Baju Baru Saat Lebaran di Betawi: Tradisi Muslim Lokal

Oleh : Murodi al-Batawi

Ada sebuah lagu anak-anak tentang baju baru, yang dinyanyikan oleh Dhea Ananda pada era 90 an. Baju baru al-hamdulillah dipakai di hari raya tak adapun tak apa-apa masih ada baju yang lama”. Itulah sepenggal lirik lagu Baju Baru.

Memang Rasul pernah menganjurkan pada umat Islam untuk bergembira saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, karena telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Nambi Muhammad mengajurkan agar berpakaian baik dan bersih, bisa baju lama atau baju baru saat berlebaran Idul Fitri. Anjuran tersebut dipahami secara tekstual bahwa Muslim boleh membeli pakain baru dan juga boleh pakaian lama, asal baik dan bersih. Karena itu, banyak masyarakat Muslim Indonesia, khususnya masyarakat Betawi menjelang berpuasa dan menjelang lebaran, mereka banyak berbelanja pakaian yang akan mereka pergunakan waktu berkumpul dengan saudara dan keluarga besar. Mereka pergi ke pasar tradisional, seperti Pasar Tanahabang,,Mal Ramayana dan bahkan banyak juga yang datang ke penjahit untuk mengukur pakaian, celana dan baju supaya bisa dibuatkan pakaian baru yang akan mereka gunakan pada hari H lebaran.

Dahulu sebelum ada mal, masyarakat Betawi khususnya, selalu berbelanja di pasar tradisional untuk membeli pakaian. Tapi ketika banyak mal dibangun, masyarakat Betawi, malai dari orang dewasa dan anak-anak, mulai ada pilihan tempat berbelanja pakaian baru, yang bisa langsung digunakan saat itu juga, terlebih ketika lebaran.

BACA JUGA:  Manajemen Risiko di Era Pendidikan Digital

Baju Baru: Sejarah dan maknanya

Tradisi berpakaian baik dan bersih, setelah berpuasa dan pada saat lebaran, merupakan implementasi dari perkataan dan anjuran Rasul bahwa saat Idul Fitri, umat Islam harus berpakain baik dan bersih untuk menunjukkan kebahagiaan setelah satu bulan berpuasa. Karenanya umat Islam dunia, termasuk masyarakat Infonesia, khususnya masyarakat Betawi berusaha mengganti dan membeli baju baru. Pada awal tahun 60an hingga tahun 70an, sebelum bermunculan pasar modern, seperti mal, masyarakat Betawi hanya membeli atau menjahit pakaian baru setahun sekali.

Pada zaman kolonial Belanda, hanya masyarakat kelas mengah dan para pejabat pemerintah Belanda saja yang berpakaian baru saat lebaran datang. Sementara masyarakat biasa, terlebih masyarakat miskin, tidak bisa membeli atau menjahit pakaian baru untuk digunakan pada lebaran. Mereka berpakaian biasa ala kadarnya, karena kemiskinan.

Kemudian, ketika Snouck Hurgronye bertugas di Indonesia, dia mencatat ada banyak pejabat pribumi dan masyarakat berpakaian bagus saat lebaran. Mereka berpakaian ala bangsa Eropa. Berpakain rapi. Berjas dan bersepatu, tanpa meninggalkan penutup kepala tradisional mereka. Mereka banyak berbelanja pakain di pasar-pasar yang akan dipergunakan saat berlebaran.

BACA JUGA:  Munggahan, Tradisi Betawi Jelang Ramadan yang Tetap Terjaga

Kegiatan ini tentu saja mendongkrak perekonomian saat itu. Makanya, kemudian, pemerintah kolonial Belanda membangun pabrik tekstil dan pasar untuk memproduksi bahan pakaian dan membangun pusat perdagangan, seperti pasar.

Sebenarnya, penggunaan pakaian baru sudah lama terjadi pada masa kerajaan Mataram dan Kesultanan Yogyakarta. Para pejabat Ketajaann atau Kesultanan, saat berlebaran berpakain bagus. Mereka bukan sedang pamer, hanya menjalankan anjuran Nabi untuk berpakaian bagus saat lebaran, sebagai bentuk rasa syukur karena telah menyelesaikan puasa Ramadhan selama satu bulan. Tapi sebenarnya juga tidak elok bertradisi berpakaian bagus, pada saat masih ada rajyat yang miskin dan jelata ketika itu.

Kemudian di Kesultanan Banten pada 1596 M, saat berlebaran, para pejabat Kesultanan mulai menggunanakan dan membeli pakaian baru untuk dipakai saat lebaran. Sementara rakyat biasa menjahit pakaian dari para penjahit. Mereka mendatangi tukang jahit untuk mengukur bahan pakaian yang mereka pilih untuk dijahit dan jadi pakaian baru yang akan digunakan pada waktu lebaran. Sementara rakyat jelata, tidak memiliki kemampuan finansial untuk berbelanja dan menjahit pakaian baru.

Tradisi berbelanja pakaian baru mulai merambah ke masyarakat Betawi di Jakarta. Masyarakat Betawi memiliki kebiasaan berbelanja pakaian baru di pasar-pasar tradisional, seperti Pasar Senen, Passr Blok M, Pasar Tanahabang dan pasar-pasar lainnya yang ada di Jakarta, sebelum dibangunnya Pasar Modern, seperti Mal. Pasar Moden perama yang dibangun pada masa penerintahan Presiden Siekarno adalah Pasar Sarinah, yang berada di jalan MH. Thamrin, Jakarta. Sejak saat itu, masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat Betawi berduit, mulai berbelanja di Sarinah Mal. Kemudian pada akhir 1970-an, pemerintah Jakarta mulai membangun Mal baru di Blik M , Jakarta Selatan dan diberi nama al-Diron Plaza. Pembangunan ini merupakan jawaban pemerintah Jakarta atas keinginan masyarakat Jakarta ternasuk madyarakat Berawi yang datang dari Jakarta Selan. Al-Diron Plaza menjadi alternatif baru saat itu bagi masyarakat untuk berbelanja, termasuk belanja pakaian bsru yang akan figunakan pada waktu lebaran. {Odie}.

BACA JUGA:  Catcalling: Menggali Lebih Dalam tentang Tindakan Tak Pantas!

Pamulang, 08 April 2024.
Murodi al-Batawi

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di Majalah Ekonomi? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818