<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ramadhan Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/kategori/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com/kategori/ramadhan/</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Mar 2026 11:33:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>Ramadhan Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com/kategori/ramadhan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2026 11:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[KH Bachtiar Nasir]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98131</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Israel dan Amerika versus Iran semakin memanas. Perang Iran versus Amerika–Israel ini bukanlah perang agama, melainkan perang hegemoni. Disinyalir, Trump memang sudah lama mengincar Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak mentah Iran.</p>
<p>Iran juga telah lama melancarkan proyek Bulan Sabit Persia, yang targetnya membentang meliputi Iran, Irak, Suriah, Libanon Selatan, dan Yaman. Wilayah yang belum tercakup saat ini adalah Palestina. Setelah itu, Iran diperkirakan dapat memperluas pengaruhnya hingga menguasai kawasan Teluk.</p>
<p>Israel dan Amerika Serikat yang saat ini menjajah wilayah Palestina tentu merasa terganggu dengan langkah tersebut. Belum lagi Turki dan Qatar di forum BOP yang berunding untuk menjatuhkan Netanyahu. Situasi ini membuat Netanyahu “kebakaran jenggot”, lalu dibukalah Epstein file, termasuk yang berkaitan dengan Trump. Dengan adanya file tersebut, Trump kemudian ditekan oleh Israel untuk menyerang Iran yang dianggap menghalangi pembentukan Israel Raya antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.</p>
<p>Karena itu, jangan sampai kita justru sibuk berdebat membela salah satu pihak, sementara kita sendiri belum tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membela Masjidil Aqsha dan kaum Muslimin di Palestina, yang menjadi objek perebutan tersebut.</p>
<p>Nah, sekarang adalah momentum di ruang-ruang i’tikaf ini untuk membersamai Masjidil Aqsha dengan apa pun yang mampu kita lakukan. Mungkin kita tidak bisa membersamai mereka melalui pendekatan militer, tetapi kita masih bisa mendampingi mereka melalui media, pemberitaan, ekonomi, dan berbagai upaya lainnya.</p>
<h3>Semangat Badar</h3>
<p>Dengan kehendak Allah, Perang Badar juga terjadi pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw beserta para sahabat pada saat itu sebenarnya tidak berniat berperang, tetapi mereka tetap siap secara psikis jika harus menghadapi peperangan.</p>
<p>Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki sekitar 313 pasukan, sebagian besar pasukan infanteri, dengan beberapa pasukan berkuda.</p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Badar tidak dimulai dengan mengasah pedang, melainkan dengan mengasah iman dan takwa. Perang Badar bermula ketika kafilah dagang Abu Sufyan dihadang dan diblokir secara ekonomi, karena mereka berasal dari kaum yang memerangi Allah dan Rasulullah Shallallahu wa alaihi wa sallam membunuh para sahabat, serta menyerang dakwah Islam baik secara fisik maupun psikis.</p>
<p>Perang Badar kerap terlupakan dari spirit Ramadhan kita, padahal ia adalah peristiwa besar yang benar-benar terjadi dengan skenario yang diatur langsung oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Perang Badar sendiri merupakan manifestasi blueprint kemenangan umat, yang di dalamnya tergambar jelas strategi, kepemimpinan, dan intervensi Ilahiyah. Jika dilihat dari jumlah pasukan, kemenangan kaum Muslimin tampak sangat sulit. Pasukan Quraisy ketika itu berjumlah sekitar 1.000 orang, dengan kuda dan pasukan pemanah yang lengkap.</p>
<p>Oleh karena itu, Perang Badar sejatinya bukan sekadar kalkulasi kekuatan fisik, melainkan pembuktian iman pada saat yang paling kritis.</p>
<p>“… <em>jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu</em>.” (QS. Al-Anfal: 41).</p>
<p>Begitu pula dengan momentum i’tikaf kita. Ada yang datang ke masjid dengan label i’tikaf hanya sekadar berpindah tempat tidur, bermain ponsel lebih banyak daripada tilawah, lalu rebahan sambil menunggu waktu sahur.</p>
<p>Namun, ada pula yang datang ke masjid dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membentuk jiwa.</p>
<h4>Belajar dari Badar</h4>
