<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ramadhan &#8211; MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/tag/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Mar 2025 06:06:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>Ramadhan &#8211; MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Libatkan UMKM Binaan, BRI Gelar BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/libatkan-umkm-binaan-bri-gelar-brilian-fest-ramadhan-1446-h/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2025 06:06:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[BRI]]></category>
		<category><![CDATA[BRILiaN Fest]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79314</guid>

					<description><![CDATA[PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menggelar BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H sebagai...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menggelar BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H sebagai bagian dari program apresiasi perusahaan kepada Pekerja BRI atau Insan BRILiaN serta nasabah BRI. Kegiatan berlangsung pada 17-21 Maret 2025 di BRILiaN Sport Hall, Jakarta, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.</p>
<p>BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H yang diselenggarakan oleh Koperasi Swakarya (Koperasi Pekerja BRI) bersama Ikatan Wanita BRI (IWABRI) tak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan Ramadan dan Idulfitri, tetapi juga menjadi ajang mempererat kebersamaan serta semangat solidaritas di lingkungan BRI.</p>
<p>Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan bahwa BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam memberikan apresiasi kepada Insan BRILiaN dan nasabah setia BRI.</p>
<p>PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menggelar BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H sebagai bagian dari program apresiasi perusahaan kepada Pekerja BRI atau Insan BRILiaN serta nasabah BRI. Kegiatan berlangsung pada 17-21 Maret 2025 di BRILiaN Sport Hall, Jakarta, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.</p>
<p>BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H yang diselenggarakan oleh Koperasi Swakarya (Koperasi Pekerja BRI) bersama Ikatan Wanita BRI (IWABRI) tak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan Ramadan dan Idulfitri, tetapi juga menjadi ajang mempererat kebersamaan serta semangat solidaritas di lingkungan BRI.</p>
<p>Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan bahwa BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam memberikan apresiasi kepada Insan BRILiaN dan nasabah setia BRI.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/akcdn.detik.net.id/visual/2025/03/21/bri-1742533717999_169.jpeg?w=650&#038;q=90&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Jamaah Masjid Al Akbar Eramas 2000 Jakarta, Salurkan Donasi Rp 165 Juta untuk Palestina Melalui Program Safari Ramadhan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/jamaah-masjid-al-akbar-eramas-2000-jakarta-salurkan-donasi-rp-165-juta-untuk-palestina-melalui-program-safari-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2025 01:47:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humanitas]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79239</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA – Jamaah Masjid Al Akbar yang berlokasi di Perumahan Eramas 2000, Jakarta Timur, turut...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahekonomi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> – Jamaah Masjid Al Akbar yang berlokasi di Perumahan Eramas 2000, Jakarta Timur, turut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan untuk Palestina melalui program Safari Ramadhan bertema Membasuh Luka Palestina 2025. Program ini diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendapat respons luar biasa dari masyarakat.</p>
<p>Dalam aksi penggalangan dana yang berlangsung selama dua pekan, jamaah Masjid Al Akbar berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 165 juta. Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Akbar, H. Deden E Soetrisna menyampaikan rasa syukur atas partisipasi jamaah dalam aksi solidaritas ini.</p>
<p>&#8220;Jamaah Masjid Al Akbar merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Dengan semangat gotong royong, dalam dua pekan kami berhasil mengumpulkan Rp 165 juta untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Senada dengan itu, Deden, yang juga ketua RT setempat, berharap semangat kepedulian yang ditunjukkan oleh warga Eramas 2000 dapat menginspirasi masyarakat Indonesia lainnya untuk turut membantu perjuangan rakyat Palestina.</p>
<p>Sementara itu, Syeikh Dr. Ahed Abulatta, dalam kesempatan yang sama, mengungkapkan kondisi terkini di Gaza melalui penerjemah Dr. Andy Hadiyanto, Wakil Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza merupakan bentuk genosida, di mana laki-laki, perempuan, hingga anak-anak menjadi korban kekejaman Israel.</p>
<p>&#8220;Kami, rakyat Gaza, tidak ingin meninggalkan tanah kami. Jika kami berkompromi, maka Masjidil Aqsa akan jatuh ke tangan penjajah, dan peradaban Islam di Palestina akan lenyap,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Abdul Jabbar, perwakilan MUI Pusat, menegaskan bahwa program Safari Ramadhan merupakan wujud nyata kecintaan bangsa Indonesia terhadap Palestina. Ia juga mengapresiasi peran Baznas sebagai lembaga resmi pemerintah yang terus berupaya membantu rehabilitasi dan pemulihan di wilayah yang terdampak konflik.</p>
<p>Acara ditutup dengan prosesi penyerahan donasi sebesar Rp 165 juta yang secara simbolis diserahkan oleh Ketua Dewan Syuro Masjid Al Akbar, H. Dadang Kadarsyah, kepada Syeikh Ahed Abulatta.</p>
