Mu’allim dan Jago dalam Tradisi Masyarakat Betawi

Bagi seorang Jago, kehebatan dan perilaku dan akhlaknya menjadi role model bagi orang lain

Oleh: Murodi al-Batawi

Dalam beberapa artikel saya sebelumnya, sudah dijelaskan apa dan siapa Mu’allim itu. Dalam kesempatan ini, saya akan menarasikan tentang Mu’allim dan Jago dalam tradisi masyarakat Betawi.

Kalau Mu’allim sebutan yang ditujukan pada seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan agama, mengamalkan dan mengajarkannya pada jama’ah atau umat Islam di tanah Betawi. Mereka, dalam perkembangan selanjutnya, setelah adanya pengaruh budaya Jawa, biasa disebut Kyai. Sering juga disebut Guru atau Tuan Guru, kemudian kini sebutan itu diganti menjadi Ustadz. Mereka adalah para pendakwah dan penyebar ajaran Islam di tanah Betawi.

Sementara istilah Jago dan Jagoan itu memiliki makna dan posisi atau status berbeda dalam tradisi masyarakat Betawi. Nomenklatur Jago, berarti orang tersebut memiliki keahlian dalam ilmu bela diri atau Maen Pukulan atau permainan Silat. Mereka ini memiliki tradisi yang berbeda dengan seorang Jagoan.

Bagi seorang Jago, kehebatan dan perilaku dan akhlaknya menjadi role model bagi orang lain dan anak didik di sekelilingnya. Ia menjadi panutan bagi orang lain dan bahkan rela menjadi penolong masyarakat tertindas, di daerah Betawi.

BACA JUGA:  Ondel-ondel: Tradisi Kebudayaan Betawi yang Tergadai

Selain memiliki ilmu bela diri yang hebat, mereka juga memiliki ilmu agama. Dalam berbagai latihan Maen Pukulan, mereka ini sering disebut “Guru” oleh murid-murid padepokannya. Di samping itu, mereka juga menjadi guru yang mengajarkan ilmu agama, meski ilmu agamanya tidak sehebat Mu’llim, Tuan Guru, Syeikh atau Kyai dalam kehidupan masyarakat Betawi.

Jadi seseorang disebut Jago, karena menang ia memiliki ilmun yang mumpuni dan tidak sombong. Hal ini berbeda dengan nomenklatur Jagoan.

Jagoan itu, seseorang yang hanya memiliki ilmu Maen Pukulan yang sedikit dan tidak sehebat Si Jago.
Dia hanya memiliki keberanian dan punya nyali besar untuk menentang melawan atau untuk menakut-nakuti orang lain. Jika permintaannya tidak dipenuhi, marah dan mengancam.

Jagoan inilah yang, kalau di Betawi, sering disebut Preman. Mereka sering menonjolkan kelakuannya yang tidak sopan, congkak dan selalu ingin dihormati oleh masyarakat Berawi.

Dengan demikian, Jago dan Jagoan itu berbeda dalam tradisi dan struktur kehidupan masyarakat Betawi.

Jagoan dalam Struktur Sosial Masyarakat Betawi

Dahulu, pada masa kolonial Belanda Kristen, para jagoan ini dimanfaatkan oleh Kompeni sebagai pengawal keamanan, ada yang dijadikan Kumendam dan Demang. Di antara Demang yang cukup terkenal adalah Demang Mester, muduh di Pitung dan si Ji’ih.

BACA JUGA:  Mengenal Sejarah Tradisi Grebeg Maulud Agung di Tulungagung

Mereka ini sering dianggap sebagai pemimpin elit dalam komunitas masyarakat etnis Betawi. Mereka selalu ingin dihormati dan dihargai. Karena itu, Belanda benar-benar menggunakan para jagoan ini sebagai kepanjangan tangan para penjajah di tanah Betawi.

Mereka diadu domba sesama masyarakat pribumi, sehingga masyarakat Betawi adalah komunitas etnis terlama yang dijajah, sejak 1603-1943. Mereka merasakan pahit getir penjajahan dan, karenanya mereka sering melakukan perlawanan, seperti perlawanan yang dilakukan oleh H. Darip di Klender dan KH. Nur Ali yang memekikan Perang terhadap Belanda di Bekasi.

Demikian kontribusi Mu’allim dan Jago dalam perjungan kemerdekaan Indonesia, setelah lebih dari 350 tahun Indonesia dijajah Belanda.

Pamulang, 29 April 2024
Murodi al-Batawi

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818