Oleh: Rabiqi Ezy Alrafi, mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani
DEPOKPOS – Gelombang globalisasi yang terus mengalir deras membawa perubahan besar dalam cara manusia hidup, berpikir, dan berinteraksi. Bagi Indonesia yang dikenal dengan kemajemukannya, situasi ini menghadirkan dilema tersendiri: bagaimana tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang semakin tanpa batas?
Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengkaji berbagai tantangan yang mengancam identitas nasional Indonesia serta menawarkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuatnya, terutama di kalangan generasi muda. Pendekatan yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan merujuk pada berbagai sumber akademik yang relevan. Temuan dari kajian ini menegaskan bahwa menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila, memperbarui pendekatan pendidikan berbasis kebudayaan, dan memanfaatkan ruang digital secara cerdas adalah kunci untuk menjaga identitas bangsa tetap utuh. Tanpa kerja sama yang erat antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat luas, upaya ini akan sulit membuahkan hasil yang berarti.
Bagi Indonesia, globalisasi bukan sekadar fenomena yang datang dari luar. Ia sudah merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari: dari selera musik anak muda, gaya berpakaian, cara berbicara, hingga pola pikir tentang dunia. Dengan lebih dari 270 juta penduduk dan ribuan kebudayaan daerah yang hidup berdampingan, Indonesia sejatinya memiliki kekayaan identitas yang luar biasa. Namun kekayaan itu tidak datang dengan jaminan ketahanan. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaganya, ia bisa perlahan terkikis.
Identitas nasional bukan sekadar simbol atau slogan. Ia adalah roh yang menghidupkan kesadaran kita sebagai satu bangsa bahwa kita adalah orang Indonesia, dengan sejarah, bahasa, nilai, dan cita-cita yang sama. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, bahasa Indonesia, hingga tradisi dan kesenian daerah adalah bagian dari identitas itu. Semua ini perlu dijaga bukan karena kita anti terhadap hal-hal baru, melainkan karena tanpa akar yang kuat, sebuah pohon tidak akan mampu tumbuh dan bertahan saat diterpa angin kencang.
Yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah gejala yang terlihat pada sebagian generasi muda. Banyak di antara mereka yang tampak lebih akrab dengan budaya pop asing daripada warisan budayanya sendiri. Bahasa gaul bercampur asing menjadi kebanggaan, sementara bahasa daerah mulai ditinggalkan. Semangat nasionalisme yang dulu membara kini terasa semakin redup. Ini bukan tuduhan, melainkan fakta yang perlu disikapi secara serius dan bijak.
A. Apa Itu Identitas Nasional?
Identitas nasional bisa dipahami sebagai kumpulan ciri khas yang membuat suatu bangsa menjadi unik dan berbeda dari bangsa lainnya. Ia bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan terbentuk dari proses panjang sejarah, budaya, perjuangan, dan kesepakatan kolektif suatu masyarakat. Menurut Kaelan (2016), identitas nasional merupakan identitas yang mengikat kelompok besar baik melalui kesamaan fisik seperti bahasa dan budaya, maupun kesamaan batin seperti cita-cita dan tujuan bersama.
Untuk Indonesia, identitas nasional itu hidup dalam beberapa lapisan sekaligus. Ada lapisan ideologis, yakni nilai-nilai Pancasila yang menjadi pedoman hidup berbangsa. Ada lapisan historis, yakni memori kolektif tentang perjuangan melawan penjajahan yang menyatukan beragam suku dan golongan. Ada lapisan kultural, yang tercermin dalam ribuan tradisi, bahasa daerah, tari, musik, dan kuliner yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dan ada lapisan geopolitik, yakni kesadaran bahwa
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi strategis yang unik (Winarno, 2020).
B. Globalisasi: Antara Peluang dan Ancaman
Jujur harus diakui bahwa globalisasi tidak sepenuhnya buruk. Ia membuka pintu bagi kita untuk belajar dari pengalaman bangsa lain, mengakses ilmu pengetahuan dari seluruh penjuru dunia, meningkatkan daya saing, dan berpartisipasi dalam percaturan global. Generasi muda Indonesia yang bisa berbahasa asing, memahami tren teknologi terkini, dan berpikir lintas budaya adalah aset yang sangat berharga bagi masa depan bangsa.
Namun di sisi yang lain, globalisasi juga membawa arus budaya yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal. Dominasi budaya Barat terutama melalui film, musik, fashion, dan konten media sosial perlahan-lahan membentuk selera dan cara pandang masyarakat, khususnya anak muda. Para ahli menyebut fenomena ini sebagai imperialisme budaya: ketika budaya dari pusat kekuasaan global mengalir deras dan menggusur budaya-budaya lokal yang lebih kecil dan rentan.
