<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oase Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/kategori/oase/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com/kategori/oase/</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Apr 2026 03:03:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>Oase Arsip - MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com/kategori/oase/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 03:03:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Subuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=98616</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir Di tengah dunia jurnalistik yang bergerak cepat, gaduh, kompetitif, dan sering...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/">Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>Di tengah dunia jurnalistik yang bergerak cepat, gaduh, kompetitif, dan sering kali melelahkan nurani, seorang jurnalis mukmin tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis, kecakapan membaca fakta, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Ia membutuhkan operating system ruhani yang mengatur ritme hidupnya, menjaga arah batinnya, dan menegakkan niat perjuangannya.</p>
<p>Ayat yang menjadi fondasi bagi sistem hidup itu adalah firman Allah dalam QS Al-Isrā’: 78:</p>
<p>أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا</p>
<p>“<em>Tegakkanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam dan (tegakkan pula) Qur&#8217;an al-Fajr. Sungguh, Qur’an al-Fajr itu disaksikan.</em>”</p>
<p>Ayat ini secara global memerintahkan penegakan shalat pada rentang waktu siang hingga malam, lalu secara khusus menonjolkan Qur’an al-Fajr, yaitu bacaan pada shalat Subuh, karena ia disaksikan.</p>
<p>Dalam susunan ayat ini, Subuh bukan sekadar salah satu waktu shalat. Ia diletakkan dalam cahaya penegasan, diberi sorotan khusus. Seakan-akan Allah sedang menunjukkan kepada hamba-Nya: di sinilah salah satu tanda paling jujur tentang keadaan ruhani seseorang.</p>
<p>Pada analisis lafaz, para mufasir mayoritas memahami Qur’ān al-Fajr sebagai shalat Subuh karena unsur yang paling menonjol di dalamnya adalah qirā’ah (bacaan Al-Qur’an). Kata al-fajr menunjuk kepada saat merekahnya cahaya setelah kegelapan malam.</p>
<p>Ini bukan hanya penanda waktu, tetapi simbol perubahan besar: dari gelap menuju terang, dari diam menuju gerak, dari tidur menuju tugas. Sementara itu, masyhūdan berarti “disaksikan”, yang dipahami sebagai disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang. Maka, Subuh adalah ibadah yang berdiri di perbatasan dua alam tugas; seakan langit sendiri menaruh perhatian istimewa terhadap siapa yang bangkit menjawab panggilan Rabb-nya.</p>
<p>Inti tafsir ayat ini sangat kuat. Ini adalah salah satu ayat paling tegas tentang keistimewaan Subuh.</p>
<p>Semua shalat adalah agung, tetapi Subuh diberi penekanan khusus karena tiga hal: berada di titik transisi malam ke siang, menuntut pengorbanan lebih besar, dan disaksikan secara khusus. Dengan kata lain, Subuh adalah ibadah yang tidak mudah dipalsukan. Banyak amal lahir dapat dipertontonkan, tetapi bangun di saat tubuh meminta rebah adalah ujian kejujuran yang sunyi. Karena itu, pesan utama ayat ini sangat relevan untuk gerakan dakwah jurnalistik: Subuh adalah shalat yang bersaksi atas hidup ruhani seseorang.</p>
<p>Bagi seorang jurnalis mukmin, hidup bukan hanya soal mengejar berita tercepat, tetapi menjaga hati agar tidak kehilangan cahaya saat menatap realitas yang gelap. Ia setiap hari berhadapan dengan propaganda, manipulasi, kebisingan opini, dan godaan untuk menukar amanah dengan popularitas. Dalam situasi seperti itu, Subuh bukan sekadar ritual personal, melainkan pusat kalibrasi jiwa. Ia membersihkan batin sebelum seseorang memasuki gelanggang informasi, menata niat sebelum pena bergerak, dan meluruskan arah sebelum lisan dan tulisan menjangkau publik.</p>
<p>Tadabbur kontekstual ayat ini sangat tajam: Subuh memisahkan dua jenis manusia, yaitu mereka yang hidup dipimpin syahwat tidurnya dan mereka yang hidup dipimpin panggilan Rabb-nya. Inilah garis pembeda yang halus namun menentukan. Jurnalis yang dikendalikan hawa nafsu akan mudah reaktif, larut dalam sensasi, terpancing emosi massa, dan mengorbankan akurasi demi gema.</p>
<h3>Operating System</h3>
<p>Sebaliknya, jurnalis yang menjaga Subuh sedang membangun empat fondasi besar: disiplin, kejernihan batin, daya tahan jiwa, dan arah hidup yang tidak reaktif. Ia tidak memulai hari dari kegaduhan notifikasi, tetapi dari perjumpaan dengan Allah; tidak membuka pagi dengan kemarahan publik, tetapi dengan ayat-ayat yang disaksikan malaikat.</p>
<p>Di sinilah Subuh berubah menjadi operating system kehidupan seorang jurnalis mukmin. Disiplin bangun sebelum fajar melahirkan disiplin memverifikasi fakta. Kejernihan batin dalam qiyam dan tilawah melahirkan kejernihan dalam membaca peristiwa. Daya tahan jiwa yang dibangun dengan melawan kantuk melahirkan keteguhan saat menghadapi tekanan. Arah hidup yang tidak reaktif membuatnya menulis bukan sekadar untuk merespons arus, tetapi untuk memimpin kesadaran umat.</p>
<p>Ibnul Qayyim memberikan isyarat yang sangat dalam: “Barang siapa memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.” Kalimat ini sangat layak menjadi prinsip kerja jurnalistik Islam. Sebab, kerusakan banyak media berawal bukan dari lemahnya teknologi, melainkan dari rapuhnya batin. Ketika batin rusak, fakta dijual. Ketika hati gelap, berita dijadikan senjata syahwat, bukan alat penerang umat.</p>
<p>Maka, membangun redaksi yang bersih harus dimulai dari membangun jiwa yang bersih, dan salah satu pintu paling agung ke arah itu adalah Subuh.<br />
Ibnul Jauzi mengingatkan bahwa waktu adalah modal paling mahal manusia, dan orang yang lalai akan kehilangan hidupnya sedikit demi sedikit tanpa merasa.</p>
<p>Dalam semangat itu, Subuh adalah deklarasi bahwa seorang mukmin tidak menyerahkan pagi pertamanya kepada kelalaian. Ia merebut awal harinya untuk Allah. Bukankah peradaban besar selalu dimulai oleh orang-orang yang bangun lebih awal daripada kebanyakan manusia? Bukankah kebangkitan umat juga dimulai ketika ada generasi yang memuliakan pagi, bukan menodainya dengan kelambanan?</p>
<p>Al-Ghazali mengajarkan bahwa hati itu seperti cermin; bila terus tertutup karat, ia tidak lagi mampu memantulkan kebenaran. Seorang jurnalis mukmin sangat membutuhkan hati yang bening, sebab ia bekerja di wilayah persepsi, makna, dan arah publik. Jika cerminnya kusam, ia akan melihat fakta dengan kabut kepentingan. Namun, jika ia merawat ruhnya—terutama di waktu Subuh—jiwanya menjadi lebih peka membedakan antara informasi yang mencerahkan dan narasi yang menyesatkan.</p>