<p>Dengan aksi kepedulian ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk membantu rakyat Palestina dalam menghadapi krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1741916624/WhatsApp-Image-2025-03-14-at-08.40.22_cdbb0e7b-FILEminimizer_8435158f71/WhatsApp-Image-2025-03-14-at-08.40.22_cdbb0e7b-FILEminimizer_8435158f71.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2025 02:24:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79213</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan Ramadhan. Muslim Indonesia, Jawa khususnya,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan Ramadhan. Muslim Indonesia, Jawa khususnya, melakukan satu tradisi yang hanya ada pada masyarakat muslim Jawa, yaitu tradisi Qunutan dan makan ketupat sayur. Bagaimana tradisi itu terjadi dan terus dipertahankan hingga kini. Berikut sejarahnya.</p>
<p>Sejarah Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat di Malam Pertengahan Ramadhan</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan adalah tradisi yang unik dan menarik di Indonesia, khususnya di Jawa. Berikut adalah sejarah singkat tentang tradisi ini:</p>
<h3>Asal Usul Tradisi Qunut</h3>
<p>Tradisi Qunut berasal dari istilah &#8220;qunut&#8221; dalam bahasa Arab, yang berarti &#8220;berdiri&#8221; atau &#8220;menghadap&#8221;. Dalam konteks Ramadhan, Qunut merujuk pada do’a yang dibaca oleh imam setelah shalat Isya&#8217; pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan, termasuk malam pertengahan Ramadhan.</p>
<h3>Sejarah Tradisi Makan Sayur Ketupat</h3>
<h4>Asal usul Ketupat dan Maknanya</h4>
<p>Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa atau daun pisang.</p>
<h4>Sejarah Kupat atau Ketupat</h4>
<p>Kupat atau ketupat telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Pada saat itu, kupat atau ketupat disajikan sebagai makanan untuk para prajurit dan pejabat kerajaan.</p>
<p>Kemudian, nama kupat&#8221; atau &#8220;ketupat&#8221; berasal dari bahasa Jawa, yaitu &#8220;kupat&#8221; yang berarti &#8220;bungkus&#8221; atau &#8220;ikat&#8221;. Nama ini merujuk pada cara membuat kupat atau ketupat, yaitu dengan membungkus beras dengan daun kelapa atau daun pisang. Ada juga yang mengatakan diksi kupat berasal dari kata *ngaku lepat* atau mengakui kesalahan dan meminta maaf pada saat hari raya atau hari-hari besar.</p>
<h4><strong>Perkembangan Kupat atau Ketupat</strong></h4>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, Kupat atau ketupat menjadi makanan tradisional yang populer di Indonesia, terutama di Jawa. Kupat atau ketupat disajikan dalam berbagai acara, seperti Idul Fitri, pernikahan, dan khitanan.</p>
<p>Di samping itu, Kupat atau ketupat memiliki variasi yang berbeda-beda, seperti: Kupat atau Ketupat Jawa, yang dibuat dengan beras dan daun kelapa atau daun pisang. Kupat atau Ketupat Sunda, Kupat atau ketupat yang dibuat dengan beras dan daun pisang. Selanjutnya ada juga Kupat atau Ketupat Madura, yang dibuat dengan beras dan daun kelapa atau daun pisang.</p>
<h4>Makna dari Kupat atau Ketupat</h4>
<p>Makna Antropologis dan Filosofis dari Kupat atau Ketupat<br />
Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa atau daun pisang. Berikut adalah makna antropologis dan filosofis dari kupat atau ketupat:</p>
<h4>Makna Antropologis</h4>
<p>1. Simbol Kebesaran dan<br />
Kemuliaan.</p>
<p>Kupat atau ketupat sering disajikan dalam acara-acara penting seperti Idul Fitri, pernikahan, dan khitanan. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dianggap sebagai makanan yang mulia dan berkelas.</p>
<p>2. Simbol Kekompakan dan<br />
Kesatuan.</p>
<p>Kupat atau ketupat biasanya dibuat secara bersama-sama oleh keluarga dan tetangga. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat memperkuat ikatan sosial dan kesatuan masyarakat.</p>
<p>3. Simbol Kebudayaan dan Tradisi.</p>
<p>Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional yang telah ada sejak lama. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting.</p>
<h4>Makna Filosofis</h4>
<p>1. Simbol Keseimbangan dan Harmoni. Kupat atau ketupat terdiri dari dua bagian yang saling melengkapi, yaitu beras dan daun kelapa atau daun pisang. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol keseimbangan dan harmoni.</p>
<p>2. Simbol Kesabaran dan Ketekunan. Membuat kupat atau ketupat memerlukan kesabaran dan ketekunan. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol kesabaran dan ketekunan.<br />
3. Simbol Kebahagiaan dan Kesyukuran. Kupat atau ketupat sering disajikan dalam acara-acara penting dan bahagia. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol kebahagiaan dan rasa syukur.</p>
<p>Karena ketupat dijadikan sebagai panganan yang memiliki banyak makna, maka kemudian tradisi pembuatan dan makan ketupat dijadikan kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, maka makan ketupat sayur dianggap sebagai sebuah tradisi yang terus diwariskan secara turun temurun hingga anak cucu.</p>
<h3>Tradisi makan ketupat Sayur di pertengahan Ramadhan</h3>
<p>Tradisi makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan berasal dari Jawa, Indonesia. Menurut sejarah, tradisi ini dimulai pada abad ke-16, ketika Islam mulai menyebar di Jawa, mulai dari Kerajaan Islam Demak, Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten. Khusus bagi masyarakat Islam Banten, tradisi ini sudah terjadi pada 1516 M saat Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, menyebarkan ajaran Islam. Sayur ketupat adalah hidangan khas Jawa yang terbuat dari ketupat (nasi yang dibungkus dengan daun kelapa) dan sayuran seperti labu siam, kacang panjang, dan daun melinjo.</p>
<h3>Makna Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat</h3>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna yang mendalam. Qunut merupakan doa yang dibaca untuk memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, sedangkan makan sayur ketupat merupakan simbol dari kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p>Dengan begitu dapat diketahui bahwa Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan adalah tradisi yang unik dan menarik di Indonesia, khususnya di Jawa. Tradisi ini memiliki makna yang mendalam, yaitu memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, serta kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<h3>Makna Historis Filosofis Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat di Malam Pertengahan Ramadhan</h3>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna historis filosofis yang mendalam. Berikut beberapa makna historis filosofis dari tradisi ini:</p>
