Opini  

Banjir Impor: Bukti Ketidakmampuan Kapitalis Mengelola Ekonomi Negara

Negara tidak hanya mengimpor bahan pangan hasil tani, namun juga hasil ternak seperti daging sapi

Program dakwah di pedalaman menjadi agenda pemberantasan buta aksara al-qur’an yaitu melakukan pembinaan dan pengajaran masyarakat binaan

Oleh: Syiria Sholikhah, Mahasiswi Universitas Indonesia

Importir bahan pokok pangan kerap kali dilakukan oleh negara Indonesia terutama pada bulan-bulan menjelang hari raya seperti bulan Ramadhan. Meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat tidak sebanding dengan ketersediaan bahan yang disediakan oleh negara, inilah salah satu penyebab meroketnya harga bahan pangan setiap mendekati hari raya. Negara tidak hanya mengimpor bahan pangan hasil tani, namun juga hasil ternak seperti daging sapi.

Dilansir dari CNBN Indonesia, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, nilai impor barang konsumsi per Februari 2024 sebesar US$ 1,86 miliar atau naik 5,11% dibanding Januari 2023. Sedangkan dibanding Februari 2024 yang senilai US$ 1,36 miliar naik 36,49%. Untuk barang konsumsi yang berupa komoditas pangan, juga mengalami peningkatan pesat. Di antaranya beras naik 93% secara volume dan secara nilai naik 148,63% khusus periode Januari-Februari 2024. Lalu, bawang putih naik 374,20% secara volume, dan naik 357,01% secara harga.

Dilansir dari CNBN Indonesia. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengungkapkan impor daging dan sapi hidup dalam waktu 2 – 3 Minggu tiba. Ini merupakan bagi volume impor daging sapi yang sudah disetujui pada tahun ini sebanyak 145.250,60 ton. Bapanas juga telah menetapkan besaran stok pangan yang harus dimiliki pemerintah sampai akhir tahun 2024 nanti. Hal itu ditetapkan dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 379.1/TS.03.03/K/11/2023 tentang Jumlah, Standar Mutu, dan Harga Pembelian Pemerintah Dalam Rangka Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Tahun 2024.

Indonesia terkenal sebagai surga dunia memiliki tanah yang subur, memiliki banyak beragam jenis aneka flora dan fauna, namun kenapa tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat? Apakah populasi manusia lebih besar daripada tanah dan air yang ada di negeri ini? Apakah semua masyarakat adalah pegawai kantoran sehingga semua tanah menganggur dan tidak ada yang mampu mengelola?

BACA JUGA:  Pengembangan Inovasi Budaya Organisasi dan Kepemimpinan di Rutan

Indonesia memiliki banyak petani dan peternak, juga nelayan yang tidak sedikit. Seharusnya terjadi keseimbangan antara masyarakat dan pemenuhan kebutuhan pangan baik saat menjelang hari raya ataupun hari biasa. Hari raya ini terjadi setiap tahun sehingga pola konsumsi masyarakat sudah dapat diprediksi setiap tahunnya, namun solusi yang diberikan selalu impor. Impor tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan kekurangan bahan pangan setiap tahunnya, solusi haruslah yang bisa mencegah kejadian yang sama terulang kembali di tahun berikutnya.

Ketidakmampuan sistem ekonomi kapitalis mengatur perekonomian negara ini cukuplah menjadi alasan untuk tidak melanjutkan sistem ekonomi yang menyengsarakan dan tidak dapat memberikan solusi setiap ada permasalahan seperti ini. Sistem ekonomi kapitalis yang berbasis kebebasan inilah sumber dari kemelaratan ekonomi negara, kebebasan ini menjadikan negara miskin karena aset negara bebas untuk dikuasai dan dimiliki oleh individu pribadi atau swasta bahkan asing, seperti sumber daya alam negara misalnya emas, batu bara, nikel, timah dan sejenisnya bahkan lahan untuk persawitan pun milik asing.