<p>Abdullah bin Al-Mubarak, ulama mujahid yang juga saudagar, zahid, dan pencinta ilmu, memberi teladan penting bahwa amal besar dibangun dengan disiplin pribadi yang kokoh. Dari kehidupan para salaf, kita belajar: kemenangan di ruang publik selalu didahului kemenangan atas diri sendiri. Tidak ada futuhat bagi orang yang kalah setiap pagi oleh kasurnya sendiri.</p>
<p>Ada sebuah kisah hikmah yang patut direnungkan. Sebagian ulama salaf menangis ketika tertinggal takbiratul ihram dan merasa musibah itu lebih berat daripada kehilangan urusan dunia. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa ukuran kekuatan ruhani seseorang sering tampak pada hal-hal yang orang lain anggap kecil. Dalam dunia dakwah jurnalistik hari ini, banyak orang ingin memengaruhi umat, tetapi sedikit yang rela menertibkan dirinya pada waktu fajar. Padahal, pengaruh tanpa kebeningan hanya akan menjadi kebisingan baru.</p>
<p>Predictive tadabbur ayat ini sangat penting untuk gerakan. Bila sebuah keluarga menjaga Subuh, sangat mungkin akan lahir ritme hidup yang lebih tertib, ruh ibadah yang lebih kuat, akhlak yang lebih terjaga, dan keputusan hidup yang lebih jernih. Jika sebuah umat kehilangan Subuh, umat itu biasanya kehilangan kesiapan, kesadaran, disiplin, dan kemampuan memulai peradaban dari pagi hari.<br />
Maka, dalam konteks jurnalistik dakwah, jika para jurnalis, editor, penulis, host, dan pemimpin media Islam menjaga Subuh secara berjamaah—dalam makna ruhani dan disiplin hidup—sangat mungkin akan lahir ekosistem media yang lebih tenang, jujur, akurat, dan visioner.</p>
<p>Karena itu, tema seri pertama Buletin Editorial Dakwah ini ditegaskan: “Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin.” Integritas bukan hanya soal tidak berbohong kepada manusia, tetapi terlebih dahulu tidak berkhianat kepada panggilan Allah yang paling awal setiap hari. Siapa yang menjaga Subuh, ia sedang belajar menjaga amanah. Siapa yang memuliakan fajar, ia sedang menyiapkan dirinya menjadi penjaga cahaya di tengah gelapnya zaman.</p>
<p>Seorang jurnalis mukmin harus mampu berkata kepada dirinya setiap pagi: sebelum aku menulis untuk manusia, aku harus lebih dulu berdiri di hadapan Tuhanku. Sebelum aku menuntut dunia mendengar suaraku, aku harus memastikan hatiku lebih dahulu mendengar panggilan-Nya. Sebelum aku menjadi saksi atas zaman, aku harus memastikan bahwa shalat Subuhku masih menjadi saksi atas hidup ruhaniku.</p>
<p>Itulah fondasi pertama. Itulah sistem operasi awal. Itulah titik berangkat seorang jurnalis mukmin dalam gerakan dakwah jurnalismenya: bukan dari layar, bukan dari ruang redaksi, bukan dari hiruk-pikuk dunia, tetapi dari fajar yang disaksikan—dari ayat yang hidup, dari sujud yang melahirkan keberanian, dari Subuh yang menata peradaban.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/">Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/oif.umsu.ac.id/wp-content/uploads/2022/01/Waktu-Subuh-Perspektif-Hadits-dan-Mazhab.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2026 22:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Bachtiar Nasir]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=97283</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir Mari kita jujur pada diri sendiri, mengapa semangat takwa dan silaturahim...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/">Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>Mari kita jujur pada diri sendiri, mengapa semangat takwa dan silaturahim sering hanya terasa hangat saat Ramadan dan Syawal? Setelah itu, perlahan memudar, bahkan hilang tanpa terasa. Padahal, takwa bukan ibadah musiman, dan silaturahim bukan tradisi tahunan.</p>
<p>Takwa adalah bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia seharusnya hidup dalam setiap keputusan, ucapan, dan sikap kita. Allah berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya</em>.” (QS Ali Imran: 102)</p>
<p>Jika takwa benar-benar tertanam, ia akan melahirkan akhlak yang konsisten, termasuk dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia.</p>
<p>Begitu pula dengan silaturahim. Ia bukan sekadar ritual maaf-maafan saat Idulfitri atau ajang kumpul keluarga setahun sekali. Silaturahim adalah komitmen jangka panjang untuk tetap terhubung, peduli, dan hadir dalam kehidupan orang-orang terdekat kita, bahkan ketika tidak ada momen besar.</p>
<p>Al-Qur’an menegaskan bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari ketakwaan:</p>
<p>وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ</p>
<p>“<em>Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan</em>…” (QS An-Nisa: 1)</p>
<p>Bahkan, Allah memperingatkan keras bagi mereka yang merusak hubungan tersebut.</p>
<p>فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ</p>
<p>“<em>Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?</em>” (QS Muhammad: 22)</p>
<p>Ironisnya, banyak orang begitu hangat saat Syawal, tetapi kembali dingin setelahnya. Grup WhatsApp keluarga kembali sepi, pesan tak lagi dibalas, dan kabar kerabat sering terlewat. Silaturahim akhirnya hanya menjadi formalitas, bukan kebutuhan ruhani.</p>
<p>Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat nyata.</p>
<p>مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim</em>.” (HR Bukhari dan Muslim)*</p>
<p>Artinya, silaturahim bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menghadirkan keberkahan nyata dalam hidup.</p>
<p>Lebih dalam lagi, dalam hadis qudsi Allah berfirman:</p>
<p>أَنَا الرَّحْمَنُ، وَهِيَ الرَّحِمُ، شَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ</p>
<p>“<em>Aku adalah Ar-Rahman, dan rahim (kekerabatan) Aku ciptakan dari nama-Ku. Barang siapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barang siapa memutuskannya, Aku akan memutusnya</em>.” (HR Bukhari)*</p>
<p>Namun tantangan terbesar justru muncul ketika hubungan tidak berjalan baik. Tidak semua keluarga hangat, tidak semua kerabat membalas kebaikan. Di sinilah kualitas iman diuji.</p>
<p>Rasulullah menegaskan:</p>
<p>لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا</p>
<p>“<em>Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu yang sekadar membalas, tetapi yang tetap menyambung ketika diputuskan</em>.” (HR Bukhari)*</p>
<p>Bahkan ketika kita diperlakukan buruk, Rasulullah tetap memberi kabar gembira:</p>