<p>Inilah Ramadhan—hari pembeda. Ia membedakan mana orang-orang yang benar-benar datang pada bulan Ramadhan untuk membuktikan kemurnian iman dan semangat ibadahnya, dan mana yang hanya sekadar bermain-main di hadapan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Layaknya Perang Badar yang membuka tabir dengan jelas: mana orang-orang yang beriman dan mana yang berpura-pura.</p>
<p>Perang Badar juga mengajarkan kepada kita bahwa perang—apa pun bentuknya—harus dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan karena nafsu hegemoni, harta, gengsi, apalagi ego kesukuan atau nasionalisme semata.</p>
<p>Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan tauhid untuk memimpin umat melewati masa-masa tersulit. Dalam Perang Badar, kita melihat bagaimana interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dilandasi oleh cinta karena Allah Ta’ala.</p>
<p>Di Perang Badar, kita menyaksikan sosok Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang begitu dicintai para sahabat dan umatnya—sosok yang melandaskan segala perbuatannya semata-mata karena Allah.</p>
<p>Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. dalam Perang Badar adalah bahwa perang hanya boleh terjadi jika di dalamnya terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah serta mewujudkan penghambaan kepada Allah sebagaimana firman-Nya: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.</p>
<p>Semua itu beliau ajarkan dan buktikan dengan taruhan nyawa di Perang Badar, pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Karena itu, sangat penting kiranya pada bulan Ramadhan ini—dan juga pada bulan-bulan lainnya—kita menempatkan kesadaran bertauhid dan semangat pengabdian kepada Allah Ta’ala sebagai cara hidup kita di dunia ini.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 05:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98102</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang memiliki kedudukan utama dalam ajaran...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/">Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang memiliki kedudukan utama dalam ajaran Islam. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan mengajarkan umat Islam untuk melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta meningkatkan ketakwaan. Dalam menjalankan ibadah puasa, terdapat berbagai tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk adab ketika berbuka puasa.</p>
<p>Salah satu hadis yang menjelaskan tentang anjuran berbuka puasa diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Namun sekiranya ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i)</p>
<p>Hadis tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam tentang cara yang dianjurkan ketika berbuka puasa. Dimana kurma menjadi pilihan utama karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh usai seharian menahan lapar dan dahaga. Buah kurma mengandung banyak manfaat, yaitu kaya akan kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B6. Kandungan utamanya adalah karbohidrat (60-70% gula alami) yang memberikan energi instan, serta antioksidan tinggi (felonik/flavonoid), serat, serta berbagai vitamin dan mineral yang dapat membantu mengembalikan energi tubuh dengan cepat. Oleh karena itu, mengonsumsi kurma saat berbuka puasa tidak hanya mengikuti sunnah Nabi, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh.</p>
<p>Apabila seseorang tidak mendapatkan kurma, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbuka dengan air. Selain menghilangkan rasa haus, air juga membantu menyeimbangkan kembali cairan tubuh yang berkurang selama berpuasa. Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa air bersifat suci, yang menunjukkan bahwa air merupakan pilihan yang baik dan sederhana untuk mengawali berbuka puasa.</p>
<p>Anjuran ini menunjukkan bahwa Islam memberikan tuntunan yang mudah dan tidak memberatkan umatnya. Berbuka puasa tidak harus dengan makanan yang mewah atau berlebihan. Hal yang terpenting adalah mengikuti sunnah Rasulullah SAW serta menjaga kesederhanaan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.</p>
<p>Hikmah dari hadis ini adalah umat Islam diharapkan dapat meneladani kebiasaan Rasulullah SAW dalam berbuka puasa. Selain memperoleh manfaat kesehatan, mengikuti sunnah Nabi juga menjadi bentuk kecintaan dan ketaatan kepada beliau. Melalui amalan-amalan sederhana seperti ini, ibadah puasa yang dijalankan akan jauh lebih sempurna dan penuh berkah.</p>
