DEPOKPOS – Pertanyaan soal relevansi kurikulum terhadap peminatan mahasiswa kembali mengemuka di Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Ali Azhar Damarrosydi, mahasiswa semester enam peminatan Public Relations (PR) Fakultas Ilmu Komunikasi UC Surabaya sekaligus jurnalis aktif di media Ketik, mempersoalkan kewajiban mengikuti mata kuliah Film Production yang ia nilai tidak sejalan dengan jalur studi yang dipilihnya. Polemik ini meledak ke permukaan menyusul evaluasi *rehearsal* proyek film pada 11 April 2026, yang berujung pada konflik terbuka di dalam kelompok dan eskalasi aduan hingga ke tingkat dekan.
Ali menjelaskan bahwa keputusannya berpindah dari peminatan Broadcast ke Public Relations bukan tanpa alasan. Ia merasa tidak cocok dengan dunia *broadcast* dan berharap peminatan PR akan membawanya menjauh dari mata kuliah berbasis produksi film.
“Saya dulu sebenernya mengambil peminatan broadcast, lalu saya pindah ke public relations karena saya agak kurang cocok di peminatan tersebut,” ujar Ali.
Kenyataannya justru sebaliknya. Di semester enam, Film Production tetap hadir sebagai mata kuliah yang harus ia tempuh, meski berada di jalur PR. Bagi Ali, ini adalah kontradiksi nyata dengan identitas kampus yang selama ini digemborkan.
“Saya pikir dengan mengambil peminatan public relations ini nanti tidak ada mata kuliah perfilman, eh ternyata ada di semester 6. Itu bukan *passion* saya, sedangkan itu berbeda jauh dengan slogannya UC, Live Up Your Passion,” kata Ali.
Dalam mata kuliah tersebut, Ali terlibat dalam pengerjaan proyek film berjudul Maya yang diproduksi oleh PH Lima Production. Proyek ini menuntut kemampuan teknis sinematografi yang, menurut Ali, sama sekali bukan ranah keahliannya dan seluruh proses itu dijalani tanpa kompensasi finansial apapun.
“Saat ini kan saya ada proyek film namanya Maya, dari PH Lima Production. Kita yang tidak punya skill dalam bidang sinematografi kayak bener-bener dituntut harus expert sama sutradaranya sama produsernya. Ya gimana dong, itu kan bukan peminatan saya, dan proyek ini juga kita tidak dibayar sama sekali,” ungkap Ali.
Ketidakpuasan itu semakin menumpuk ketika standar penilaian proyek dinilai tidak proporsional dengan konteks pelaksanaannya. “Kalau cari-cari kesalahan ya jangan di-akal-akalin juga dong. Lagian ini proyek kita tidak dibayar, dosen juga bilang semampunya saja, kalau urusan bagus jeleknya itu relatif,” kata Ali. Ia pun menyuarakan kekhawatiran yang lebih luas: bahwa memaksakan standar film kepada mahasiswa yang tidak berminat di bidang tersebut justru kontraproduktif bagi ekosistem perfilman itu sendiri. “Gini nih yang bikin *image* dunia perfilman itu semakin buruk, di hadapan orang yang tidak suka film,” ujarnya.
Ketegangan mencapai titik didihnya pada evaluasi rehearsal 11 April 2026. Ali mengaku datang dalam kondisi fisik yang sudah sangat terkuras, namun tidak ada ruang untuk mundur. Yang lebih menyakitkan, tekanan yang ia terima bukan semata soal teknis produksi, melainkan menyentuh wilayah yang ia nilai sebagai serangan personal.
“Kemarin saya bener-bener tidak kuat, bener-bener kecapean, tapi tetap dipaksa buat rehearsal, dan itu di luar kemampuanku,” tuturnya. “Saya juga kalau dibentak sedikit kadang langsung *down*, kemarin terlalu *over* sampai-sampai saya bener-bener marah ke mereka, karena saya pembelaan diri,” tambah Ali.
Ia menegaskan bahwa kontribusinya dalam proses produksi tidak pernah dihargai secara layak. “Saya udah berusaha juga kemarin, tapi mereka tidak menghargai usaha saya, dan malah bawa-bawa hal personal,” katanya. Diskusi yang ia lakukan bersama rekan-rekan di luar kelompok pun memperkuat keyakinannya bahwa konflik ini bermuara pada persoalan personal, bukan kinerja di mana anggota yang cenderung pendiam justru menjadi sasaran, sementara salah satu rekan yang diberi tanggung jawab sebagai asisten sound abai dari tugasnya namun bersikap konfrontatif saat evaluasi.
Persoalan ini kemudian Ali bawa langsung ke Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UC Surabaya, Cosmas. Sang dekan mendorong agar akar masalah diselesaikan melalui komunikasi yang lebih terbuka sejak awal proses produksi.
“Hal-hal seperti itu sebenarnya bisa dikomunikasikan sebelum produksi sehingga tidak ribet di lapangan saat produksi. Kalau menurut saya, masalahmu dengan kelompok itu karena kurangnya komunikasi yang terbuka di antara kalian,” ujar Cosmas.
Ia juga menyampaikan bahwa pola pengaduan Ali terasa tidak lazim dibandingkan keluhan mahasiswa pada umumnya. “Biasanya mahasiswa protes dan lapor ke dosen itu karena ada teman di kelompok yang kerjanya tidak serius. Tapi kamu kok malah tidak senang kalau kelompokmu kerja serius. Cobalah dikomunikasikan lagi. Tidak usah diambil hati, itu kan kerja kelompok bersama. Kalau nilainya bagus kan kamu juga dapat nilai bagus. Coba pikirkan lagi kepentingan bersamanya,” kata Cosmas.
Ali langsung merespons dan meluruskan duduk perkaranya. “Bukan karena saya tidak suka kalau teman saya kerja serius, tapi mereka bawa-bawa hal personal, sehingga itu hal di luar kemampuan saya, itu kayak dipaksakan. Sama, itu bukan peminatan saya, bukan passion saya. Anak-anaknya marahinya bukan karena kinerja, tapi mencatut personal,” tegasnya.
Di sisi pengajar, dosen Film Production, Danu, menyatakan telah mengambil langkah konkret untuk meredam ketegangan dalam kelompok dan mengingatkan seluruh anggota agar lebih menjaga etika berkomunikasi.
“Saya sudah kondisikan dan minta semuanya untuk lebih bijak dalam berkomunikasi,” kata Danu. Kepada Ali secara personal, ia menegaskan dukungannya. “Tidak perlu takut. Kamu kerjakan apa yang sudah dipersiapkan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Danu memastikan bahwa arahan serupa juga telah disampaikan kepada anggota kelompok lainnya, dan pengawasan langsung dijanjikan hadir pada hari produksi berlangsung. “Di hari H nanti juga ada saya atau Nicole yang akan melakukan supervisi secara langsung. Mungkin tidak full, tapi harapannya semua terkondisikan dengan baik,” pungkas Danu.
Kasus ini menjadi cermin dari persoalan yang lebih struktural dalam dunia pendidikan tinggi: sejauh mana kurikulum benar-benar dirancang untuk menopang arah peminatan yang dipilih mahasiswa, dan bagaimana institusi memastikan lingkungan belajar berbasis proyek tetap aman, kondusif, serta menghormati batas kemampuan setiap peserta didik. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Universitas Ciputra Surabaya terkait evaluasi kurikulum mata kuliah Film Production dalam program studi Public Relations.