkin karena sudah dibacakan do’a, sehingga memakannya terasa nikmat luar biasa {Odie}</p>
<p><em>Pamulang,11 Januari 2025</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/rajab-dan-perayaan-isra-miraj-di-betawi/">Rajab dan Perayaan Isra Mi’raj di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/islamic-center.or.id/wp-content/uploads/2024/02/DSC09661-1024x576.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Maulid Nabi di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 00:10:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=75080</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi/">Tradisi Maulid Nabi di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama yang seratus persen dianut. Hampir semua tradisi yang ada dan dilaksanakan umat Islam, selalu dilaksanakan secara baik oleh masyarakat Betawi.</p>
<p>Di antara tradisi yang selalu dilaksanakan adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw atau dikenal dengan sebutan Maulid Nabi Muhammad saw yang dilaksanakan pada setiap bulan Maulid. Bulan ini dikenal Muslim Indonesia sebagai bulan-bulan yang diagungkan Muslim Dunia, termasuk Muslim Indonesia, karena memiliki nilai haistoris luar biasa.</p>
<p>Pada bulan ini, dikenal sebagai hari kelahiran junjungan kita, Nabi Besar Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal pada 671 M. Beliau dikenal di seluruh umat manusia sebagai manusia yang memiliki posisi tertinggi di sisi Allah swt.</p>
<p>Umat Muslim di Betawi juga sangat memuliakan dan menghormati Rasullah saw sebagai manusia agung. Karenanya, setiap bulan kelahiran beliau selalu diperingati dengan berbagai acara, misalnya dengan mengundang para kyai, para ulama dan habaib untuk berceramah di tengah Muslim Betawi.</p>
<p>Memberikan nasihat dan wejangan untuk tetap menghormati Rasulullah saw sebagai sosok toladan. Para ulama Betawi menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam, baik di Mekkah atau Madinah, sampai kemudian agama ini datang di tanah Betawi dan masyarakat Muslim Betawi menerima Islam sebagai satu-satunya agama resmi mereka. Bahkan agama Islam menjadi perekat dalam pembentukan komunitas etnis Muslim Betawi.</p>
<p>Dari sinilah kemudian agama Islam memberikan pengaruh besar dalam pembentukan tradisi dan budaya Betawi. Semuanya dipadupadankan dengan nafas keislaman, sehingga masyarakat Betawi dikenal dengan masyarakat religius.</p>
<p><strong>Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Masyarkat Betawi</strong></p>
<p>Jika di masyarakat Jawa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan cara tersendiri, seperti Grebeg dan Sekatenan, maka masyarakat Betawi memperingatinya dengan ziarah ke makam para wali penyebar Islam, baik di Betawi atau di luar Betawi, mengadakan sunatan massal dan lain-lain, selain mengundang para kyai atau ulama untuk memberikan ceramah tentang figur panutan mereka, yaitu Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Semua sisi posisi dan perjuangan Nabi Muhammad saw dijelaskan, sehingga para jama’ah yang mendengarkan memahi sepak terjang Rasul dalam berdakwah dalam menyebarkan Islam. Biasanya, sekitar tahun 1970 an, ulama terkenal yang diundang untuk berceramah adalah KH. Hasyim Adanan, KH. Abdullah Syafi’i, KH. Syukron Ma’mun, dan lain-lain. Mereka memiliki tempat tersendiri di hati madyarkat Betawi.</p>
<p><strong>Nasi Berkat <em>Ambeng</em> Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhmammad saw</strong>.</p>
