<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Keadilan Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/tag/keadilan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com/tag/keadilan/</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Jan 2026 06:59:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>Keadilan Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com/tag/keadilan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Keadilan Tak Lagi Ramah pada Manusia</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ketika-keadilan-tak-lagi-ramah-pada-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2026 06:59:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=95664</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Agnes Benedikta Dae Apenobe mahasiswa pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Universitas Pamulang </p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ketika-keadilan-tak-lagi-ramah-pada-manusia/">Ketika Keadilan Tak Lagi Ramah pada Manusia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Agnes Benedikta Dae Apenobe mahasiswa pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Universitas Pamulang</strong></em></p>
<p>Keadilan seharusnya menjadi wajah paling manusiawi dari hukum. Ia hadir untuk melindungi yang lemah, menegur yang kuat, dan memastikan setiap orang diperlakukan setara.</p>
<p>Namun, dalam realitas kehidupan bernegara, keadilan kerap terasa dingin dan jauh dari rasa kemanusiaan. Hukum tetap berjalan, tetapi manusia yang seharusnya dilindungi justru sering terpinggirkan.</p>
<p>Banyak kasus menunjukkan bagaimana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas.</p>
<p>Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), seperti kekerasan, diskriminasi, dan kriminalisasi terhadap kelompok rentan, sering kali tidak mendapatkan penyelesaian yang adil.</p>
<p>Sementara itu, pelaku yang memiliki kekuasaan atau akses politik justru dapat dengan mudah menghindari jerat hukum.</p>
<p>Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: untuk siapa sebenarnya keadilan ditegakkan?</p>
<p>Masalahnya bukan sekadar pada aturan hukum yang kurang memadai, melainkan pada praktik penegakannya.</p>
<p>Ketika hukum dijalankan tanpa empati dan nurani, ia kehilangan ruh keadilan. Hak asasi manusia yang seharusnya menjadi pijakan utama justru terpinggirkan oleh prosedur formal dan kepentingan kekuasaan.</p>
<p>Akibatnya, korban pelanggaran HAM tidak hanya menderita secara fisik dan psikologis, tetapi juga kehilangan kepercayaan terhadap negara.</p>
<p>Lebih ironis lagi, ketidakadilan yang berulang sering dianggap sebagai hal biasa. Masyarakat perlahan terbiasa melihat pelanggaran HAM tanpa rasa marah atau kepedulian.</p>
<p>Normalisasi ketidakadilan inilah yang paling berbahaya, karena membuat keadilan semakin jauh dari nilai kemanusiaan. Ketika empati hilang, hukum berubah menjadi alat kekuasaan, bukan sarana perlindungan.</p>
<p>Oleh karena itu, mengembalikan keadilan agar ramah pada manusia adalah tanggung jawab bersama. Negara harus berani menegakkan hukum secara adil dan transparan, tanpa pandang bulu.</p>
<p>Di sisi lain, masyarakat perlu menjaga kepekaan sosial dan keberanian untuk bersuara ketika hak-hak manusia dilanggar. Keadilan sejati tidak hanya diukur dari putusan pengadilan, tetapi dari sejauh mana hukum mampu menjaga martabat manusia.</p>
<p>Jika keadilan terus menjauh dari nilai kemanusiaan, maka hukum akan kehilangan maknanya. Sebab pada akhirnya, hukum ada bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk manusia.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ketika-keadilan-tak-lagi-ramah-pada-manusia/">Ketika Keadilan Tak Lagi Ramah pada Manusia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/nusantaranews.co/assets/uploads/2017/08/Ketidakadilan-2.