<p>&#8211; Muhammad Zaidan Musyaffa</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/">Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/jatimnet.com/jinet/assets/media/news/news/image_front/6_Manfaat_Air_Rendaman_Kurma_Bagi_Kesehatan_Tubuh.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Belasan Hafiz-Hafizah Cirebon Khatamkan 30 Juz Sehari untuk Keselamatan Bangsa</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/belasan-hafiz-hafizah-cirebon-khatamkan-30-juz-sehari-untuk-keselamatan-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2026 04:37:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humanitas]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98052</guid>

					<description><![CDATA[<p>CIREBON &#8211; Sebanyak 15 hafiz dan hafizah Al-Qur’an di Desa Japura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/belasan-hafiz-hafizah-cirebon-khatamkan-30-juz-sehari-untuk-keselamatan-bangsa/">Belasan Hafiz-Hafizah Cirebon Khatamkan 30 Juz Sehari untuk Keselamatan Bangsa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>CIREBON</strong></a> &#8211; Sebanyak 15 hafiz dan hafizah Al-Qur’an di Desa Japura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat melaksanakan khataman hafalan 30 juz di halaman Masjid Nurul Ikhsan.</p>
<p>Kegiatan tersebut berlangsung non-stop selama satu hari pada Ahad (8/3/2026), dimulai pukul 05.00 WIB hingga menjelang Magrib sekitar pukul 18.00 WIB.</p>
<p>Kegiatan yang baru pertama kali digelar ini diikuti para hafiz dan hafizah yang merupakan alumni sejumlah pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia.</p>
<p>Pembina Yayasan Nurul Ikhsan, KH Ikhsan Abdullah, mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an di bulan Ramadan.</p>
<p>“Kami dari Masjid Nurul Ikhsan dan Yayasan Generasi Al-Qur’an menyelenggarakan acara yang sangat sakral bagi umat Islam, yaitu memperingati turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an. Para santri yang mengikuti kegiatan ini adalah hafiz dan hafizah yang sebelumnya menempuh pendidikan di berbagai pesantren, seperti Lirboyo, Lebaksiu, dan sejumlah pondok pesantren lainnya di Indonesia,” ujar Kiai Ikhsan.</p>
<p>Selain menggelar khataman hafalan 30 juz dalam sehari, Masjid Nurul Ikhsan juga mengadakan doa bersama untuk bangsa di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah.</p>
<p>Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama para peserta, pengurus masjid, serta masyarakat sekitar.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/belasan-hafiz-hafizah-cirebon-khatamkan-30-juz-sehari-untuk-keselamatan-bangsa/">Belasan Hafiz-Hafizah Cirebon Khatamkan 30 Juz Sehari untuk Keselamatan Bangsa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puasa Membentuk Insan Mulia dan Takwa</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/puasa-membentuk-insan-mulia-dan-takwa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2026 03:37:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=97971</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Mubalighah Kota Depok, Mumun Siti Munawaroh menegaskan ibadah puasa di bulan Ramadhan membentuk...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/puasa-membentuk-insan-mulia-dan-takwa/">Puasa Membentuk Insan Mulia dan Takwa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Mubalighah Kota Depok, Mumun Siti Munawaroh menegaskan ibadah puasa di bulan Ramadhan membentuk insan mulia dan bertakwa.</p>
<p>“Hikmah yang akan dipetik dari kita melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan agar dia takwa, dengan puasa maka seseorang akan terbentuk dalam dirinya takwa,” ungkapnya dalam forum Kajian Keluarga Sakinah: Ramadhan Mulia dengan Takwa Berkah dengan Syariah, Ahad (22/02/2026) di Depok.</p>
<p>Menurutnya, kaum Muslim sering dengar istilah takwa. “Lalu takwa itu apa?” tanyanya di hadapan puluhan peserta yang hadir.</p>
<p>Ia pun menegaskan, berbagai ulama mendefinisikan takwa. “Secara bahasa takwa itu diibaratkan sebagai &#8216;wikoyah&#8217; atau perisai. Perisai apa? Perisai dari segala bentuk marahnya Allah kalau kita tidak taat. Wikoyah dari neraka, wikoyah dari azab, wikoyah dari siksa. Takwa itu membuat orang menjadi tidak rela untuk mendapatkan murka-Nya Allah,” bebernya.</p>
<p>Menurut Imam Ali, lanjutnya, secara rinci tentang takwa. “Bahwasannya yang pertama itu takut khauf) kepada yang Maha Kuasa. Takut kalau perbuatan kita tidak sesuai dengan perintah Allah, takut menyalahi perintah Allah,” jelasnya.</p>
<p>Selanjutnya dari rasa takut tadi kepada yang Maha Kuasa, lanjutnya jadi melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Puasa, shalat, zakat, beramal, ngaji, menjalankan kewajiban. Itu semua merupakan amal shalih.</p>