<p>1. Makna Spiritual: Mengingatkan Kembali Kepada Allah SWT</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna spiritual yang mendalam. Qunut merupakan doa yang dibaca untuk memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, sedangkan makan sayur ketupat merupakan simbol dari kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p>2. Makna Sosial: Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna sosial yang mendalam. Tradisi ini meningkatkan ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam.</p>
<p>3. Makna Kultural: Melestarikan Tradisi dan Budaya</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna kultural yang mendalam. Tradisi ini melestarikan tradisi dan budaya Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.</p>
<p>4. Makna Filosofis: Mengingatkan Kembali Kepada Kebesaran Allah SWT</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Tradisi ini mengingatkan kita kembali kepada kebesaran Allah SWT dan pentingnya memohon ampun dan perlindungan dari-Nya.</p>
<p>5. Makna Historis: Mengingatkan Kembali Kepada Perjuangan Nabi Muhammad SAW</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna historis yang mendalam. Tradisi ini mengingatkan kita kembali kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam.</p>
<p>Selain itu, Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna historis filosofis yang mendalam. Tradisi ini memiliki makna spiritual, sosial, kultural, filosofis, dan historis yang sangat penting bagi umat Islam di Indonesia.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat {Odie}.</p>
<p>Pamulang, 11 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/akcdn.detik.net.id/visual/2018/05/04/79ca3741-ad0f-4910-abce-1ef86616948f_43.jpeg?w=720&#038;q=90&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Tradisi Ngabuburit</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/sejarah-singkat-tradisi-ngabuburit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2025 05:41:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ngabuburit]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79199</guid>

					<description><![CDATA[Tataran Sunda, yang sekarang dikenal sebagai Jawa Barat, memiliki sejarah yang kaya dan beragam. Pada...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tataran Sunda, yang sekarang dikenal sebagai Jawa Barat, memiliki sejarah yang kaya dan beragam. Pada abad ke-16, Islam mulai berkembang di Tataran Sunda, dan menjadi agama yang dominan di wilayah tersebut.</p>
<p>Tradisi ngabuburit di Tataran Sunda dipercaya berasal dari zaman Kesultanan Cirebon, yang berdiri pada abad ke-15. Pada saat itu, Sultan Cirebon, Sunan Gunung Jati, memerintahkan rakyatnya untuk melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan, bermain, atau melakukan kegiatan lainnya untuk menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa.</p>
<p>Kemudian seiring berjalannya waktu, tradisi ngabuburit semakin berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tataran Sunda. Masyarakat mulai melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan, bermain, atau melakukan kegiatan lainnya untuk menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa.</p>
<p>Karena tradisi ini berawal dari Kesultanan Cirebon yang sangat Islami, maka dapat dipastikan bahwa tradisi ngabuburit dipengaruhi oleh Islam itu sendiri. Karena Islam memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan tradisi ngabuburit di Tataran Sunda. Tradisi ini dianggap sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran agama dan memperkuat iman di masyarakat.</p>
<p>Selain itu, tradisi dan perkembangan ngabuburit tentu saja dimainkan oleh para ulama dan tokoh madyarakat Islam di Cirebon, khususnya, dan pada masyarakat Sunda unumnya.</p>
<p>Tokoh masyarakat, seperti ulama dan pemimpin adat, memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan tradisi ngabuburit di Tataran Sunda. Mereka mempromosikan tradisi ini sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat.</p>
<h3>Makna Ngabuburit</h3>
<p>Dalam bahasa Sunda, kata ngabuburit berasal dari kata bubur yang berarti &#8220;menjelang&#8221; atau &#8220;mendekati&#8221;. Dalam konteks ini, ngabuburit berarti &#8220;menjelang berbuka puasa&#8221; atau &#8220;mendekati waktu berbuka puasa&#8221;.</p>
<p>Sedang dari segi istilah, istilah ngabuburit merujuk pada kegiatan yang dilakukan menjelang berbuka puasa, seperti berjalan-jalan, bermain, atau melakukan kegiatan lainnya. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan suasana hati yang gembira dan santai menjelang berbuka puasa.</p>
<p>Sementara dari aspek Budaya Sunda, ngabuburit memiliki makna yang lebih luas dan mendalam. Kegiatan ini dianggap sebagai bagian dari tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama. &#8220;Ngabuburit&#8221; juga dianggap sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat Sunda.</p>
<p>Sementara itu, ada yang nengatakan bahwa Ngabuburit dalam Budaya Sunda memiliki beberapa makna, seperti:</p>
<p>Ngabuburit dianggap sebagai cara untuk menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama. Kemudian juga sebagai salah satu cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat Sunda. Selain itu, Ngabuburit dianggap sebagai cara untuk menghibur diri dan melepaskan stres menjelang berbuka puasa.</p>
<h3>Respons Masyarakat Sunda terhadap Tradisi Ngabuburit</h3>
<p>Karera *Ngabuburit* sudah berlangsung sangat lama, dan kegiatan ini terwarisi secara turun temurun, maka ia sudah menjadi sebuah tradisi yang mengakar pada masyarakat Sunda, bahkan sudah dianggap sebagai sebuah budaya. Karena itu, terdapat respons dari masyarakat Sunda itu sendiri.</p>
<p>Berikut adalah respons tokoh adat dan tokoh agama tentang tradisi ngabuburit:</p>
<h3>Respons Tokoh Adat dan Tokoh Agama</h3>
<p>Tokoh adat Sunda, Jawa Barat, memiliki pandangan yang sangat positif tentang tradisi ngabuburit. Mereka menganggap ngabuburit sebagai bagian dari tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama.</p>