<p>Ada hal yang sangat menarik saaat usai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, yaitu makan Nasi berkat atau <em>Ambengan</em> yang sudah disispkan masyarakat. Pengucapan Nasi <em>Ambengan</em> ini mungkin merupakan pengaruh dari tradisi Jawa, yang kemudian di Betawi dengan sebutan <em>Nasi Berkat</em>, Nasi yang penuh dengan keberkahan, karena hidangan berupa nasi dan lauk pauk sudah dibacakan do’a. Dan memakannya memperoleh berkah atau berkat. Nasi berkat bukan hanya ada pada saat merayakan acara Maulid Nabi, jenis panganan ini ada pada setiap acara selamatan, baik selamatan hari-hari besar Islam atau acara tahlilan yang sering dilakukan Muslim Betawi karena hajatnya terpenuhi.</p>
<p>Usai pelaksanaan acara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, biasanya fitingi dengan acara ramah tamah dengan makan Nasi Berkat bersama dan juga disediakan besek untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari mengikuti acara petingatan Maulid Nabi Muhammad saw. Sesampai di rumah, biasanya keluarga sudah menunggu meski datang larut malam, mereka tetap menunggu. Anak stau keluarga yang dudah terlrlap tidur, dibangunkan untuk sekadar makan Nasi Berkat bersama-sama. Meski sudah larut malam, acara makan berkat bersama tetap dilakukan, karena memakan Nasi Berkst atau <em>Nasi Ambengan</em>, sangat nikmat. Kenikmatan itu dirasakan karena makan malam bersama dalam kondisi perut kosong dengan panganan berupa Ambengan yang dudah dibacakan do’a oleh banyak orang dibawah pimpinan para kyai yang datang saat itu. {Odie}.</p>
<p><em>Pamulang, 12 September 2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi/">Tradisi Maulid Nabi di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2021/10/1573403327-1.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Maulid Nabi di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 00:09:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=75283</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi-2/">Tradisi Maulid Nabi di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama yang seratus persen dianut. Hampir semua tradisi yang ada dan dilaksanakan umat Islam, selalu dilaksanakan secara baik oleh masyarakat Betawi.</p>
<p>Di antara tradisi yang selalu dilaksanakan adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw atau dikenal dengan sebutan Maulid Nabi Muhammad saw yang dilaksanakan pada setiap bulan Maulid. Bulan ini dikenal Muslim Indonesia sebagai bulan-bulan yang diagungkan Muslim Dunia, termasuk Muslim Indonesia, karena memiliki nilai haistoris luar biasa.</p>
<p>Pada bulan ini, dikenal sebagai hari kelahiran junjungan kita, Nabi Besar Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal pada 671 M. Beliau dikenal di seluruh umat manusia sebagai manusia yang memiliki posisi tertinggi di sisi Allah swt.</p>
<p>Umat Muslim di Betawi juga sangat memuliakan dan menghormati Rasullah saw sebagai manusia agung. Karenanya, setiap bulan kelahiran beliau selalu diperingati dengan berbagai acara, misalnya dengan mengundang para kyai, para ulama dan habaib untuk berceramah di tengah Muslim Betawi.</p>
<p>Memberikan nasihat dan wejangan untuk tetap menghormati Rasulullah saw sebagai sosok toladan. Para ulama Betawi menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam, baik di Mekkah atau Madinah, sampai kemudian agama ini datang di tanah Betawi dan masyarakat Muslim Betawi menerima Islam sebagai satu-satunya agama resmi mereka. Bahkan agama Islam menjadi perekat dalam pembentukan komunitas etnis Muslim Betawi.</p>
<p>Dari sinilah kemudian agama Islam memberikan pengaruh besar dalam pembentukan tradisi dan budaya Betawi. Semuanya dipadupadankan dengan nafas keislaman, sehingga masyarakat Betawi dikenal dengan masyarakat religius.</p>
<p><strong>Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Masyarkat Betawi</strong></p>
