<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>History &#8211; MAJALAH EKONOMI</title>
	<atom:link href="https://majalahekonomi.com/kategori/history/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahekonomi.com</link>
	<description>Majalah Ekonomi dan Bisnis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 May 2025 01:48:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/w_100,h_100,c_fill,g_auto/f_auto,q_auto/v1725623573/MEfav/MEfav.jpg?_i=AA</url>
	<title>History &#8211; MAJALAH EKONOMI</title>
	<link>https://majalahekonomi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 May 2025 01:48:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79614</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK* Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji. Di Indonesia, haji telah menjadi simbol status sosial, spiritualitas, bahkan identitas kultural yang istimewa. Gelar “Haji” bukan hanya menunjukkan seseorang telah melaksanakan rukun Islam kelima, tetapi juga menjadi penanda kesalehan dan kehormatan sosial. Namun, sejarah panjang gelar ini menunjukkan bahwa ia bukan semata produk kultural, melainkan juga bentukan dari dinamika kolonialisme dan kontrol sosial.</p>
<p>Sejarawan Azyumardi Azra dalam karyanya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menyoroti bagaimana Tanah Suci menjadi ruang bertemunya ulama Nusantara dengan jaringan intelektual global yang membawa arus pemikiran pembaruan dan antikolonialisme. Para jamaah haji tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga mengalami transformasi intelektual dan ideologis yang kemudian dibawa pulang ke tanah air.</p>
<p>Karena itu, pemerintah kolonial Belanda memandang para haji sebagai sosok potensial yang perlu diawasi. Berdasarkan saran Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis dan penasihat utama pemerintah Hindia Belanda, dikeluarkanlah Ordonansi Haji 1916 sebagai upaya untuk mengatur—dan sebenarnya mengendalikan—arus umat Islam yang pergi ke Tanah Suci. Tujuan utamanya bukan hanya administratif, tetapi juga politis: mencegah munculnya pemimpin-pemimpin lokal yang terinspirasi oleh semangat perlawanan Islam global.</p>
<p>Snouck Hurgronje menyadari bahwa Islam, jika dimobilisasi secara sosial-politik, bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas kolonial. Oleh karena itu, ia menyarankan agar ibadah haji dan ekspresi keagamaan dibiarkan berjalan sebatas ritual, tetapi diawasi agar tidak menjadi kekuatan politik.</p>
<p>Sejarawan Taufik Abdullah menambahkan bahwa para haji bukanlah figur pasif. Mereka sering kali menjadi penggerak perubahan di daerah asalnya—baik dalam bentuk pendidikan Islam, pembentukan organisasi sosial, maupun perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Kasus Haji Wasid dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 menjadi salah satu bukti bagaimana pengalaman spiritual haji bisa menjelma menjadi energi resistensi sosial.</p>
<p>Dari perspektif Mazhab Ciputat—yang dikenal sebagai aliran pemikiran Islam progresif, kontekstual, dan rasional yang berkembang sejak era Harun Nasution, Nurcholish Madjid, hingga Azyumardi Azra—fenomena haji tidak bisa dipisahkan dari relasi antara agama, negara, dan kekuasaan. Mazhab ini mendorong kita untuk tidak hanya melihat haji secara normatif-teologis, tetapi juga secara sosiologis, historis, dan politis.</p>
<p>Mazhab Ciputat memandang agama sebagai kekuatan kultural yang hidup di tengah masyarakat dan senantiasa dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan politik. Gelar “Haji” dalam masyarakat Indonesia misalnya, adalah produk dari relasi kolonial yang justru memanfaatkan agama sebagai alat kontrol sosial. Gelar itu, meskipun kini dimaknai sebagai prestise moral, pada awalnya lahir sebagai bagian dari proyek administrasi dan kontrol kolonial terhadap umat Islam.</p>
<p>Dalam semangat Islam rasional dan kontekstual ala Harun Nasution, haji seharusnya dimaknai sebagai proses penyadaran spiritual yang membuahkan etika sosial. Bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi panggilan untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan. Mazhab Ciputat akan mengajak kita melihat bahwa pengalaman haji bukan puncak dari kesalehan individual, melainkan titik awal dari komitmen moral untuk perubahan sosial.</p>
<p>Lebih jauh lagi, Azyumardi Azra sebagai representasi Mazhab Ciputat generasi baru, menunjukkan bahwa ibadah haji sejak dahulu merupakan bagian dari dinamika Islam kosmopolitan. Para haji menjadi perantara pertukaran ide, pembaruan pemikiran, dan pembentukan solidaritas lintas bangsa. Maka dari itu, pembatasan terhadap haji oleh kolonial bukan hanya persoalan kontrol administratif, melainkan strategi untuk memutus jejaring kesadaran Islam global yang semakin berpengaruh terhadap gerakan pembebasan nasional.</p>
<p>Sudah saatnya umat Islam di Indonesia merefleksikan ulang makna haji—tidak hanya sebagai ritual individual, tetapi sebagai pengalaman transformasi sosial. Dalam kerangka Mazhab Ciputat, haji adalah medium pembebasan spiritual yang menuntut tanggung jawab sosial. Ibadah ini harus membentuk manusia yang sadar akan ketertindasan, peka terhadap ketimpangan, dan terlibat dalam perjuangan etis untuk kemanusiaan.</p>
<p>Sebagaimana warisan para haji dalam sejarah Indonesia: mereka bukan hanya pulang dengan gelar, tetapi dengan tekad untuk membangun masyarakat yang lebih adil, tercerahkan, dan merdeka dari segala bentuk penindasan.</p>
<p><em>*Penulis adalah Trio MAS FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.kompas.com/crops/CpH0WQMU3H4B_X3WAP9EAcsp90U=/0x0:698x465/1200x800/data/photo/2022/06/14/62a86b7872233.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Memperingati Nuzul al-Qur’an di Indonesia</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-memperingati-nuzul-al-quran-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2025 02:17:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Nuzul al-Qur’an]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=79210</guid>

					<description><![CDATA[Oleh:Murodi al-Batawi Puasa Ramadhan kita sudah memasuki sepuluh hari kedua, yaitu hari yang penuh dengan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh:Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Puasa Ramadhan kita sudah memasuki sepuluh hari kedua, yaitu hari yang penuh dengan (مغفرة) ampunan, setelah sebelumnya berada pada hari yang penuh dengan (رحمة) rahmah, kasih sayang. InsyaAllah, kita memperoleh keduanya. Di tengah malam yang penuh dengan ampunan (مغفرة) ada satu peristiwa menggemparkan dunia, yaitu peristiwa turunnya al-Qur’an (نزول القرأن). Malam Nuzul al-Qur’an selalu diperingati setiap tahunnya, sehingga menjadi sebuah tradisi yang sangat baik untuk dilaksanakan.</p>
<h3>Tradisi Memperingati Nuzulul Qur&#8217;an</h3>
<p>Malam Nuzulul Qur&#8217;an adalah malam yang sangat penting dalam kalender Islam. Pada malam ini, umat Muslim di seluruh dunia memperingati turunnya Al-Qur&#8217;an, kitab suci umat Islam, kepada Nabi Muhammad SAW. Malam Nuzulul Qur&#8217;an adalah malam yang diturunkannya Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadan, tahun 610 M, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.</p>
<h4>Sejarah Tradisi Memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an</h4>
<p>Tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada malam ini, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT.</p>
<p>Pada zaman Nabi Muhammad SAW tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dilakukan dengan melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan para sahabatnya untuk memperingati malam ini dengan melakukan ibadah dan membagikan sedekah kepada fakir miskin.</p>
