Dari Gamelan Jawa hingga Orkestra, UI Warnai Musik Nusantara

DEPOK – Barangkali, belum banyak yang mengetahui bahwa gamelan Jawa pernah dipentaskan pada pembukaan menara Eiffel saat Paris Exposition Universelle di Paris, Prancis pada 1889. Salah seorang maestro asal Prancis, Claude Debussy bahkan terpukau saat menyaksikan pertunjukan gamelan Jawa pada kesempatan tersebut dan menginspirasinya menciptakan komposisi piano berjudul Pagodes pada 1903. Fakta tersebut dikemukakan oleh Dr. Ari Prasetiyo, pengajar Program Studi (Prodi) Sastra Daerah Untuk Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI).

Menurut Dr. Ari, hal ini membuktikan bahwa bunyi khas gamelan yang indah dan menarik dapat menjadi universal dan dinikmati oleh masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Namun, ia merasa prihatin bahwa seni musik tradisional justru sering kali ditinggalkan di negeri sendiri. “Saya berharap generasi muda Indonesia semakin mencintai dan timbul rasa memiliki atas seni budaya tradisional karena seni budaya tradisional merupakan identitas serta wujud kepribadian serta peradaban suatu bangsa. Semoga generasi muda bangga pada seni budaya sendiri, terutama seni budaya tradisional,” kata Dr. Ari.

Untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia, Hari Musik Nasional diperingati setiap tanggal 9 Maret, sesuai dengan Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2013. Sejalan dengan ambisi Pemerintah tersebut, UI terus berupaya mempromosikan dan mengembangkan berbagai genre musik melalui beragam komunitas. Untuk melestarikan musik tradisional, FIB UI rutin mengadakan latihan gamelan Jawa, gamelan Bali, dan arumba yang banyak diikuti oleh warga negara asing. Selain itu, UI membuka Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sekar Widaya Makara (SWM) UI dan Kelompok Karawitan Jawa Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KMSJ) FIB UI bagi para mahasiswa.

Salah satu penampilan terbaru dari UKM SWM dan KMSJ adalah pertunjukan kolaborasi pada 2022 dengan Prof. Mustafa Hilmi Bulut, seorang profesor dalam bidang musik dari Sivas Cumhuriyet University, Turki, di Makara Art Center UI. UKM SWM juga pernah bekerja sama dengan Bodro Sewu Gallery untuk menyelenggarakan Pentas Apresiasi UKM SWM UI pada Desember 2023 di Bodro Sewu Gallery, Jakarta. Kebolehan sivitas UI dalam bidang musik tradisional terbukti saat dinobatkan sebagai Penampil Terbaik Gendhing Kontemporer dalam International Javanese Gamelan Festival di Institut Teknologi Bandung pada 2011 saat menampilkan komposisi Gamelan Nusantara karya Dr. Ari Prasetiyo.

Tak hanya musik tradisional Nusantara, UI juga aktif mengasah talenta generasi muda dalam musik klasik melalui UKM Orkes Simfoni Universitas Indonesia (OSUI) Mahawaditra. Didirikan pada 1983 oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang merupakan Rektor UI saat itu, OSUI Mahawaditra menjadi orkes mahasiswa pertama dan tertua di Indonesia. OSUI Mahawaditra pertama kali dibentuk dengan tujuan untuk mengiringi prosesi wisuda UI setiap tahunnya. Namun, seiring berjalannya waktu, OSUI Mahawaditra juga terbuka untuk umum dengan menjadi penampil melalui konser tahunan ataupun mengisi acara yang dilaksanakan penyelenggara luar universitas.

Berbagai jenis alat musik dimainkan di OSUI Mahawaditra untuk menciptakan harmoni. Alat-alat dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu strings (violin, viola, violoncello, contrabass), woodwinds (flute, clarinet, oboe, bassoon), brass (french horn, trumpet, trombone, tuba) dan percussion (timpani, snare drum, piati). UKM ini berhasil melahirkan banyak alumni yang unggul, salah satunya Ade Ichsan Rusdy yang mengaransemen lagu-lagu yang selalu dibawakan saat prosesi wisuda UI, yaitu Genderang UI, Himne UI, dan Himne Pahlawan.

Bendahara OSUI Mahawaditra, Laura Amanda Suryana mengatakan bahwa OSUI Mahawaditra pernah mendapatkan Recognition Award dan Outstanding Organization Award dalam World Orchestra Festival 2021. “Selain itu, pada 2015, OSUI Mahawaditra berhasil menjadi orkestra mahasiswa nonmusik Indonesia pertama yang bermain dalam Australian International Music Festival di Sydney Opera House dan mendapat penghargaan Silver Diploma. Kami juga baru menggelar konser perayaan ulang tahun yang ke-40 pada Desember 2023 lalu di Taman Ismail Marzuki Jakarta, berkolaborasi dengan Paduan Suara Mahasiswa UI Paragita,” kata Laura.

Mahasiswa UI yang ingin mengekspresikan diri melalui seni musik yang mengandung aspek tarian juga dapat bergabung dalam UKM Marching Band Madah Bahana UI (MBUI). UKM yang didirikan pada 1964 ini menampilkan berbagai lagu daerah, pop, kebangsaan, aransemen ulang dari jenis-jenis lagu tersebut, hingga musik ciptaan sendiri. Selama 60 tahun berdiri, MBUI telah melakukan berbagai Misi Budaya dan penampilan pada acara besar. MBUI juga mengikuti sejumlah perlombaan, di antaranya Grand Prix Marching Band, Indonesia Drum Corps Championship, Hamengkubuwono Cup, dan Bandung Marching Band Championship.

“MBUI mengikuti kejuaraan Indonesia Drum Corps International 2023 dan mendapatkan peringkat 4 dalam kategori Drum Corps. Selain itu, kami pernah tampil di Java Jazz Festival 2019 dan mengadakan pertunjukkan bertajuk Madah Bahana in Concert yang menggabungkan seni musik dan seni teater,” ujar Ketua MBUI, Adinda Natasya. Sebagai sebuah komunitas musik di UI dan Indonesia, Adinda berharap MBUI dapat terus berkontribusi dalam melestarikan seni musik dan memberikan prestasi untuk Indonesia.