<p>Jika di masyarakat Jawa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan cara tersendiri, seperti Grebeg dan Sekatenan, maka masyarakat Betawi memperingatinya dengan ziarah ke makam para wali penyebar Islam, baik di Betawi atau di luar Betawi, mengadakan sunatan massal dan lain-lain, selain mengundang para kyai atau ulama untuk memberikan ceramah tentang figur panutan mereka, yaitu Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Semua sisi posisi dan perjuangan Nabi Muhammad saw dijelaskan, sehingga para jama’ah yang mendengarkan memahi sepak terjang Rasul dalam berdakwah dalam menyebarkan Islam. Biasanya, sekitar tahun 1970 an, ulama terkenal yang diundang untuk berceramah adalah KH. Hasyim Adanan, KH. Abdullah Syafi’i, KH. Syukron Ma’mun, dan lain-lain. Mereka memiliki tempat tersendiri di hati madyarkat Betawi.</p>
<p><strong>Nasi Berkat <em>Ambeng</em> Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhmammad saw</strong>.</p>
<p>Ada hal yang sangat menarik saaat usai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, yaitu makan Nasi berkat atau <em>Ambengan</em> yang sudah disispkan masyarakat. Pengucapan Nasi <em>Ambengan</em> ini mungkin merupakan pengaruh dari tradisi Jawa, yang kemudian di Betawi dengan sebutan <em>Nasi Berkat</em>, Nasi yang penuh dengan keberkahan, karena hidangan berupa nasi dan lauk pauk sudah dibacakan do’a. Dan memakannya memperoleh berkah atau berkat. Nasi berkat bukan hanya ada pada saat merayakan acara Maulid Nabi, jenis panganan ini ada pada setiap acara selamatan, baik selamatan hari-hari besar Islam atau acara tahlilan yang sering dilakukan Muslim Betawi karena hajatnya terpenuhi.</p>
<p>Usai pelaksanaan acara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, biasanya fitingi dengan acara ramah tamah dengan makan Nasi Berkat bersama dan juga disediakan besek untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari mengikuti acara petingatan Maulid Nabi Muhammad saw. Sesampai di rumah, biasanya keluarga sudah menunggu meski datang larut malam, mereka tetap menunggu. Anak stau keluarga yang dudah terlrlap tidur, dibangunkan untuk sekadar makan Nasi Berkat bersama-sama. Meski sudah larut malam, acara makan berkat bersama tetap dilakukan, karena memakan Nasi Berkst atau <em>Nasi Ambengan</em>, sangat nikmat. Kenikmatan itu dirasakan karena makan malam bersama dalam kondisi perut kosong dengan panganan berupa Ambengan yang dudah dibacakan do’a oleh banyak orang dibawah pimpinan para kyai yang datang saat itu. {Odie}.</p>
<p><em>Pamulang, 12 September 2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi-2/">Tradisi Maulid Nabi di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset-2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images/warga-sedang-menikmati-hidangan-pada-kenduri-maulid-akbar_20180213_092306.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jul 2024 05:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=71745</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Menarik, memang, ketika PSB (Pusat Studi Betawi),UIN Jakarta diajak berkolaborasi dengan...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/">Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Menarik, memang, ketika PSB (Pusat Studi Betawi),UIN Jakarta diajak berkolaborasi dengan Puslitbang LKKMO(Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi) Kemenag RI, untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi.</p>
<p>Menariknya, karena selama ini, terjemahan al-qur’an yang biasa dibaca adalah terjemahan bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda dan Melayu, sehingga bagi yang ingin memahami arti dari ayat yang dibaca, bisa langsung dapat dimengerti. Tanpa harus belajar bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah dan seterusnya.</p>
