Opini  

Bimwin, Bukan Solusi Stunting dan Kemiskinan

ASN dilingkup Pemkot Depok tetap masuk pada 16 April 2024

Oleh: Dyandra Verren, Alumnus Universitas Gunadarma

Ada yang baru bagi para muda-mudi Indonesia yang ingin menikah di 2024. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama atau Kemenag akan mewajibkan adanya bimbingan perkawinan (bimwin) sebagai syarat bagi calon pengantin untuk melangsungkan pernikahan. Keputusan itu berdasarkan pada Surat Edaran Dirjen Bimas Islam No. 2 Tahun 2024 tentang Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin. Penyuluhan telah berlangsung sejak awal tahun 2024 hingga 6 bulan ke depan, Juli 2024.

Bagi calon pengantin yang tidak mengikuti program bimwin akan menghadapi konsekuensi ditunda mendapatkan buku nikah hingga mengikuti program bimwin (Tempo, 30/03/2024). Materi-materi wajib yang diberikan bimbingan perkawinan ada 8, yaitu, Membangun Landasan Keluarga Sakinah, Merencanakan Perkawinan yang Kokoh Menuju Keluarga Sakinah, Dinamika Perkawinan, Kebutuhan Keluarga, Kesehatan Keluarga, Membangun Generasi Yang Berkualitas, Ketahanan Keluarga Dalam Menghadapi Tantangan Kekinian serta Mengenali dan Menggunakan Hukum Untuk Melindungi Perkawinan Keluarga (Kemenagtuban, 17/11/2021).

Pemerintah menganggap bimbingan perkawinan (bimwin) dianggap sebagai langkah terkini mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, semua calon pengantin wajib mengikutinya. Tetapi, bagaimana sebenarnya stunting berhubungan dengan bimbingan perkawinan?

BACA JUGA:  Kemacetan Mudik Lebih Horor dari Film Horor

Stunting Menurut WHO (2020), stunting adalah perawakan pendek atau perawakan sangat pendek berdasarkan tinggi badan/tinggi badan pada usia kurang dari -2 standar deviasi (SD) kurva pertumbuhan WHO, dan berhubungan dengan asupan gizi yang tidak memadai dan/atau disebabkan oleh kondisi ireversibel akibat kekambuhan. Penyakit/infeksi kronis terjadi pada 1000 HPK. Akar permasalahan stunting di Indonesia meliputi faktor gizi buruk, lingkungan dan sanitasi yang buruk, kesehatan ibu yang kurang, kurangnya pendidikan gizi, dan kesadaran masyarakat, serta faktor sosial-ekonomi dan ketimpangan (Artikel Info Singkat, Juli 2023).

Dari berbagai faktor ini upaya pencegahan stunting lewat bimbingan perkawinan ini hanya menjadi solusi secara parsial penyelesaian stunting. Jadi bimwin, bukan solusi stunting dan kemiskinan. Dapat dipahami bahwa pendidikan dan pemahaman terhadap pasangan terkait semua hal tentang keluarga adalah sesuatu yang baik. Namun, seperti yang dilihat bahwa ada beberapa faktor seperti faktor perekonomian dan faktor sosial-masyarakat di sana, sehingga lebih dibutuhkan solusi yang bersifat kill two birds with one stone artinya satu solusi tapi bisa menyelesaikan semua masalah.

BACA JUGA:  Pacaran atau Menjomblo?

Problem ke depannya program bimwin memiliki nilai yang baik. Calon pengantin jadi bisa lebih teredukasi terkait bahtera rumah tangga berdasarkan teori dan keidealan rumah tangga. Namun, persiapan terkait menghadapi realitas kehidupan saat ini yang secara sistemik adalah kapitalisme-sekulerisme bisa saja lenyap dan hal-hal yang sudah dipelajari terabaikan. Misal terkait memiliki anak, pengaruh paparan liberalisme membuat pasangan enggan memiliki anak karena berkaca pada kenyataan kesusahan ekonomi dan moral, bagaimana mau membangun generasi kalau tidak ada penerus masa depan? lalu, paparan lagi dari liberalisme-sekularisme tentang tanggung jawab seorang istri dan suami yang membingungkan dan malah membuat runyam keidealan suatu rumah tangga.

Hal-hal terkait pandangan dan pemikiran hidup inilah yang harusnya menjadi sorotan utama. One stone solution Islam memiliki aturan yang menyeluruh dan sempurna untuk menyelesaikan persoalan manusia. Di dalam pandangan Islam, lelaki dan perempuan yang telah baligh, berakal, berkemampuan dan membutuhkan nikah sudah boleh menikah. Islam tidak akan mempersulit dan sejak di kandungan Ibu pun telah menyediakan suatu sistem generasi yang baik sehingga terciptalah individu-individu yang baik. Islam juga mampu menyelesaikan problem stunting dan kemiskinan yang demikian kronis di negeri ini.

BACA JUGA:  Pentingnya Menguasai Bahasa Asing

Ide Islam tentang kesejahteraan sangatlah khas. Suatu masyarakat dikatakan sejahtera bila seluruh kebutuhan tiap individunya terpenuhi. Oleh karena itu, negara akan mengambil berbagai langkah untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Hal ini dilakukan bukan untuk kepentingan satu pihak saja, melainkan sebagai upaya menunaikan misi Allah SWT. Biaya pemenuhan seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari baitul mal yang dipungut negara, yaitu jizya, fai, kharaj, ghanimah, pengelolaan sumber daya alam, dan lain-lain. Semua hasilnya akan digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan dapat menggunakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan lain, seperti menjamin ketahanan pangan bagi anak-anaknya. Pengamalan Islam yang sempurna, kebahagiaan keluarga lambat laun akan terpenuhi. Permasalahan stunting dapat diatasi karena penyelesaiannya bersifat komprehensif dan tidak parsial. So, killing two birds with one stone is possible only with Islam. []

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818