<p>Kemudian pada zaman Para Sahabat dan Taabi&#8217;in Tabi&#8217;in, tradisi ini masih terus dilakukan dengan melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Mereka juga membagikan sedekah kepada fakir miskin dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya.</p>
<p>Selanjutnya di zaman modern, tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an tetap dilakukan dengan melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Umat Muslim di seluruh dunia juga memperingati malam ini dengan melakukan kegiatan keagamaan lainnya, seperti membaca Al-Qur&#8217;an, mengadakan khotbah dan ceramah, dan membagikan sedekah kepada fakir miskin.</p>
<h4>Tradisi Perayaan Nuzul al-Qur’an di Indonesia</h4>
<p>Nuzul al-Qur’an diperingati oleh hampir seluruh penduduk Muslim Dunia, termasuk Indonesia. Beragam nama dan tradisi yang disematkan pada perayaan malam Nuzul al-Qur’an ini, seperti ;</p>
<p>&#8211; Maleman (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat): Tradisi ini dilakukan dengan membuat kue serabi yang kemudian dibagikan ke lingkungan sekitar. Di Bali, tradisi ini dilakukan dengan membuat tumpeng yang kemudian dibawa ke masjid atau musala terdekat ¹.<br />
&#8211; Malam Pitu Likukh (Lampung): Tradisi ini dilakukan dengan penancapan obor besar yang terbuat dari susunan batok kelapa. Masyarakat Lampung juga menyiapkan hidangan seperti kuah beulangong.</p>
<p>&#8211; Keriang Bandong (Kalimantan Barat): Tradisi ini dilakukan dengan pemasangan ribuan lampu yang terbuat dari batang bambu dengan sumbu di atasnya.</p>
<p>&#8211; Khatam Al-Quran dan Sorban Berjalan (Jawa Timur): Tradisi ini dilakukan dengan mengarak sorban yang dianggap sakral oleh penduduk setempat. Setiap orang yang dilewati oleh sorban tersebut wajib menaruh sumbangan berupa uang seikhlasnya di atas sorban tersebut.</p>
<p>&#8211; Kuah Beulangong (Aceh dan Sumatera Utara): Tradisi ini dilakukan dengan mengolah hidangan seperti kuah beulangong yang terbuat dari daging sapi, kambing, atau kerbau yang dicampur dengan nangka muda.</p>
<p>Tradisi-tradisi tersebut merupakan contoh keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia dalam memperingati Nuzulul Qur&#8217;an. Perayaan Nuzulul Qur&#8217;an di Indonesia telah dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno dan dilanjutkan oleh pemerintahan saat ini. Dan peringatan malam Nuzul al-Qur’an ini sering juga dilaksanakan di istana begara sebagai momen nasional.</p>
<p>Perayaan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara telah menjadi tradisi sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno. Acara ini biasanya digelar setiap tanggal 17 Ramadan dan dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri.</p>
<p>Acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara biasanya diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an, tausiyah, dan doa bersama. Pada tahun 2019, Presiden Joko Widodo menggelar acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara dengan tema &#8220;Kebersamaan dan Keberagaman Perspektif Al-Qur&#8217;an&#8221;</p>
<p>Selain itu, acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara juga diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an oleh qori dan qoriah terbaik dari seluruh Indonesia. Pada tahun 2011, acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an oleh Qori terbaik II pada seleksi nasional di Kalimantan Selatan H. Sabaruddin dan Qori terbaik II pada pekan MTQ RRI Tingkat Nasional 2011 di Bandar Lampung H. Raden Harmoko.</p>
<h3>Hikmah Malam Nuzul al-qur’an</h3>
<p>Malam Nuzulul Qur&#8217;an adalah malam yang sangat istimewa bagi umat Islam, karena pada malam itu Al-Qur&#8217;an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Berikut beberapa hikmah Malam Nuzulul Qur&#8217;an:</p>
<p>1. Mengingatkan Kembali Kepada Allah SWT<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengingatkan kita kembali kepada Allah SWT, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.</p>
<p>2. Menghargai Al-Qur&#8217;an sebagai Pedoman Hidup<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengingatkan kita tentang pentingnya Al-Qur&#8217;an sebagai pedoman hidup. Al-Qur&#8217;an adalah kitab suci yang berisi petunjuk dan bimbingan bagi umat manusia.</p>
<p>3. Meningkatkan Ketaqwaan dan Kekhusyuan<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengajak kita untuk meningkatkan ketaqwaan dan kekhusyuan dalam beribadah. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang pentingnya ketaqwaan dan kekhusyuan dalam beribadah.</p>
<p>4. Mengingatkan Kembali Kepada Perjuangan Nabi Muhammad SAW<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengingatkan kita kembali kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang pentingnya perjuangan dan pengorbanan dalam menyebarkan ajaran Islam.</p>
<p>5. Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengajak kita untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang pentingnya ukhuwah Islamiyah.</p>
<h3>Hikmah Peringatan Nuzulul Qur&#8217;an</h3>
<p>Di samping itu, peringatan Nuzulul Qur&#8217;an memiliki beberapa hikmah, antara lain:</p>
<p>&#8211; Ketentraman Hati: Al-Qur&#8217;an dapat menenangkan hati dan memberikan ketentraman bagi orang yang membacanya.<br />
&#8211; Pedoman Hidup: Al-Qur&#8217;an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, yang berisi ayat-ayat tentang keesaan Allah SWT dan landasan dalam menjalankan kehidupan.<br />
&#8211; Keberkahan: Peringatan Nuzulul Qur&#8217;an identik dengan Malam Lailatul Qadr, yang memiliki keberkahan dan pahala yang besar bagi orang yang menjalankannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.</p>
<h3>Pendapat Para Ulama dan Mujtahid Besar Islam</h3>
<p>Para ulama dan mujtahid besar Islam memiliki pendapat yang sama tentang tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an. Mereka menjelaskan bahwa tradisi ini dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p><strong>Imam Al-Ghazali</strong><br />
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya &#8220;Ihya&#8217; Ulumuddin&#8221; menjelaskan bahwa tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p><strong>Imam Ibn Taimiyah</strong><br />
Imam Ibn Taimiyah dalam kitabnya &#8220;Majmu&#8217; Al-Fatawa&#8221; menjelaskan bahwa tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p><strong>Imam An-Nawawi</strong><br />
Imam An-Nawawi dalam kitabnya &#8220;Riyadhus Shalihin&#8221; menjelaskan bahwa tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an yang telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, terus dipertahankan. Tradisi ini dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Para ulama dan mujtahid besar Islam juga memiliki pendapat yang sama tentang tradisi ini.</p>
<p>Demikian dan insyaAllah bermanfaat<br />
[Odie].</p>
<p>Pamulang, 10 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2020/05/9-HIKMAH-MALAM-NUZUL-QURAN.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Rajab dan Perayaan Isra Mi’raj di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/rajab-dan-perayaan-isra-miraj-di-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2025 07:15:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Isra Mi’raj]]></category>
		<category><![CDATA[Rajab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=78972</guid>

					<description><![CDATA[Masyarakat Betawi selalu menanti moment peristiwa penting dalam Sejarah Islam, salah satunya moment memperingati perayaan peristiwa Isra Mi’raj.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></p>
