<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ramadan Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/tag/ramadan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com/tag/ramadan/</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Mar 2026 05:40:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>Ramadan Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com/tag/ramadan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 05:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98102</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang memiliki kedudukan utama dalam ajaran...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/">Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang memiliki kedudukan utama dalam ajaran Islam. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan mengajarkan umat Islam untuk melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta meningkatkan ketakwaan. Dalam menjalankan ibadah puasa, terdapat berbagai tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk adab ketika berbuka puasa.</p>
<p>Salah satu hadis yang menjelaskan tentang anjuran berbuka puasa diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Namun sekiranya ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i)</p>
<p>Hadis tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam tentang cara yang dianjurkan ketika berbuka puasa. Dimana kurma menjadi pilihan utama karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh usai seharian menahan lapar dan dahaga. Buah kurma mengandung banyak manfaat, yaitu kaya akan kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B6. Kandungan utamanya adalah karbohidrat (60-70% gula alami) yang memberikan energi instan, serta antioksidan tinggi (felonik/flavonoid), serat, serta berbagai vitamin dan mineral yang dapat membantu mengembalikan energi tubuh dengan cepat. Oleh karena itu, mengonsumsi kurma saat berbuka puasa tidak hanya mengikuti sunnah Nabi, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh.</p>
<p>Apabila seseorang tidak mendapatkan kurma, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbuka dengan air. Selain menghilangkan rasa haus, air juga membantu menyeimbangkan kembali cairan tubuh yang berkurang selama berpuasa. Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa air bersifat suci, yang menunjukkan bahwa air merupakan pilihan yang baik dan sederhana untuk mengawali berbuka puasa.</p>
<p>Anjuran ini menunjukkan bahwa Islam memberikan tuntunan yang mudah dan tidak memberatkan umatnya. Berbuka puasa tidak harus dengan makanan yang mewah atau berlebihan. Hal yang terpenting adalah mengikuti sunnah Rasulullah SAW serta menjaga kesederhanaan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.</p>
<p>Hikmah dari hadis ini adalah umat Islam diharapkan dapat meneladani kebiasaan Rasulullah SAW dalam berbuka puasa. Selain memperoleh manfaat kesehatan, mengikuti sunnah Nabi juga menjadi bentuk kecintaan dan ketaatan kepada beliau. Melalui amalan-amalan sederhana seperti ini, ibadah puasa yang dijalankan akan jauh lebih sempurna dan penuh berkah.</p>
<p>&#8211; Muhammad Zaidan Musyaffa</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/">Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/jatimnet.com/jinet/assets/media/news/news/image_front/6_Manfaat_Air_Rendaman_Kurma_Bagi_Kesehatan_Tubuh.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan dan Konsumerisme: Mengapa Pengeluaran Semakin Meningkat?</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ramadhan-dan-konsumerisme-mengapa-pengeluaran-semakin-meningkat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2026 03:31:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98040</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Anisa Bella Fathia S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-dan-konsumerisme-mengapa-pengeluaran-semakin-meningkat/">Ramadhan dan Konsumerisme: Mengapa Pengeluaran Semakin Meningkat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Anisa Bella Fathia S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok</strong></em></p>
<p>Sahabat Muslimah, Ramadhan adalah bulan latihan menahan diri. Menahan dari lapar, haus, marah, juga urusan harta. Namun faktanya justru pengeluaran di bulan Ramadhan semakin meningkat. Pasar dan tempat jajanan semakin ramai, masyarakat berburu takjil dari selepas ashar sampai menjelang Maghrib. Hidangan berbuka melimpah tak jarang menumpukkan sampah. Meski waktu makan lebih sedikit dibanding hari biasa, namun food waste justru meningkat.</p>
<p>Menurut Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Poppy Diana Sari STP MP, peningkatan food waste saat Ramadhan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan belanja hingga budaya dalam menyajikan makanan. Mendekati waktu berbuka puasa, orang-orang lapar mata, mereka juga berbelanja bahan makanan segar tanpa perencanaan yang matang. Selain itu, promo Ramadhan yang ditawarkan hotel dan restoran semakin menjamur. Pada akhirnya perut tak cukup menghabiskan semua makanan tersebut, makanan basi dan berakhir di tempat sampah. Miris, di saat saudara kita di Palestina kesulitan makanan untuk berbuka.</p>