C. Tantangan yang Nyata di Lapangan
Jika kita mau jujur melihat kondisi yang ada, ada beberapa tantangan yang sungguh-sungguh sedang dihadapi. Yang pertama dan paling kasat mata adalah memudarnya apresiasi terhadap budaya sendiri. Lihat saja bagaimana anak muda hari ini lebih hafal lagu-lagu Korea atau barat dibandingkan lagu daerah. Lebih senang menonton film asing daripada film lokal. Lebih nyaman berbicara dengan campuran bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini bukan salah mereka sepenuhnya ini adalah hasil dari ekosistem budaya yang tidak dikelola dengan baik.
Tantangan kedua datang dari merebaknya ideologi-ideologi transnasional yang masuk melalui ruang digital. Mulai dari paham liberalisme ekstrem di satu ujung, hingga radikalisme berbasis agama di ujung yang lain semuanya aktif merekrut pengikut muda melalui platform digital.
Ketika seseorang tidak memiliki fondasi identitas yang kuat, ia menjadi rentan terhadap doktrin-doktrin yang menawarkan identitas alternatif, meski bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
D. Langkah-Langkah yang Bisa Ditempuh
Menghadapi semua itu, bukan saatnya kita pesimis atau menyalahkan keadaan. Yang dibutuhkan adalah langkah-langkah nyata yang bisa dijalankan oleh berbagai pihak. Berikut beberapa pendekatan yang rasanya relevan untuk diterapkan.
Pertama, penguatan pendidikan karakter dan literasi digital perlu menjadi prioritas. Pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai moral, etika, serta kemampuan berpikir kritis. Literasi digital juga penting agar masyarakat mampu menyaring informasi secara bijak dan tidak mudah terpengaruh oleh berita palsu maupun konten negatif.
Kedua, peran keluarga dan lingkungan sangat menentukan dalam membentuk perilaku individu. Keluarga sebagai lingkungan pertama perlu memberikan perhatian, pengawasan, serta teladan yang baik. Selain itu, lingkungan masyarakat juga harus mendukung terciptanya suasana yang positif dan kondusif.
Ketiga, peningkatan kesadaran sosial perlu terus didorong. Masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kondisi di sekitarnya melalui kegiatan sosial, gotong royong, dan partisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dapat memperkuat rasa kebersamaan dan mengurangi sikap individualisme.
Keempat, pemanfaatan teknologi secara bijak harus menjadi perhatian bersama. Teknologi seharusnya digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup, seperti dalam bidang pendidikan, komunikasi, dan pengembangan keterampilan.
Kelima, diperlukan kolaborasi yang baik antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan sektor swasta. Kerja sama yang sinergis serta didukung oleh kebijakan yang tepat akan membantu menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, diharapkan berbagai tantangan yang dihadapi dapat diatasi dengan lebih efektif serta memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.
KESIMPULAN
Globalisasi sudah terlanjur hadir dan tidak mungkin dibendung. Ia akan terus mengalir, membawa perubahan yang kadang membawa kemajuan dan kadang membawa ancaman. Bagi Indonesia, tantangannya bukan bagaimana menghentikan globalisasi, tetapi bagaimana menghadapinya dengan bijak—menyerap yang baik, menyaring yang buruk, dan pada saat yang sama tetap teguh menjadi diri sendiri.
Menjaga identitas nasional di tengah derasnya arus global bukan tugas satu pihak saja. Pemerintah perlu hadir dengan kebijakan yang serius dan berpihak pada pelestarian budaya bangsa. Sekolah dan kampus perlu menjadi ruang yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan karakter dan rasa kebangsaan. Keluarga perlu kembali menjadi benteng pertama yang menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak. Dan generasi muda itu sendiri perlu sadar bahwa identitas mereka sebagai orang Indonesia adalah sesuatu yang berharga—bukan sesuatu yang perlu malu untuk ditampilkan.
Dengan pendidikan karakter yang hidup dan kontekstual, kreativitas dalam mempromosikan budaya lokal, komunitas yang aktif bergerak, literasi digital yang merata, dan keluarga yang hadir sebagai fondasi—Indonesia punya semua modal untuk menjaga keutuhan identitas nasionalnya di era globalisasi ini.
Identitas nasional yang kuat bukan tembok yang mengurung kita dari dunia. Justru sebaliknya, ia adalah fondasi kokoh yang memungkinkan kita berdiri tegak, berdialog setara dengan bangsa-bangsa lain, dan melangkah maju tanpa kehilangan arah.
Disusun Oleh:
Rabiqi Ezy Alrafi
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
DOSEN PENGAMPU:
Risyah Aprimayanti, S.IP,.M.I.P