Sejarah Dodol Betawi, Kuliner Kue Khas Lebaran

Oleh : Murodi al-Batawi

Di setiap waktu saat Lebaran Idul Fitri, banyak kuliner sengaja disediakan oleh masyarakat, mulai dari manisan pepaya, kolang kaling, rangginang, kue satu dan Dodol, dan kue-kue modern yang disediakan dalam tempat makanan, seperti biskuit Kong Ghuan, bahkan kacang mede.

Dodol Betawi yang terbuat dari bahan tepung beras ketan, gula merah, santan dan sebagainya, merupakan jenis kuliner yang sudah jarang didapat, kecuali pada saat lebaran dan HUT DKI Jakarta.

Kuhusus kuliner Dodol Betawi, menjadi fokus tulisan di sini. Dodol, hampir dimiliki oleh masyarakat di setiap daerah. Di Jawa, dodol sering disebut dengan Jenang. Masing- masing daerah memiliki ciri khas tersendiri. Dodol Betawi sangat berbeda dengan Dodol Garut dan Jenang Kudus, meski mungkin bahan yang dipergunakan sama atau hampir sama. Tapi proses dan pengolahannya yang berbeda.

Kalau dodol Betawi warnanya agak gelap dan lebih kenyal, karena bahan yang dipakai lebih kental, serta prosesnya menghabiskan waktu sekitar dari 8-12 jam. Karena, bahan yang dudah dituangkan di wadah atau kuwali, harus terus diaduk, dengan temperatur 50-70 derajat celsius, agar dodol tidak hangus.

BACA JUGA:  Sejarah Candi Pari dan Joko Pandeglang

Setelah 8 atau 12 jam, dodol dituangkan ke wadah yang disebut loyang. Kemudian disimpan untuk dimakan pada saat lebaran nanti.

Sejarah dan makna filosopi Dodol

Tidak diketahui kapan tepatnya dodol Betawi dibuat. Dari hasil penelusuran diketahui bahwa Dodol Betawi sudah dikenal oleh masyarakat yang mendiami wilayah Kalapa. Di sekitar abad ke-9 M, tercatat dalam Sastra Kakawin Ramayana pada masa kerajaan Medang bahwa kue tradisional lezat ini sudah dikenal dan menjadi kuliner di daerah Kalapa, yang kemudian lebih populer Betawi.

Kemudian dalam prasasti Gemekan pada 930 M juga disebutkan bahwa dodol menjadi kudapan lezat bagi masyarakat. Sejak saat itu hingga kini Dodol Betawi menjadi salah satu kuliner khas komunitas masyarakat Betawi yang terus dipertahankan.

Makna di balik proses pembuatan Dodol Betawi

Dahulu, proses pembuatan Dodol Betawi melibatkan banyak orang dan tenaga kuat. Karenanya, dalam setiap pembuatan dodol Betawi selalu dikerjakan oleh kaum pria karena dianggap memiliki tenaga yang kuat. Para pembuat dodol, yang sering kita sebagai tim pembuat dodo, saling bekerjasama mengaduk dan mengolah dodol agar tidak gosong dan matangnya sempurna. Di situlah makna filosofi dan kerjasama antara pembuat dodol yang menjadi nilai sosial masyarakat yang tinggi.

BACA JUGA:  Sejarah Soto Betawi, Kuliner Berkuah Tembus Citarasa Dunia

Selain sebagai media komunikasi, proses pembuatan dodol, dahulu, jadi ajang pencarian jodoh. Karena pada saat proses pembuatannya, selain memakan waktu yang cukup lama, juga ada para gadis yang menyiapkan bahan mentahnya. Ketika sedang diproses, para gadis tersebut menyaksikan dan menunggu kue dodol selesai dibuat.

Di tengah istirahat itulah terjadi pertemuan antara para gadis dengan para jejaka yang menyaksikan dan menjadi anggota tim pembuat kue dodol.

Di situlah terjadi pertemuan dan saling lirik antara dua jenis cucu Adam ini. Jika saling merasa cocok, mereka bisa melanjutkannya hingga ke jenjang pernikahan. Dan ini sudah banyak terjadi, karena saat itu, tidak banyak media yang bisa dipergunakan untuk saling incar mencari jodoh {odie}

Pamulang, 01 April 2024
Murodi al-Batawi
Pukul 05.30

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818