Petani sulit untuk menghasilkan panen yang melimpah karena beberapa faktor seperti harga pupuk yang mahal dan nilai beli hasil pertanian yang murah juga menjadikan petani lebih memilih untuk menjual hasil taninya keluar negeri seperti ke Malaysia dan Cina, dan beberapa petani tidak dapat menanam karena kurangnya modal seperti untuk bibit atau benih yang mahal dan biaya perawatan yang mahal. Seharusnya negara mampu menciptakan smart city dan negara memfasilitasi para petani desa untuk memajukan pertanian dengan memberikan lahan ataupun pupuk dengan harga murah bahkan gratis, atau mengedukasi para petani dan peternak untuk bekerja sama menghasilkan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan.

BACA JUGA:  Liburan Segera Berakhir, Awali dengan Semangat!

Negara seharusnya mendatangkan ahli untuk memberikan pelatihan pertanian dan peternakan kepada petani dan peternak desa yang tidak mengenyam pendidikan khusus di bangku perguruan tinggi, memberikan pelatihan dan edukasi penanganan kelola lahan supaya menghasilkan panen yang baik dan berkualitas juga cara mengantisipasi gagal panen, juga bisa melatih petani yang tidak memiliki tanah untuk budidaya melalui hidroponik, juga untuk ternak dan perikanan dengan budidaya yang sesuai. Begitu pula hewan ternak diberikan fasilitas seperti padang rumput untuk ternak.

Negara seharusnya bisa memetakan lahan sehingga tidak semuanya diberikan kepada asing dan alhasil warga pribumi hanya mendapatkan limbahnya saja, padahal lahan tersebut bisa diberdayakan untuk pengelolaan pertanian yang mumpuni. Sehingga tidak hanya kebutuhan bahan pangan saja yang terpenuhi, namun petani pun tidak menderita seperti sekarang ini.

Islam memiliki sistem ekonomi yang mampu mewujudkan itu semua, sistem ekonomi di dalam Islam sangat berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang berasaskan kebebasan dan saling menguntungkan saja. Melainkan sistem ekonomi yang mampu menopang perekonomian negara, aset negara yaitu sumber daya alam seperti emas dan teman-temannya itu haram untuk dimiliki individu atau swasta apalagi asing, Islam melarang asing memiliki sebidang tanah di dalam negara Islam, asing hanya dapat masuk untuk berniaga saja bukan untuk memiliki tanah dan perkebunan.

Semua aset negara Indonesia sebetulnya sangatlah melimpah, apabila dikembalikan dengan sistem yang benar yaitu Islam maka tidak hanya mampu mewujudkan semua ketersediaan bahan pangan mulai dari dasarnya tadi yaitu memberi fasilitas kepada para petani yang mumpuni dan para peternak yang keduanya dilatih oleh ahli dari negara maka akan tercipta hasil panen yang melimpah dan berkualitas, negara mampu menyediakan pupuk dan benih berkualitas dengan harga murah begitu juga pakan ternak. Apabila negara memiliki petani dan peternak seperti inilah, negara tidak akan melakukan impor bahan pangan bahkan pada saat menjelang hari raya atau kebutuhan mendesak sekalipun dapat terpenuhi dengan harga terjangkau.

BACA JUGA:  Swastanisasi Listrik: Untungkan Para Konglomerat, Bebani Rakyat

Kunci kesejahteraan masyarakat dalam suatu negara itu salah satunya adalah pada pengaturan sistem perekonomian yang tepat, tidak ada sistem perekonomian yang lebih baik dari Islam. Yang membagi harta kepemilikan dengan adil sesuai proporsinya, berbeda dengan ekonomi kapitalis yang berasas kebebasan dan keuntungan itu yang menjadikan akar masalah kesenjangan terjadi, orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin menderita dan semakin miskin. Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya, namun kaya dengan cara yang tidak merugikan siapa pun termasuk menguasai harta negara yaitu SDA yang berdampak pada kemiskinan bagi yang lain, ataupun monetisasi harta milik umum seperti tanah, air dan padang rumput.

Pengaturan sistem ekonomi inilah yang akan membuat negara bukan lagi melakukan impor bahan pangan, melainkan melakukan ekspor bahan pangan keluar negeri sehingga menambah pendapatan dan keuntungan bagi para petani, peternak, bahkan negara. Begitulah Islam menjadi solusi yang hakiki dalam mengatasi setiap permasalahan hingga akarnya, sudah saatnya untuk kembali kepada sistem yang benar yang mampu mensejahterakan setiap golongan, yaitu sistem Islam. []

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818