<p>لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ</p>
<p>“<em>Jika engkau seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau menaburkan abu panas ke wajah mereka</em>…” *(HR Muslim)*</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa menjaga silaturahim bukan soal perasaan, tetapi pilihan iman.</p>
<p>Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjadi pelajaran besar. Meski disakiti oleh kerabatnya, ia tetap memaafkan dan membantu. Sikap ini sejalan dengan firman Allah:</p>
<p>وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ</p>
<p>“<em>Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu</em>?” (QS An-Nur: 22)</p>
<h3>Konsistensi</h3>
<p>Hari ini, menjaga silaturahim sebenarnya tidak sulit. Tidak harus dengan pertemuan besar. Cukup dengan pesan singkat, telepon, atau sekadar menanyakan kabar.</p>
<p>Yang sulit bukan caranya, tetapi konsistensinya.</p>
<p>Karena itu, jangan jadikan silaturahim sebagai agenda musiman. Jadikan ia sebagai bagian dari hidup. Jangan menunggu momen, tapi ciptakan momen.</p>
<p>Jika kita ingin hidup lebih berkah, hati lebih tenang, dan hubungan lebih hangat, maka rawatlah silaturahim. Bahkan ketika tidak ada alasan dunia untuk melakukannya.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa sering kita bertemu, tetapi seberapa tulus kita menjaga hubungan karena Allah. _Wallahu a’lam bish shawab_.**</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/">Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ustadz-bachtiar-nasir-_121019211040-512.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Fikih Prioritas dan Urgensinya</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/fikih-prioritas-dan-urgensinya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2026 01:10:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98268</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, umat Islam sering dihadapkan pada banyak...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/fikih-prioritas-dan-urgensinya/">Fikih Prioritas dan Urgensinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, umat Islam sering dihadapkan pada banyak pilihan tindakan, ibadah, maupun sikap sosial. Tidak semua hal dapat dilakukan sekaligus, dan tidak semua memiliki nilai yang sama. Didalamnya konsep fikih prioritas menjadi sangat relevan. Fikih prioritas (fiqh al-awlawiyyāt) pada dasarnya mengajarkan kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada posisi yang tepat: mana yang harus didahulukan, mana yang dapat ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak terlalu penting.</p>
<p>Secara bahasa, awlawiyyāt berasal dari kata al-awlā yang berarti “lebih berhak” atau “lebih utama”. Secara istilah, prioritas fikih adalah pengetahuan tentang amal yang lebih penting dibandingkan amal lainnya, baik dari sisi hukum, nilai, maupun pelaksanaannya.Menurut Yusuf al-Qaradawi , fikih prioritas membantu menilai mana perbuatan yang rajih (kuat), sahih, dan layak didahulukan sesuai pandangan syariat. Dengan kata lain, fikih ini bukan sekadar menjelaskan hukum halal-haram, tetapi memahami nilai hierarki dalam Islam.</p>
<p>Al-Qur&#8217;an sendiri menunjukkan adanya tingkatan amal. Misalnya dalam Surah At-Taubah ayat 19-20 dijelaskan bahwa keimanan, hijrah, dan jihad memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan sekadar memberi minum jamaah haji.Ayat ini menegaskan bahwa tidak semua kebaikan memiliki nilai yang sama. Kebaikan yang berdampak besar bagi agama dan umat tentu lebih diutamakan daripada kebaikan yang bersifat terbatas.</p>
<p>Teladan Rasulullah juga menunjukkan prinsip ini. Dalam sebuah hadis, ketika ditanya tentang Islam, Iman, Hijrah, dan Jihad, Rasulullah menjawab secara bertahap, seolah-olah menunjukkan tingkatan keutamaan masing-masing.Ini mengajarkan bahwa pemahaman agama tidak cukup berhenti pada “apa yang baik”, tetapi harus dilanjutkan dengan “apa yang paling baik untuk dilakukan saat ini”.</p>
<p>Urgensi fikih prioritas semakin terasa di dunia kontemporer. Banyak fenomena yang menunjukkan kekacauan dalam skala prioritas umat. Dalam beberapa masyarakat, hiburan sering mendapat perhatian lebih besar dibandingkan pendidikan atau ilmu pengetahuan.Terlebih lagi, kematian seorang tokoh masyarakat bisa menjadi berita besar, sementara wafatnya ilmuwan atau ulama hampir tidak mendapat perhatian. Hal ini menunjukkan adanya perubahan nilai yang cukup serius.</p>
<p>Dalam kehidupan pemuda misalnya, pelatihan fisik melalui olahraga sering lebih diutamakan daripada pelatihan intelektual dan spiritual.Padahal manusia bukan hanya tubuh, tetapi juga akal dan jiwa. Ketika satu aspek terlalu dominan, keseimbangan hidup menjadi terganggu. Fikih prioritas hadir untuk mengembalikan keseimbangan tersebut.</p>
<p>Prioritas fikih juga berkaitan erat dengan maqashid syariah, yaitu tujuan utama syariat Islam dalam menjaga lima hal pokok: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.Setiap tindakan yang melindungi kelima aspek ini dianggap maslahat, sedangkan yang merusaknya termasuk mafsadat. Oleh karena itu, penentuan prioritas harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kelima tujuan tersebut.</p>
<p>Dalam praktiknya, fikih memprioritaskan tuntutan kemampuan menimbang antara maslahat dan mafsadat. Ketika terjadi suatu peristiwa, reject kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat.Bahkan, kerusakan kecil dapat ditoleransi demi mencegah kerusakan yang lebih besar atau demi memperoleh maslahat yang lebih luas. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dan mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat.</p>
<p>Selain itu, prioritas juga dapat berubah sesuai waktu dan keadaan. Suatu amal bisa menjadi utama pada kondisi tertentu, tetapi tidak lagi utama pada kondisi lain.Kurangnya pemahaman terhadap konteks inilah yang sering menimbulkan sikap beragama yang kaku atau bahkan salah arah.</p>
<p>Dalam perspektif pribadi, prioritas fikih sebenarnya bukan hanya konsep hukum, tetapi juga pedoman hidup. Ia mengajarkan kebijaksanaan dalam memilih, kedewasaan dalam bertindak, dan tanggung jawab dalam menggunakan waktu dan energi. Tanpa kemampuan menentukan prioritas, seseorang bisa saja sibuk dengan hal-hal kecil namun melupakan tanggung jawab besar, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat.</p>
