Tingkatkan Kesadaran Generasi Z dalam Pemilu 2024

DEPOKPOSGenerasi Z merupakan generasi paling aktif dan memiliki jumlah pemilih terbanyak, sehingga ketidakikutsertaan mereka pada pemilu 2024 bisa berdampak buruk bagi Indonesia. Selain itu, Generasi Z memiliki karakteristik dan keterampilan unik yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap proses politik dan masyarakat. Generasi Z berpotensi mempengaruhi hasil pemilu dan arah politik nasional. Namun jika Generasi Z tidak berpartisipasi dalam pemilu 2024, arah politik negaranya tidak lagi mencerminkan kebutuhan dan aspirasi mereka.

Berikut konsekuensi jika Generasi Z tidak ikut pemilu 2024 : Kesejahteraan Ekonomi, Generasi Z lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga dapat mempengaruhi keputusan politik mereka. Hal ini harus menjadi perhatian bagi para pemilih berpengaruh untuk memahami aspirasi dan preferensi Gen Z serta memastikan suara mereka didengar dan terwakili dengan baik. Kesejahteraan Politik Keterlibatan aktif dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap proses politik dan masyarakat. Namun jika Gen Z tidak ikut pemilu 2024, dampak positif yang diharapkan bagi Gen Z tidak akan terjadi

Kesadaran pemilu Generasi Z dapat ditingkatkan melalui cara-cara berikut:

BACA JUGA:  Mental Dasar Pengusaha

1. Politik

Generasi Z harus mendapat pendidikan dan kesadaran politik yang baik Pendidikan ini harus dilaksanakan dengan baik dan harus mencakup berbagai aspek politik, seperti kesadaran politik, minat terhadap isu-isu politik, dan respon terhadap isu-isu sosial.

2. Komunikasi Transparan

Komunikasi yang transparan dan relevan membantu Gen Z memahami isu-isu terkini dalam demokrasi. Komunikasi tersebut sebaiknya dilakukan melalui berbagai media, antara lain media sosial dan platform digital yang biasa digunakan oleh Gen Z

3. Strategi Politik

Partai politik perlu memahami kebutuhan Gen Z sebelum mengembangkan program. Strategi politik perlu beradaptasi dengan pola pikir pemilih muda secara keseluruhan, tidak hanya untuk memenangkan suara tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran politik Gen Z .

4. Komunitas Politik

Generasi Z dapat memperoleh pendidikan politik dari partai politik dan non-pemilih. Komunitas politik ini membantu Gen Z memahami isu-isu politik dan cara mengidentifikasi serta memilih kandidat yang tepat.

5. Pendidikan Karakter

Generasi Z dapat menerima pendidikan karakter yang bertujuan untuk membangun iklim positif dan meningkatkan kesadaran dan motivasi politik. Pendidikan ini harus dilakukan melalui berbagai media, termasuk pengajaran yang cepat dan efektif

BACA JUGA:  Pengaruh Tarif Pajak, Ketetapan Pajak dan Sanksi Terhadap Penggelapan Pajak

6. Komunikasi

Komunikasi melalui bahasa dan gaya yang relevan akan membantu Gen Z memahami isu-isu politik, membantu memahami cara mengidentifikasi dan memilih kandidat calon yang tepat tentunya.

7. Penggunaan Media Sosial dan Internet

Generasi Z memproses informasi lebih cepat, mampu mengoptimalkan fungsi Internet, dan peka terhadap kemajuan teknologi. Melalui Media sosial dan internet dapat membantu Gen Z mempelajari dan memilih kandidat yang tepat. Sebagai generasi Z harus memfilter berbagai informasi yang muncul di berbagai media sosial sehingga tidak mempengaruhi pola pikir ke arah yang negatif hingga menjatuhkan kandidat satu dengan yang lain.

8. Tujuan Khusus

KPU harus menghimbau generasi muda dalam setiap tahapan pemilu. Strategi ini harus diterapkan dengan baik dan mencakup berbagai aspek seperti pendidikan kewarganegaraan, komunikasi yang transparan, dan penggunaan media sosial dan internet.

Sebagai Gen Z, sangat penting untuk lebih peka terhadap lingkungan, terutama politik, yang mempengaruhi kehidupan setiap orang. Otoritas tertinggi dapat mempengaruhi keputusan baik secara positif maupun negatif. Kalau kita salah memilih calon, rakyat akan dirugikan. Generasi Z merupakan pemilih yang masih labil perlu diberikan sosialisasi mengenai politik tak cukup melalui media sosial saja, perlu ditekankan sejak dini melalui pendidikan karakter. Jika karakter sudah terbentuk maka akan menjadi sebuah kebiasaan nantinya. Mari kita saling meningkatkan kesadaran untuk menjadi pemilih yang bijaksana dan tidak terpengaruh oleh suap-suapan sederhana yang dapat membatalkan perubahan yang kita inginkan di tahun-tahun mendatang.

BACA JUGA:  Peran Ayah Terhadap Kepercayaan Diri Remaja

Yuliantoro, M.Pd, Indah Febrianti
Universitas Riau

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818