<p>&#8220;Ngabuburit adalah tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Sunda. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat, serta menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama,&#8221; kata Rd. H. Dedi Mulyadi, tokoh adat Sunda.</p>
<h4>Respons Tokoh Agama</h4>
<p>Tokoh agama Islam juga memiliki pandangan yang sangat positif tentang tradisi ngabuburit. Mereka menganggap ngabuburit sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran agama dan memperkuat iman di masyarakat.</p>
<p>&#8220;Ngabuburit adalah cara untuk meningkatkan kesadaran agama dan memperkuat iman di masyarakat. Tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat, serta menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama,&#8221; kata K.H. Dr. H. Abdul Rozak, tokoh agama Islam.</p>
<h4>Respons Tokoh Masyarakat</h4>
<p>Tokoh masyarakat Sunda juga memiliki pandangan yang sangat positif tentang tradisi ngabuburit. Mereka menganggap ngabuburit sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat, serta menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama.</p>
<p>&#8220;Ngabuburit adalah cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat. Tradisi ini juga menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama,&#8221; kata Dr. H. Dedi Sutardi, tokoh masyarakat Sunda.</p>
<p>Akhirnya dapat disimpulkan bahwa ngabuburit yang dicetuskan oleh Sunan Gunungjati menjadi sebuah tradisi yang diwariskan secara turun temurun dikakukan oleh masyarakat Sunda, Jawa Barat, setiap sore menjelang datangnya waktu adzan Maghrib. Masyarakat Sunda berjalan dan bertamasya di sore hari sambil bermain menunggu waktu berbuka puasa. Ia banyak memiliki makna dalam mempererat solidaritas sosial dan lain sebagainya.[Odie]</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat. Aamiiinnn…</p>
<p>Pamulang,05 -03-2025<br />
Murodi al_Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/panturanews.com/upload/mgabu-birit.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Sahur Ramadhan di Dunia Islam; Makna, Sejarah, dan Praktiknya</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-sahur-ramadhan-di-dunia-islam-makna-sejarah-dan-praktiknya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2025 09:13:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahur on the road]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79195</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Ada sebuah tradisi Ramadhan yang sudah berlangsung sangat lama dilakukan oleh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Ada sebuah tradisi Ramadhan yang sudah berlangsung sangat lama dilakukan oleh umat Islam, sejak zaman Nabi saw; hingga sekarang, seperti *Makan Sahur* Makan Sahur adalah makanan yang dikonsumsi sebelum fajar, sebelum memulai berpuasa.</p>
<h3>Pengertian Sahur dari Segi Bahas dan istilah</h3>
<p>Kata &#8220;sahur&#8221; berasal dari bahasa Arab, yaitu &#8220;سَحَر&#8221; (sahar), yang berarti &#8220;makan sebelum fajar&#8221; atau &#8220;makan sebelum subuh&#8221;. Dalam bahasa Indonesia, kata &#8220;sahur&#8221; diartikan sebagai &#8220;makan sebelum fajar&#8221; atau &#8220;makan sebelum berpuasa&#8221;. Sedang menurut istilah Islam, sahur adalah tradisi makan sebelum fajar, yang dilakukan oleh umat Islam sebelum memulai puasa di bulan Ramadhan. Sahur adalah sunnah Rasulullah yang memiliki keutamaan dan berkah. Dalam konteks istilah, sahur memiliki beberapa pengertian, yaitu: Makan sebelum fajar, yang dilakukan oleh umat Islam sebelum memulai puasa di bulan Ramadhan.</p>
<h3>Sejarah Tradisi Sahur dalam Islam</h3>
<p>Pada masa Nabi Muhammad SAW, sahur adalah tradisi yang sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk berpuasa. Nabi Muhammad SAW bersabda: &#8220;Makan sahur, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.&#8221; (HR. Bukhari, no. 1923) Pada masa itu, sahur dilakukan dengan sederhana, yaitu dengan makan roti, kurma, dan minum air. Nabi Muhammad saw juga mengajarkan para Sahabatnya untuk mengakhirkan waktu sahur, mendekati terbit fajar.</p>
<p>Kemudian pada masa para Sahabat, sahur tetap menjadi tradisi yang sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk berpuasa. Para Sahabat seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman juga mengikuti tradisi sahur dengan sederhana.</p>
<p>Pada masa itu, sahur juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Para Sahabat akan berkumpul dan makan bersama, sambil berdiskusi tentang agama dan kehidupan.</p>
<p>Selanjutnya masa Tabi&#8217;in, sahur tetap menjadi tradisi yang sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk berpuasa. Para Tabi&#8217;in seperti Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar juga mengikuti tradisi sahur dengan sederhana.</p>
<p>Pada masa itu, sahur juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Para Tabi&#8217;in akan berkumpul dan makan bersama, sambil berdiskusi tentang agama dan kehidupan.</p>
<p>Tradisi Makan Sahur di zaman kontemporer, ada sedikit perubahan, terutama terkait menu santapan Sahur. Kini sudah bisa menikmati santapan bervariasi, mulai dari kulinernya dan lain.</p>
<p>Pada masa kini, sahur juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Banyak orang yang berkumpul dan makan bersama, sambil berdiskusi tentang agama dan kehidupan.</p>
<h3>Makna Tradisi Sahur</h3>
<p>Tradisi sahur memiliki beberapa makna yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam:</p>
<p>*Makna Spiritual* Sahur adalah persiapan spiritual untuk menghadapi hari dengan penuh semangat dan kesabaran. Kesabaran dan Ketabahan. Sahur mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih sabar dan tabah dalam menghadapi hari dengan penuh tantangan. Sahur adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan cara memperkuat fisik dan mental.</p>
<p>Kemudian Makna Sosial. Sahur adalah sarana untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dengan cara berkumpul dan makan bersama. Selain itu, Sahur juga mengajarkan Kesadaran Sosial. Sahur mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih peduli terhadap orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Berikutnya, Sahur adalah sarana untuk memperkuat keharmonisan dalam masyarakat dengan cara memperkuat ikatan sosial.</p>