<p>Di era digital yang penuh gangguan, konsep ini semakin penting. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam pada hal yang tidak produktif, sementara kewajiban utama terabaikan. Jika prioritas fikih dipahami secara benar, umat Islam tidak hanya akan menjadi religius secara ritual, tetapi juga efektif dan berkontribusi nyata bagi peradaban.</p>
<p>Dengan demikian, prioritas fikih bukan sekadar teori, melainkan kebutuhan mendesak bagi umat Islam masa kini. Ia membantu menata ulang nilai timbangan, mengarahkan energi pada hal yang benar-benar penting, serta memastikan bahwa setiap amal dilakukan pada waktu dan cara yang paling tepat. Pada akhirnya, memahami prioritas berarti memahami hikmah syariat itu sendiri bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi juga mengajarkan kebaikan mana yang harus didahulukan.</p>
<p>Shafira Luthfiana, mahasiswi IAI SEBI,</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/fikih-prioritas-dan-urgensinya/">Fikih Prioritas dan Urgensinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.louayfatoohi.com/wp-content/uploads/110904-meaning-fiqh.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>UBN Perkenalkan I’tikaf Strategic Camp 2026, Integrasikan Ibadah dan Strategi Peradaban</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 07:57:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98257</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA — Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN memperkenalkan program I’tikaf Strategic...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban-2/">UBN Perkenalkan I’tikaf Strategic Camp 2026, Integrasikan Ibadah dan Strategi Peradaban</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> — Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN memperkenalkan program I’tikaf Strategic Camp 2026 sebagai pendekatan baru dalam pelaksanaan i’tikaf. Kegiatan ini berlangsung pada 11–18 Maret 2026 (Ramadhan 1447 H) di Aula Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Tebet Utara, Jakarta Selatan.</p>
<p>Sebanyak 100 peserta dari kalangan aktivis dakwah, baik ikhwan maupun akhwat, mengikuti program ini. Tidak hanya berfokus pada ibadah ritual, I’tikaf Strategic Camp dirancang sebagai ruang pembinaan intensif yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan strategi peradaban.</p>
<p>“I’tikaf bukan sekadar uzlah atau pengasingan diri, tetapi momentum untuk menyiapkan diri menghadirkan perubahan berbasis nilai wahyu,” ujar UBN dalam salah satu sesi pembukaan.</p>
<p>Selama program berlangsung, peserta menjalani qiyamul lail pada malam hari, sementara siang diisi dengan pelatihan kepemimpinan, kajian sirah, dan pembentukan pola pikir strategis. Konsep ini dirumuskan dalam pendekatan “Masjid sebagai Laboratorium Peradaban”.</p>
<p>Program ini disusun dalam tiga pilar utama. Pertama, ruhiyah intensif, meliputi qiyamul lail berjamaah, tilawah dan tadabbur tematik, dzikir, muhasabah harian, hingga simulasi i’tikaf 10 malam terakhir.</p>
<p>Kedua, fikrah strategis, dengan mengkaji empat peristiwa penting dalam sejarah Islam sebagai kerangka pembelajaran.</p>
<p>“Badar bukan cerita masa lalu, tetapi template kemenangan,” menjadi salah satu penekanan dalam materi.</p>
<p>Selain itu, peserta juga mempelajari Spirit Bai’at Ridwan tentang loyalitas, Spirit Hudaibiyah terkait strategi jangka panjang, serta Spirit Fathu Makkah yang menekankan etika kemenangan tanpa balas dendam.</p>
<p>Ketiga, harakah atau pembangunan gerakan, melalui simulasi pembentukan tim dakwah, penyusunan roadmap, hingga penguatan visi global, termasuk isu pembebasan Baitul Maqdis.</p>
<p>Berbeda dari pola ceramah konvensional, program ini menggunakan pendekatan partisipatif berbasis experiential learning.</p>
<p>Peserta tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi juga mensimulasikan situasi krisis, pengambilan keputusan cepat, serta menghadapi tekanan eksternal.</p>
<p>Melalui metode tadabbur tematik-strategis, ayat Al-Qur’an dijadikan kerangka kepemimpinan dan blueprint organisasi.</p>
<p>Sementara dalam group strategic lab, peserta menyusun program dakwah dan solusi konkret atas persoalan umat.</p>
<p>Program ini diarahkan untuk membentuk kader dengan orientasi peradaban jangka panjang.</p>
<p>Konsep pembebasan Baitul Maqdis yang diangkat tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi mencakup aspek spiritual, intelektual, dan strategis.</p>
<p>“Fathu Makkah bukan akhir, tetapi awal peradaban,” menjadi salah satu narasi kunci yang ditekankan dalam pembelajaran.</p>
<p>Selama pelaksanaan, sejumlah perubahan terlihat pada peserta, mulai dari pergeseran pola pikir yang lebih strategis, penguatan kesadaran kolektif, hingga peningkatan disiplin ibadah.</p>
<p>Namun demikian, program ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti menjaga konsistensi pasca-camp, memastikan implementasi nyata dari blueprint yang telah disusun, serta memperluas model agar dapat diterapkan secara nasional dan global.</p>
<p>Melalui program ini, UBN menegaskan kembali peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat strategi dan perubahan.</p>
<p>Dikatakan UBN, sembilan hari pelaksanaan, masjid difungsikan sebagai ruang ibadah sekaligus pusat pembinaan dan perumusan gerakan.</p>
<p>Jika model ini dapat direplikasi secara luas, masjid dinilai berpotensi kembali menjadi pusat lahirnya peradaban, sebagaimana pada masa awal Islam.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban-2/">UBN Perkenalkan I’tikaf Strategic Camp 2026, Integrasikan Ibadah dan Strategi Peradaban</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/majalahekonomi.com/go/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260313-WA0008-768x576.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Al-Qur’an: Sumber Inspirasi dan Ketenangan Hati</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/al-quran-sumber-inspirasi-dan-ketenangan-hati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 14:03:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98181</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Fadhlan Rizqy Fadillah, Mahasiswa IAI SEBI</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/al-quran-sumber-inspirasi-dan-ketenangan-hati/">Al-Qur’an: Sumber Inspirasi dan Ketenangan Hati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Fadhlan Rizqy Fadillah, </strong></em><em><strong>Mahasiswa IAI SEBI</strong></em></p>
<p>Pendahuluan</p>
