Opini  

Naiknya Harga Kebutuhan Pangan, Menambah Hidup Makin Sulit

Oleh: Sandhi Indrati, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Tak terasa bulan Ramadhan 1445 Hijriyah tinggal menghitung hari, seluruh umat Muslim menyambutnya dengan antusias tak terkecuali di Indonesia. Dari orang tua hingga anak-anak bersukacita dengan kedatangan bulan mulia tersebut. Mirisnya kebahagian umat Islam di Indonesia harus dirasakan bercampur rasa prihatin karena kenaikan harga berbagai keperluan khas bulan puasa serta harga kebutuhan pangan terus mengalami lonjakan.

Terpantau hingga hari ini harga beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia masih saja tinggi di pasaran. Dikutip dari laman mediaindonesia.com, Minggu (3/ 03/2024), kendati telah digelontor operasi pasar (OP) beras stabilisasi pasokan harga pangan (SPHP), tetapi harga di pasaran masih tetap tinggi. Harga beras kelas medium masih sekitar Rp16 ribu per kilogram (kg). Sedangkan untuk beras premium masih bertengger pada harga Rp17 ribu hingga Rp 18 ribu per kg.

Keadaan serupa diikuti oleh kenaikan harga telur ayam. Sebagaimana yang diberitakan Kompas.com, (2/03/2024), menjelang puasa atau Ramadhan 1445 H, harga telur di berbagai wilayah per Jumat (1/4/2024) terpantau naik. Belum lagi kenaikan harga bahan pangan lainnya, seperti gula pasir, sayur mayur juga lauk pauk turut menambah resah umat Islam di Indonesia saat ini.

Berbagai program diupayakan oleh pemerintah untuk mengatasi kenaikan harga bahan pangan. Sama seperti bulan sebelumnya, bansos rutin seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) akan kembali dicairkan pada Maret 2024. Selain itu, ada pula bansos beras 10 kilogram (kg) yang sudah rutin dibagikan sejak akhir tahun lalu. (kompas.com, 29 Februari 2024).

Namun, solusi yang diberikan oleh penguasa/pemerintah hanya dirasakan oleh sebagian masyarakat saja. Pasalnya tidak semua warga mendapatkan bantuan sosial dan sejenisnya. Banyaknya penduduk yang tidak terdata sebagai warga yang berhak menerima bantuan sosial. Keadaan saat ini diperburuk dengan semakin sedikitnya lapangan pekerjaan dan kenaikan harga hampir semua kebutuhan hidup manusia. Pemberian bantuan sosial nyatanya tidak ampuh mengatasi permasalahan yang terjadi. Naiknya berbagai kebutuhan pangan, menambah hidup makin sulit.

Padahal, masyarakat sangat berharap dapat menjalankan ibadah puasa tahun ini dengan rasa tenang dan damai, tidak terbebani harga bahan pangan yang semakin hari semakin terasa sulit dijangkau. Tentu tumpuan harapan tersebut disandarkan kepada pemerintah sebagai pelaksana negara ini. Peran negara dalam mengatasi situasi yang rutin terjadi saat ini sangatlah penting. Negara sebagai pembuat kebijakan juga pengatur distribusi pangan diharapkan mampu menyelesaikan masalah kenaikan harga pangan dengan segera dan menyeluruh, tidak situasional dan mampu merata untuk seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai pengurus hajat hidup rakyat juga mempengaruhi kesejahteraan hidup masyarakat.

Berbagai upaya yang telah dilakukan tak jua mengatasi permasalahan klasik kenaikan harga bahan pangan karena masih menggunakan solusi yang bersumber dari hukum selain Islam. Bila merujuk kepada solusi yang disiapkan oleh Islam, kenaikan berbagai kebutuhan pangan bisa diatasi dengan mudah. Bahkan Islam mengatur urusan kebutuhan hidup selain pangan dan ditujukan tidak hanya bagi umat Islam saja tetapi juga untuk non Muslim. Hal tersebut didasarkan pada sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara sebagai pengurus hajat hidup rakyatnya, secara perorangan dengan adil, sehingga semua jiwa atau per kepala mendapatkan hak yang sama atas pangan dan kebutuhan lainnya dengan harga terjangkau.

Pemerintah harus mengupayakan kestabilan harga dengan menjadi regulator harga bahan pangan dan tidak menyerahkannya kepada pihak swasta. Semua bahan kebutuhan baik sandang, pangan, papan juga kebutuhan pendamping lainnya harus dipastikan tidak dikelola oleh segelintir orang atau kelompok saja di pasar (monopoli atau sistem kartel).

Pengawasan oleh pemerintah di lapangan atau tempat penjualan bahan pangan adalah hal wajib guna menghindari pelanggaran yang dilakukan oleh pedagang di pasar atau pengecer, sehingga aksi penimbunan bahan pangan serta permainan harga bisa dihindari. Masyarakat akan mendapatkan bahan pangan dengan harga yang stabil dan mudah didapat.

Bila semua upaya dan kebijakan yang dilakukan oleh penguasa bersumber pada tuntunan Islam, niscaya rakyat yang dihitung per jiwa dengan mudah akan mendapatkan hak-haknya termasuk kebutuhan bahan pangan dengan harga terjangkau. Hal ini merupakan tanggung jawab negara dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyatnya.

Penguasa dalam Islam wajib memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi disebabkan hal tersebut wujud nyata ketaatan pada perintah Allah SWT melalui sabda Rasulullah SAW, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR Ahmad & Bukhari).[]