Opini  

Kemacetan Mudik Lebih Horor dari Film Horor

Oleh: Bella Lutfiyya, Aktivis Muslimah

Macet, sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Seakan hal ini sudah wajar terjadi di kehidupan sehari-hari, terutama di hari-hari istimewa seperti hari libur nasional atau perayaan hari raya seperti yang terjadi saat ini. Mudik adalah salah satu budaya masyarakat di Indonesia. Biasanya, masyarakat akan pulang ke kampung masing-masing untuk merayakan hari raya bersama sanak saudara. Tradisi mudik yang biasanya membludak terjadi di hari-hari akhir Ramadhan yang dikabarkan melalui berbagai media. Kendaraan merayap di jalanan, ramainya antrean di pelabuhan, hiruk-pikuk orang di stasiun dan bandara juga tak kalah menjadi pemberitaan.

Seperti yang terjadi di Pelabuhan Merak, Banten dengan waktu tempuh perjalanan dari Jakarta dan sekitarnya ke Merak naik signifikan selama periode mudik lebaran 2024. Bahkan, berdasarkan waktu tempuh hingga dapat naik ke atas kapas tembus sampai 7 jam (CNBC Indonesia, 2024). Layanan kelancaran transportasi selalu menjadi problem setiap saat-saat istimewa termasuk saat mendekati Hari Lebaran. Hal itu menunjukkan bahwa mitigasi tidak berjalan dengan baik, sehingga tidak menyelesaikan persoalan termasuk membuat langkah antisipasi. Di sisi lain, masyarakat seolah memaklumi kelalaian negara tersebut, bahkan membuat negara berlindung dalam kata ‘maklum’ yang menjadikan ketidaktepatan dalam mengambil langkah. Ingkatkah dengan kejadian ‘Tol Brexit’ 2016 silam?

BACA JUGA:  OPINI: Melawan Ketidakadilan!

Kejadian yang terjadi akibat melonjaknya volume kendaraan di pertemuan dua arus yang menimbulkan kemacetan hebat. Mengutip DetikX, panjang kemacetan di jalur Pantura lebih dari 20 km. Sedangkan kemacetan yang terjadi di jalan tol terbentang sepanjang 25 km, yang mengular mulai exit Tol Brebes hingga Kanci, Cirebon. Selain karena pertemuan dua arus, faktor lain yang membuat kemacetan parah di Brexit dikarenakan kegagalan pihak kepolisian dalam mengantisipasi lonjakan volume kendaraan. Alhasil, sepanjang jalur kemacetan itu banyak pengendara yang lelah dan mobil-mobil pun banyak yang mogok. Tercatat ada 17 orang tewas dalam kemacetan ini dan puluhan lainnya dirawat di rumah sakit (CNBC Indonesia, 2023).

Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan terkadang membuat beberapa pemudik kewalahan saat dalam perjalanan. Kondisi yang macet dan panas juga kadang membuat pemudik kehilangan kesabaran dan cenderung sulit mengelola emosi. Selain itu, tidak jarang juga pemudik yang lalai dalam melaksanakan shalat. Hal ini yang dikatakan bahwa perjalanan mudik yang ‘horor’ di sisi umat karena mengorbankan hari-hari terakhir Ramadhan yang seharusnya diisi dengan kekhusyukkan dan memperbanyak ibadah.

Inilah yang terjadi di negeri yang menerapkan sistem kapitalis dengan segala permasalahannya termasuk masalah mitigasi yang tidak berjalan dengan baik. Lain halnya dengan sistem Islam. Islam menetapkan negara sebagai pengurus rakyat sesuai hukum Allah termasuk melakukan mitigasi optimal sebagai bentuk periayahan negara atas rakyat khususnya dalam hal transportasi mudik dengan menjamin kenyamanan dan keselamatan para pemudik, di antaranya memperbaiki jalan secara totalitas. Tidak hanya perbaikan di jalan utama, melainkan hingga jalan di pelosok di pedesaan.

BACA JUGA:  H-2 Lebaran, Pemudik Motor Masih Padati Pelabuhan Ciwandan Banten

Selain itu, menambah lampu penerang yang seringkali diabaikan sehingga menimbulkan kekhawatiran akan adanya tindak kejahatan dan hal lain yang dapat mengancam keselamatan. Negara juga akan menyiapkan moda transportasi dengan harga terjangkau bahkan gratis, aman, dan nyaman sehingga tidak ada yang merasa terbebani dan rakyat tetap mendapatkan haknya sebagai warga negara yang mudik. Hal tersebut tidak akan terjadi jika negara menerapkan sistem kapitalisme yang selalu bergantung pada materi dengan mengabaikan kepentingan rakyat.

Pelayanan publik adalah hak rakyat yang seharusnya dapat diakses oleh semua orang, namun sistem kapitalisme justru mempersulit rakyat dan pelayanan publik dijadikan ladang bisnis semata. Tak heran, rakyat sampai melakukan berbagai cara agar dapat mudik, salah satunya dengan melakukan pinjaman online (pinjol) yang mana merupakan keharaman dalam Islam karena bersifat riba. Dikutip dari Katadata, para peminjam gagal membayar tepat waktu, sehingga menyebabkan melonjaknya utang pinjol yang menyebabkan industri teknologi finansial pembiayaan atau fintech lending mengalami kerugian (Katadata, 2024).

Negara dengan penerapan sistem Islam akan memberikan jaminan agar rakyat dapat melaksanakan Ramadhan optimal penuh khusyuk, sehingga buah takwa bisa diraih. Ingatlah, Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan lipatan pahala. Malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, berada di 10 hari terakhir Ramadhan. Jadikan momentum Ramadhan sebagai peluang untuk meraih pahala dan ampunan dari Allah SWT dengan memaksimalkan ibadah. Mudik, tidak hanya sekadar pulang ke kampung halaman. Mudik adalah momen silaturahmi, momen berbagi rezeki, dan berbagi kebahagiaan dengan sanak saudara dan seluruh umat Muslim untuk menyambut hari kemenangan. Jangan sia-siakan momen mudik dengan lalai terhadap aturan Allah. Jangan paksakan kalau belum mampu. Ingat, ridha Allah nomor satu.[]

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818