<p>Dalam Kalender Islam, Bulan Rajab adalah Bulan Ketujuh, setelah Bulan Jumadil Akhir. Kata Rajab berasal dari kata Rajaba, artinya menghormati atau mengagungkan. Pemberian nama ini karena pada bulan ini Suku-suku di Arab dahulu sangat menghormati dan mengagungkannya. Pada bulan ini diharamkan semua suku melakukan peperangan dan pertumpahan darah. Karenanya, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya untuk menjalin kembali tali silaturrahim yang terputus ketika terjadi peperangan di antara suku-suku tersebut. Mereka memaafkan kesalahan yang telah terjadi. Karena itu, banyak umat Islam kemudian memanfaatkan bulan ini dengan berbagai kegiatan karena dinilai banyak keutamaan yang terdapat pada bulan Rajab ini.</p>
<p>Di antara keutamaan bulan Rajab adalah terbukanya pintu Taubat. Pintu Taubat terbuka secara lebar untuk semua dosa yang dilakukan manusia, kecuali dosa Syirik. Makanya, banyak umat Islam melakukan pertaubatan untuk memohon ampun dari semua dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Bahkan di beberapa wilayah, seperti masyarakat Betawi dan masyarakat Banten, melaksanakan bersih diri di sore hari untuk memasuki bulan Rajab dan berpuasa pada keesokan harinya. Ada yang berpuasa satu sampai 1-3 hari dan ada yang berpuasa selama sebulan penuh. Mereka berharap memperoleh pahala dan ampunan di bulan Rajab tersebut.</p>
<h3>Beberapa peristiwa penting di bulan Rajab</h3>
<p>Pada bulan Rajab Siti Aminah mulai mengandung Janin Muhammad, hasil dari perkawinan Siti Aminah bt Wahab dan Abdullah bin Abdul Muthalib. Janin yang memang ditunggu mereka. Bahkan dalam satu riwayat, Abdullah bin Abdul Muthalib merupakan seorang pemuda tampan di wajahnya dan tubuhnya tersimpan sinar bercahaya yang menjadi incaran semua para gadis di kota Mekkah. Tetapi, setelah Abdullah menikah dengan Siti Aminah, cahaya tersebut hilang dan berpindah ke dalam tubuh Siti Aminah. Cahaya tersebut kemudian diakui oleh para gadis dan penduduk Mekkah bahwa cahaya tersebut bukan cahaya biasa, tapi cahaya sebagai simbol akan lahir seseorang dari rahim Siti Aminah yang akan menjadi orang besar.</p>
<p>Peristiwa penting yang tercatat dalam Sejarah Islam adalah Hijrah Pertama ke Habasyah yang terjadi pada tahun ke-5 Kenabian. Nabi menganjurkan agar umat Islam Mekkah yang mendapat gangguan dan siksaan oleh kafir Quraisy, untuk hijrah ke Habasyah atau Ethiopia. Tujuannya untuk menghindari berbagai gangguan dan siksaan dari pembesar dan penduduk kafir Mekkah. Pertanyaannya kemudian mengapa memilih Habasyah bukan Yaman atau Syam untuk pergi hijrah.<br />
Jawabannya, Habasyah negeri netral dan dipimpinnoleh seorang Raja Nasrani yang adil dan jujur. Sedang Yaman berada di bawah pengaruh dan pendudukan Persia. Sementara Syam berada di bawah pengaruh bangsa Romawi.</p>
<p>Setelah mempersiapkan segalanya, umat Islam Mekkah, terdiri dari 11 orang lelaki dan 5 orang perempuan. Hijrah kali ini dipimpin Usman bin Affan didampingi oleh isterinya Ruqayah binti Rasulillsh saw. Di Habasyah, mereka diterima dengan baik oleh raja Najasyi. Hijrah pertama ini menandakan dakwah Islam pertama yang terjadi di luar kota Mekkah dan kemudian hijrah ke beberapa tempat lain, seperti Thaif dan terakhir ke Madinah.</p>
<h3>Peristiwa Isra Mi’raj: Sebuah Catatan Penting dan Bersejarah</h3>
<p>Dan Peristiwa terpenting lainnya peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab yang menghasilkan perintah Allah kepada Nabi dan umat Islam untuk melaksanakan Shalat 5 waktu sehari semalam.</p>
<p>Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, Nabi Muhammad saw dibangunkan oleh Malsikat Jibril dan dibawa ke Masjidil Haram. Nabi Muhammad saw menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjifil Aqsha dan beribadah di sana. Kemudian dari Masjdil Aqsha, nabi Muhammad saw melakukan Mi’raj ke Sidratil Muntaha. Dalam perjalan tersebut nabi Muhammad saw bertemu dengan para nabi terdahulu; seperti nabi di langit pertama nabi Muhammad bertemu dengan nabi Adam. Di langit kedua, nabi Muhammad saw bertemu dengan nabi Yahya dan nabi Isa. Bertemu dengan nabi Musa Isa, dan nabi Ibrahim. Hingga ke langit ketujuh, beliau bertemu dengan Allah swt. Di situlah beliau menerima perintah untuk melaksanakan Shalat lima waktu.</p>
<h3>Peringatan Isra Mi’raj di Betawi</h3>
<p>Ada yang menarik dari tradisi perayaan peringatan Isra Mi’raj di Betawi. Masyarakat Betawi selalu menanti moment peristiwa penting dalam Sejarah Islam, salah satunya moment memperingati perayaan peristiwa Isra Mi’raj.</p>
<p>Biasanya mereka mempersiapkan perayaan tersebut dengan apik dan cukup meriah. Masjid dan Mushalla dibersihkan dan dicat ulang. Masyarakat Betawi, biasanya, melakukan gotong royong, termasuk persiapan menu masakan yang dilakukan. Mulai dari pengumpulan uang belanja. Membeli bahan masakan dan lalu mereka secara bersama-sama, terutama ibu-ibu memasak di dapur. Bahan yang sudah mereka beli, mereka bersihkan. Termasuk membersihkan hewan, seperti ayam dan kambing untuk dimasak.</p>
<p>Sementara para bapak dan panitia mempersiapkan tempat acara perayaan peringatan Isra Mi’raj. Panitia menjemput Kyai/ Ulama yang diundang sebagai pemberi materi atau ceramah tentang Isra Mi’raj.</p>
<p>Dahulu, sekitar akhir tahun 60-an saat belum ada listrik, masyarakat mempersiapkan beberapa petromax, sebagai alat penerang. Masyarakat Betawi, sebelum Maghrib, berdatangan ke Masjid atau Mushalla untuk melaksanakan Shalat Maghrib berjama’ah. Usai shalat, mereka berdzikir dan berdo’a untuk kesehatan, kebahagiaan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat. Sambil menunggu waktu Shalat Isya, mereka membaca al-qur’an dan berdiskusi banyak hal, terutama terkait persoalan keagamaan. Tiba saat Shalat Isya, mereka sudah siap melaksanakannya. Kemudian mereka biasanya berdzikir dan berfo’a bersama. Serelah itu, mereka menata kembali ruangan atau tempat untuk kegiatan pengajian berupa ceramah tentang Isra Mi’raj. Sambil menunggu penceramah, mereka mempersiapkan hidangan ringan untuk mereka dan penceramah.</p>
<p>Biasanya, penceramah yang diundang tidak hanya satu orang, tiga orang, bahkan lebih. Persis seperti pemilihan da’i. Para penceramah yang diundang biasanya yang sedang ngetop atau istilah sekarang viral. Seperti pada 1970-1980 an, penceramahnya terdiri dari KH. Hasyim Adnan. KH. Syukon Makmun. KH. Idham Kholid, KH. Zainuddin MZ, dan lain-lain. Mereka semuanya tampil, meski hanya 30 menit. Meski begitu, jama’ahnya membludag. Mereka baru pulang setelah rangkaian acara peringatan Isra Mi’raj usai, medki waktu penutupannya sekitar pukul 24.00 wib. Mereka senang mendapatkan ilmu pengetahuan agama yang mereka peroleh dari para Kyai berilmu.</p>
<p>Namun, sebelum mereka pulang, mereka sudah mendapatkan berkat atau ambengan, yang dimasak para ibu-ibu atau mereka membawanya dari rumah masing-masing yang dikumpulkan ke Masjid atau Mushalla. Kemudian usai mendengarkan ceramah, mereka ada yang dan banyak pula yang makan di lokasi acara dan membungkusnya untuk dibawa pulang.</p>
<p>Dahulu, makanan terenak adalah nasi berkat yang dibawa orang tua dari acara yang dilaksanakan di Masjid atau Mushalla. Mungkin karena sudah dibacakan do’a, sehingga memakannya terasa nikmat luar biasa {Odie}</p>
<p><em>Pamulang,11 Januari 2025</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/islamic-center.or.id/wp-content/uploads/2024/02/DSC09661-1024x576.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Si Pitung: Bentuk Perlawanan Masyarakat Betawi Pada Penjajah Belanda</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/si-pitung-bentuk-perlawanan-masyarakat-betawi-pada-penjajah-belanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2024 05:36:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=75724</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al- Batawi Belanda yang datang ke Indonesia pada 1596 M berhasil mengubah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al- Batawi</p>