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Film Keadilan (The Verdict), Kolaborasi Indonesia &#8211; Korea Kisahkan Keadilan dan Kebenaran</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/film-keadilan-the-verdict-kolaborasi-indonesia-korea-kisahkan-keadilan-dan-kebenaran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2025 13:04:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=91653</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211;  Rumah Produksi MD Pictures belum lama ini menggelar gala premiere film Keadilan (The...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/film-keadilan-the-verdict-kolaborasi-indonesia-korea-kisahkan-keadilan-dan-kebenaran/">Film Keadilan (The Verdict), Kolaborasi Indonesia &#8211; Korea Kisahkan Keadilan dan Kebenaran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211;  Rumah Produksi MD Pictures belum lama ini menggelar gala premiere film Keadilan (The Verdict) di XXI Epicentrum Jakarta, film Indonesia pertama yang disutradarai sutradara asal Korea Selatan, Lee Chang-hee ini mulai tayang serentak di bioskop, besok Kamis 20 November 2025.</p>
<p>Lee Chang-hee, yang terkenal dengan serial fenomenal A Killer Paradox (Netflix, 2024) ini, berduet dengan sutradara Indonesia Yusron Fuadi yang memenangkan Film Terbaik JAFF Indonesian Screen Awards di Jogja -NETPAC Asian Film Festival 2023 lewat filmnya Setan Alas!</p>
<p>MD Pictures berkolaborasi dengan JNC Media Group dalam memproduksi film kolaborasi pertama antara Indonesia dan Korea Selatan ini.</p>
<p>&#8220;Saya merasa kita benar-benar butuh keadilan di film ini. Film Indonesia butuh subjek begini. Saya bangga karena kita ada genre baru untuk Indonesia. Kami siap memangku Keadilan (The Verdict) 20 November 2025!” ungkap produser dan CEO MD Entertainment Manoj Punjabi.</p>
<p>Sementara itu, produser Choi Kwangrae mengatakan film Keadilan (The Verdict) sebagai kolaborasi pertama antara Indonesia dan Korea. harapannya bisa menjadi salah satu karya terbaik di Indonesia dan film ini bisa menjadi film yang dicintai.</p>
<p>Selain itu, sutradara Lee Chang-hee juga datang langsung dari Korea Selatan bersama produser Choi Kwangrae dan Song Hyunju dari JNC Media Group dan Innikor Pictures.</p>
<p>&#8220;Rio Dewanto dan Reza Rahadian memiliki daya tarik yang sangat berbeda, tetapi memiliki pendalaman akting yang sangat dalam. Saya percaya di Indonesia, Korea, dan global mereka akan sukses,” ujarnya.</p>
<p>&#8220;Keadilan (The Verdict) menjadi karya penting merespons situasi kita hari ini. Mudah-mudahan ini bisa jadi satu titik harapan sebagai medium yang berbeda untuk kita bersuara. Genre courtroom drama tidak banyak pilihannya di Indonesia, dan Keadilan (The Verdict) adalah salah satunya.” terang Reza Rahadian.</p>
<p>Turut menghadiri acara gala premiere dan menyaksikan pemutaran perdana film kolaborasi dua negara ini, mulai dari Rio Dewanto, Reza Rahadian, Elang El Gibran, Niken Anjani, Eduwart Manalu, Bizael Tanasale, Alvin Adam, hingga Tubagus Ali.</p>
<p>Keadilan (The Verdict) menceritakan security pengadilan bernama Raka (Rio Dewanto) yang berusaha menyabotase ruang sidang setelah istrinya, Nina (Niken Anjani), menjadi korban kekerasan brutal oleh seorang anak orang kaya, Dika (Elang El Gibran).</p>
<p>Lalu, seorang pengacara yang tampak licik bernama Timo (Reza Rahadian) diutus ayah Dika untuk menangani kasus anaknya.</p>
<p>Dengan segala pengaturan licik Timo, Raka akhirnya harus menyabotase persidangan dengan kekerasan dan memaksa para hakim melakukan sidang ulang.</p>
<p>Bagaimana Aksi Reza membela kliennya dengan cara-cara licik dalam Keadilan (The Verdict)? Penasaran? Saksikan Besok di bioskop sekitar anda. (B. Karmila)</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/film-keadilan-the-verdict-kolaborasi-indonesia-korea-kisahkan-keadilan-dan-kebenaran/">Film Keadilan (The Verdict), Kolaborasi Indonesia &#8211; Korea Kisahkan Keadilan dan Kebenaran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/mdentertainment.com/wp-content/uploads/2025/10/Keadilan-Web-Banner-MD-Website-750x1059px-3-2-3_11zon.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