<p>Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman hidup bagi manusia. Kitab ini tidak hanya berisi ajaran tentang ibadah, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai berbagai aspek kehidupan, seperti moral, sosial, dan spiritual. Sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an telah menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan kesibukan, banyak orang mencari cara untuk memperoleh ketenangan batin. Dalam hal ini, Al-Qur’an memiliki peran penting sebagai sumber ketenangan hati. Melalui ayat-ayatnya, Al-Qur’an memberikan nasihat, harapan, serta pengingat tentang kebesaran Allah SWT yang dapat menenangkan jiwa manusia.</p>
<p>Isi</p>
<p>Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab suci yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk berpikir, belajar, dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, keadilan, dan kepedulian sosial menjadi pesan penting yang terkandung dalam Al-Qur’an.</p>
<p>Selain memberikan inspirasi, Al-Qur’an juga dikenal sebagai sumber ketenangan hati bagi umat Islam. Membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dapat memberikan rasa damai dan menenangkan pikiran. Hal ini karena Al-Qur’an mengandung pesan-pesan yang mengingatkan manusia untuk selalu berserah diri kepada Allah SWT dan percaya bahwa setiap ujian dalam kehidupan memiliki hikmah.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasakan ketenangan ketika membaca atau mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an sering digunakan sebagai sarana untuk menenangkan hati ketika menghadapi masalah, kesedihan, atau kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kondisi psikologis seseorang.</p>
<p>Selain itu, Al-Qur’an juga memberikan inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Banyak ilmuwan Muslim pada masa lalu yang terinspirasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi sumber ketenangan spiritual, tetapi juga mendorong manusia untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.</p>
<p>Saran</p>
<p>Agar dapat merasakan manfaat Al-Qur’an secara lebih mendalam, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami makna dari ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Membaca Al-Qur’an secara rutin dapat menjadi kebiasaan baik yang membantu menjaga ketenangan hati di tengah berbagai kesibukan kehidupan.</p>
<p>Selain itu, penting bagi umat Islam untuk mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan ajaran Al-Qur’an, seseorang tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi dan ketenangan hati bagi umat Islam. Melalui ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Al-Qur’an memberikan petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, Al-Qur’an tetap menjadi pedoman yang mampu memberikan ketenangan, harapan, dan kekuatan bagi setiap individu yang membacanya.</p>
<p>Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam dapat memperoleh ketenangan batin sekaligus inspirasi untuk menjalani kehidupan dengan penuh makna dan tujuan.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/al-quran-sumber-inspirasi-dan-ketenangan-hati/">Al-Qur’an: Sumber Inspirasi dan Ketenangan Hati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/wadimubarak.com/wp-content/uploads/2023/02/fadhilah-membaca-al-quran-vi.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2026 11:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[KH Bachtiar Nasir]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98131</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Israel dan Amerika versus Iran semakin memanas. Perang Iran versus Amerika–Israel ini bukanlah perang agama, melainkan perang hegemoni. Disinyalir, Trump memang sudah lama mengincar Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak mentah Iran.</p>
<p>Iran juga telah lama melancarkan proyek Bulan Sabit Persia, yang targetnya membentang meliputi Iran, Irak, Suriah, Libanon Selatan, dan Yaman. Wilayah yang belum tercakup saat ini adalah Palestina. Setelah itu, Iran diperkirakan dapat memperluas pengaruhnya hingga menguasai kawasan Teluk.</p>
<p>Israel dan Amerika Serikat yang saat ini menjajah wilayah Palestina tentu merasa terganggu dengan langkah tersebut. Belum lagi Turki dan Qatar di forum BOP yang berunding untuk menjatuhkan Netanyahu. Situasi ini membuat Netanyahu “kebakaran jenggot”, lalu dibukalah Epstein file, termasuk yang berkaitan dengan Trump. Dengan adanya file tersebut, Trump kemudian ditekan oleh Israel untuk menyerang Iran yang dianggap menghalangi pembentukan Israel Raya antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.</p>
<p>Karena itu, jangan sampai kita justru sibuk berdebat membela salah satu pihak, sementara kita sendiri belum tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membela Masjidil Aqsha dan kaum Muslimin di Palestina, yang menjadi objek perebutan tersebut.</p>
<p>Nah, sekarang adalah momentum di ruang-ruang i’tikaf ini untuk membersamai Masjidil Aqsha dengan apa pun yang mampu kita lakukan. Mungkin kita tidak bisa membersamai mereka melalui pendekatan militer, tetapi kita masih bisa mendampingi mereka melalui media, pemberitaan, ekonomi, dan berbagai upaya lainnya.</p>
<h3>Semangat Badar</h3>
<p>Dengan kehendak Allah, Perang Badar juga terjadi pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw beserta para sahabat pada saat itu sebenarnya tidak berniat berperang, tetapi mereka tetap siap secara psikis jika harus menghadapi peperangan.</p>
<p>Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki sekitar 313 pasukan, sebagian besar pasukan infanteri, dengan beberapa pasukan berkuda.</p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Badar tidak dimulai dengan mengasah pedang, melainkan dengan mengasah iman dan takwa. Perang Badar bermula ketika kafilah dagang Abu Sufyan dihadang dan diblokir secara ekonomi, karena mereka berasal dari kaum yang memerangi Allah dan Rasulullah Shallallahu wa alaihi wa sallam membunuh para sahabat, serta menyerang dakwah Islam baik secara fisik maupun psikis.</p>
<p>Perang Badar kerap terlupakan dari spirit Ramadhan kita, padahal ia adalah peristiwa besar yang benar-benar terjadi dengan skenario yang diatur langsung oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Perang Badar sendiri merupakan manifestasi blueprint kemenangan umat, yang di dalamnya tergambar jelas strategi, kepemimpinan, dan intervensi Ilahiyah. Jika dilihat dari jumlah pasukan, kemenangan kaum Muslimin tampak sangat sulit. Pasukan Quraisy ketika itu berjumlah sekitar 1.000 orang, dengan kuda dan pasukan pemanah yang lengkap.</p>
<p>Oleh karena itu, Perang Badar sejatinya bukan sekadar kalkulasi kekuatan fisik, melainkan pembuktian iman pada saat yang paling kritis.</p>
