Profil 2 Pebalap Pertamina Enduro VR46 Racing Team

Menghadapi musim 2024, tim yang bermarkas di Tavullia, Italia, ini disponsori oleh Pertamina Enduro dengan kontrak berdurasi tiga musim.

Menghadapi musim 2024, tim yang bermarkas di Tavullia, Italia, ini disponsori oleh Pertamina Enduro dengan kontrak berdurasi tiga musim.

DEPOKPOSPertamina Enduro VR46 Racing Team menghadapi musim 2024 dengan motivasi tinggi. Pasalnya, mereka akan mendapatkan motor Ducati Desmosedici GP23. Pasalnya, ini adalah motor yang mengantarkan Pecco Bagnaia jadi juara dunia dan Jorge Martin jadi runner up pada 2023.

Ini adalah tahun ketiga bagi Pertamina Enduro VR46 Racing Team berlaga di MotoGP, usai menjalani debut penuh pada 2022.

Corak mereka musim ini pun berubah dari hitam menjadi warna khas kuning Valentino Rossi yang dipadukan dengan warna putih. Corak ini pun didesain oleh Aldo Drudi.

Menghadapi musim 2024, tim yang bermarkas di Tavullia, Italia, ini disponsori oleh Pertamina Enduro dengan kontrak berdurasi tiga musim.

Berikut Profil 2 Pebalap Pertamina Enduro VR46 Racing Team:

Fabio Di Giannantonio #FD49

Pembalap asal Italia, Fabio Di Giannantonio, menutup European Moto3™ Championship 2013 di peringkat kesembilan. Ia lalu berkompetisi di Red Bull Rookies Cup pada 2014, menempati peringkat kedelapan dengan raihan terbaik finis kedua di Brno.

Musim 2015, Di Giannantonio muncul jadi penantang gelar. Dua kemenangan dan empat kali posisi kedua membawanya duduk di peringkat kedua klasemen akhir. Gresini Racing segera menggaetnya untuk putaran penutup di GP Valencia 2015, sebelum kemudian sang pembalap membalap semusim penuh dalam Moto3™ 2016.

Dianugerahi titel Rookie of The Year, berkat tiga podium, Di Giannantonio bertahan dengan Del Conca Gresini Racing Team Moto3™ untuk 2017. Lima podium dikemasnya, dan dia menghuni P5 secara keseluruhan. Tetap perkuat tim yang sama pada 2018, Di Giannantonio amankan runner-up Kejuaraan lewat dua kemenangan dalam balapan Grand Prix.

Pindah ke kelas Moto2™ bersama Speed Up Racing jadi babak baru karier sang pembalap Italia. Dan musim 2019 merupakan tahun yang impresif baginya. Enam kali finis sepuluh besar, dua podium di Brno serta Misano, mengantarkan Di Giannantonio klaim P9 klasemen akhir dan gelar Rookie Rookie of the Year Moto2™.

Setahun berikutnya, ia berpeluang cetak kemenangan perdana. Tetapi, pembalap yang akrap disapa Diggia itu terjatuh di GP Valencia. Sementara musim 2021 jadi tahun perubahan usai kepindahannya ke Federal Oil Gresini Moto2™, yang mana ia mengendarai motor bersasis Kalex.

Nasib yang lebih baik menghampirinya saat raih kemenangan penting di Jerez. Tiga podium lainnya bahkan sudah cukup untuk membuatnya naik kelas ke MotoGP™ pada 2022.

Puncak dari kampanye rookie Diggia adalah posisi terdepan dalam balapan kandang, di GP Italia di Mugello. Kendati demikian, tidak banyak momen yang berkesan di luar perlombaan itu. Ia tetap bersama Gresini Racing, tetapi sekarang bekerja sama dengan kepala kru pemenang Kejuaraan Dunia, Frankie Carchedi, 2023.

Jelang libur musim panas, ia catatkan finis P8. Namun, kinerjanya meningkat pesat pada bagian akhir Kejuaraan. Podium debut diraih di Australia, yang lalu dilanjutkan kemenangan perdana dalam MotoGP™di GP Qatar.

Penalti menggagalkan Di Giannantonio naik podium di putaran final Valencia juga, tetapi performa luar biasa itulah yang membuatnya mendapatkan berlabuh ke VR46, setelah kehilangan kursi di Gresini Racing karena Marc Marquez.

Sekarang, apakah performanya Di Giannantonio bisa berlanjut pada 2024?

Marco Bezzecchi #MB72

Melesat ke kancah balap Italia sebagai runner-up CIV Moto3™ 2014, Marco Bezzechi berhasil merebut gelar 2015 usai membukukan tujuh kemenangan yang luar biasa.

Setelah dua kali tampil di Kejuaraan Dunia Moto3™ bersama San Carlo Team Italia pada 2015, Bezzechi lalu menjalani dua balapan musim 2016 sebagai pembalap Mahindra Racing. Pada tahun yang sama itu pula, ia berkompetisi di FIM CEV Moto3™ Junior World Championship.

Bezzecchi jadi pembalap CIP secara penuh waktu dalam Kejuaraan Dunia Moto3™, yang mana ia tandem dengan rekan senegara dan mantan rivalnya di CIV Italia, Manuel Pagliani. Meski gagal klaim titel Rookie of The Year, sang pembalap mampu raih podium pertamanya.

Ia kemudian pindah ke Redox PruestelGP untuk 2018. Sembilan podium, termasuk tiga kemenangan, menempatkan Bezzecchi sebagai penantang titel, melawan Jorge Martin yang akhirnya keluar sebagai kampiun.

Terlepas dari kegagalan merebut gelar juara, Bezzecchi mengamankan kursi balap Moto2™ 2019, usai digaet Red Bull KTM Tech3. Dua kali finis sepuluh besar di Assen dan Buriram menjadi hasil terbaiknya, sebelum lalu hijrah ke Sky Racing Team VR46 untuk 2020.

Bersama skuad Italia ini, ia mengemas tujuh podium, mencakup dua kemenangan di GP Styria serta GP Valencia. Konsistensinya itu memungkinkan Bezzecchi untuk terus berjuang memperebutkan titel. Namun, dua kali terjatuh dalam lima balapan terakhir membuatnya terdegradasi ke peringkat keempat klasemen akhir.

Pada tahun 2021, Bezznaik podium sebanyak tujuh kali. Juga cetak kemenangan di Red Bull Ring, untuk mengamankan peringkat ketiga dalam Kejuaraan. Ia pun mendapatkan promosi ke MotoGP™ 2022 bersama skuad Mooney VR46 Racing Team.

Pembalap berambut keriting itu langsung tampil impresif, diwarnai keberhasilannya dinobatkan sebagai Rookie of The Year. Momen mengesankan lainnya adalah di TT Circuit Assen. Bezzecchi sukses podium MotoGP™, yang pertama dalam karier balapnya.

Pada 2023, Bezzecchi memulai musim secara luar biasa. Ia memenangi dua dari lima balapan pertama. Pembala Italia itu jalani tahun fantastis dan menang untuk ketiga kalinya di GP India. Tetapi cedera patah tulang selangka yang disebabkan kecelakaan saat latihan membuat Bez kehilangan kesempatan untuk benar-benar menantang Francesco Bagnaia dan Jorge Martin dalam perebutan gelar.

Setelah menolak tawaran pabrikan Ducati di Prima Pramac Racing, pembalap #72 ini menuju 2024 dengan berbekal Desmosedici GP23 yang telah terbukti sukses menjadi motor pemenang Kejuaraan.