<p>Fenomena konsumtif seperti ini pun terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan penuh dengan orang-orang yang ingin membeli baju lebaran. Seolah stigma &#8220;baju baru dipakai di hari Raya&#8221; seperti barang wajib tak bisa ditawar. Padahal dalam Islam tidak ada perintah memakai baju baru, pakaian lama namun masih bagus dan baik tetap sah untuk dipakai shalat di hari raya. Sampai-sampai masjid yang asalnya penuh jamaah shalat tarawih semakin hari semakin sepi, karena jamaahnya sibuk mempersiapkan perintilan-perintilan Idul Fitri (mendekor rumah, membuat kue, masak dan lain-lain). Padahal mendekati hari raya atau 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah hari-hari penuh berkah dan istimewa. Malam-malam penuh kemuliaan, malam-malam yang dicintai Rasulullah SAW dan umat Islam dianjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar tersebut.</p>
<p>Sayang, umat Muslim malah terlena dengan kesibukan duniawinya. Hingga akhirnya berpisah dengan bulan Ramadhan begitu saja dan menyesal melewatkannya. Bila diamati, fenomena seperti ini tidak terjadi begitu saja. Walaupun masyarakat Indonesia mayoritas Muslim, nampaknya ini hanya bicara soal rasa keislamannya saja. Perasaannya adalah perasaan Islam, namun peraturan yang dijalankan bukanlah Islam. Melainkan sekuler atau memisahkan agama dengan kehidupan.</p>
<p>Wajar saja, kita hanya merasakan Ramadhan hanya sahur dan berbuka bersama. Kenyataannya, pola sikap kita masih kental dengan sekularisme. hedonisme, konsumerisme menghiasi bulan puasa kita. Karena, di hari-hari biasa pun keseharian kita sudah akrab dengan budaya tersebut. Akhirnya saat berbuka puasa malah menjadi ajang festival kuliner dan pelampiasan dari menahan haus dan lapar.</p>
<p>Bulan Ramadhan seharusnya melatih kita untuk sederhana, secukupnya dalam masalah makanan. Bukankah salah satu hikmah berpuasa supaya kita simpati pada orang-orang miskin yang menahan lapar?. Di zaman sekarang juga informasi mudah didapat, berbuka dengan cukup dan tepat justru menjaga tubuh dari lonjakan gula darah. Menyehatkan tubuh. Yang seharusnya kita kejar adalah masalah ibadah bukan hanya masalah perut. Yakinkah ibadah kita di bulan puasa ini diterima oleh Allah? Yakinkah Allah masih beri kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan?</p>
<p>Sahabat Muslimah, saatnya kita berubah menjadi pribadi yang tidak terbawa budaya konsumtif, cerdas membelanjakan harta dan fokus berlomba dalam kebaikan. Semoga Allah menerima ibadah puasa kita semua. Aamiin []</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-dan-konsumerisme-mengapa-pengeluaran-semakin-meningkat/">Ramadhan dan Konsumerisme: Mengapa Pengeluaran Semakin Meningkat?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjerpyfqeqhGerDKmKSH46H7S3Mo1Y8H-JwsrwgJfWc2wZJ2E2VsqHBCFlTMThLft3pGyWNiQ6EQJqsWTkBDqVRkg90zEaSF5sCs-SyOuWIfFbbQYkWK37hFw9fqkwUTP0J_hNbaVFJYJsw1Va0qadUov0CjZ4i8rmk6SzyUCCoqRfrlowNLWd-7_2XJA/s948/pasar-ramadhan-jogokaryan-948x675.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Momentum jadikan Takwa Paripurna</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ramadhan-momentum-jadikan-takwa-paripurna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 04:38:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98003</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Di hadapan sekitar 88 peserta, Mubalighah Kota Depok, Ustadzah Rizka Ummu Sayyidah menegaskan...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-momentum-jadikan-takwa-paripurna/">Ramadhan Momentum jadikan Takwa Paripurna</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOK</strong></a> &#8211; Di hadapan sekitar 88 peserta, Mubalighah Kota Depok, Ustadzah Rizka Ummu Sayyidah menegaskan Ramadhan sebagai momentum jadikan takwa paripurna.</p>
<p>“Ramadhan momentum jadikan takwa paripurna,” ungkapnya dalam Kajian Muslimah Shalihah, Ramadhan dan Jalan Menuju Takwa Paripurna (Sebuah Refleksi Menuju Kemenangan Hakiki), Sabtu, (7/3/2026) di Cipayung, Depok.</p>
<p>‎Agar Ramadhan dapat menjadikan kaum Muslim bertakwa secara paripurna, lanjutnya, maka jadikan standar kerinduan para salaf. “6 bulan berdoa agar dipertemukan Ramadhan, dan 6 bulan berdoa agar amal diterima,” jelasnya.</p>
<p>Ia pun menegaskan, kaum Muslim harus rindu bertemu lagi dengan Ramadhan. “Kita harus rindu bertemu Ramadhan, karena pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu,” sebutnya.</p>
<p>Apalagi menurutnya, tujuan utama Ramadhan adalah takwa paripurna, bukan takwa musiman. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.</p>
<p>Begitu juga lanjutnya, dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 102 yang artinya,“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.”</p>
<p>Adapun menurutnya, definisi takwa menurut Imam Ali bin Abi Thalib ra mempunyai empat pilar yakni al khaufu minal jalil (rasa takut kepada zat yang Mahaagung), al-‘amalu bit tanzil (mengamalkan apa yang Allah turunkan yakni Al-Qur’an), ar-ridha bil qalil (merasa cukup dengan harta yang sedikit), danal-isti’dadu li yaumir rahil (mempersiapkan bekal untuk hari akhirat).</p>
<p>“Oleh karena itu, puasa hakikatnya bukan secara fisik yakni menahan lapar dan dahaga, tapi secara hakiki atau total yakni menahan lisan dari ghibah dan dusta, menahan tangan dari merugikan orang lain, menahan hati dari riya dan hasad, menahan transaksi haram, menahan kekuasaan atau kezaliman,” pungkasnya.[]Siti Aisyah</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-momentum-jadikan-takwa-paripurna/">Ramadhan Momentum jadikan Takwa Paripurna</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/alazharpeduli.oss-ap-southeast-5.aliyuncs.com/laz-artikelberita/63e05f3e3e425-ramadan.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