<h3>Makna Filosofis Sahur</h3>
<p>Sahur adalah simbol kebenaran yang mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih jujur dan transparan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Sahur mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih sadar akan keberadaan Allah SWT dan kepentingan beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Kemudian terakhir, Sahur memiliki makna Kebahagiaan. Karena, Sahur adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan hakiki dengan cara memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.</p>
<p>Sahur on the Toad: Sebuah Tradisi Baru Dalam Bersahur</p>
<p>Sahur on the road adalah tradisi baru yang mulai populer di kalangan masyarakat, terutama di kota-kota besar. Tradisi ini melibatkan kegiatan bersahur di tempat-tempat umum, seperti jalan raya, taman, atau tempat-tempat lainnya.</p>
<h3>Sejarah Munculnya Sahur on the road</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road (SOTR) ini muncul sebagai respons terhadap kesibukan dan gaya hidup modern yang membuat orang sulit untuk bersahur di rumah. Banyak orang yang memiliki jadwal yang padat dan tidak memiliki waktu untuk bersahur di rumah. Oleh karena itu, mereka memilih untuk bersahur di tempat-tempat umum yang lebih mudah dijangkau.</p>
<h3>Cara Pelaksanaan SOTR</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road ini biasanya dilakukan dengan cara berikut:</p>
<p>1. Membawa Makanan: Para peserta membawa makanan sahur mereka sendiri dan berkumpul di tempat yang telah ditentukan.</p>
<p>2. Makan Bersama: Para peserta makan bersama-sama di tempat umum, sambil berbincang-bincang dan berbagi cerita.</p>
<p>3. Menggunakan Peralatan yang Ramah Lingkungan: Para peserta menggunakan peralatan makan yang ramah lingkungan, seperti wadah makanan yang dapat digunakan kembali.</p>
<h3>Manfaat SOTR</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road ini memiliki beberapa manfaat, antara lain:</p>
<p>1. Meningkatkan Kesadaran Sosial: Tradisi ini dapat meningkatkan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap orang lain.<br />
2. Membangun Komunitas: Tradisi ini dapat membangun komunitas dan meningkatkan rasa persatuan di antara para peserta.<br />
3. Mengurangi Stres: Tradisi ini dapat mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup dengan cara menghabiskan waktu bersama orang lain.</p>
<h3>Tantangan SOTR</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road ini juga memiliki beberapa tantangan, antara lain:</p>
<p>1. Keterbatasan Fasilitas: Tidak semua tempat umum memiliki fasilitas yang memadai untuk bersahur.<br />
2. Keterbatasan Waktu: Para peserta harus memiliki waktu yang cukup untuk bersahur sebelum memulai aktivitas harian.<br />
3. Keterbatasan Keamanan: Para peserta harus memastikan keamanan dan keselamatan saat bersahur di tempat umum.</p>
<p>Sebagai sebuah tradisi, Sahur juga mengalami banyak transformasi, sejak zaman Nabi hingga kini. Salah satu bentuk tranformssinya adslah *Tradisi Sahur on the road,* yang terjadi pada Muslim perkotaan, yang sangat sbuk dengan berbagai sktivitas masing-masing, sehingga mereka merencanakan sebuah kegiatan Sahur bersama yang kemudian dikenal dengan istilah *Sahur on the toad.*</p>
<h3>Respons Masyarakat atas Sahur on the road</h3>
<p>Respons masyarakat Muslim Indonesia terhadap Sahur on the Road (SOTR) sangat beragam. Sebagian masyarakat menyambut baik kegiatan ini karena dapat memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan, terutama di kalangan remaja. Mereka menganggap SOTR sebagai kesempatan untuk berkumpul, berbagi makanan, dan melakukan kegiatan sosial seperti membagikan makanan kepada masyarakat miskin.</p>
<p>Namun, ada juga yang mengkritik SOTR karena dianggap dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan mengganggu ketertiban umum. Oleh karena itu, pemerintah telah melarang SOTR di beberapa daerah.</p>
<p>Dalam beberapa kasus, SOTR juga telah menyebabkan bentrokan antara peserta dan aparat keamanan. Misalnya, pada Februari 2025, terjadi bentrokan antara peserta SOTR dan polisi di Jakarta, yang menyebabkan beberapa orang terluka dan ditangkap.</p>
<p>Meskipun demikian, SOTR masih memiliki nilai positif, terutama dalam memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatur dan mengawasi SOTR agar dapat dilakukan dengan aman dan tertib.</p>
<p>Akhirnya dapat dikatakan bahwa sebagai sebuah tradisi, Sahur juga mengalami banyak transformasi, sejak zaman Nabi hingga kini. Salah satu bentuk tranformssinya adslah *Tradisi Sahur on the road, _* yang terjadi pada Muslim perkotaan, yang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas masing- masing, sehingga mereka merencanakan sebuah kegiatan Sahur bersama yang kemudian dikenal dengan istilah _*Sahur on the toad*</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.[Odie].</p>
<p><em>Pamulang 04 Maret 2025</em><br />
<em>Murodi al_Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/www.jabarnews.com/wp-content/uploads/2025/03/Sahur-on-The-Road-dilarang-di-Depok-selama-Ramadan-Pemkot-sebut-lebih-banyak-mudaratnya.-Simak-alasan-lengkapnya-di-sini.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Bersadaqah di Bulan Ramadan: Makna Sosiohistoris dan Filosofis</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/keutamaan-bersadaqah-di-bulan-ramadan-makna-sosiohistoris-dan-filosofis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2025 09:05:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79192</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Sadaqah di Bulan Ramadhan: Meningkatkan Kualitas Kehidupan dan Mencapai Kebahagiaan Hakiki Bulan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Sadaqah di Bulan Ramadhan: Meningkatkan Kualitas Kehidupan dan Mencapai Kebahagiaan Hakiki</p>
<p>Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan rahmat. Pada bulan ini, umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka dengan melakukan berbagai amal shaleh, seperti shalat, puasa, dan sadaqah. Sadaqah, atau sedekah, adalah salah satu amal shaleh yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an, Allah SWT berfirman: &#8220;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.&#8221; (QS. Ali Imran: 133). Ayat ini menunjukkan bahwa sadaqah adalah salah satu cara untuk mencapai ampunan dan kebahagiaan hakiki.</p>
