DEPOKPOS – Perkembangan teknologi membuat cara orang berjualan berubah sangat cepat. Sekarang banyak pelaku usaha memanfaatkan media sosial, marketplace, dan aplikasi pesan untuk menawarkan produk mereka. Persaingan yang semakin ketat membuat setiap penjual berusaha menarik perhatian konsumen dengan berbagai cara. Ada yang memberikan diskon besar, membuat konten menarik, hingga memasang promosi yang terlihat sangat meyakinkan. Namun, di tengah kondisi tersebut, saya merasa bahwa yang paling penting bukan hanya bagaimana produk dijual, tetapi juga bagaimana penjual berkomunikasi dengan pembeli.
Dalam bisnis syariah, komunikasi memiliki peran yang sangat penting. Produk yang dijual memang harus halal, tetapi cara menyampaikan informasi juga harus sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penjual seharusnya bersikap jujur, terbuka, dan tidak melebih-lebihkan produk yang ditawarkan. Jika ada kekurangan pada barang, sebaiknya dijelaskan sejak awal agar pembeli tidak merasa tertipu setelah menerima pesanan.
Saya sering melihat promosi di media sosial yang terkadang terlalu berlebihan. Misalnya, suatu produk diklaim bisa memberikan hasil yang luar biasa dalam waktu singkat, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Ada juga penjual yang menggunakan foto produk yang berbeda jauh dengan barang aslinya. Menurut saya, hal seperti ini dapat merusak kepercayaan konsumen. Dalam jangka pendek mungkin penjualan meningkat, tetapi jika pembeli kecewa, mereka kemungkinan tidak akan kembali membeli.
Prinsip komunikasi bisnis syariah sebenarnya sederhana, yaitu menyampaikan informasi dengan benar dan dapat dipercaya. Kejujuran menjadi dasar utama dalam membangun hubungan antara penjual dan pembeli. Ketika konsumen merasa mendapatkan informasi yang sesuai dengan kenyataan, mereka akan lebih percaya dan merasa nyaman bertransaksi. Kepercayaan tersebut sangat berharga karena dapat membuat pelanggan kembali membeli di kemudian hari.
Contoh sederhana dapat dilihat pada usaha makanan rumahan. Penjual yang mencantumkan bahan yang digunakan, tanggal produksi, dan masa simpan produk biasanya lebih dipercaya oleh konsumen. Begitu juga dengan penjual pakaian yang memberikan ukuran asli dan foto produk tanpa edit berlebihan. Meskipun terlihat sederhana, komunikasi yang transparan seperti ini menunjukkan bahwa penjual menghargai konsumennya.
Selain itu, cara menghadapi keluhan pelanggan juga termasuk bagian dari komunikasi bisnis syariah. Tidak semua transaksi berjalan sempurna. Terkadang ada barang yang terlambat datang atau tidak sesuai harapan pembeli. Dalam situasi seperti itu, penjual sebaiknya merespons dengan sopan, mendengarkan keluhan pelanggan, dan berusaha memberikan solusi yang baik. Sikap tersebut menunjukkan tanggung jawab dan etika yang seharusnya dimiliki oleh pelaku usaha.
Di era digital saat ini, tantangan terbesar adalah banyaknya informasi yang beredar. Konsumen harus lebih teliti dalam memilih produk, sementara penjual dituntut untuk menjaga kejujuran dalam setiap promosi. Menurut saya, bisnis yang mampu bertahan lama bukan hanya bisnis yang memiliki produk bagus, tetapi juga bisnis yang memiliki komunikasi yang baik dan jujur kepada konsumennya.
Beberapa waktu lalu saya pernah melihat sebuah toko online yang menawarkan produk dengan foto yang sangat menarik. Setelah membaca ulasan pembeli, ternyata banyak konsumen mengeluhkan bahwa barang yang diterima berbeda dengan gambar promosi. Pengalaman melihat hal seperti itu membuat saya sadar bahwa komunikasi yang tidak jujur justru dapat merugikan usaha itu sendiri.
Kesimpulannya, bisnis syariah tidak cukup hanya menawarkan produk halal. Komunikasi yang etis juga sangat dibutuhkan agar hubungan antara penjual dan pembeli tetap terjaga dengan baik. Kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi dapat membangun kepercayaan konsumen. Di tengah persaingan bisnis digital yang semakin ketat, komunikasi yang jujur justru menjadi nilai lebih yang dapat membuat sebuah usaha dipercaya dan bertahan dalam jangka panjang.
Oleh: Arferintan Febrina Yuleno,
Mahasiswa IAI SEBI