<p>Selain itu, terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa daerah, juga merupakan salah satu upaya pelestarian bahasa dan budaya suatu daerah, seperti kebudayaan Betawi. Terlebih proyek ini dikerjakan bareng dengan lembaga semi otonom UIN Jakarta, PSB( Pusat Studi Betawi).</p>
<p>Lembaga ini selain memiliki otoritas keilmuan, karena akan melibatkan para ahli di bidangnya, juga semua penerjemah adalah para sarjana dan guru besar asli dari komunitas etnis masyarakat Betawi.</p>
<p>Jadi, dengan demikian, proyek penterjemahan al-qur’an ke dalam bahasa Betawi, menjadi sangat menarik dan sangat penting. Terlebih, kerja ini juga melibatkan pemprov DKI yang mengajak budayawan dan pemerhati kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal yang lebih menarik lagi yang perlu diketahui bahwa masyarakat Betawi merupakan komunitas etnis yang sangat religius. Sebab hampir semua tradisi dan budaya yang diciptakannya selalu bernuansa teligi. Karenanya, sekali lagi, kerjasama ini sangat menguntungkan kedua belah pihak.</p>
<p>Pihak pengelola proyek, berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Pihak PSB dan komunitas etnis masyarakat Betawi juga sangat diuntungkan, karena bahasa dan budayanya dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan baik, sehingga masyarakat Betawi tidak perlu resah lagi akan kehilangan pijakan dasar budaya dan bahasanya.</p>
<h3>Bahasa Betawi= Bahasa Melayu Indonesia</h3>
<p>Dahulu, sebelum dilakukan penterjemahan al-qur’an ke dalam bahasa daerah dan khususnya Bahasa Betawi, umumnya mereka yang bukan ahli agama atau masyarakat awam, mereka membaca terjemahan yang berbahasa Indonesia. Dan ini mungkin juga hingga kini, sebelum proyek terjemahan al-qur’an ke dalam bahasa Betawi, mereka masih melakukannya.</p>
<p>Kalau begitu, pertanyaan yang mesti dimunculkan adalah, apakah orang Betawi awam akan tetap meneruskan membaca terjemahan al-qur’an berbahasa Indonesia atau terjemahan berbahasa Betawi. Karena hanya mngganti ejaan berbahasa Indonedia menjadi bahasa Betawi. Terlebih jika penterjemahnya ada yang kurang paham suatu istilah Betawi.</p>
<p>Pertanyyan lainnya, Betawi itu merupakan sebuah konsep kultural, bukan teritorial. Secara kultural, yang disebut masyarakat Betawi adalah masyarakat yang berbudaya dan berbahasa Betawi. Cakupannya lebih luas dari hanya sekadar teritorial.</p>
<p>Jika secara teritorial, yang disebut Betawi dahulu hanya sebatas wilayah DKI Jakarta saja. Maka secara kultural, yang disebut Betawi adalah masyarakat yang tinggal dan menetap di wilayah Jakarta,Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Kerawang (JABODETABEKWANG). Mereka menetsp di daerah yang sudah beakulturasi dengan bahasa dan budaya Sunda.</p>
<p>Karenanya, bahass Betawi mereka, seperti yang disebut YasminShahab, sebagai masyarakat Betawi pinggiran. Berbeda dengan bahasa dan budaya masyarakat Betawi Tengah atau pusat. Masyarkat Betawi Tengah memiliki bahasa dan budaya yang dipengaruhi oleh budaya dan bahasa Melayu dan Arab Islam.</p>
<p>Oleh karena itu, saya menyarankan, terjemahan al-qur’an ke dalam Bahasa Betawi Tengah, yang halus dan hasil dari akultasi budaya Betawi Melayu Islam. Seperti terjemahan dari kata أنا-أنت, harus diterjemahkan dengan kata (ane dan ente), jangan diterjemahkan jadi kata (elu-gue), dll. Karena bahasa al-Wyr’an merupakan bahasa sangat santun dan debgan strukrur bagasa yang tinggi. Jadi, jangan menggunakan bahasa guyonan yang biasa dipergunakan sehari-hari. Dengan begitu, kita juga meledtarikan budaya dan bahasa Arab yang sangat mulia dan ssntun tersebut.</p>
<p>Jika disepakati begitu, maka terjemahan ini menjadi khazanah tersendiri dalam pelestarian tradisi bahasa dan budaya Betawi.</p>
<p>Pamulang, 10 Juli 2024.<br />