<p>“… <em>jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu</em>.” (QS. Al-Anfal: 41).</p>
<p>Begitu pula dengan momentum i’tikaf kita. Ada yang datang ke masjid dengan label i’tikaf hanya sekadar berpindah tempat tidur, bermain ponsel lebih banyak daripada tilawah, lalu rebahan sambil menunggu waktu sahur.</p>
<p>Namun, ada pula yang datang ke masjid dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membentuk jiwa.</p>
<h4>Belajar dari Badar</h4>
<p>Inilah Ramadhan—hari pembeda. Ia membedakan mana orang-orang yang benar-benar datang pada bulan Ramadhan untuk membuktikan kemurnian iman dan semangat ibadahnya, dan mana yang hanya sekadar bermain-main di hadapan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Layaknya Perang Badar yang membuka tabir dengan jelas: mana orang-orang yang beriman dan mana yang berpura-pura.</p>
<p>Perang Badar juga mengajarkan kepada kita bahwa perang—apa pun bentuknya—harus dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan karena nafsu hegemoni, harta, gengsi, apalagi ego kesukuan atau nasionalisme semata.</p>
<p>Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan tauhid untuk memimpin umat melewati masa-masa tersulit. Dalam Perang Badar, kita melihat bagaimana interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dilandasi oleh cinta karena Allah Ta’ala.</p>
<p>Di Perang Badar, kita menyaksikan sosok Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang begitu dicintai para sahabat dan umatnya—sosok yang melandaskan segala perbuatannya semata-mata karena Allah.</p>
<p>Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. dalam Perang Badar adalah bahwa perang hanya boleh terjadi jika di dalamnya terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah serta mewujudkan penghambaan kepada Allah sebagaimana firman-Nya: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.</p>
<p>Semua itu beliau ajarkan dan buktikan dengan taruhan nyawa di Perang Badar, pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Karena itu, sangat penting kiranya pada bulan Ramadhan ini—dan juga pada bulan-bulan lainnya—kita menempatkan kesadaran bertauhid dan semangat pengabdian kepada Allah Ta’ala sebagai cara hidup kita di dunia ini.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2026 11:31:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=97246</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Israel dan Amerika versus Iran semakin memanas. Perang Iran versus Amerika–Israel ini bukanlah perang agama, melainkan perang hegemoni. Disinyalir, Trump memang sudah lama mengincar Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak mentah Iran.</p>
<p>Iran juga telah lama melancarkan proyek Bulan Sabit Persia, yang targetnya membentang meliputi Iran, Irak, Suriah, Libanon Selatan, dan Yaman. Wilayah yang belum tercakup saat ini adalah Palestina. Setelah itu, Iran diperkirakan dapat memperluas pengaruhnya hingga menguasai kawasan Teluk.</p>
<p>Israel dan Amerika Serikat yang saat ini menjajah wilayah Palestina tentu merasa terganggu dengan langkah tersebut. Belum lagi Turki dan Qatar di forum BOP yang berunding untuk menjatuhkan Netanyahu. Situasi ini membuat Netanyahu “kebakaran jenggot”, lalu dibukalah Epstein file, termasuk yang berkaitan dengan Trump. Dengan adanya file tersebut, Trump kemudian ditekan oleh Israel untuk menyerang Iran yang dianggap menghalangi pembentukan Israel Raya antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.</p>
<p>Karena itu, jangan sampai kita justru sibuk berdebat membela salah satu pihak, sementara kita sendiri belum tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membela Masjidil Aqsha dan kaum Muslimin di Palestina, yang menjadi objek perebutan tersebut.</p>
<p>Nah, sekarang adalah momentum di ruang-ruang i’tikaf ini untuk membersamai Masjidil Aqsha dengan apa pun yang mampu kita lakukan. Mungkin kita tidak bisa membersamai mereka melalui pendekatan militer, tetapi kita masih bisa mendampingi mereka melalui media, pemberitaan, ekonomi, dan berbagai upaya lainnya.</p>
<h3>Semangat Badar</h3>
<p>Dengan kehendak Allah, Perang Badar juga terjadi pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw beserta para sahabat pada saat itu sebenarnya tidak berniat berperang, tetapi mereka tetap siap secara psikis jika harus menghadapi peperangan.</p>
<p>Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki sekitar 313 pasukan, sebagian besar pasukan infanteri, dengan beberapa pasukan berkuda.</p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Badar tidak dimulai dengan mengasah pedang, melainkan dengan mengasah iman dan takwa. Perang Badar bermula ketika kafilah dagang Abu Sufyan dihadang dan diblokir secara ekonomi, karena mereka berasal dari kaum yang memerangi Allah dan Rasulullah Shallallahu wa alaihi wa sallam membunuh para sahabat, serta menyerang dakwah Islam baik secara fisik maupun psikis.</p>
<p>Perang Badar kerap terlupakan dari spirit Ramadhan kita, padahal ia adalah peristiwa besar yang benar-benar terjadi dengan skenario yang diatur langsung oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Perang Badar sendiri merupakan manifestasi blueprint kemenangan umat, yang di dalamnya tergambar jelas strategi, kepemimpinan, dan intervensi Ilahiyah. Jika dilihat dari jumlah pasukan, kemenangan kaum Muslimin tampak sangat sulit. Pasukan Quraisy ketika itu berjumlah sekitar 1.000 orang, dengan kuda dan pasukan pemanah yang lengkap.</p>
<p>Oleh karena itu, Perang Badar sejatinya bukan sekadar kalkulasi kekuatan fisik, melainkan pembuktian iman pada saat yang paling kritis.</p>
<p>“… <em>jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu</em>.” (QS. Al-Anfal: 41).</p>
<p>Begitu pula dengan momentum i’tikaf kita. Ada yang datang ke masjid dengan label i’tikaf hanya sekadar berpindah tempat tidur, bermain ponsel lebih banyak daripada tilawah, lalu rebahan sambil menunggu waktu sahur.</p>
<p>Namun, ada pula yang datang ke masjid dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membentuk jiwa.</p>
<h4>Belajar dari Badar</h4>
<p>Inilah Ramadhan—hari pembeda. Ia membedakan mana orang-orang yang benar-benar datang pada bulan Ramadhan untuk membuktikan kemurnian iman dan semangat ibadahnya, dan mana yang hanya sekadar bermain-main di hadapan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Layaknya Perang Badar yang membuka tabir dengan jelas: mana orang-orang yang beriman dan mana yang berpura-pura.</p>
