Indeks

Ilusi Produktivitas Mahasiswa: Sibuk, Terlihat Siap atau Benar Benar Siap?

Oleh Syifa Nurfiyani Arfan, mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia

DEPOKPOS – Mahasiswa hari ini tampak luar biasa aktif. Sejak semester awal, banyak yang sudah magang, aktif di berbagai organisasi, mengikuti kompetisi, hingga membangun personal branding di LinkedIn. Kalender mereka padat, daftar pengalaman panjang, dan unggahan pencapaian kerap menghiasi ruang digital.

Sekilas, ini tampak sebagai gambaran generasi yang siap menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Namun di balik “keaktifan” itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah semua kesibukan ini benar-benar mencerminkan kesiapan kerja, atau justru hanya menciptakan ilusi produktivitas?

Fenomena ini bukan tanpa konteks. Standar rekrutmen memang meningkat. Perusahaan kini tidak lagi hanya melihat IPK. Mereka mencari bukti keterampilan dan kontribusi nyata dalam pekerjaan. Dalam realitas seperti ini, menjadi aktif adalah respons yang rasional tapi bukan tanpa risiko.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara nasional mencapai 4,76 %, atau sekitar 7,28 juta orang belum terserap di pasar kerja. Menariknya, lulusan perguruan tinggi (D-IV, S1–S3) juga memiliki angka pengangguran yang signifikan, yaitu sekitar 6,23 %. Angka angka ini memberi konteks bahwa tantangan kesiapan kerja tidak hilang hanya karena CV mahasiswa ramai dengan pengalaman eksternal.

Fenomena tersebut berakar dari tiga tekanan utama, kompetisi pasar kerja, tekanan sosial media, dan ketakutan akan tertinggal (fear of missing out). Ketika pengalaman dicitrakan sebagai tiket emas menuju pekerjaan impian, mahasiswa cenderung mengumpulkan sebanyak mungkin aktivitas, berharap setiap baris pada CV menjadi nilai jual tersendiri.

Namun, persoalannya bukan pada aktivitas itu sendiri, melainkan pada kedalaman dan arah yang dimiliki setiap aktivitas tersebut. Massa kegiatan yang banyak tidak otomatis menghasilkan keterampilan yang matang. Contoh nyata di lapangan menunjukkan bahwa mahasiswa seringkali mengikuti banyak kegiatan, tetapi tidak selalu memainkan peran yang menuntut pertumbuhan keterampilan yang substansial. Magang yang diikuti pun terkadang hanya berujung pada tugas administratif tanpa tantangan analitis yang berarti.

Ini yang disebut ilusi produktivitas, aktivitas terlihat banyak, tetapi kompetensi inti tidak berkembang secara mendalam.

Ironisnya, mahasiswa yang relatif lebih siap kerja dan cepat terserap oleh pasar kerja sering kali bukan yang paling sibuk, melainkan yang paling terarah. Mereka memiliki satu atau dua kompetensi inti yang kuat, seperti analisis data, desain digital, pengembangan aplikasi, atau komunikasi profesional, dan menyusun pengalaman lain sebagai pendukung yang relevan bukan sekadar tambahan jumlah pada CV.

Mengapa hal ini terjadi? Salah satu alasannya adalah fragmentasi perhatian. Ketika energi tersebar ke terlalu banyak kegiatan tanpa prioritas yang jelas, waktu yang tersedia untuk mendalami satu kompetensi menjadi sangat terbatas. Padahal keterampilan mendalam sering kali lebih bernilai di dunia kerja daripada sekadar “ikut banyak hal”.

Selain itu, tekanan perbandingan sosial turut memperkuat fenomena ini. Media sosial secara tak langsung memaksa mahasiswa menunjukkan pencapaian terbaik mereka, sehingga aktivitas sering kali dilakukan untuk memenuhi ekspektasi publik, bukan untuk memperbaiki kemampuan internal. Ketika fokusnya bergeser dari belajar untuk berkembang menjadi aktif agar terlihat berkembang, produktivitas menjadi semu.

Kritik terhadap ilusi produktivitas bukan berarti mendorong mahasiswa untuk pasif atau tidak berusaha. Aktivitas dan pengalaman tetap penting. Eksplorasi bidang minat memiliki nilai signifikan dalam pengembangan pribadi. Tetapi tanpa strategi yang jelas, aktivitas mudah berubah menjadi beban ketimbang aset.

Dunia kerja tidak menilai siapa yang paling sibuk, dunia kerja menilai siapa yang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan kompeten dan bisa menunjukkan bukti nyata dari kompetensi tersebut. Generasi mahasiswa saat ini bukan generasi yang kekurangan ambisi. Mereka justru sangat responsif terhadap tuntutan zaman yang kompetitif. Tantangan yang mereka hadapi bukan lagi tentang “aktif atau tidak”, tetapi tentang memilih dengan sadar aktivitas mana yang benar-benar membentuk kompetensi inti mereka.

Dalam era yang penuh tantangan ini, mungkin bukan jadwal yang semakin padat yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Mereka membutuhkan arah yang semakin jelas. Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling sibuk yang unggul, tetapi siapa yang paling siap secara substansi.

Exit mobile version