Keseimbangan dan Ketenangan Batin: Belajar dari Ilmu Tasawuf dan Psikologi Humanistik

DEPOKPOS – Pernahkah kamu merasa hidup berjalan tanpa keseimbangan dan ketenangan batin? Kehidupan modern seringkali membebani kita dengan stres, kekhawatiran, dan tekanan, membuat kita merasa hilang dalam kesibukan sehari-hari.

Tekanan dari pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan berbagai tuntutan sosial dapat membuat kita merasa kelelahan dan kehilangan arah. Namun, ternyata ada rahasia untuk mencapai keseimbangan dan ketenangan batin, yang dapat kita temukan dalam ajaran Ilmu Tasawuf serta perspektif Psikologi Humanistik. Yuk kita telusuri lebih dalam!

Tasawuf, atau Sufisme, adalah cabang dari spiritualitas Islam yang menekankan pentingnya pencarian batin dan pemahaman spiritual. Dalam tasawuf, keseimbangan dan ketenangan batin dicapai melalui praktik-praktik seperti meditasi, dzikir, dan introspeksi diri. Meditasi dalam tasawuf sering melibatkan kontemplasi mendalam tentang keberadaan Tuhan dan hubungan manusia dengan-Nya.

Dzikir, atau pengulangan nama-nama Tuhan, bertujuan untuk membersihkan hati dan mengingatkan diri akan kebesaran Ilahi. Introspeksi diri adalah proses mengevaluasi dan memperbaiki diri sendiri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Tujuannya bukan hanya mencapai kebahagiaan duniawi, tetapi juga mencapai kesempurnaan spiritual. Dalam tradisi tasawuf, pencapaian kesempurnaan spiritual atau “insân kâmil” adalah tujuan utama.

BACA JUGA:  Perilaku Bahasa yang Merugikan: Tren Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja

Proses ini melibatkan pembersihan diri dari sifat-sifat tercela seperti keserakahan, kebencian, dan kesombongan, serta penanaman sifat-sifat terpuji seperti kerendahan hati, kesabaran, dan kasih sayang. Manifestasi kualitas Ilahi dalam diri individu adalah tujuan akhir dari perjalanan spiritual ini, loh!

Sementara itu, psikologi humanistik, yang dipelopori oleh tokoh seperti Abraham Maslow, juga menyoroti pentingnya keseimbangan dalam kehidupan manusia. Psikologi humanistik menekankan potensi individu untuk tumbuh dan berkembang menuju aktualisasi diri.

Menurut Maslow, mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga tentang mencapai aktualisasi diri, yaitu sebagai pencapaian tertinggi dalam perkembangan manusia. Maslow mengembangkan hierarki kebutuhan yang dimulai dari kebutuhan fisiologis dasar seperti makan dan tidur, hingga kebutuhan akan rasa aman, cinta dan rasa memiliki, penghargaan, dan akhirnya, aktualisasi diri.

Aktualisasi diri adalah keadaan di mana seseorang dapat mewujudkan potensi tertinggi mereka dan hidup sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan pribadi yang paling penting. Ini melibatkan pengembangan diri yang berkelanjutan, penemuan makna hidup, dan perasaan terpenuhi secara emosional dan spiritual.

BACA JUGA:  Pendekatan Kreatif dalam Negosiasi

Jika kita menggabungkan kedua perspektif ini, kita dapat menemukan rahasia untuk mencapai keseimbangan dan ketenangan batin dalam hidup kita. Pertama, kita dapat mengambil inspirasi dari praktik-praktik tasawuf, seperti meditasi dan dzikir, untuk menenangkan pikiran dan mencapai kedamaian dalam diri.

Meditasi membantu kita meredakan stres dan meningkatkan konsentrasi, sementara dzikir dapat membawa ketenangan hati dan rasa kedekatan dengan Tuhan. Kedua, kita juga dapat menerapkan konsep-konsep psikologi humanistik, seperti pengembangan diri dan pemenuhan kebutuhan dasar, untuk menciptakan fondasi yang stabil untuk keseimbangan hidup.

Memenuhi kebutuhan dasar seperti tidur yang cukup, nutrisi yang baik, dan hubungan yang sehat adalah langkah awal untuk mencapai keseimbangan. Selain itu, mengejar tujuan yang bermakna dan nilai-nilai pribadi membantu kita merasa lebih terpenuhi dan bahagia.

Dengan memadukan wawasan dari ilmu tasawuf dan psikologi humanistik, kita dapat menemukan cara untuk mencapai keseimbangan dan ketenangan batin yang sejati. Melalui praktik-praktik spiritual dan pengembangan pribadi, kita dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan bermakna, di mana kita dapat meraih kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.

Dengan demikian, kita tidak hanya mencapai keseimbangan batin, tetapi juga memperkaya kehidupan kita secara keseluruhan. Praktik meditasi dan dzikir dapat menjadi rutinitas harian yang membantu kita menghadapi tantangan hidup dengan lebih tenang dan bijaksana.

BACA JUGA:  Gen Z dan Peran Mereka dalam Transformasi Ekonomi Indonesia

Sementara itu, prinsip-prinsip psikologi humanistik mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, mengatasi keterbatasan, dan terus berkembang menuju potensi penuh kita.

Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan, memiliki keseimbangan batin dan ketenangan dalam diri adalah aset berharga yang dapat membantu kita menghadapi segala rintangan dengan lebih optimis dan penuh harapan.

Dengan menggabungkan ajaran tasawuf dan prinsip psikologi humanistik, kita memiliki panduan yang kuat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna. Mari kita mulai perjalanan ini dengan membuka hati dan pikiran kita, serta melibatkan diri dalam praktik-praktik yang membawa kita lebih dekat kepada kedamaian dan keseimbangan sejati.

Fildza Salma Malahati dan Indriana Pratiwi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta Selatan, Indonesia

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818