<p>Menurut Imam Al-Ghazali, sadaqah adalah salah satu cara untuk membersihkan jiwa dan meningkatkan kualitas kehidupan. Beliau berpendapat bahwa sadaqah dapat membantu seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakiki dengan cara membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk seperti kikir dan sombong.</p>
<p>Sadaqah juga dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara membantu orang lain. Dalam Al-Qur&#8217;an, Allah SWT berfirman: &#8220;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan tidak mengharapkan balasan dari siapa pun.&#8221; (QS. Ali Imran: 133-134). Ayat ini menunjukkan bahwa sadaqah dapat membantu seseorang untuk mencapai ampunan dan kebahagiaan hakiki dengan cara membantu orang lain.</p>
<p>Menurut Syekh Yusuf Al-Qaradawi, sadaqah adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara membantu orang lain. Beliau berpendapat bahwa sadaqah dapat membantu seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakiki dengan cara membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk seperti kikir dan sombong.</p>
<p>Dalam praktiknya, sadaqah dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memberikan uang, makanan, atau pakaian kepada orang yang membutuhkan. Sadaqah juga dapat dilakukan dengan cara membantu orang lain dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan yang bermanfaat.</p>
<h3>Makna Sadaqah: Asal usul, Historis, Sosiologis dan Filosofis</h3>
<p>Kata Sadaqah berasal dari bahasa Arab, yang merupakan bahasa yang digunakan dalam Al-Qur&#8217;an dan hadits. Dalam bahasa Arab, kata Sadaqah ditulis sebagai صدقة (sadaqah).</p>
<p>Kata Sadaqah memiliki akar kata صدق (sidq), yang berarti &#8220;kebenaran&#8221; atau &#8220;kesetiaan&#8221;. Dalam konteks Sadaqah, kata ini berarti &#8220;memberikan sesuatu dengan ikhlas dan tulus, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan&#8221;.</p>
<p>Sementara menurut istilah Islam, Sadaqah memiliki beberapa makna, antara lain:</p>
<p>1. Memberikan sesuatu dengan ikhlas dan tulus, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan.<br />
2. Memberikan zakat atau sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.<br />
3. Melakukan amal shaleh atau kebaikan kepada orang lain.</p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an, kata Sadaqah disebutkan dalam beberapa ayat, antara lain:</p>
<p>&#8211; &#8220;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan tidak mengharapkan balasan dari siapa pun.&#8221; (QS. Ali Imran: 133-134)</p>
<p>&#8211; &#8220;Dan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengikuti apa yang mereka nafkahkan itu dengan mengingatkan atau menyakiti, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak akan merasa sedih.&#8221; (QS. Al-Baqarah:262).</p>
<h4>Makna Historis</h4>
<p>Bersadaqah di bulan Ramadhan memiliki makna historis yang sangat penting. Pada masa Nabi Muhammad SAW, bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat suci dan penting. Pada bulan ini, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melakukan ibadah dengan sangat intensif, termasuk bersadaqah.</p>
<p>Pada masa itu, bersadaqah di bulan Ramadhan bukan hanya sekedar memberikan uang atau barang, tetapi juga merupakan bentuk ekspresi keimanan dan kesyukuran kepada Allah SWT. Para sahabat Nabi Muhammad SAW juga melakukan bersadaqah dengan cara memberikan makanan dan minuman kepada orang-orang yang membutuhkan.</p>
<h4>Makna Sosiologis</h4>
<p>Bersadaqah di bulan Ramadhan memiliki makna sosiologis yang sangat penting. Pada bulan ini, masyarakat Muslim di seluruh dunia melakukan bersadaqah dengan cara memberikan uang, barang, dan jasa kepada orang-orang yang membutuhkan.</p>
<p>Bersadaqah di bulan Ramadhan juga merupakan bentuk solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama manusia. Dengan melakukan bersadaqah, masyarakat Muslim dapat memperkuat ikatan sosial dan meningkatkan kesadaran sosial terhadap orang-orang yang membutuhkan.</p>
<h4>Makna Filosofis</h4>
<p>Bersadaqah di bulan Ramadhan memiliki makna filosofis yang sangat penting. Pada bulan ini, masyarakat Muslim di seluruh dunia melakukan bersadaqah dengan cara memberikan uang, barang, dan jasa kepada orang-orang yang membutuhkan.</p>
<p>Karenanya, bersadaqah di bulan Ramadhan juga merupakan bentuk ekspresi keimanan dan kesyukuran kepada Allah SWT. Dengan melakukan bersadaqah, masyarakat Muslim dapat memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT dan meningkatkan kesadaran spiritual terhadap keberadaan Allah SWT.</p>
<h3>Keutamaan Bersadaqah di Bulan Ramadhan</h3>
<p>1. Menghapus Dosa:</p>
<p>Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Sadaqah dapat menghapus dosa-dosa seperti air yang memadamkan api.&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p>2. Meningkatkan Pahala:</p>
<p>Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat meningkatkan pahala ibadah lainnya. Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Sadaqah di bulan Ramadhan lebih utama daripada sadaqah di bulan lainnya.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>3. Membantu Orang yang Membutuhkan: Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat membantu orang yang membutuhkan, seperti orang miskin, anak yatim, dan janda.</p>
<p>4. Meningkatkan Kesadaran Sosial: Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat meningkatkan kesadaran sosial dan rasa empati terhadap orang lain.</p>
<h3>Manfaat Bersadaqah di Bulan Ramadhan</h3>
<p>1. Meningkatkan Keseimbangan Jiwa: Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat meningkatkan keseimbangan jiwa dan mengurangi stres.</p>
<p>2. Meningkatkan Rasa Syukur: Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat meningkatkan rasa syukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.</p>
<p>3. Meningkatkan Kualitas Hubungan Sosial: Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial dan memperkuat ikatan antara sesama manusia.</p>