<p>Perang Badar juga mengajarkan kepada kita bahwa perang—apa pun bentuknya—harus dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan karena nafsu hegemoni, harta, gengsi, apalagi ego kesukuan atau nasionalisme semata.</p>
<p>Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan tauhid untuk memimpin umat melewati masa-masa tersulit. Dalam Perang Badar, kita melihat bagaimana interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dilandasi oleh cinta karena Allah Ta’ala.</p>
<p>Di Perang Badar, kita menyaksikan sosok Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang begitu dicintai para sahabat dan umatnya—sosok yang melandaskan segala perbuatannya semata-mata karena Allah.</p>
<p>Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. dalam Perang Badar adalah bahwa perang hanya boleh terjadi jika di dalamnya terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah serta mewujudkan penghambaan kepada Allah sebagaimana firman-Nya: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.</p>
<p>Semua itu beliau ajarkan dan buktikan dengan taruhan nyawa di Perang Badar, pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Karena itu, sangat penting kiranya pada bulan Ramadhan ini—dan juga pada bulan-bulan lainnya—kita menempatkan kesadaran bertauhid dan semangat pengabdian kepada Allah Ta’ala sebagai cara hidup kita di dunia ini.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/f_auto,q_auto/v1773401505/IMG-20260313-WA0008/IMG-20260313-WA0008.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Melatih Sabar, Sukur dan Memaafkan dalam Kehidupan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/melatih-sabar-sukur-dan-memaafkan-dalam-kehidupan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 05:44:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98105</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Setiap orang pasti menghadapi berbagai keadaan. Adakalanya seseorang berada dalam keadaan sulit, atau...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/melatih-sabar-sukur-dan-memaafkan-dalam-kehidupan/">Melatih Sabar, Sukur dan Memaafkan dalam Kehidupan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Setiap orang pasti menghadapi berbagai keadaan. Adakalanya seseorang berada dalam keadaan sulit, atau memperoleh nikmat, dan pada kesempatan lain mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang lain. Islam memberikan tuntunan bagaimana seorang Muslim bersikap dalam berbagai keadaan tersebut. Salah satu tuntunan itu terdapat dalam hadis Nabi, Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan, dan menzalimi lalu beristighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah.” (HR. Al-Baihaqi).</p>
<p>Makna hadis tersebut mengajarkan beberapa sikap mulia yang seharusnya dimiliki oleh seorang Muslim dalam menghadapi berbagai keadaan. Pertama, ketika seseorang diuji dengan kesulitan atau cobaan, ia dianjurkan untuk bersabar. Itu adalah sikap menahan diri dari keluh kesah serta tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah SWT. Hikmahnya seseorang akan lebih tenang ketika dihadapkan pada cobaan.</p>
<p>Kedua, ketika seseorang memperoleh nikmat atau kebaikan, ia hendaknya bersyukur kepada Allah SWT. Sikap syukur ini penting agar manusia tidak menjadi sombong atau lupa diri ketika memperoleh sesuatu.</p>
<p>Ketiga, ketika seseorang mengalami perlakuan zalim dari orang lain, Islam mengajarkan untuk memaafkan. Itu bukan kelemahan, melainkan kelapangan hati dan kedewasaan dalam menyikapi masalah. Dapat juga menjaga hubungan baik antar sesama manusia serta menghindarkan diri dari permusuhan yang berkepanjangan.</p>
<p>Keempat, apabila seseorang melakukan kesalahan atau menzalimi orang lain, maka ia dianjurkan untuk segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dengan memohon ampun kepada Allah, seseorang diharapkan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.</p>
<p>Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari ujian, nikmat, kesalahan, maupun perlakuan dengan orang lain. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memiliki sikap sabar, syukur, pemaaf, serta selalu memohon ampun kepada Allah SWT. Dengan menerapkan sikap-sikap tersebut, seseorang akan memperoleh keselamatan serta termasuk golongan orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.</p>
<p>Nilai-nilai yang terkandung dalam hadis ini amat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap sabar membantu seseorang menghadapi kesulitan dengan keteguhan hati, syukur menjaga manusia dari kesombongan, memaafkan menciptakan kedamaian dalam hubungan sosial, dan istighfar menuntun manusia untuk terus memperbaiki diri. Dengan demikian, kehidupan akan menjadi lebih tenang, harmonis, dan penuh kedamaian.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/melatih-sabar-sukur-dan-memaafkan-dalam-kehidupan/">Melatih Sabar, Sukur dan Memaafkan dalam Kehidupan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.urban-rugs.com/cdn/shop/articles/sabr-2_4608x.jpg?v=1763629994&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 05:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98102</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang memiliki kedudukan utama dalam ajaran...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/">Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah wajib yang memiliki kedudukan utama dalam ajaran Islam. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan mengajarkan umat Islam untuk melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta meningkatkan ketakwaan. Dalam menjalankan ibadah puasa, terdapat berbagai tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk adab ketika berbuka puasa.</p>
<p>Salah satu hadis yang menjelaskan tentang anjuran berbuka puasa diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Namun sekiranya ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i)</p>
<p>Hadis tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam tentang cara yang dianjurkan ketika berbuka puasa. Dimana kurma menjadi pilihan utama karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh usai seharian menahan lapar dan dahaga. Buah kurma mengandung banyak manfaat, yaitu kaya akan kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B6. Kandungan utamanya adalah karbohidrat (60-70% gula alami) yang memberikan energi instan, serta antioksidan tinggi (felonik/flavonoid), serat, serta berbagai vitamin dan mineral yang dapat membantu mengembalikan energi tubuh dengan cepat. Oleh karena itu, mengonsumsi kurma saat berbuka puasa tidak hanya mengikuti sunnah Nabi, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh.</p>
