MAJALAH EKONOMI – Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, Tina Talisa, meninjau pengelolaan energi panas bumi dan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) di Area Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Tina menyoroti besarnya peluang Indonesia untuk menjadi negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terbesar di dunia. Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah Amerika Serikat, dengan kapasitas terpasang sekitar 2,77 gigawatt (GW).
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23.202,77 megawatt (MW). Namun, kapasitas terpasang baru mencapai 2.776,39 MW atau sekitar 11,6 persen dari total potensi tersebut.
“Posisi nomor dua di dunia, tapi memang masih ada ruang pengembangan sangat besar, karena kita belum sampai 12 persen, baru 11,6 persen dari total potensi,” ujar Tina dalam diskusi pengembangan energi panas bumi di PLTP Kamojang.
Menurut Tina, besarnya sumber daya panas bumi Indonesia, yang secara geologis berada di kawasan cincin api (Ring of Fire), menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi bersih di tingkat global. Namun, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Jadi nomor satu di dunia itu menurut pemerintah sangat masuk akal sebetulnya untuk dicapai, tapi memang catatannya adalah kita mesti bareng-bareng,” tutur Tina.
Selain meninjau operasional pembangkit, Tina mengunjungi sejumlah program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan PGE, antara lain kelompok produsen pupuk GeO-Fert, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekarsari, serta pelaku usaha kopi dalam program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal for Harmony).
Salah satu inovasi yang ditinjau adalah Geothermal Dry House, yang memanfaatkan panas bumi untuk mempercepat proses pengeringan biji kopi dari sebelumnya 30–45 hari menjadi 3–10 hari. Program tersebut telah mendukung 320 keluarga petani kopi di sekitar Kamojang, dengan produk yang berhasil menjangkau pasar Asia dan Eropa.
Tina mengapresiasi pemanfaatan panas bumi yang tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Menurutnya, pengembangan energi bersih perlu berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keterlibatan masyarakat setempat.
“Kamojang ini menjadi benchmark untuk melihat bukan hanya soal energinya, tetapi juga keterhubungannya dengan aspek sosial dan lingkungan. Keberlanjutan itu betul-betul ada di sini dan perlu dijaga bersama, terutama melalui kolaborasi dan komunikasi yang intensif dengan masyarakat serta pemerintah daerah. Dan sekali lagi, ini bukti nyata,” ujar Tina.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Tina juga melihat upaya pelestarian lingkungan melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang serta mengunjungi kawasan Kawah Kamojang, termasuk sumur panas bumi KMJ-3 yang menjadi bagian dari sejarah eksplorasi panas bumi Indonesia sejak 1926.
Sementara itu, Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menyampaikan bahwa perjalanan panjang pengelolaan panas bumi Kamojang mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga keandalan pasokan energi bersih.
“Kamojang terus menunjukkan kinerja operasional yang sangat baik, dengan produksi listrik yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Capaian ini menjadi bukti komitmen kami menjaga keandalan pembangkit. Komitmen itu kami wujudkan melalui pengelolaan reservoir, pemeliharaan aset, inovasi teknologi, serta penerapan standar keselamatan secara konsisten,” ujar Andi.
Andi menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan panas bumi tidak hanya diukur dari produksi listrik, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar.
“Lebih dari itu, kami ingin memastikan kehadiran operasi panas bumi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Andi.
Kunjungan ini memperlihatkan bagaimana pengembangan panas bumi dapat memberikan manfaat yang lebih luas, mulai dari penyediaan energi bersih dan penguatan ketahanan energi nasional hingga peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat serta pelestarian lingkungan