<p>4. Meningkatkan Kesehatan Mental: Bersadaqah di bulan Ramadhan dapat meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi risiko depresi dan kecemasan.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bersadaqah di bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan dan manfaat bagi umat. Dengan bersadaqah, kita dapat meningkatkan pahala ibadah, membantu orang yang membutuhkan, dan meningkatkan kesadaran sosial dan keseimbangan jiwa.</p>
<p>Demikian. InsyaAllah bermanfaat [Odie].</p>
<p>Pamulang, 03-03-2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/baznasbazisdki.id/assets/img/article/blobid1668565585941.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kajian Ramadhan: Sambut Ramadhan dengan Bahagia karena Memiliki Keutamaan yang Begitu Besar</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/kajian-ramadhan-sambut-ramadhan-dengan-bahagia-karena-memiliki-keutamaan-yang-begitu-besar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Feb 2025 07:09:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79181</guid>

					<description><![CDATA[MAJALAH EKONOMI &#8211; Bagi kaum Muslimin harus senantiasa bahagia menyambut bulan Ramadhan karena di dalamnya memiliki...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b><a href="https://majalahekonomi.com/">MAJALAH EKONOMI</a> &#8211;</b> Bagi kaum Muslimin harus senantiasa bahagia menyambut bulan Ramadhan karena di dalamnya memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan.</p>
<p>“Sudah selayaknya bagi setiap kaum Muslimin yang beriman kepada Allah SWT, senantiasa bahagia menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, karena memiliki keistimewaan dan keutamaannya yang begitu besar,” ungkap Mubalighah Kota Depok, Ustadazah Uswatun Hasanah dalam kajian Muslimah, Tarhib Ramadhan, Ahad (23/2/2025) di Depok.</p>
<p>Ia pun menegaskan, di antara 12 bulan yang Allah berikan, ada salah satu bulan yang Allah perintahkan di dalamnya agar manusia berpuasa satu bulan penuh. Bulan tersebut adalah bulan suci Ramadhan.</p>
<p>“Di bulan Ramadhan, Allah menjanjikan malam Lailatul Qadar, juga membukakan pintu surga, menutup pintu pintu neraka, setan-setan dibelenggu, serta melipatgandakan pahala,” jelasnya di hadapan sekitar 49 jemaah.</p>
<p>Kemudian, lanjutnya, Allah juga menunjukkan sifat Ar-Rahim-Nya dengan memberikan peluang ampunan dosa yang begitu luas kepada hamba-hamba-Nya. Itulah keutamaan yang Allah SWT berikan di bulan suci Ramadhan. Tentu seluruh keutamaan tersebut, hanya Allah berikan pada setiap insan yang beriman dan berpuasa di bulan Ramadhan.</p>
<p>“Semua keutamaan yang telah Allah SWT berikan kendatinya agar menjadikan hamba-hamba-Nya bertakwa, setelah selesai menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Namun sayangnya, tidak semua kaum Muslimin mampu mengambil peluang besar pahala dan kesempatan beramal shalih di bulan Ramadhan,” pungkasnya.[]Widya Utami</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1740726404/WhatsApp-Image-2025-02-25-at-10.24.08-FILEminimizer/WhatsApp-Image-2025-02-25-at-10.24.08-FILEminimizer.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi I’tikaf Dalam Islam di Bulan Ramdhan: Analisis Historis Filosofis</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-itikaf-dalam-islam-di-bulan-ramdhan-analisis-historis-filosofis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Feb 2025 08:19:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Itikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79146</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi. I&#8217;tikaf adalah salah satu tradisi Islam yang telah dilakukan sejak zaman...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
<p>I&#8217;tikaf adalah salah satu tradisi Islam yang telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini memiliki makna yang sangat dalam dan kaya, baik dari segi historis maupun filosofis. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang tradisi i&#8217;tikaf dari zaman Nabi hingga kini, hukumnya, dan amalan yang dianjurkan dalam beri&#8217;tikaf.</p>
<h3>Sejarah I&#8217;tikaf</h3>
<p>I&#8217;tikaf telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sejak zaman awal Islam. Nabi Muhammad SAW biasa melakukan i&#8217;tikaf di Masjid Nabawi selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk mencari malam Lailatul Qadar. (HR. Bukhari, No. 2026).</p>
<p>Para sahabat Nabi Muhammad SAW juga melakukan i&#8217;tikaf di masjid, bahkan beberapa di antaranya melakukan i&#8217;tikaf selama 20 hari. (HR. Muslim, No. 1172).</p>
<h3>Hukum I&#8217;tikaf</h3>
<p>Hukum i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. I&#8217;tikaf dapat dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah mencapai usia baligh dan memiliki kemampuan untuk melakukan i&#8217;tikaf. (QS. Al-Baqarah, Ayat 187).</p>
<h3>Mengapa Harus di Masjid?</h3>
<p>I&#8217;tikaf harus dilakukan di masjid karena beberapa alasan:</p>
<p>1. Masjid adalah tempat yang suci dan memiliki keutamaan yang sangat besar. (QS. Al-Imran, Ayat 110).<br />
2. Masjid adalah tempat yang dapat membantu seseorang untuk fokus pada ibadah dan memperdalam hubungan dengan Allah SWT. (QS. Al-&#8216;Ankabut, Ayat 45).</p>
<h3>Bolehkan I&#8217;tikaf Selain di Masjid?</h3>
<p>I&#8217;tikaf dapat dilakukan di tempat lain selain masjid, tetapi harus memenuhi beberapa syarat:</p>
<p>1. Tempat tersebut harus suci dan memiliki keutamaan yang besar.<br />
2. Tempat tersebut harus dapat membantu seseorang untuk fokus pada ibadah dan memperdalam hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p>Namun, perlu diingat bahwa i&#8217;tikaf di masjid memiliki keutamaan yang sangat besar dan dapat membantu seseorang untuk memperdalam kesadaran spiritual dan memperkuat ikatan sosial. (QS. Al-Hajj, Ayat 41).</p>
<h3>Amalan yang Dianjurkan dalam Beri&#8217;tikaf</h3>
<p>Berikut adalah beberapa amalan yang dianjurkan dalam beri&#8217;tikaf:</p>
<p>1. Shalat lima waktu dengan khusyu&#8217; dan tawadhu&#8217;.<br />
2. Tilawatil Qur&#8217;an dengan tartil dan memahami maknanya.<br />