<p>Apabila seseorang tidak mendapatkan kurma, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbuka dengan air. Selain menghilangkan rasa haus, air juga membantu menyeimbangkan kembali cairan tubuh yang berkurang selama berpuasa. Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa air bersifat suci, yang menunjukkan bahwa air merupakan pilihan yang baik dan sederhana untuk mengawali berbuka puasa.</p>
<p>Anjuran ini menunjukkan bahwa Islam memberikan tuntunan yang mudah dan tidak memberatkan umatnya. Berbuka puasa tidak harus dengan makanan yang mewah atau berlebihan. Hal yang terpenting adalah mengikuti sunnah Rasulullah SAW serta menjaga kesederhanaan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.</p>
<p>Hikmah dari hadis ini adalah umat Islam diharapkan dapat meneladani kebiasaan Rasulullah SAW dalam berbuka puasa. Selain memperoleh manfaat kesehatan, mengikuti sunnah Nabi juga menjadi bentuk kecintaan dan ketaatan kepada beliau. Melalui amalan-amalan sederhana seperti ini, ibadah puasa yang dijalankan akan jauh lebih sempurna dan penuh berkah.</p>
<p>&#8211; Muhammad Zaidan Musyaffa</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/berbuka-puasa-dengan-kurma-dan-air/">Berbuka Puasa dengan Kurma dan Air</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/jatimnet.com/jinet/assets/media/news/news/image_front/6_Manfaat_Air_Rendaman_Kurma_Bagi_Kesehatan_Tubuh.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Jangan Lewatkan! Rahasia Ibadah Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/jangan-lewatkan-rahasia-ibadah-sepuluh-malam-terakhir-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2026 06:22:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98070</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir </p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/jangan-lewatkan-rahasia-ibadah-sepuluh-malam-terakhir-ramadhan/">Jangan Lewatkan! Rahasia Ibadah Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir </strong></em></p>
<p>SEPULUH hari terakhir bulan Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Pada waktu inilah mereka semakin meningkatkan semangat ibadah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mereka memfokuskan diri untuk memperbanyak amal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.</p>
<p>Pada masa ini, mereka benar-benar ingin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasakan hubungan yang sangat dekat dengan-Nya sehingga tidak ingin disibukkan oleh urusan dunia, meskipun urusan tersebut halal dan dibolehkan.</p>
<p>قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ</p>
<p>Aisyah ra. berkata, “Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW lebih giat beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan inilah Allah Ta’ala menyediakan satu malam yang sangat istimewa bagi umat Islam, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, Rasulullah SAW memberikan teladan kepada umatnya agar benar-benar memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.</p>
<p>Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi karena tidak memanfaatkan kesempatan besar ini. Allah telah menyediakan pahala yang sangat besar pada malam Lailatul Qadar.</p>
<p>Dalam sebuah hadits dijelaskan:</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ</p>
<p>Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu, maka sungguh ia telah terhalang dari banyak kebaikan.” (Riwayat An-Nasa’i).</p>
<p>Di antara amalan yang selalu dilakukan Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah:</p>
<p>Pertama, beri’tikaf di masjid.</p>
<p>Rasulullah SAW memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dengan melakukan i’tikaf.</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata, “Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Kedua, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah.</p>
<p>Beliau memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَت : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ فِي الْعِشْرِينَ الْأُولَى مِنْ نَوْمٍ وَصَلَاةٍ ، فَإِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ جَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ</p>
<p>Dari Aisyah ra., ia berkata, “Pada dua puluh hari pertama Ramadhan, Nabi SAW masih mencampurkan antara tidur dan shalat. Namun ketika masuk sepuluh hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah.” (Riwayat Ahmad).</p>
<p>Ketiga, membangunkan keluarga untuk beribadah.</p>
<p>Rasulullah SAW juga mengajak keluarganya untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan agar mereka mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ ، شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>Dari Aisyah ra., ia berkata, “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Ungkapan “mengencangkan sarung” dalam hadits tersebut menunjukkan kesungguhan Nabi SAW dalam beribadah serta meninggalkan kesibukan dunia yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.</p>
<p>Keempat, memperbanyak doa memohon ampunan.</p>
<p>Pada malam-malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa, khususnya doa yang dibaca ketika bertemu dengan malam Lailatul Qadar.</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّهَا قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، مَاذَا أَدْعُو بِهِ ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</p>
<p>Aisyah ra. bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan malam Lailatul Qadar, doa apa yang harus aku baca?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah aku).” (Riwayat Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i).</p>
<p>Itulah beberapa amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Semua itu dilakukan agar seorang hamba dapat merasakan kenikmatan beribadah dan kedekatan dengan Allah Ta’ala, serta meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan. Wallahu a’lam bish shawab.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahekonomi.com/jangan-lewatkan-rahasia-ibadah-sepuluh-malam-terakhir-ramadhan/">Jangan Lewatkan! Rahasia Ibadah Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahekonomi.com">MAJALAH EKONOMI</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/chanelmuslim.com/wp-content/uploads/2025/07/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-1.59.10-PM-e1753340429100-716x375.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