<p>Belanda yang datang ke Indonesia pada 1596 M berhasil mengubah haluannya dari yang semula hendak berdagang dan membeli rempah-rempah dari penduduk pribumi, menjadi kolonial, serelah Jan Vieter Z Coen menjadi gubernur jenderal pada 1626 M. 23 tahun setelah VOC (Vereenidge Oast Indiche Compagnie ) beroperasi di Batavia.</p>
<p>Kemudian Belanda menjadikan Kota Batavia sebagai pusat pemerintahan di Indonesia. Perdagangan dan penjajahan di Batavia dan kemudian di seluruh Indonesia, menimbulkan kegelisahan bagi penduduk pribumi, bahkan pemberontakan.</p>
<p>Hal itu terjadi karena penjajah Belanda yang kafir bertindak semena-mena terhadap masyarkat asli penduduk Batavia dan penduduk daerah lainnya saat itu. Tidak hanya tanah dan harta pribumi diambil paksa, juga jiwa mereka.</p>
<p>Belanda dengan menggunakan persenjataan muatakhir saat itu, mampu menakut-nakuti bahkan membunuh siapa saja yang berani melawan Belanda. Meskipun Belanda kadang berhasil memberangus para penentangnya, tetap saja selalu datang perlawanan dari para penduduk pribumi yang tidak suka dan tertindas.</p>
<p>Mereka melakukan perlawanan baik individu maupun berkelompok. Untuk menghadapi pemberontakan tersebut, Belanda juga menggunakan kaki tangan pribumi yang selama itu sudah membantu pekerjaan Belanda sebagai penghasil dan penjual rempah.</p>
<p>Mereka membantu Belanda karena selama itu mereka sudah diuntungkan, baik secara finansial maupun kedududukan. Tampaknya Belanda melihat itu sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengusir dan melawan <em>inlander</em> yang selama ini dianggap telah mengganggu usaha mereka di tanah jajahannya.</p>
<p>Dengan begitu, Belanda akan sangat mudah memecah belah perlawanan penduduk pribumi. Dengan politik <em>Devide et Imper</em>, Belanda berhasil mengadu domba antara pribumi yang pro Belanda dengan penduduk yang anti Belanda.</p>
<p>Penduduk pribumi pro Belanda kemudian diangkat dan diberi jabatan Demang yang dioerbolehkan memiliki pasukan <em>Marsose</em> sendiri. Pasukannya inilah yang menjaga dan melindungi kepentingan Demang dan kepentingan Belanda di tanah jajahannya.</p>
<p>Sementara penduduk pribumi yang anti dan menolak kehadiran Belanda kafir melakukan perlawanan. Mereka ada bertindak secara pribadi atsu kelompok. Di antara perlawanan yang dilakukan secara individual dilakukan oleh Madarip, seorang tokoh pejuang masyarakat Betawi dari Bekasi. Sedang perlawanan yang dilakukan secara berkelompok seperti yang dilakukan oleh Perlawanan si Pitung di tanah Betawi.</p>
<p>Selama ini, pengetahuan kita tentang si Pitung adalah seorang tokoh yang berjuang sendirian di tanah Betawi. Padahal, Pitung itu merupakan kelompok perlawanan yang terdiri dari 7 orang jago Silat dan memiliki pebgetahuan ilmu agama serta anggota sebuah Tarekat di Betawi. Jika satu orang anggota tewas, diganti dengan orang lain yang lulus ujian.</p>
<p>Kata <em>Pitung</em> berasal dari kata <em>Pitu Putulun</em>g. artinya, Tujuh Orang pandai Silat dan menguasai ilmu agama, yang bisa memberikan pertolongan untuk membebaskan masyarakat dari ketertindasan.</p>
<h3>Sejarah Si Pitung di Betawi</h3>
<p>Seperti disinggung pada bagian sebelumnya, selama ini, masyarakat Betawi mengenal Si Pitung sebagai seorang Pejuang di Betawi dan di mata Belanda sebagai seorang perampok. Jika di Inggris ada orang bernama Robin Hood Pendeskrediran Si Pitung sebagai perampok itu untuk mengacaukan dan memecah belah bentuk perlawanan masyarakat pribumi di Betawi. Karena si Pitung sering merampok Demang dan antek-anteknya dan menguras harta benda Kompeni. Dan hasil rampokannya bukan untuk si Pitung sendiri, tapi dibagi-bagi untuk masyarakat miskin di daerah Betawi.</p>
<p>Untuk menghadapi bentuk perlawanan di Pitung, Belanda mengangkat Demang, Marsose dan jagoan silat di Betawi. Mereka dikasih kedudukan dan upah yang pantas bagi para penjilat Belanda. Akhirnya, di situlah terjadi bentrokan hebat antara si Pitung dengan para jawara Betawi yang sudah dicucuk hidungnya.</p>
<p>Menurut Iwan Mahmoed al-Fatah, organisasi perlawanan rakyat Betawi ini dibentuk pada 1880 M. oleh H. Naipin, seorang ulama dan ahli Silat dari Tenabang.</p>
<p>Untuk menjadi calon anggota si Pitung, lanjut Iwan, mereka, para santri terbaik wajib mengikuti tes seleksi yang sangat ketat. Tes jurus terakhir dari Silat yang pernah diajarkan H. Naipin, ujian ilmu agama dan Tarekat yang diajarkan. Terakhir pembacaan khataman al-Qur’an. Setelah dinyatakan lulus, mereka dibai’at untuk tetap setia dan berjihad fi Sabilillah. Setia pada persahabatan, selalu menolong rakyat. Hormat pada kedua orang tua, guru dan sesepuh adat. Setelah itu, mereka baru disebut sebagai si Pitung.</p>
<p>Penyebutan nama Pitung, lanjut Iwan, terinspirasi oleh QS al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat. Karenanya, mereka selalu ditekankan untuk mempraktikkan dan mengamalkan isi dan kandungan QS. al-Fatihah.</p>
<p>Diantara ke 7 Pendekar itu dipilihlah Radin Muhammad Ali Nitikusuma. Ia merupakan murid kesayangan H. Naipin, selain keponakannya sendiri, ia juga termasuk yang paling cerdas dan kuat serta menguasai semua ilmu yang diajarkan H. Naipin. Ia ditinggal oleh ayahnya karena dibunuh tuan tanah dan centeng-centeng Cina. Hartanya dirampas dan saudara-saudaranya difitnah dan diburu. Ia jadi yatim dalam usia dua tahun. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seirang duda dari daerah Kemanggisan. Kemudian, Muahmmad Ali Nitikusuma, dijadikan anak angkat H. Naipin. Ia dididik dengan baik oleh H. Naipin sehingga ia menguasai semua ilmu yang diajarkannya.</p>
<h3>Raden Bagus Muhammad Roji’ih atau Bang Ji’ih</h3>
<p>Menurut IwanMahmoed, orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji&#8217;ih Nitikusuma. Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji&#8217;ih.</p>
<p>Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justeru sangat cerdas dan penuh perhitungan.5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya, mereka adalah Abdul Qodir, Abdus Shomad, Saman, Rais, Jebul ( Ki Dulo/Abdulloh).</p>
<p>Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus blur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang,terkapar, sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.</p>
<p>Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbiritbirit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung.</p>
<p>Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok. Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko, dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun, lanjut Iwan, mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose.</p>
<p>Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid. Dji&#8217;ih tertembak tahun 1899 Masehi, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir. Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander yg menjadi saudaranya sendiri.</p>
<p>Jasad Muhammad Ali atau Bang Pitung yang tidak sempurna, lanjut Iwan, kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.</p>
<p>Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, kisah mereka adalah kisah perlawanan kaum muslimin yang tertindas oleh penjajah kafir dan antek anteknya Mereka adalah Mujahid Sejati yang membela agama Islam dan rakyat Jakarta, mereka bukan Perampok, mereka orang orang terpelajar dan juga mengerti tentang dunia politik yang diterapkan penjajah</p>
<p>Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai zimat seperti dituduhkan banyak orang.</p>
<p>Semua anggota Pitung, menurut Iwan lebih lanjut, hanya diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Tassawuf, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya&#8230;</p>
<p>Disadur dari berbagai sumber.</p>