3. Dzikir kepada Allah SWT dengan membaca doa-doa dan istighfar.<br />
4. Berdoa kepada Allah SWT untuk memohon pahala, ampunan, dan keselamatan.<br />
5. Menghafal Al-Qur&#8217;an dan memperdalam pemahaman tentang kitab suci.</p>
<h3>Pendapat Para Ulama</h3>
<p>Pendapat Para Ulama 4 Mazhab tentang Tradisi I&#8217;tikaf selama Ramadhan</p>
<p>Para ulama dari empat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi&#8217;i, dan Hanbali) memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan. Berikut adalah pendapat para ulama dari empat mazhab fikih tentang tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan:</p>
<h4><strong>Mazhab Hanafi</strong></h4>
<p>Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan. (Al-Fatawa al-Hanafiyyah, Jilid 2, Halaman 234).</p>
<h4>Mazhab Maliki</h4>
<p>Imam Malik menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Al-Mudawwanah, Jilid 1, Halaman 345</p>
<h4>Mazhab Syafi&#8217;i</h4>
<p>Imam Syafi&#8217;i menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan. (Al-Umm, Jilid 2, Halaman 123).</p>
<h4>Mazhab Hanbali</h4>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Al-Mughni, Jilid 3, Halaman 456).</p>
<h3>Pendapat Para Ulama Tafsir tentang Tradisi I&#8217;tikaf selama Ramadhan</h3>
<p>Para ulama tafsir juga memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan. Berikut adalah pendapat beberapa ulama tafsir tentang tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan:</p>
<h4>Imam Ibn Kathir</h4>
<p>Imam Ibn Kathir menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah salah satu cara untuk memperoleh keutamaan dan pahala selama Ramadhan. (Tafsir Ibn Kathir, Jilid 2, Halaman 234).</p>
<h4>Imam Al-Tabari</h4>
<p>Imam Al-Tabari menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Tafsir Al-Tabari, Jilid 3, Halaman 456).</p>
<h4>Pendapat Para Ulama Hadits tentang Tradisi I&#8217;tikaf selama Ramadhan</h4>
<p>Para ulama hadits juga memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan. Berikut adalah pendapat beberapa ulama hadits tentang tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan:</p>
<h4>Imam Bukhari</h4>
<p>Imam Bukhari menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah salah satu cara untuk memperoleh keutamaan dan pahala selama Ramadhan. (Shahih Bukhari, Jilid 2, Halaman 123).</p>
<h4>Imam Muslim</h4>
<p>Imam Muslim menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Shahih Muslim, Jilid 2, Halaman 456)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa I&#8217;tikaf adalah salah satu tradisi Islam yang memiliki makna yang sangat dalam dan kaya, baik dari segi historis maupun filosofis. Hukum i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah, dan harus dilakukan di masjid untuk memperoleh keutamaan yang sangat besar. Amalan yang dianjurkan dalam beri&#8217;tikaf meliputi shalat, tilawatil Qur&#8217;an, dzikir, dan berdoa.</p>
<p>Para ulama Mazhab fiqih, ulama Tafir dan hadis sepakat dengan pendapat para ulama terdahulu bahwa beri’tikaf sebaiknya dilakukan di mesjid sembari berdzikir berdo’a dan membaca al-Qur’an dan memahami isinya dengan baik.Semoga bermanfaat.[Odie[.</p>
<p>Pamulang, 25 Februari 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/asset-2.tstatic.net/bangka/foto/bank/images/20240401-itikaf-di-masjid-pada-bulan-ramadhan.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ketua Persis Jakarta: Ramadan Momentum Tingkatkan Iman dan Akhlak Siswa</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ketua-persis-jakarta-ramadan-momentum-tingkatkan-iman-dan-akhlak-siswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jan 2025 05:15:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JABOTABEK]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79009</guid>

					<description><![CDATA[Pemerintah resmi menerbitkan surat edaran bersama (SEB) tentang pembelajaran selama Ramadan 1446 Hijriah/2025 M]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahekonomi.com/"><b>MAJALAH EKONOMI </b></a>&#8211; Pemerintah resmi menerbitkan surat edaran bersama (SEB) tentang pembelajaran selama Ramadan 1446 Hijriah/2025 M. Pada edaran itu diterangkan pula materi pembelajaran selama Ramadan bagi siswa muslim, seperti tadarus Alquran, pesantren kilat, kajian keislaman, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Persis Jakarta, Ustaz Sofyan Munawar sangat mendukung dan mengapresiasi kebijakan tersebut. Menurut dia, dari aspek pendidikan kebijakan ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan nasional, antara lain membentuk generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta membentuk generasi yang sehat, berilmu, cakap, dan kreatif. Bahkan kebijakan tersebut memberikan manfaat sosial dan budaya yang signifikan bagi peserta didik.</p>
<p>&#8220;Sudah saatnya Mendikdasmen menjadikan momentum Ramadhan yang sarat nilai spiritual, dimaksimalkan dalam upaya meningkatkan kualitas iman, ibadah, dan akhlak para siswa,&#8221; ujar Ustaz Sofyan dalam keterangannya, Rabu (22/1/2025).</p>
<p>Lebih lanjut, Ustaz Sofyan berharap dengan kegiatan tadarus dan pesantren kilat dan kegiatan keagamaan lainnya dapat membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai religiusitas siswa.</p>
<p>&#8220;Ramadhan sebagai bulan penuh berkah yang padanya diwajibkan berpuasa, tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan berhenti belajar. Justru pada bulan yang diberkahi itu kita dituntut untuk berkompetisi dan lebih giat lagi dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ustaz Sofyan menambahkan, kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di sekolah pada bulan Ramadhan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara spiritual.</p>
<p>&#8220;Dengan terpadunya kecerdasan intelektual dan spiritual akan meniscayakan terciptanya harmoni dan keserasian antara ilmu, amal dan akhlakul karimah,&#8221; tuturnya.**</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/sabili.id/content/images/size/w600/format/webp/2025/01/PW_Persis_Jakarta_Apresiasi_Kebijakan_Pembelajaran_di_Bulan_Ramadhan_-_Foto_Istimewa.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
