Pinjol, Menambah Kesengsaraan Rakyat

Industri fintech lending atau pinjol merugi Rp 135,61 miliar pada Januari 2024 yang disebabkan gagal bayar

Oleh: Nanda Nabila Rahmadiyanti, Mahasiswa Universitas Indonesia

Pinjaman online (pinjol) yang sudah menjadi alternatif masalah finansial masyarakat saat ini justru marak sejak mendekati bulan suci hingga hari raya bagi umat Islam. Dikutip dari katadata.co.id (02/04/2024), industri fintech lending atau pinjol merugi Rp 135,61 miliar pada Januari 2024 yang disebabkan gagal bayar.

Tingkat wanprestasi lebih dari 90 hari (TWP 90) peer to peer (P2P) lending pinjol naik dari Rp 1,78 triliun pada Januari menjadi Rp 1,8 triliun pada Februari. Persentasenya adalah 2,95% dari total pinjaman. Sedangkan pinjaman yang masih berjalan di platform pinjol naik 21,98% secara tahunan alias year on year (YOY) menjadi Rp 61,1 triliun pada Februari.

Hal ini juga dijelaskan oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa mereka mengawasi platform peer to peer (P2P) lending Investree, Tanifund, iGrow dan modal rakyat tengah tersangkut kasus kredit macet hingga gagal bayar kepada lendernya (cnbcindonesia.com. 04/04/2024).

Tingginya angka kebutuhan hidup masyarakat serta kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, membuat mereka memilih jalan pintas, yaitu pinjol. Tak hanya kebutuhan, namun budaya fear of missing out (FOMO) di kalangan pemuda membuat mereka memanfaatkan pinjol untuk memenuhi gaya hidup konsumtifnya. Kondisi ini justru membuat peluang besar bagi para pemilik modal perusahaan fintech untuk membuka jasa peminjaman uang yang jauh lebih mudah daripada perbankan dan perusahaan pembiayaan, yang tentunya tidak terlepas dari pinjaman berbunga (riba).

BACA JUGA:  GenPro Pajajaran Gelar Acara Road To Summit 2023 Aula Private Club House, Podomoro Golf River View

Sistem kehidupan kapitalisme membuat pemerintah berlepas tangan dari tanggung jawabnya untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya. Alih-alih melindungi rakyat dari bahaya pinjol, penguasa malah memfasilitasi dan mendorong rakyat untuk mengambil pinjol yang jelas-jelas ribawi, dengan dalih diawasi OJK. Pemerintah juga bahkan terlihat tak peduli bahwasanya pinjol legal (diawasi OJK) maupun ilegal (tanpa diawasi OJK) adalah suatu keharaman yang membawa kehancuran, sehingga tidak serius dan tidak tanggap dalam membuat regulasi. Sistem ini berlandaskan sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga para pemilik modal maupun negara saat ini tidak memiliki visi dunia akhirat, apakah pinjol halal atau haram, melainkan untung-rugi semata.

Dengan sistem sekuler ini pun masyarakat dibuat untuk tidak memandang apakah pinjol termasuk riba atau tidak. Masyarakat justru memandang pinjol legal maupun ilegal sebagai malaikat penolong di tengah himpitan ekonomi.

Selain itu, budaya FOMO dan hedon pada masyarakat juga tercipta dari sistem rusak ini. Sehingga mereka memiliki tuntutan untuk mengikuti trend, yang pada dasarnya ketika mereka tidak mampu untuk mengikutinya, mereka akan ‘takut’ tertinggal sehingga berujung untuk melakukan pinjol.

BACA JUGA:  Kembangkan CCS, Pertamina Jalin Kerjasama dengan KNOC dan ExxonMobil

Padahal pinjol menjadi jalan untuk membuka kesengsaraan lainnya. Hal ini sesuai dengan penjelasan OJK bahwa beberapa lending tengah terkena kasus gagal bayar. Bagi masyarakat, gagal bayar menambah permasalahan kehidupan, mulai dari finansial hingga fisiologis, seperti depresi, konflik berujung pembunuhan, dan bunuh diri karena gagal bayar utang pinjol.

Hal tersebut adalah bukti nyata bahwa pinjol bukanlah solusi hakiki untuk kebutuhan dana bagi masyarakat. Justru solusi palsu yang memunculkan masalah baru, karena sesuatu yang haram pasti akan berujung pada keburukan dan kemudaratan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah an-Nisa ayat 160, bahwa riba sungguh menimbulkan keburukan dunia-akhirat.

وَأَخْذِهِمُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَقَدْ نُهُوا۟ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Artinya: “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”

Sejatinya solusi hakiki adalah sistem Islam. Dalam sistem Islam, penguasa bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya, juga menghapus seluruh transaksi ribawi termasuk pinjol yang sudah jelas menambah kesengsaraan bagi rakyat. Masyarakat yang kurang mampu akan selalu mendapatkan bantuan berupa zakat dari negara.

BACA JUGA:  OJK Bakal Terbitkan Aturan Baru Bunga Pinjol November 2023

Kebutuhan hidup juga terjaga kualitas dan harganya agar tidak melambung tinggi sehingga menyulitkan warganya. Selain itu masyarakat yang hidup dalam sistem Islam juga terbebas dari sifat konsumtif yang merupakan salah satu akar penyebab pinjol.

Sudah jelas kemudharatan dunia akhirat yang disebabkan oleh pinjol dan riba. Maka seharusnya masyarakat menjauhi juga meninggalkan pinjol yang merupakan buah dari kerusakan sistem saat ini, dan menggantinya dengan menaati aturan dari dari sistem Islam. Karena negara dan masyarakat yang hidup dalam sistem Islam akan terlepas dari kesengsaraan ekonomi sehingga terbebas pula dari riba. Wallahua’lam bisshawwab. []

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818