<p>Demikian dan terima kasih<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.radiobrite.com/images/2020/Si-Pitung.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Si Pitung: Bentuk Perlawanan Masyarakat Betawi Pada Penjajah Belanda</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/si-pitung-bentuk-perlawanan-masyarakat-betawi-pada-penjajah-belanda-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2024 05:34:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Si Pitung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=76324</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al- Batawi Belanda yang datang ke Indonesia pada 1596 M berhasil mengubah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al- Batawi</strong></em></p>
<p>Belanda yang datang ke Indonesia pada 1596 M berhasil mengubah haluannya dari yang semula hendak berdagang dan membeli rempah-rempah dari penduduk pribumi, menjadi kolonial, serelah Jan Vieter Z Coen menjadi gubernur jenderal pada 1626 M. 23 tahun setelah VOC (Vereenidge Oast Indiche Compagnie ) beroperasi di Batavia.</p>
<p>Kemudian Belanda menjadikan Kota Batavia sebagai pusat pemerintahan di Indonesia. Perdagangan dan penjajahan di Batavia dan kemudian di seluruh Indonesia, menimbulkan kegelisahan bagi penduduk pribumi, bahkan pemberontakan.</p>
<p>Hal itu terjadi karena penjajah Belanda yang kafir bertindak semena-mena terhadap masyarkat asli penduduk Batavia dan penduduk daerah lainnya saat itu. Tidak hanya tanah dan harta pribumi diambil paksa, juga jiwa mereka.</p>
<p>Belanda dengan menggunakan persenjataan muatakhir saat itu, mampu menakut-nakuti bahkan membunuh siapa saja yang berani melawan Belanda. Meskipun Belanda kadang berhasil memberangus para penentangnya, tetap saja selalu datang perlawanan dari para penduduk pribumi yang tidak suka dan tertindas.</p>
<p>Mereka melakukan perlawanan baik individu maupun berkelompok. Untuk menghadapi pemberontakan tersebut, Belanda juga menggunakan kaki tangan pribumi yang selama itu sudah membantu pekerjaan Belanda sebagai penghasil dan penjual rempah.</p>
<p>Mereka membantu Belanda karena selama itu mereka sudah diuntungkan, baik secara finansial maupun kedududukan. Tampaknya Belanda melihat itu sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengusir dan melawan <em>inlander</em> yang selama ini dianggap telah mengganggu usaha mereka di tanah jajahannya.</p>
<p>Dengan begitu, Belanda akan sangat mudah memecah belah perlawanan penduduk pribumi. Dengan politik <em>Devide et Imper</em>, Belanda berhasil mengadu domba antara pribumi yang pro Belanda dengan penduduk yang anti Belanda.</p>
<p>Penduduk pribumi pro Belanda kemudian diangkat dan diberi jabatan Demang yang dioerbolehkan memiliki pasukan <em>Marsose</em> sendiri. Pasukannya inilah yang menjaga dan melindungi kepentingan Demang dan kepentingan Belanda di tanah jajahannya.</p>
<p>Sementara penduduk pribumi yang anti dan menolak kehadiran Belanda kafir melakukan perlawanan. Mereka ada bertindak secara pribadi atsu kelompok. Di antara perlawanan yang dilakukan secara individual dilakukan oleh Madarip, seorang tokoh pejuang masyarakat Betawi dari Bekasi. Sedang perlawanan yang dilakukan secara berkelompok seperti yang dilakukan oleh Perlawanan si Pitung di tanah Betawi.</p>
<p>Selama ini, pengetahuan kita tentang si Pitung adalah seorang tokoh yang berjuang sendirian di tanah Betawi. Padahal, Pitung itu merupakan kelompok perlawanan yang terdiri dari 7 orang jago Silat dan memiliki pebgetahuan ilmu agama serta anggota sebuah Tarekat di Betawi. Jika satu orang anggota tewas, diganti dengan orang lain yang lulus ujian.</p>
<p>Kata <em>Pitung</em> berasal dari kata <em>Pitu Putulun</em>g. artinya, Tujuh Orang pandai Silat dan menguasai ilmu agama, yang bisa memberikan pertolongan untuk membebaskan masyarakat dari ketertindasan.</p>
<h3>Sejarah Si Pitung di Betawi</h3>
<p>Seperti disinggung pada bagian sebelumnya, selama ini, masyarakat Betawi mengenal Si Pitung sebagai seorang Pejuang di Betawi dan di mata Belanda sebagai seorang perampok. Jika di Inggris ada orang bernama Robin Hood Pendeskrediran Si Pitung sebagai perampok itu untuk mengacaukan dan memecah belah bentuk perlawanan masyarakat pribumi di Betawi. Karena si Pitung sering merampok Demang dan antek-anteknya dan menguras harta benda Kompeni. Dan hasil rampokannya bukan untuk si Pitung sendiri, tapi dibagi-bagi untuk masyarakat miskin di daerah Betawi.</p>
<p>Untuk menghadapi bentuk perlawanan di Pitung, Belanda mengangkat Demang, Marsose dan jagoan silat di Betawi. Mereka dikasih kedudukan dan upah yang pantas bagi para penjilat Belanda. Akhirnya, di situlah terjadi bentrokan hebat antara si Pitung dengan para jawara Betawi yang sudah dicucuk hidungnya.</p>
<p>Menurut Iwan Mahmoed al-Fatah, organisasi perlawanan rakyat Betawi ini dibentuk pada 1880 M. oleh H. Naipin, seorang ulama dan ahli Silat dari Tenabang.</p>
<p>Untuk menjadi calon anggota si Pitung, lanjut Iwan, mereka, para santri terbaik wajib mengikuti tes seleksi yang sangat ketat. Tes jurus terakhir dari Silat yang pernah diajarkan H. Naipin, ujian ilmu agama dan Tarekat yang diajarkan. Terakhir pembacaan khataman al-Qur’an. Setelah dinyatakan lulus, mereka dibai’at untuk tetap setia dan berjihad fi Sabilillah. Setia pada persahabatan, selalu menolong rakyat. Hormat pada kedua orang tua, guru dan sesepuh adat. Setelah itu, mereka baru disebut sebagai si Pitung.</p>
<p>Penyebutan nama Pitung, lanjut Iwan, terinspirasi oleh QS al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat. Karenanya, mereka selalu ditekankan untuk mempraktikkan dan mengamalkan isi dan kandungan QS. al-Fatihah.</p>
<p>Diantara ke 7 Pendekar itu dipilihlah Radin Muhammad Ali Nitikusuma. Ia merupakan murid kesayangan H. Naipin, selain keponakannya sendiri, ia juga termasuk yang paling cerdas dan kuat serta menguasai semua ilmu yang diajarkan H. Naipin. Ia ditinggal oleh ayahnya karena dibunuh tuan tanah dan centeng-centeng Cina. Hartanya dirampas dan saudara-saudaranya difitnah dan diburu. Ia jadi yatim dalam usia dua tahun. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seirang duda dari daerah Kemanggisan. Kemudian, Muahmmad Ali Nitikusuma, dijadikan anak angkat H. Naipin. Ia dididik dengan baik oleh H. Naipin sehingga ia menguasai semua ilmu yang diajarkannya.</p>
<h3>Raden Bagus Muhammad Roji’ih atau Bang Ji’ih</h3>
<p>Menurut IwanMahmoed, orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji&#8217;ih Nitikusuma. Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji&#8217;ih.</p>
<p>Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justeru sangat cerdas dan penuh perhitungan.5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya, mereka adalah Abdul Qodir, Abdus Shomad, Saman, Rais, Jebul ( Ki Dulo/Abdulloh).</p>
<p>Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus blur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang,terkapar, sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.</p>
<p>Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbiritbirit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung.</p>
<p>Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok. Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko, dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun, lanjut Iwan, mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose.</p>
<p>Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid. Dji&#8217;ih tertembak tahun 1899 Masehi, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir. Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander yg menjadi saudaranya sendiri.</p>
<p>Jasad Muhammad Ali atau Bang Pitung yang tidak sempurna, lanjut Iwan, kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.</p>
<p>Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, kisah mereka adalah kisah perlawanan kaum muslimin yang tertindas oleh penjajah kafir dan antek anteknya Mereka adalah Mujahid Sejati yang membela agama Islam dan rakyat Jakarta, mereka bukan Perampok, mereka orang orang terpelajar dan juga mengerti tentang dunia politik yang diterapkan penjajah</p>