Murodi</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/">Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.uinjkt.ac.id/uploads/fmXyXwZY/2022/09/IMG-20220923-WA0051.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Muharram: Tradisi Lebaran Yatim di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/muharram-tradisi-lebaran-yatim-di-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jul 2024 03:06:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran Yatim]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=71505</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Sebentar lagi kita umat Islam akan memasuki Tahun Baru Hijriyah 1446...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/muharram-tradisi-lebaran-yatim-di-betawi/">Muharram: Tradisi Lebaran Yatim di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></p>
<p>Sebentar lagi kita umat Islam akan memasuki Tahun Baru Hijriyah 1446 H. Tahun barunya bagi umat Islam di seluruh dunia. Biasanya, dalam perayaan Tahun Baru Hijriyah ini dirayakan berbeda dengan perayaan Tahun Baru Masehi.</p>
<p>Pada pergantian Tahun Baru Masehi selalu dirayakan dengan penuh meriah, yang telah dpersiapkan sebelumnya dengan rencana dan anggaran yang cukup besar. Tetapi, saat acara pergantian Tahun Baru Hijriyah, dirayakan dengan sangat sederhana oleh umat Islsm di srluruh dunia. Kedatangan awal tshun hijriyah selalu diperingati dengan kegiatan Ta’lim di Masjid dan Mushalla atau kegiatan santunan sosial untuk berbagi.</p>
<p>Dalam perhitungan Kalender Islam, Qamariyah atau Lunar System, Muharram adalah bulan pertama dalam tradisi penanggalan. Bulan ini juga sering disebut sebagai Tahun Baru Hijriyah. Penentuan dan penetapan Tahun Baru Hijriyah yang menggunakan pendekatan Bulan (Qamariyah) atau Lunar system ini dimulai pada masa pemerintahan khalifah Umar bin al-Khattab (634-644 M), atas usul Ali bin Abi Thalib.</p>
<h3>Sejarah Penetapan Tahun Hijriyah</h3>
<p>Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa sejak terjadinya Perang Riddah, banyak tokoh yang mengklaim jadi Nabi dan banyak sahabat yang gugur dalam masa pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Shiddieq (632-634 M), terlebih umat Islam belum memiliki sistem untuk mengetahui jumlah hari dalam sebulan. Karena selama ini, umat Islam masih menggunakan sistem penanggslan tahun masehi. Untuk itu, para sahabat mengusulkan agar dibuat kebijakan untuk menentukan Tahun Baru, yang membedakan antara umat Islam dengan umat Nasrani.</p>
<p>Ada sahabat Nabi yang mengusulkan agar penentuan Tahun Baru Hijriyah dimulai sejak kelahiran Rasulullah saw. Ada juga yang berpendapat dibuat berdasarkan data kemenangan dalam perang Badar. Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar Tahun Baru umat Islam dibuat berdasarkan keberangkatan dan kedatangan mereka di Madinah atau sejak umat Islam berhijrah ke Madinah. Usul dan pendapat Ali bin Abi Thalib inilah yang dapat diterima oleh khalifah Umar bin al-Khattab. Alasannya lebih rasional dan memiliki nilai historis sangat kuat, dibandingkan dengan usul pertama dan kedua. Akan tetapi, untuk memulai awal bulan mereka masih berdebat. Kemudian Utsman bin Affan mengusulkan bahwa awal bulan hijriyah dimulai dari Muharram, karena bulan ini dianggap salah satu bulan suci dalam tradisi masyarakat Arab, selain itu Muharram juga adalah akhir dari perjalanan ibadah haji. Usul ini disepakati khalifah dan umat Islam secara keseluruhan. Karena itu kemudian tahun Islam disebut Tahun Baru Hijriyah, yang diawali dengan kehadiran bulan Muharram.</p>
<p>Dan sejak saat itu hingga kini, Dunia dan Umat Islam memiliki penanggalan tersendiri, berbeda dengan kalender Masehi(Syamsiyah) atau Solar system.</p>