<p>“Begitu juga qona&#8217;ah dengan yang sedikit. Jadi karena iman, orang yang bertakwa maka dia qona&#8217;ah terhadap apa yang Allah berikan saat ini, tidak banyak mengeluh, tidak banyak mengkhayal. Qona&#8217;ah itu lahir dari ketaatan dan ketakwaan,” lanjutnya.</p>
<p>Lalu, yang terakhir, ujarnya, senantiasa bersiap-siap kita kembali yaitu perjalanan perpisahan alam dunia ke alam akhirat. “Jadi orang yang bertakwa akan senantiasa siap-siap untuk kemudian menyambut terhadap kehidupan setelah kematian. Bukan menjadikannya sesuatu yang ditakuti tapi harusnya disiapkan, dengan apa?Mencari bekal. Itulah takwa yang didedikasikan oleh Imam Ali,” bebernya.</p>
<p>Oleh karenanya, menurutnya, dengan seseorang itu memahami takwa tadi Allah memberikan predikat kepada orang takwa, yaitu inna akramakum indzallahi Atqakum (sesungguhnya orang yang mulia di antara kalian adalah orang yang takwa. [Sari Liswantini]</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/puasa-membentuk-insan-mulia-dan-takwa/">Puasa Membentuk Insan Mulia dan Takwa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/bucket-api.baznas.go.id/bucket-api/file?bucket=bzn-fdr-smb-p5739641&#038;file=attachments%2Fnew_artikel%2FMzcyMTE3MTE1NjI2NzA.jpg&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menjemput Sehat di Bulan Suci: Menjadi Lebih Sehat di Bulan Ramadan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/menjemput-sehat-di-bulan-suci-menjadi-lebih-sehat-di-bulan-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 07:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=97935</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ramadan sebenarnya adalah laboratorium kesehatan yang luar biasa</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/menjemput-sehat-di-bulan-suci-menjadi-lebih-sehat-di-bulan-ramadhan/">Menjemput Sehat di Bulan Suci: Menjadi Lebih Sehat di Bulan Ramadan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Bagi sebagian orang, Ramadan sering kali dianggap sebagai ujian fisik semata. Namun, jika kita melihat dengan kacamata sains, Ramadan sebenarnya adalah laboratorium kesehatan yang luar biasa. Saat pola makan berubah, tubuh tidak sedang menderita; melainkan ia sedang melakukan pembersihan besar-besaran yang mungkin tidak sempat dilakukan di sebelas bulan lainnya.</p>
<p>Secara biologis, saat perut kosong selama lebih dari 12 jam, tubuh memasuki fase yang disebut autofagi. Ini adalah proses alami di mana sel-sel tubuh membersihkan diri dengan membuang komponen yang rusak dan menggantinya dengan yang baru. Hal ini menjadikan pergantian sel yang bekerja pada tubuh kita dari yang sudah bekerja dan tua menjadi sel muda yang lebih baik kinerjanya.</p>
<p>Namun, tantangan sering muncul saat berbuka. Budaya &#8220;balas dendam&#8221; dengan makanan manis dan berlemak tinggi sering kali merusak proses detoksifikasi ini. Alih-alih sehat, banyak dari kita yang justru merasa lemas dan mengalami kenaikan berat badan setelah lebaran. Di sinilah letak pentingnya menjaga kesederhanaan sesuai tuntunan agama dan kaidah kesehatan. Padahal logikanya ketika kita berpuasa maka jumlah makanan yang masuk di dalam tubuh kita seharusnya menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan bulan bulan sebelumnya.</p>
<p>Kesehatan di bulan Ramadan juga mencakup aspek mental. Praktik pengendalian diri (self-control) saat berpuasa secara langsung melatih prefrontal cortex di otak kita—bagian yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan regulasi emosi. Ramadan melatih kita untuk tidak reaktif, yang secara klinis mampu menurunkan level hormon stres (kortisol).</p>
<p>Menjadikan Ramadan sebagai momentum sehat berarti menyelaraskan antara ibadah spiritual dan perawatan raga. Dengan nutrisi yang tepat saat sahur dan tidak berlebihan saat berbuka, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga &#8220;hadiah&#8221; berupa tubuh yang lebih bugar dan jiwa yang lebih tenang untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. (Ahmad Syamil Muzzakkir)</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/menjemput-sehat-di-bulan-suci-menjadi-lebih-sehat-di-bulan-ramadhan/">Menjemput Sehat di Bulan Suci: Menjadi Lebih Sehat di Bulan Ramadan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/prodiaohi.stakcdn.com/app/assets/2022/06/29152403/Ramadan-Waktu-untuk-Hidup-Sehat-di-Bulan-yang-Suci-scaled.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
