Pempek Seribu: Usaha Biasa hingga Berdayakan Puluhan Jiwa di Tengah Badai PHk

DEPOKPOS – Di tengah hiruk pikuk kuliner Indonesia dan juga badai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menerpa, nama pempek tentu tak asing lagi di telinga. Namun, bagaimana jika ada sebuah UMKM pempek yang tak hanya menawarkan kelezatan, tapi juga berhasil menciptakan gelombang peluang emas bagi banyak orang?

Inilah kisah di balik Pempek Seribu, yang berdiri sejak tahun 2017. Nama ini kini bukan hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga karena dampaknya yang signifikan. Dari produk yang awalnya dinilai biasa saja, UMKM ini kini mampu memberdayakan puluhan karyawan.

Merintis dari Dapur Sederhana, Menggapai Puluhan Karyawan

Siapa sangka, perjalanan Pempek Seribu dimulai dari sebuah dapur rumahan sederhana. Didirikan oleh pasangan suami istri Fadillah dan Eva, yang sejatinya memiliki kehidupan lebih dari cukup, usaha ini berangkat dari modal seadanya dan tekad membaja. Mereka mengandalkan resep warisan keluarga yang sudah teruji.

Awalnya, pasangan ini berjualan dari pintu ke pintu, mengikuti bazar kecil, hingga menitipkan dagangan ke warung-warung sekitar. Tantangan tak terhitung jumlahnya mereka hadapi: mulai dari modal yang cekak, persaingan ketat, hingga keraguan dari lingkungan sekitar.

Namun, kegigihan Eva dan sang suami membuahkan hasil manis. Cita rasa pempek yang otentik dan harganya yang terjangkau membuat Pempek Seribu cepat mendapat tempat di hati masyarakat. Permintaan pun terus melonjak. Eva dan Fadillah menyadari, mereka tak bisa lagi bekerja sendirian. Dari sinilah, misi “menciptakan peluang lapangan pekerjaan” mulai terwujud.

Lebih dari Sekadar Pekerjaan: Pemberdayaan dan Kekeluargaan

Filosofi di balik Pempek Seribu adalah hal yang membuatnya berbeda. Eva dan Fadillah tidak hanya mencari pekerja, melainkan mitra dan keluarga. Mereka aktif merekrut ibu-ibu rumah tangga, pemuda-pemudi putus sekolah, atau siapa pun yang memiliki semangat untuk belajar dan berkembang. Para karyawan ini tidak hanya dilatih dalam membuat dan menjual pempek, tetapi juga dibekali keterampilan hidup, manajemen keuangan sederhana, hingga pentingnya kebersihan dan pelayanan prima.

“Banyak dari karyawan kami yang dulunya tidak memiliki pekerjaan tetap, bahkan beberapa di antaranya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutur Eva dan Fadillah dengan mata berbinar. “Di sini, mereka tidak hanya mendapat gaji, tapi juga rasa memiliki, tujuan, dan kesempatan untuk mengembangkan diri.”

Kini, Pempek Seribu bukan lagi sekadar usaha kecil. Dengan jaringan distribusi yang meluas dan puluhan cabang tersebar, jumlah karyawannya mencapai puluhan orang. Setiap individu yang bergabung merasa menjadi bagian penting dari keberhasilan ini. Kisah-kisah pribadi tentang bagaimana Pempek Seribu mengubah hidup mereka menjadi lebih baik sering kali terdengar: dari yang bisa menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, hingga membuka usaha sampingan sendiri.

Kisah Pempek Seribu ini adalah bukti nyata bahwa di tengah badai ekonomi sekalipun, sebuah UMKM dapat menjadi mercusuar harapan. Bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang membangun kehidupan, satu persatu, melalui setiap gigitan pempek yang lezat.***

Noval Juang Arrahman
Universitas Pamulang