<p>Jika kalender Masehi terdiri dari tanggal 1-31, maka kalender Qamariyah memiliki tanggal 1-30 perbulan. Penanggalan Qamariyah ini lebih ajeg dan tidak berubah setiap bulannya, dibandingkan dengan penanggalan Masehi, karena tidak selalu memiliki tanggal tetap. Ada yang memiliki tanggal 28, dan ada yang mempunyai tanggal 31. Karena itu, dalam penetuan hari-hari besar Islam, seperti awal dan akhir puasa, pelaksanaan ibadah haji dan wuquf di Arafah, umat Islam lebih yakin menggunakan sistem Qamariyah, yang sudah pasti kejelasannya. Kini umat Islam telah memasuki Tahun Islam 1446 H.</p>
<h3>Tahun Baru Islam di Betawi : Tradisi Muhasabah, Berdo’a dan Berdzikir</h3>
<p>Berbeda penyambutan datangnya tahun baru Islam dengan tahun baru masehi. Jika datangnya tahun baru masehi ditunggu hingga pukul 00.00, dan diadakan acara serta disiarkan oleh berbagai media hingga mendunia, memukau pandangan mata, selain terdapat segala bentuk hiburan tersedia secara gratis, ketersediaan fasilitas tempat hiburan dan perhotelan. Masyarakat dunia menghabiskan dana tidak sedikit, dengan meluangkan waktu khusus dalam menyambut kedatangan Tahun Baru Masehi, maka sangat berbeda sekali dengan tradisi semangat penyambutan Tahun Baru Islam.</p>
<p>Pergantian waktu dalam penyambut an Tahun Baru Islam terjadi memasuki waktu Maghrib, persis saat adzan Maghrib berkumandang.</p>
<p>Biasanya umat Islam, termasuk umat Islam di Betawi, melakukan Muhasabah, berdo’a dan berdzikir untuk melakukan introspeksi diri dan evaluasi atas perbuatan yang telah mereka lakukan selama setahun yang lalu, dan berdo’a terbaik untuk penghidupan di tahun mendatang selanjutnya.</p>
<p>Umat Islam seluruh dunia, termasuk umat Islam di Betawi, berkumpul di tempat-tempat ibadah, melakukan dzikir dan mendengarkan Tawshiyah dari para Ulama atau Asatidz, hingga menjelang Shalat ‘Isya. Usai Shalat Isya, masyarakat Muslim, termasuk Muslim di Betawi, melakukan pawai obor yang diikuti oleh anak-anak, tidak ketinggalan juga orang dewasa dan orang tua lainnya. Mereka berkeliling kampung mengajak umat Islam lain bergabung merayakan Tahun Baru Islam. Tidak ada kemeriahan, tidak ada kemewahan dan pesta pora. Umat Islam menyambut kedatangannya dengan suka cita, meski tidak semeriah saat pergantian tahun baru masehi.</p>
<h3>Muharram: Tradisi Lebaran Yatim di Betawi</h3>
<p>Di Betawi, banyak tradisi positif yang dilakukan oleh masyarakat Betawi dalam memeriahkan Tahun Baru Hijriyah dan Muharram, selain seperti disebutkan pada bagian sebelumnya, yaitu tradisi menyayangi dan menyantuni anak yatim piatu.</p>
<p>Selain pelaksanaan santunan yatim piatu dilakukan oleh lembaga atau sebuah yayasan, banyak orang Tajir di Betawi yang dengan ikhlas dan sukrela menginfakan sebagian harta yang mereka miliki untuk dibagikan pada anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. Mereka mengundang dan mengumpulkan anak-anak yatim piatu untuk datang ke rumahnya.</p>
<p>Undangan tersebut direspons, tentu saja, dengan sangat baik oleh mereka dan orang tua masing-masing. Ada yang datang sendiri dan ada pula yang datang berombongan dengan keluarga dan saudara. Mereka datang dengan penuh ceria dengan harapan mereka akan mendapatkan sesuatu berupa uang, makan dan lain sebagainya.</p>
<p>Setibanya di rumah orang Betawi Tajir tersebut, mereka diarahkan oleh orang-orang tuan rumah untuk menuju ke suatu tempat atau ruangan, dan biasanya ke meja makan. Tuan rumah, memang sudah menyiapkan kuliner khas Betawi dan khas Nusantara lainnya, untuk disantap bersama.</p>
<p>Usai menyantap kuliner yang tersedia, mereka diminta untuk duduk bersila di tengah ruang rumah orang Betawi Tajir, yang biasanya memang sengaja dibuat luas. Mereka kemudian baca syrat Yasin berdzikir dan berdo’a bersama untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat, khususnya untuk tuan rumah dan keluarga besarnya. Kemudian mereka diminta jangan pulang terlebih dahulu, sebelum mendengarkan ceramah atau tawshiyah dari ulama yang sengaja diundang tuan rumah.</p>
