Founder dan Creative Director Increasink, Stephen Septian, menegaskan bahwa membangun brand yang kuat di era digital tidak lagi ditentukan oleh banyaknya konten yang diproduksi atau viralnya sebuah postingan. Ia justru menekankan kekuatan karakter dan cerita yang dimiliki brand tersebut.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) 2026 di ICE BSD saat membawakan materi bertajuk “Everyone Creates Content, Not Everyone Builds a Brand: Connecting the Dots Through Storytelling” dalam sesi classroom “The Strategy Behind Brands That Always Win” yang diselenggarakan oleh Magnify.
membuka materinya dengan analogi telur dan sebuah pertanyaan, yakni jika sebuah bisnis masuk ke lautan sosial media, kira-kira mereka akan terapung, bertahan di permukaan, atau tenggelam?
Menurutnya, banyak brand yang tenggelam bukan karena kurang aktif membuat konten, melainkan karena konten yang mereka produksi tidak punya rasa khas. Sebab di tengah jutaan konten yang setiap hari membanjiri platform digital, audiens tidak lagi mencari konten yang bagus, mereka justru mencari konten yang terasa berbeda.
“Kalau teman-teman enggak bikin konten, sudah pasti tenggelam. Tapi sekarang kalau sudah bikin konten, pertanyaannya kontennya seperti apa?” ujar Stephen.
Formula dan Fondasi di Balik Konten yang Diingat
Ia menjelaskan bahwa persoalan terbesar brand saat ini adalah ketiadaan strategi dan arah yang jelas.
Banyak pemilik brand, menurutnya, hanya meminta tim untuk memproduksi konten sebanyak-banyaknya tanpa membekali mereka dengan pemahaman tentang karakter dan cerita brand yang ingin dibangun.
Maka untuk menjawab persoalan tersebut, Stephen memperkenalkan formula storytelling miliknya yang dinamai STEPS, akronim dari Stop Line, Tension, Exactly You, Pivot Point, dan Solution.
Formula ini bisa digunakan brand untuk membangun konten yang menarik perhatian di detik pertama dan berlanjut meninggalkan kesan setelah konten itu selesai dikonsumsi.
Namun, ia menegaskan, formula apapun tidak akan bekerja tanpa fondasi yang kuat, Fondasi tersebut, menurutnya, adalah karakter brand yang jelas.
“People don’t only remember what they saw. They remember the meaningful stories behind,” ujarnya, mengingatkan bahwa yang bertahan di ingatan audiens bukan tampilan visual semata, melainkan cerita dan rasa yang ditinggalkan oleh sebuah brand.
Stephen juga mendorong para pemilik bisnis untuk berhenti melihat branding sebagai aktivitas jangka pendek yang hasilnya harus segera terlihat. Reputasi dan ingatan audiens, menurutnya, hanya bisa dibangun melalui konsistensi karakter dan cerita yang dijaga dari waktu ke waktu.
“Kalau cuma mau invest branding cuma sekali, cuma buat jualan doang, ya namanya marketing. Branding itu butuh proses dan konsistensi,” pungkasnya.
Selain Stephen Septian, sesi classroom Magnify di IDMC 2026 juga menghadirkan Aldo Sinarta yang membahas peran visual dalam mendorong konversi, Christian Sotanto dari Marketz.id yang mengupas tantangan digital advertising di era AI, serta talkshow personal branding bersama Elizabeth Setiaatmadja dan Ingrid Saidbun dari brand Bocorocco.
(FHK)