<p>Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai zimat seperti dituduhkan banyak orang.</p>
<p>Semua anggota Pitung, menurut Iwan lebih lanjut, hanya diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Tassawuf, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya&#8230;</p>
<p>Disadur dari berbagai sumber.</p>
<p>Demikian dan terima kasih<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/chanelmuslim.com/wp-content/uploads/2020/05/si-pitunh.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat dan Lirik Lagu Genjer-genjer yang Identik dengan PKI</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/sejarah-singkat-dan-lirik-lagu-genjer-genjer-yang-identik-dengan-pki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2024 04:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Genjer-genjer]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=76320</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Genjer-genjer adalah sebuah lagu rakyat yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Berikut lirik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Genjer-genjer adalah sebuah lagu rakyat yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Berikut lirik lagu Genjer-genjer, pencipta, dan sejarah singkat di baliknya.</p>
<p>Lirik lagu Genjer-genjer menceritakan tentang tanaman genjer, yaitu sejenis sayuran air yang banyak tumbuh di rawa-rawa dan sawah. Sayuran ini dahulu dikenal sebagai makanan rakyat miskin.</p>
<p>Sebab kala itu, para petani yang terpaksa mengonsumsi tanaman yang dianggap hama tersebut untuk bertahan hidup.</p>
<p>Genjer yang identik dengan hal tersebut digambarkan oleh Muhammad Arif dalam lagu rakyat Genjer-genjer pada era 40-an.</p>
<h3>Sejarah singkat lagu Genjer-genjer</h3>
<p>Dilansir dari buku Mengenal Orde Baru (2021) lagu Genjer-genjer diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Jawa Timur Muhammad Arif pada 1942.</p>
<p>Mulanya, Muhammad Arif membuat lagu Genjer-genjer dalam bahasa Osing sebagai media kritik atas penjajahan. Liriknya menceritakan kehidupan masyarakat Jawa khususnya petani yang mengalami kesulitan pangan di masa penjajahan Jepang.</p>
<p>Setelah merdeka dari Jepang, Muhammad Arief bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada awal tahun 60-an, lagu Genjer-genjer dinyanyikan oleh paduan suara Lekra Banyuwangi dan mulai bergema di kalangan PKI.</p>
<p>Lagu Genjer-genjer juga berhasil dikenal banyak orang setelah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani dan diperdengarkan lewat televisi TVRI Jakarta serta radio RRI.</p>
<p>Berbagai sumber menyebut, bahkan di era pemerintahan Soekarno, Genjer-genjer termasuk lagu populer dan sering dinyanyikan musisi-musisi di berbagai kesempatan.</p>
<p>Sayangnya, citra lagu Genjer-genjer yang semula hanya menggambarkan situasi sulit petani di masa penjajahan Jepang, dimanfaatkan pula oleh pihak PKI sebagai keperluan politik hingga akhirnya dicap sebagai lagu kebangsaan PKI.</p>
<p>Lagu ini sering dinyanyikan dalam acara-acara PKI dan organisasi afiliasinya. Setelah peristiwa G30S 1965, lagu ini dilarang lantaran dianggap sebagai propaganda komunis oleh pemerintah Orde Baru.</p>
<p>Lirik lagu tersebut juga sempat diubah karena propaganda anti-komunis yang dilancarkan oleh pemerintah rezim Orde Baru.</p>
<p>Setelah rezim Orde Baru berakhir pada 1998, larangan resmi terhadap lagu Genjer-genjer berakhir. Lagu ini kini bisa didengar secara bebas, meski stigma lagu tersebut masih amat lekat dengan PKI.</p>
<h3>Lirik lagu Genjer-genjer</h3>
<p>Di bawah ini terdapat lirik lagu Genjer-genjer dan penciptanya yaitu Muhammad Arif dari bahasa Osing, serta terjemahan dalam versi bahasa Indonesia.</p>
<p><em>Lirik lagu Genjer-genjer bahasa Osing</em><br />
<em>Genjer-genjer nong kedokan pating keleler</em><br />
<em>Genjer-genjer nong kedokan pating keleler</em><br />
<em>Emake thulik teko-teko mbubuti genjer</em><br />
<em>Emake thulik teko-teko mbubuti genjer</em></p>
<p><em>Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih</em></p>
<p><em>Genjer-genjer saiki wis digawa mulih</em><br />
<em>Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar</em><br />
<em>Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar</em></p>
<p><em>Dijejer-jejer duintingi padha didhasar</em><br />
<em>Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar</em><br />
<em>Emake jebeng padha tuku nggawa welasan</em><br />
<em>Genjer-genjer saiki wis arep diolah</em></p>
<h3>Lirik lagu Genjer-genjer gubahan Muhammad Arif versi bahasa Indonesia</h3>
<p><em>Genjer-genjer bertaburan di pematang</em><br />
<em>Emak si Buyung datang mencabut genjer</em><br />
<em>Setelah mendapatkan satu tenong lalu berhenti</em><br />
<em>Genjer-genjer sekarang dibawa pulang</em></p>
<p><em>Genjer-genjer pagi-pagi di bawa ke pasar</em><br />
<em>Ditata dalam ikatan lalu digelar</em><br />
<em>Emak si Jebeng beli genjer mendapat tambahan</em><br />
<em>Genjer-genjer sekarang harus dimasak</em></p>
<p><em>Genjer-genjer dimasukkan ke dalam kuali panas</em><br />
<em>Setelah setengah matang di angkat untuk lauk</em><br />
<em>Nasi di piring dan sambal jeruk di atas cobek</em><br />
<em>Genjer-genjer dimakan bersama nasi</em></p>
<h3>Lirik lagu Genjer-genjer versi Orde Baru</h3>
<p>Sementara itu, di bawah ini terdapat lirik lagu Genjer-genjer yang versi Orde Baru atau telah diubah seperti yang pernah dimuat di surat kabar Harian KAMI.</p>
<p><em>Jenderal-jenderal di ibukota tersebar</em><br />
<em>Emak Gerwani datang untuk menculik jenderaL</em><br />
<em>Dapat satu truk, membelakangi yang menoleh ke kanan dan kiri</em></p>
<p><em>Jenderal-jenderal sekarang sudah tertangkap</em><br />
<em>Jenderal-jenderal pada pagi hari disiksa</em><br />
<em>Dibariskan, diikat, dan dihajar</em></p>
<p><em>Emak Gerwani datang semua untuk menghajar</em><br />
<em>Jenderal-jenderal maju lalu dibunuh</em></p>
<p>Itulah lirik lagu Genjer-genjer dan penciptanya yaitu Muhammad Arif serta sejarah di baliknya. Semoga membantu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/static.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/0x0/webp/photo/indizone/2023/04/03/DNsgzXN/sejarah-lagu-genjer-genjer-yang-kemudian-jadi-propaganda-pki44.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Maulid Nabi di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 00:10:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahekonomi.com/?p=75080</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama yang seratus persen dianut. Hampir semua tradisi yang ada dan dilaksanakan umat Islam, selalu dilaksanakan secara baik oleh masyarakat Betawi.</p>
<p>Di antara tradisi yang selalu dilaksanakan adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw atau dikenal dengan sebutan Maulid Nabi Muhammad saw yang dilaksanakan pada setiap bulan Maulid. Bulan ini dikenal Muslim Indonesia sebagai bulan-bulan yang diagungkan Muslim Dunia, termasuk Muslim Indonesia, karena memiliki nilai haistoris luar biasa.</p>
<p>Pada bulan ini, dikenal sebagai hari kelahiran junjungan kita, Nabi Besar Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal pada 671 M. Beliau dikenal di seluruh umat manusia sebagai manusia yang memiliki posisi tertinggi di sisi Allah swt.</p>
<p>Umat Muslim di Betawi juga sangat memuliakan dan menghormati Rasullah saw sebagai manusia agung. Karenanya, setiap bulan kelahiran beliau selalu diperingati dengan berbagai acara, misalnya dengan mengundang para kyai, para ulama dan habaib untuk berceramah di tengah Muslim Betawi.</p>
