Indeks

Perkuat Silaturahmi, HBS dan Kholid Kunjungi Tokoh Penggerak Umat

Perkuat Silaturahmi, HBS dan Kholid Kunjungi Tokoh Penggerak Umat

DEPOK – Anggota DPRD Kota Depok dari fraksi PKS H. Bambang Sutopo (HBS) bersama anggota DPR RI yang juga merupakan Sekjen PKS Muhammad Kholid melakukan kunjungan ke kediaman para tokoh penggerak umat di Depok, Ahad (3/5).

Kunjungan HBS bersama Bang Kholid Anggota DPR RI sekaligus Sekjen PKS ke rumah para tokoh penggerak umat di Kampung Sidamukti dan Komplek Tirta Mandala Sukamaju, Cilodong, bukan sekadar agenda silaturahmi biasa.

Menurutnya, pertemuan ini justru membuka satu realitas penting, bahwa denyut perubahan sosial yang nyata seringkali tidak lahir dari ruang-ruang formal kekuasaan, tetapi dari rumah-rumah sederhana yang dipenuhi keikhlasan, keteladanan, dan kerja nyata.

“Di kediaman Ustadz Setyo Budi Laksono melalui Yayasan Griya Kemandirian Masyarakat (GKM), terlihat bagaimana konsep kemandirian tidak berhenti pada jargon, tetapi diwujudkan dalam program nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” ujar HBS.

“Begitu pula di lingkungan Yayasan Adzikra yang didirikan oleh Abah Burhan di kawasan Sentul, kita menyaksikan bagaimana nilai spiritualitas, pendidikan, dan pembinaan akhlak menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban umat,” tambahnya.

Di titik inilah, menurutnya, semua pihak perlu jujur mengakui, pembangunan tidak cukup hanya bertumpu pada kebijakan makro dan alokasi anggaran. Ia membutuhkan ruh, yakni gerakan masyarakat yang hidup, tumbuh, dan berakar kuat di tengah umat.

“Negara bisa menghadirkan program, tetapi masyarakatlah yang memastikan keberlanjutan dan kebermaknaannya,” tegas HBS.

Menurutnya, kunjungan ini juga memberikan pelajaran penting tentang arah pembangunan ke depan. Bahwa sinergi antara tokoh nasional, ulama, dan penggerak lokal adalah kunci dalam menjawab berbagai tantangan sosial, mulai dari ketahanan ekonomi keluarga, krisis moral generasi muda, hingga ketimpangan akses pendidikan.

“Ketika ketiganya bertemu dalam satu visi, maka yang lahir bukan sekadar program, melainkan gerakan,” jelasnya.

Ia memaparkan lebih jauh, ini adalah pengingat bahwa kekuatan bangsa Indonesia sejatinya terletak pada komunitas-komunitas yang mandiri.

“Kampung-kampung seperti Sidamukti dan Sukamaju bukan sekadar wilayah administratif, tetapi episentrum perubahan jika diberi ruang, dukungan, dan penguatan yang tepat,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, sudah saatnya pendekatan pembangunan kita bergeser, dari sekadar “top-down” menjadi kolaboratif dan berbasis komunitas. Negara hadir sebagai fasilitator, sementara masyarakat menjadi aktor utama.

“Model seperti yang dilakukan oleh GKM dan Adzikra harus dilihat bukan sebagai inisiatif lokal semata, tetapi sebagai prototipe pembangunan sosial yang layak direplikasi,” ujar HBS.

Pada akhirnya, silaturahmi ini menegaskan satu hal mendasar, bahwa membangun umat tidak bisa instan. Ia membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan kolaborasi.

“Dan dari rumah-rumah sederhana di Cilodong ini, kita belajar, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama,” pungkasnya

Exit mobile version