<p>Setelah sang ulama selesai bertawshiyah dan ditutup dengan do’a, orang Betawi Tajir tersebut meminta anak-anak yatim dan fakir miskin tersebut untuk berbaris, menerima amplop berisi uang. Mereka senang dan riang gembira. Sambil menyium tangan tuan rumah dan orang yang hadir di situ, mereka ngeloyor, keluar sambil menuju rumah atau tempat tinggal mereka masing-masing.</p>
<p>Selain diadakan pertemuan di ruma orang Tajir di Betawi, biasanya lembaga atau yayasan yatim piatu atau tempat ibadah, seperti madjid dan mushalla, juga mengadakan penyambutan tahun baru hijriyah dengan mengundang snak ysyim piatu dan fakir miskin. Biasanya lembaga tersebut membentuk panitia perayaan Muharram. Merekalah yang melaksanakan kegiatan dengan mengumpulkan atau mencari dana kegiatan tersebut ke lembaga lain, baik pemerintah atau swasta, selain donatur tetap. Para yatim piatu dan fakir miskin diundang datang ke lembaga tersebut untuk berdo’a dan berdzikir serta bermuhasabah, kemudian setelah shalat Isya, mereka berkeliling kampung membawa obor beramai ramai. Mengajak umat Islam untuk menyambut kehadiran tahun baru hijriyah.</p>
<p>Jadi, kalau di wilayah Betawi yang masyarakatnya sangat religius, mereka bisa memaknai kehadiran tahun baru hijriyah dengan cara berbeda. Selain berdzikir dan berdo’a, mereka juga melaksanakan kegiatan sosial berupa santunan pada yatim piatu dan fakir miskin. Seperti yang diajarkan Rasulullah untuk menyayangi dan menyantuni yatim piatu dengan berbagi sedikit rizki yang merrka punyai. Karena itu, Bulan Muharram di dalam tradisi komunitas etnis masyarakat Betawi juga dikenal sebagari Lebaran Anak Yatim [Odie].</p>
<p><em><strong>Pamulang, 06 Juli. 2024.</strong></em><br />
<em><strong>Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/muharram-tradisi-lebaran-yatim-di-betawi/">Muharram: Tradisi Lebaran Yatim di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/fahmina.or.id/wp-content/uploads/2021/08/and-have-loads-of-fun.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Orang Betawi Lebaran Haji di Kampung Orang</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/orang-betawi-lebaran-haji-di-kampung-orang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2024 07:42:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=69833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al Batawi Dahulu, sekira tahun 1990-an, untuk pertama kali mengikuti acara Lebaran...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/orang-betawi-lebaran-haji-di-kampung-orang/">Orang Betawi Lebaran Haji di Kampung Orang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al Batawi</strong></em></p>
<p>Dahulu, sekira tahun 1990-an, untuk pertama kali mengikuti acara Lebaran Haji di Kampung, isteri. Sungguh sangat berbeda dari apa yang selama ini saya alami. Rangkaian acaranya sama seperti di kampung Betawi. Satu hari menjelang jatuh hari Lebaran Haji, saya ikut pulang ke kampung isteri. Saat itu, saya belum punya kendaraan pribadi, sehingga kami pulang naik bus dan kendaraan umum.</p>
<p>Penuh berdesakan dan pengap, karena dipadati penumpang. Meski penuh sesak, tapi ternyata jika dinikmati, terasa indah, karena kami dapat berkumpul dengan keluarga besar isteri di kampung. Setibanya kami di kampung, disambut keluarga besar isteri, ibu-bapak, paman, bibi, dan seua orang yang berada di dekat tempat tinggal isteri pun datang memberikan sambutan. Maklum, orang baru, yang datang jauh dari kota Jakarta.</p>