<p>Memberikan nasihat dan wejangan untuk tetap menghormati Rasulullah saw sebagai sosok toladan. Para ulama Betawi menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam, baik di Mekkah atau Madinah, sampai kemudian agama ini datang di tanah Betawi dan masyarakat Muslim Betawi menerima Islam sebagai satu-satunya agama resmi mereka. Bahkan agama Islam menjadi perekat dalam pembentukan komunitas etnis Muslim Betawi.</p>
<p>Dari sinilah kemudian agama Islam memberikan pengaruh besar dalam pembentukan tradisi dan budaya Betawi. Semuanya dipadupadankan dengan nafas keislaman, sehingga masyarakat Betawi dikenal dengan masyarakat religius.</p>
<p><strong>Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Masyarkat Betawi</strong></p>
<p>Jika di masyarakat Jawa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan cara tersendiri, seperti Grebeg dan Sekatenan, maka masyarakat Betawi memperingatinya dengan ziarah ke makam para wali penyebar Islam, baik di Betawi atau di luar Betawi, mengadakan sunatan massal dan lain-lain, selain mengundang para kyai atau ulama untuk memberikan ceramah tentang figur panutan mereka, yaitu Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Semua sisi posisi dan perjuangan Nabi Muhammad saw dijelaskan, sehingga para jama’ah yang mendengarkan memahi sepak terjang Rasul dalam berdakwah dalam menyebarkan Islam. Biasanya, sekitar tahun 1970 an, ulama terkenal yang diundang untuk berceramah adalah KH. Hasyim Adanan, KH. Abdullah Syafi’i, KH. Syukron Ma’mun, dan lain-lain. Mereka memiliki tempat tersendiri di hati madyarkat Betawi.</p>
<p><strong>Nasi Berkat <em>Ambeng</em> Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhmammad saw</strong>.</p>
<p>Ada hal yang sangat menarik saaat usai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, yaitu makan Nasi berkat atau <em>Ambengan</em> yang sudah disispkan masyarakat. Pengucapan Nasi <em>Ambengan</em> ini mungkin merupakan pengaruh dari tradisi Jawa, yang kemudian di Betawi dengan sebutan <em>Nasi Berkat</em>, Nasi yang penuh dengan keberkahan, karena hidangan berupa nasi dan lauk pauk sudah dibacakan do’a. Dan memakannya memperoleh berkah atau berkat. Nasi berkat bukan hanya ada pada saat merayakan acara Maulid Nabi, jenis panganan ini ada pada setiap acara selamatan, baik selamatan hari-hari besar Islam atau acara tahlilan yang sering dilakukan Muslim Betawi karena hajatnya terpenuhi.</p>
<p>Usai pelaksanaan acara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, biasanya fitingi dengan acara ramah tamah dengan makan Nasi Berkat bersama dan juga disediakan besek untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari mengikuti acara petingatan Maulid Nabi Muhammad saw. Sesampai di rumah, biasanya keluarga sudah menunggu meski datang larut malam, mereka tetap menunggu. Anak stau keluarga yang dudah terlrlap tidur, dibangunkan untuk sekadar makan Nasi Berkat bersama-sama. Meski sudah larut malam, acara makan berkat bersama tetap dilakukan, karena memakan Nasi Berkst atau <em>Nasi Ambengan</em>, sangat nikmat. Kenikmatan itu dirasakan karena makan malam bersama dalam kondisi perut kosong dengan panganan berupa Ambengan yang dudah dibacakan do’a oleh banyak orang dibawah pimpinan para kyai yang datang saat itu. {Odie}.</p>
<p><em>Pamulang, 12 September 2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2021/10/1573403327-1.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Maulid Nabi di Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/tradisi-maulid-nabi-di-betawi-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2024 00:09:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=75283</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Masyarakat Betawi dikenal sebagai komunitas masyarakat yang religius. Islam, merupakan agama yang seratus persen dianut. Hampir semua tradisi yang ada dan dilaksanakan umat Islam, selalu dilaksanakan secara baik oleh masyarakat Betawi.</p>
<p>Di antara tradisi yang selalu dilaksanakan adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw atau dikenal dengan sebutan Maulid Nabi Muhammad saw yang dilaksanakan pada setiap bulan Maulid. Bulan ini dikenal Muslim Indonesia sebagai bulan-bulan yang diagungkan Muslim Dunia, termasuk Muslim Indonesia, karena memiliki nilai haistoris luar biasa.</p>
<p>Pada bulan ini, dikenal sebagai hari kelahiran junjungan kita, Nabi Besar Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal pada 671 M. Beliau dikenal di seluruh umat manusia sebagai manusia yang memiliki posisi tertinggi di sisi Allah swt.</p>
<p>Umat Muslim di Betawi juga sangat memuliakan dan menghormati Rasullah saw sebagai manusia agung. Karenanya, setiap bulan kelahiran beliau selalu diperingati dengan berbagai acara, misalnya dengan mengundang para kyai, para ulama dan habaib untuk berceramah di tengah Muslim Betawi.</p>
<p>Memberikan nasihat dan wejangan untuk tetap menghormati Rasulullah saw sebagai sosok toladan. Para ulama Betawi menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam, baik di Mekkah atau Madinah, sampai kemudian agama ini datang di tanah Betawi dan masyarakat Muslim Betawi menerima Islam sebagai satu-satunya agama resmi mereka. Bahkan agama Islam menjadi perekat dalam pembentukan komunitas etnis Muslim Betawi.</p>
<p>Dari sinilah kemudian agama Islam memberikan pengaruh besar dalam pembentukan tradisi dan budaya Betawi. Semuanya dipadupadankan dengan nafas keislaman, sehingga masyarakat Betawi dikenal dengan masyarakat religius.</p>
<p><strong>Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Masyarkat Betawi</strong></p>
<p>Jika di masyarakat Jawa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan cara tersendiri, seperti Grebeg dan Sekatenan, maka masyarakat Betawi memperingatinya dengan ziarah ke makam para wali penyebar Islam, baik di Betawi atau di luar Betawi, mengadakan sunatan massal dan lain-lain, selain mengundang para kyai atau ulama untuk memberikan ceramah tentang figur panutan mereka, yaitu Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Semua sisi posisi dan perjuangan Nabi Muhammad saw dijelaskan, sehingga para jama’ah yang mendengarkan memahi sepak terjang Rasul dalam berdakwah dalam menyebarkan Islam. Biasanya, sekitar tahun 1970 an, ulama terkenal yang diundang untuk berceramah adalah KH. Hasyim Adanan, KH. Abdullah Syafi’i, KH. Syukron Ma’mun, dan lain-lain. Mereka memiliki tempat tersendiri di hati madyarkat Betawi.</p>
<p><strong>Nasi Berkat <em>Ambeng</em> Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhmammad saw</strong>.</p>
<p>Ada hal yang sangat menarik saaat usai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, yaitu makan Nasi berkat atau <em>Ambengan</em> yang sudah disispkan masyarakat. Pengucapan Nasi <em>Ambengan</em> ini mungkin merupakan pengaruh dari tradisi Jawa, yang kemudian di Betawi dengan sebutan <em>Nasi Berkat</em>, Nasi yang penuh dengan keberkahan, karena hidangan berupa nasi dan lauk pauk sudah dibacakan do’a. Dan memakannya memperoleh berkah atau berkat. Nasi berkat bukan hanya ada pada saat merayakan acara Maulid Nabi, jenis panganan ini ada pada setiap acara selamatan, baik selamatan hari-hari besar Islam atau acara tahlilan yang sering dilakukan Muslim Betawi karena hajatnya terpenuhi.</p>
<p>Usai pelaksanaan acara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, biasanya fitingi dengan acara ramah tamah dengan makan Nasi Berkat bersama dan juga disediakan besek untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari mengikuti acara petingatan Maulid Nabi Muhammad saw. Sesampai di rumah, biasanya keluarga sudah menunggu meski datang larut malam, mereka tetap menunggu. Anak stau keluarga yang dudah terlrlap tidur, dibangunkan untuk sekadar makan Nasi Berkat bersama-sama. Meski sudah larut malam, acara makan berkat bersama tetap dilakukan, karena memakan Nasi Berkst atau <em>Nasi Ambengan</em>, sangat nikmat. Kenikmatan itu dirasakan karena makan malam bersama dalam kondisi perut kosong dengan panganan berupa Ambengan yang dudah dibacakan do’a oleh banyak orang dibawah pimpinan para kyai yang datang saat itu. {Odie}.</p>
<p><em>Pamulang, 12 September 2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset-2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images/warga-sedang-menikmati-hidangan-pada-kenduri-maulid-akbar_20180213_092306.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Awal Mula Penetapan 2 September sebagai Hari Kelapa Sedunia</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/awal-mula-penetapan-2-september-sebagai-hari-kelapa-sedunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Sep 2024 03:34:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kelapa Sedunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=74769</guid>

					<description><![CDATA[Setiap tanggal 2 September, masyarakat dunia memperingati Hari Kelapa Sedunia DEPOKPOS &#8211; Hari Kelapa Sedunia...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Setiap tanggal 2 September, masyarakat dunia memperingati Hari Kelapa Sedunia</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Hari Kelapa Sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 September merupakan perayaan untuk mengingatkan orang akan manfaat buah kelapa.</p>
<p>Buah kelapa sendiri telah diyakini sebagai makanan yang sudah ditemukan selama setidaknya 2 ribu tahun lalu. Namun, buah kelapa baru mulai masuk ke Eropa pada abad ke-16.</p>
<p>Padahal saat itu juga kelapa sudah menyebar ke seluruh anak benua India. Bahkan sampai ke Afrika pada tahun-tahun awal.</p>
<p>Selain itu, beberapa orang juga meyakini bahwa buah kelapa diperkenalkan ke Eropa melalui Jalur Sutra Maritim. Di mana jalur tersebut diketahui merupakan penghubung antara Timur dengan Barat.</p>
<p>Sementara itu, yang menginisiasi adanya Hari Kelapa Sedunia ini adalah komunitas Kelapa Asia Pasifik (APCC) pada tahun 2009. Tujuannya untuk mempromosikan aktivitas petani kelapa sekaligus meningkatkan kesadaran tentang manfaat buah ini.</p>
<p>Kelapa sendiri memiliki banyak manfaat. Nama lain dari kelapa sendiri adalah Cocos nucifer yang mana merupakan anggota tunggal dalam genus Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae.</p>
<p>Arti kata kelapa dapat merujuk pada keseluruhan pohon kelapa, biji, atau buah. Yang secara botani adalah pohon berbuah, bukan pohon kacang-kacangan.</p>
<p>Air kelapa bisa memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh, menjaga daya tahan tubuh, dan meningkatkan stamina. Sementara daging buahnya mengandung vitamin C dan E, yang memiliki efek antioksidan dan dapat melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2023/06/14/ilustrasi-air-kelapa_169.jpeg?w=1200&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</title>
		<link>https://majalahekonomi.com/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jul 2024 05:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=71745</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Menarik, memang, ketika PSB (Pusat Studi Betawi),UIN Jakarta diajak berkolaborasi dengan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Menarik, memang, ketika PSB (Pusat Studi Betawi),UIN Jakarta diajak berkolaborasi dengan Puslitbang LKKMO(Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi) Kemenag RI, untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi.</p>
<p>Menariknya, karena selama ini, terjemahan al-qur’an yang biasa dibaca adalah terjemahan bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda dan Melayu, sehingga bagi yang ingin memahami arti dari ayat yang dibaca, bisa langsung dapat dimengerti. Tanpa harus belajar bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah dan seterusnya.</p>
<p>Selain itu, terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa daerah, juga merupakan salah satu upaya pelestarian bahasa dan budaya suatu daerah, seperti kebudayaan Betawi. Terlebih proyek ini dikerjakan bareng dengan lembaga semi otonom UIN Jakarta, PSB( Pusat Studi Betawi).</p>
<p>Lembaga ini selain memiliki otoritas keilmuan, karena akan melibatkan para ahli di bidangnya, juga semua penerjemah adalah para sarjana dan guru besar asli dari komunitas etnis masyarakat Betawi.</p>
<p>Jadi, dengan demikian, proyek penterjemahan al-qur’an ke dalam bahasa Betawi, menjadi sangat menarik dan sangat penting. Terlebih, kerja ini juga melibatkan pemprov DKI yang mengajak budayawan dan pemerhati kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal yang lebih menarik lagi yang perlu diketahui bahwa masyarakat Betawi merupakan komunitas etnis yang sangat religius. Sebab hampir semua tradisi dan budaya yang diciptakannya selalu bernuansa teligi. Karenanya, sekali lagi, kerjasama ini sangat menguntungkan kedua belah pihak.</p>
<p>Pihak pengelola proyek, berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Pihak PSB dan komunitas etnis masyarakat Betawi juga sangat diuntungkan, karena bahasa dan budayanya dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan baik, sehingga masyarakat Betawi tidak perlu resah lagi akan kehilangan pijakan dasar budaya dan bahasanya.</p>
<h3>Bahasa Betawi= Bahasa Melayu Indonesia</h3>
<p>Dahulu, sebelum dilakukan penterjemahan al-qur’an ke dalam bahasa daerah dan khususnya Bahasa Betawi, umumnya mereka yang bukan ahli agama atau masyarakat awam, mereka membaca terjemahan yang berbahasa Indonesia. Dan ini mungkin juga hingga kini, sebelum proyek terjemahan al-qur’an ke dalam bahasa Betawi, mereka masih melakukannya.</p>
<p>Kalau begitu, pertanyaan yang mesti dimunculkan adalah, apakah orang Betawi awam akan tetap meneruskan membaca terjemahan al-qur’an berbahasa Indonesia atau terjemahan berbahasa Betawi. Karena hanya mngganti ejaan berbahasa Indonedia menjadi bahasa Betawi. Terlebih jika penterjemahnya ada yang kurang paham suatu istilah Betawi.</p>
<p>Pertanyyan lainnya, Betawi itu merupakan sebuah konsep kultural, bukan teritorial. Secara kultural, yang disebut masyarakat Betawi adalah masyarakat yang berbudaya dan berbahasa Betawi. Cakupannya lebih luas dari hanya sekadar teritorial.</p>
<p>Jika secara teritorial, yang disebut Betawi dahulu hanya sebatas wilayah DKI Jakarta saja. Maka secara kultural, yang disebut Betawi adalah masyarakat yang tinggal dan menetap di wilayah Jakarta,Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Kerawang (JABODETABEKWANG). Mereka menetsp di daerah yang sudah beakulturasi dengan bahasa dan budaya Sunda.</p>
<p>Karenanya, bahass Betawi mereka, seperti yang disebut YasminShahab, sebagai masyarakat Betawi pinggiran. Berbeda dengan bahasa dan budaya masyarakat Betawi Tengah atau pusat. Masyarkat Betawi Tengah memiliki bahasa dan budaya yang dipengaruhi oleh budaya dan bahasa Melayu dan Arab Islam.</p>
<p>Oleh karena itu, saya menyarankan, terjemahan al-qur’an ke dalam Bahasa Betawi Tengah, yang halus dan hasil dari akultasi budaya Betawi Melayu Islam. Seperti terjemahan dari kata أنا-أنت, harus diterjemahkan dengan kata (ane dan ente), jangan diterjemahkan jadi kata (elu-gue), dll. Karena bahasa al-Wyr’an merupakan bahasa sangat santun dan debgan strukrur bagasa yang tinggi. Jadi, jangan menggunakan bahasa guyonan yang biasa dipergunakan sehari-hari. Dengan begitu, kita juga meledtarikan budaya dan bahasa Arab yang sangat mulia dan ssntun tersebut.</p>
<p>Jika disepakati begitu, maka terjemahan ini menjadi khazanah tersendiri dalam pelestarian tradisi bahasa dan budaya Betawi.</p>
<p>Pamulang, 10 Juli 2024.<br />
Murodi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.uinjkt.ac.id/uploads/fmXyXwZY/2022/09/IMG-20220923-WA0051.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