<p>Kemudian saat azan magrib menggema, kamipun berbuka puasa Arafah secara bersama. Makanan dan kuliner khas tersedia, mulai dari Semur daging, perkedel daging dan perkedel ikan, tersaji. di atas meja makan. Selesai berbuka, kami Shalat Maghrib berjama’ah. Usaj shalat, kami berbincang sambil melanjutkan menyantap hidangan yang tersedia. Ilanjutkan dengan istirahat sambil ngobrol ngalor ngidul, gak karuan.</p>
<p>Tak terasa waktu Isya tiba dan kami semua menuju masjid untuk Shalat Isya berjama’ah. Kenapa kami semua harus ke masjid setiap datang waktu Shalat, karena keluarga mertua punya pondok pesantren yang di dalamnya pasti ada masjid, sehingga hampir setiap waktu shalat dan pengajian kami pergi ke masjid.</p>
<p>Sehabis Shalat Isya berjama’ah, sebagian kembali ke rumah, sebagian kumpul, <em>Ngariung</em> di masjid untuk tahlilan dan dzikiran sambil warga membawa kudapan sebagai bahan makan yang akan diantar dan dimakan atau dibawa pulang usai tahlilan dan dzikiran.</p>
<p>Kemudian jama’ah bertakbir bersama hingga larut malam, bahkan ada yang melanjutkan sampai menjelang Subuh.</p>
<h3>Takbir Keliling Berkendaraan</h3>
<p>Ada hal menarik yang saya saksikan pada saat malam takbiran. Sebagian besar masyarakat di kampung isteri, berkumpul, tua muda, anak-anak, lelaki dan perempuan, semua berkumpul di suatu tempat. Mereka menunggu kendaraan yang ajan mengangkut mereka pergi ikut takbir keliling kampung mengikuti jalan raya.</p>
<p>Ada yang menaiki mobil truk, bak terbuka, mobil sedan, kendaraan motor dan bahkan ads yang bersepeda dan berjalan kaki. Mereka sangat senang bergembira bersama mengikuti acara Tarling (Takbir Keliling) pada malam takbiran. Cukup lama dan jauh mereka ikut takbiran ini. Perayaan takbiran keliling ini dilakukan hingga larut malam. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing.</p>
<h3>Idul Adha: Lebaran Haji dan Kuliner Khas</h3>
<p>Pagi hari, semua muslim pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Idul Adha berjama’ah. Mereka beramai datang ke masjid. Sambil menunggu waktu pelaksanaan Shalat Idul Adha, mereka bertakbir, bertahmid dan bertahlil. Ketika datang waktu shalat, mereka bersiap dikomandoi oleh bilal. Bilal berdiri memulai berdoa’ setelah adzan. Setelah itu, imam masjid maju memimpin pelaksanaan shalat Idul Adha dua rakaat.</p>
<p>Usai shalat, mereka berbaris sambil bersalaman salibg maaf memaafkan, kemudian bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Setibanya di rumah, mereka menyantap kudapan yang sudah disediakan sejak pagi tadi. Kudapan itu berupa kuliner khas kampung isteri.</p>
<p>Tidak ada ketupat dan sayur godog, serta semur daging. Justeru yang saya dapati adalah kudapan Uli Bakar yang dimakan dengan perkedel daging. Dan satu lagi, ada kuliner khas Banten,  <em>Magadim</em>, kuliner terbuat dari kaki kerbau atau sapi yang digodod hingga matang dan mengeluarkan sumsumnya. Mereka menyantapnya dengan penuh kenikmatan yang sangat menggugah mereka yang memang suka kuliner jenis ini. Tapi buat saya malah justeru berbalik. Saya gak suka jenis kuliner ini, ada rasa gak tega memakannya.</p>
<p>Bahkan ada jenis kuliner yang pada awalnya kurang suka, malah sebaliknya sangat menyukainya, yaitu Uli Bakar dimakan dengan Perkedel Daging. Awalnya saya merasa aneh. Karena kalau di Betawi, makan Uli Bakar pakai gula pasir atau makan Uli dengan Tape Ketan Hitam. Tapi lama kelamaan saya sangat menikmat jenis kudapan seperti ini. Itulah pengalaman menarik tang saya rasakan Lebaran Haji di Kampung orang.{Odie}.</p>
<p>Padarincang, 17 Juni 2024<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/orang-betawi-lebaran-haji-di-kampung-orang/">Orang Betawi Lebaran Haji di Kampung Orang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSCoOMARrwwENyn7D1MQm3NIL8XJeiq9yA7LQ&#038;s&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
